Sapardi Djoko Damono berpendapat, “Puisi, bagi saya, adalah
hasil upaya manusia untuk menciptakan dunia kecil dan sepele dalam kata, yang
bisa dimanfaatkan untuk membayangkan, memahami dan menghayati dunia yang lebih
besar dan lebih dalam.”
Pendapat ini ada benarnya, karena sesungguhnyalah ketika
seorang menulis sebuah puisi sebenarnya ia telah mencoba
"memperkecil" sebuah dunia dalam suatu rasa dan imajinasi menjadi
perwakilan sebuah refleksi dari dunia yang maha luas ini.
Keindahan puisi tercipta dari paduan harmonis: pesan yang
ingin disampaikan, permainan kata, permainan bunyi, permainan imaji,
kesederhanaan dan kedalaman.
Puisi "Pembohong Paling Sukses" ini mungkin dapat
kita golongkan ke dalam jenis puisi
Elegi; yaitu puisi yang berisi ratap
tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh
kesah karena sedih atau rindu.
Sepertinya penulis di sini begitu lancarnya dapat
mengungkapkan semua perasaan yang menyelimuti hatinya, yang dirundung awan
kelabu dalam sebuah langkah perjalanan hidup.
Hal ini sangat menarik dan tentu suatu kebiasaan yang
bermanfaat bila pena dan buku ternyata juga teman setia yang selalu mau
menampung semua keluh kesah dan cerita-cerita hati kita, seperti kala sebuah
buku agenda selalu kita buka.
Ya, puisi ini lebih cenderung dapat digolongkan seperti
coretan-coretan kita yang menjadi kata-kata dalam sebuah buku diary. Kita baca
kutipan puisi ini:
Seperti tak ada yang
selalu beres dengan dunia yang bergejolak, demikian pula aku
Setidaknya ada hal
yang bias kulakukan di saat-saat seperti ini
Namun nyatanya?
Aku hanya melamun,
berjalan tak jelas, melamun lagi, dan kemudian tidur
Sebuah awal yang cukup berani ketika sebuah rasa gundah atau
kecewa yang dirasakan penulis untuk memulai tulisannya.
Semua pemilihan diksi yang digunakan lebih tepat kita anggap
sebuah kalimat berita biasa yang mana pembaca dapat langsung menangkap pesan
dan situasi yang digambarkan. Tidak ada salahnya memang bila sebuah puisi
ditulis begitu, namun sebaiknyalah kita mencoba "mengembangkan"
sebuah maksud atau "memadatkannya" dalam sebuah kalimat yang kita
pilih dengan tetap menujukan sebuah pesan yang kita rasakan.
Apakah sebuah perasaan galau selalu mewakili dalam semua
bait-bait puisi ini? Sepertinya begitu saat kita membaca baris berikut ini:
Kebosanan mengikuti
terus menerus sepanjang waktu.
Bahkan mimpi yang
selalu kupajang tak pernah bisa mengusir semua ini
Banyak begitu halyang
aku pikirkan meski terkadang aku bingung ujung dari hal itu sendiri begitu
gamang
Namun sebuah rasa percaya diri, ketegaran menghadapi
masalah, dan kemampuan penulis menghadapi semua lika-liku perjalanan hidup
selalu tergambar pada goresan kata-kata selanjutnya.
Dalam sebuah struktur batin puisi biasanya terdapat:
- Tema/makna (sense); adalah hubungan tanda dengan makna,
maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna
keseluruhan.
- Rasa (feeling),
yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang
sosiologis dan psikologisnya.
- Nada (tone),
yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, dan…
- Amanat/tujuan/maksud (itention);
yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
Apakah bait terakhir dari puisi ini kita menangkap sesuatu
amanat yang ingin disampaikan penulis?
Seakan serpih itu
telah berkata,
“Kau gila…!!! Tuhan
yang Maha Tahu telah menghukummu…”
Mungkin agak sedikit kaget bila kita menyimpulkan bahwa
Tuhan telah menghukummu. Karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik dari semua
takdir hidup yang kita jalani, selalu ada hikmah tersembunyi dalam sebuah
cerita duka yang kita jalani, bukan sebuah hukuman tapi lebih tepat suatu
teguran untuk tidak lepas dari koridor jalan lurus yang diinginkanNya.
Secara umum penulis sebenarnya sangat berbakat menulis puisi
karena ia dengan begitu lancarnya dapat menguntai kata demi kata saat sebuah
imajinasi terasakan. Cobalah setelah sebuah tulisan kita buat, kembali kita
baca, kita revisi, kita padatkan, kita seleksi pemilihan kata, juga jangan lupa
membiasakan menggunakan EYD dengan benar, yakin dari hari ke hari penulis akan
mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik.
Tetap berkarya, selalu menulis, banyak membaca.
Salam aishiteru
TIM FAM INDONESIA
[NASKAH PUISI ASLI KIRIMAN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
Pembohong Paling Sukses (Puisi)
Oleh Dwi Ernawati
IDFAM305M Anggota FAM Ponorogo
Seperti tak ada yang selalu beres dengan dunia yang
bergejolak, demikian pula aku
Setidaknya ada hal yang bias kulakukan di saat-saat sei
seperti ini
Namun nyatanya..??
Aku hanya melamun, berjalan tak jelas, melamun lagi, dan
kemudian tidur
Kebosanan mengikuti terus menerus sepanjang waktu.
Bahkan mimpi yang selalu kupajang tak pernah bisa mengusir
semua ini
Banyak begitu halyang aku pikirkan meski terkadang aku
bingung ujung dari hal itu sendiri begitu gamang
Apakah kebahagiaan, pencapaian mimpi, rasa aman, atau hanya
sekedar keberadaan egoisme hatiku…???
Namun setidaknya aku tak pernah pusing diluar sana
Kegaranganku menjadi hal tersukses untuk menutupi
kegelisahan hatiku dan kebingungan atas banyak hal lainnya
Bahkan dalam keluarga, tanpa kendali yang wajar atas diriku,
aku sadar sepenuhnya bahwa aku tak bisa bergantung pada satu akar saja
Aku harus mencari akar lain, bahkan menjadi akar bila sangat
mungkin
Meski perubahan besar membutuhkan wktu yang benar-benar
lama, dimana anti klimaksnya adalah sebuah kejenuhan
Saat ini aku belum bisa menyatukan hatiku sendiri
Dimana aku masih menginginkan “rasa” yang pernah hilang
dimasa laluku
Bukan naïf, aku masih merasakan keceriaan, kebebasan, yang
tak pernah kudapat
Tapi setelah kungkungan adat dan mimpiku, aku berlari
terlalu jauh tanpa kendali tali kekang
Rasa ini membuatku begitu jatuh
Terlebih kebebasan ini kujalani tanpa adanya kontrol
Hempasan yang terjadi sejak setahun lalu, rasanya begitu
dahsyat
Banyak hal yang kutinggalkan untuk mendapatkan kebebasab
yang ujungnya
SEMU!
Terkantuk, jatuh, terhempas, terhempas terpojok dan hancur
Banyak buih yang membuatnya begitu perih
Terlalu banyak manusia yang terlalu ingin merobohkan benteng
pertahanan ini
Hingga mimpi-mimpi yang kubangun hanya tinggal kabut tipis
yang akan hilang menguap saja
Kata kecewa cukup sederhana untuk mendeskripsikan apa yang
kurasakan. Lantas…? Kusapukan kata-kata dalam lembar-lembar tak berdosa.
Masih jelas bagaimana mereka meredam api yang membara
dihatiku dengan pasir-pasir namun ku tak pernah padam
Dan saat kemiskinan makin mencekikku perlahan-lahan..??
AKU TAK PERNAH MATI…!!!
Etah ilmu apa yang kumiliki, mantra apa yang siriramkan oleh
orangtuaku sewaktu aku lahir hingga aku masih terlalu tegar
Merasa dendam memang bisa kuucapkan
Bahkan tak segan aku berkata ingin membunuhnya
Tapi, realita memiliki skor abadi yang akan terakumulasi
hingga akhir masa dunia ini
Setelah hancurnya perasaan ini, keberadaan yang nyatanya tak
bisa kumiliki, dan tetes yang mengalir dipipiku tiap angin bertiup, aku tak
tahu lagi senyum macam apa yang mampu untuk kulemparkan
Bibir yang kuiliki makin lama makin keras, tak mampu
memperbarui hariku.
Terlepas dari segala hal, itu adalah pita-pita sejarah yang
masih terus merekam segalanya yang terjadi disampingku
Konteks nilai dan rasa tidak jelas bagaimana fungsinya dalam
hidupku.
Sajak-sajak indahku kini semakin mati
Saat ada suara dari serpih hatiku yang terdengar, dan
berkata tentang diriku
Seakan serpih itu telah berkata,
” Kau gila…!!! Tuhan yang Maha Tahu telah menghukummu,,,”
[www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment