Sahabat FAM yang baik. Ulasan berikutnya adalah cerita
pendek (cerpen). Kali ini, FAM Indonesia mengulas cerpen karya Rahimah Ib (anggota
FAM Medan) berjudul “Pesona Kerupuk”.
Judul cerpen ini tergolong unik dan tidak umum. Namun di
situlah letak pesonanya. Cerpen berjudul “Pesona Kerupuk” bercerita tentang
seorang ibu dan kedua anaknya yang menyukai kerupuk yang dijual oleh Om Jenggot
di traffic light. Selain rasa
kerupuknya yang enak, penjualnya ramah dan sopan dalam bertutur kata.
Cerpen ini menarik. Penulis cukup pintar dalam membuat alur
cerita. Memang idealnya sebuah cerpen itu fokus pada satu konflik saja, seperti
yang dituangkan dalam kisah ini.
Pemilihan kata dan gaya tulisan yang digunakan
juga bagus.
Beberapa catatan dari FAM adalah mengenai EYD dan editing.
Kata ‘di’ jika diikuti kata tempat seharusnya penulisannya dipisah bukan
digabung. Salah satu kesalahan ini bisa dilihat pada kalimat “Annisa
konsentrasi dibelakang stir.” Penulisan ‘dibelakang’ yang benar adalah ‘di
belakang’. Lalu ada beberapa kesalahan ketik baik itu tanda ‘titik’, ‘spasi’,
maupun ‘koma’. Penulis diharapkan melakukan proses editing setelah naskah
selesai ditulis. Kemudian untuk istilah asing seperti ‘traffic light’ sebaiknya
penulisannya dicetak miring.
Kata ‘menggelar’ pada kalimat “Anak-anaknya menggelar lelaki
itu dengan Oom Jenggot karena lelaki itu memang memiliki sedikit jenggot di
dagunya” rasanya kurang tepat. Lebih baik diganti dengan menjuluki.
Secara keseluruhan, cerpen ini bagus. FAM berharap penulis
terus berlatih agar kualitas tulisan semakin baik. Bagi sahabat FAM lainnya,
silakan berikan juga komentarmu terhadap cerpen ini.
Semangat berkarya!
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT CERPEN ASLI
KARYA PENULIS TANPA EDITING TIM FAM]
CERPEN PESONA KERUPUK
Oleh: Rahimah Ib
IDFAM101U caKacab FAM
Medan
“Mama....laparr,” si bungsu mulai merengek.
“Sebentar ya, sayang? Tuh ada permen, minum air putih aja
dulu,” Annisa konsentrasi dibelakang stir. Annisa menarik nafas panjang, pukul
empat sore, si bungsu memang punya selera makan yang sangat baik. Makan tak
mengenal waktu, tubuhnyapun sangat subur.
“Tapi Fari mau makan, Mama....Bukan mau minum.”
“Kak Fa....masih ada roti?,” Annisa bertanya pada si sulung,
yang mulai terganggu dengan rengekan adiknya.
“Enggak ada, Ma. Habis..,”
“Mama....lapar,”
“Sebentar sayang...orang sabar disayang Allah, ya?” Annisa
mulai membujuk si bungsu yang mulai merajuk.
“Rafi tuh Ma!. Makan aja yang dipikirin!, tadi di Sekolah
jajannya juga udah banyak!,” Fara bersuara keras, jengkel. Suara mereka
bersahut-sahutan. Suasana semakin tak nyaman, Annisa mencoba bersabar. Di lampu
merah, mata Annisa tertumpu pada seorang pedagang kerupuk.
“Kita beli kerupuk, ya? Kayaknya enak tuh, mau kan?,”
cepat-cepat Fari mengangguk. Bibirnya ditarik tiga senti, tersenyum.
Annisa menurunkan kaca jendela mobil, melambai kearah
penjual kerupuk, lelaki itu mendekat.
“Kerupuk, Ibu?,” suara yang sopan diiringi senyum yang luar
biasa. Annisa tertegun.
“Iya, Bang. Berapa?,”
“Sepuluh ribu, Ibu. Untuk kebahagian pemuda kecil disamping
Ibu,” senyum yang ramah dan ikhlas. Dia tersenyum kearah Fari, anak lelaki
tujuh tahun itu tersenyum, seakan laparnya menguap naik ke awan. Fari merasa
bangga, disapa pemuda kecil. Suara dan bahasa lelaki penjual kerupuk itu
seharusnya diletakkan ditempat yang terhormat, suara dan senyum pesona
berkelas.
“Eh..iya, dua ya?,” Annisa menyerahkan uang dua puluh
ribuan. Lelaki itu menerima dengan sopan dan senyum tetap mengembang.
“Terimakasih,Ibu. Semoga selamat sampai rumah, dan kerupuk
saya membawa berkah untuk pemuda kecil Ibu,” lelaki itu berlalu. Annisa masih
tercenung, apa yang dikatakan lelaki itu adalah hal biasa yang tidak terlalu
istimewa. Bukankah pedagang mencari simpati pelanggan?, itu sudah basi. Tapi
tidak dengan lelaki yang ditemui hari ini, senyumnya penuh keikhlasan, cahaya
matanya penuh dengan kehangatan, memandang Fari seperti pandangan seorang Ayah
pada anaknya, tulus.
“Mama!! Lampunya sudah hijau!!,” Fara berteriak dari jok
belakang, Annisa tergeragap, klakson bertubi-tubi dari arah belakang, sopir
angkot berteriak kasar. Annisa cepat-cepat menginjak gas, inilah
Medan...batinnya. Semua orang tampak keras dan kasar, senyum si penjual kerupuk
tadi terasa bagai embun muncul di siang hari. Langka, dan pasti tak pernah ada.
Malam hari, senyum penjual kerupuk menjadi tema pembicaraan
di kamar. Annisa berapi-api bercerita, suaminya yang tenang hanya
senyum-senyum.
“Sangat berkesan ya, Ma?,”
“Iya, Pa. Gaya bicaranya seperti eksekutif, senyumnya
tuluuus banget. Cocok jika dia berhadapan dengan costumer, semuanya pasti
terkesan. Perusahaan beruntung punya karyawan seperti itu,” Annisa masih
berapi-api. Ada juga harapan yang muncul tiba-tiba, siapa tahu suaminya ingin
menolong lelaki itu. Mengangkatnya sebagai karyawan, bukankah lelaki itu punya
pesona eksekutif?. Suaminya menutup buku yang sedang dibacanya, menatap dirinya
dengan serius.
“Itu tidak sesederhana yang Mama pikir. Bagaimana dengan
pendidikannya? Pola pikirnya?. Yang Mama lihat itu hanya kulit luar, Mama kan
ketemu di lampu merah, dalam hitungan detik saja. Jangan terlalu dipikirkan,
nanti Papa enggak bisa tidur.” Suaminya mulai mengerling jenaka, Annisa
melempar bantal dan terkekeh.
Hari-hari berikutnya di lampu merah, kerupuk menjadi sajian
spesial diperjalanan pulang. Padahal selama ini Annisa sangat selektif memilih
makanan untuk anak-anaknya. Kerupuk adalah jenis makanan yang digoreng,
bukankah minyak goreng sekarang sangat mengkhawatirkan?. Ada minyak goreng yang
dibeningkan dengan plastik, agar minyak bekas yang berwarna gelap menjadi
bening dan makanan yang digoreng menjadi tetap gurih dalam waktu yang lama.
Atau minyak goreng yang dicampur lilin, agar makanan yang digoreng kelihatan
cantik mengkilat. Annisa merinding, tapi pesona senyum sipenjual kerupuk telah
mampu meluluh lantakkan prinsipnya. Senyum tulus, bahasa sopan yang membuat
dirinya terharu setiap hari. Memandang si penjual kerupuk yang tak pernah
merasa lelah, senyum tetap mengembang, seakan Allah menciptakannya hanya untuk
tersenyum.
Jika hari hujan, Annisa dan anak-anaknya akan kehilangan.
Mencari-cari sipenjual kerupuk yang sedang berteduh di emperan pertokoan.
Pernah juga mereka membeli kerupuk pada pedagang lain, tapi anak-anaknya protes
karena kerupuknya tidak enak seperti kerupuk “Oom jenggot”. Anak-anaknya
menggelar lelaki itu dengan “Oom Jenggot” karena lelaki itu memang memiliki
sedikit jenggot di dagunya. Annisa bingung mengapa rasa kerupuk itu bisa berbeda,
Annisa sudah meneliti merek yang ada di plastik pembungkus. Sama saja.
Kesimpulannya adalah lelaki itu menjual dengan ketulusan, senyum keikhlasan.
Sama juga seperti makanan yang dihidangkan dengan senyum dan cinta, pasti
berbeda dengan makanan yang dihidangkan dengan amarah atau cuek. Walau itu dari
jenis yang sama.
Satu kilometer menjelang lampu merah, jalanan macet parah.
Annisa menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dua anaknya yang sudah
gelisah, berharap dapat segera menyapa “Oom jenggotnya”. Tapi kemacetan ini
diluar kebiasaan, banyak orang berlarian kearah lampu traffic light, beberapa
orang berbincang-bincang di pinggir jalan. Sepertinya ada yang tidak beres di
depan sana, batin Annisa.
“Ada apa, Dik?,” Annisa melongok keluar dari jendela mobil,
bertanya kepada pemuda yang ingin menyeberang melintas dari depan mobilnya.
“Kecelakaan, Bu!,”
“Mobil atau sepeda motor, Dik?,” Annisa cemas, karena
suaminya juga selalu melintasi jalan yang sama dengannya setiap hari.
“Penjual kerupuk, Bu. Kakinya disambar truk..,” Annisa
lunglai, ia lupa mengucapkan terimakasih pada pemuda yang sudah memberinya
informasi. Pedagang kerupuk? Apakah lelaki yang punya senyum tulus dan membuat
dia dan anak-anaknya jatuh hati?. Annisa terus berdo’a dalam hati, semoga bukan.
Semoga Allah tidak lebih memberi cobaan pada lelaki itu, lelaki yang sangat
ikhlas menjalani kehidupannya, keikhlasan yang terpancar dari senyumnya.
Annisa tidak pernah lagi melihat si penjual kerupuk yang
punya senyum ikhlas itu. Anak-anak kehilangan sosok “Oom Jenggot” yang
tersenyum ramah menyapa, memanggil Rafi dengan “pemuda kecil”atau menyapa Fara
dengan “gadis cantik”. Rutinitas membeli kerupuk pada perjalanan pulang tidak
lagi dilakukan, anak-anak tidak mau kerupuk yang dijual pedagang lain. Jendela
mobil tidak lagi dibuka pada Traffic Light, semua dingin. Sudah tiga bulan.
Hati Annisa mengatakan, bahwa kecelakaan tempo hari telah
menimpa “Oom Jenggot” anak-anaknya. Tapi dia sama sekali tidak tahu harus
mencari kemana. Betapa Annisa merasakan kesia-siaan, ingin menolong tapi tidak
menyegerakan, mengapa ia harus menunda untuk mengetahui tentang lelaki itu
lebih banyak?. Bertanya sejenak tentang keluarganya, atau bertanya siapa
namanya, atau dimana alamatnya?. Bukankah suaminya yang memiliki perusahaan
besar mampu mempekerjakan lelaki tulus itu?. Mengapa menunda? Mengapa?.
Lampu traffic light menyala merah, angka seratus dua puluh
enam, Annisa menetralkan porsneling. Jendela mobil diketuk seseorang, Annisa
menoleh dan segera menurunkan kaca jendela.
“Ibu.....beli kerupuk?,” wajah berbingkai senyum tulus itu!
Dia di sini!.
“Oom Jenggot!! ,” Anak-anak berebut mencondongkan wajah ke
kaca jendela depan, menyapa lelaki bersenyum tulus itu. Tapi Annisa ingin
menangis, ada sesuatu yang berbeda. Lelaki itu menopang tubuhnya dengan tongkat
diketiaknya, kakinya hanya satu.
“Oom... kaki Oom kenapa?,” Rafi merasa aneh terhadap
pemandangan ini.
“Ohh...sudah diambil Allah, karena Oom enggak hati-hati.
Kamu pemuda kecil, harus hati-hati ya?.”
Senyum itu tidak pernah berubah, walau lelaki itu sudah
berkaki satu. Senyum tulus ikhlas tetap terpancar, membawa plastik berisi
kerupuk dengan satu kaki bertopang kruk. Annisa meneteskan air mata, tak
sepantasnya lelaki tulus itu disini. Ia harus menolongnya, segera! Tidak bisa
lagi ditunda.***
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment