HANYA PADAMULAH HIDUPKU
Karya Yayuk Widiastutik
IDFAM740U Anggota FAM Semarang
Berada dalam kesunyian malam
Saat sang bayu berhembus mesra
Desiran getarannya semakin kurasa
Merasuk ke aliran darahku
Aku tersungkur dalam ketidakberdayaanku
Satu persatu alpha & nista membayangiku
Menyudutkanku pada lorong buntu
Tembok terjal menghalangi pandanganku
Udara pengap bertuba semakin menyesakkan
Jatuh tersungkur dalam keputusasaan
Dalam kuasaMu ku basuh nuraniku
Pasrahkan segala beban yang memasungku
Hanya padaMulah hidupku
ULASAN FAM INDONESIA:
Puisi di atas dapat digolongkan kedalam jenis puisi
Platonik, yaitu puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual
atau kejiwaan. Kita dapat merasakan suatu renungan dari penulis saat suasana
tenang seperti sebuah malam yang dirasakan penulis di sini.
Hal ini juga mungkin dapat dirasakan semua orang untuk
menghitung jejak-jejak perjalanan hidup yang telah dan akan dilalui. Saat mata
masih enggan terpejam sedang malam berangsur semakin larut dalam hening dan
diam banyak sekali hal-hal yang dapat kita rasakan sebagai sebuah cerminan yang
cukup jelas buat kita berkaca.
Indah sekali, dan seakan suatu beban sedikit dapat terkurangi
bila kita mampu menuangkan semua yang kita rasakan itu menjadi sebuah bentuk
tulisan. Dan, puisi adalah tulisan yang cukup menampung dari semua suasana hati
seperti itu.
Sebagaimana yang kita tahu bahwa secara sederhana, batang
tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan
makna. Kelima unsur ini saling memengaruhi keutuhan sebuah puisi.
Puisi HANYA PADAMULAH HIDUPKU ini nampaknya telah mencakup
unsur-unsur itu. Kata atau diksi yang digunakan cukup pas dan sederhana untuk
kita selami dari apa yang dimaksud.
Larik dan bait-baitnya juga cukup kuat dan utuh dalam suatu
kesatuan puisi. Ada semacam gambaran kegagalan, kekalahan, ketidakberdayaan
masa silam dalam bait berikut:
Aku tersungkur dalam ketidakberdayaanku
Satu persatu alpha & nista membayangiku
Menyeret fikiranku
Menyudutkanku pada lorong buntu
Penulis nampaknya menggambarkan secara umum bayangan kelam
yang dialami pada masa silam.
Pada bait selanjutnya juga masih dalam kesan yang sama dari
kelanjutan suasana dalam bait sebelumnya:
Dan di bait terakhir adalah semacam benang merah yang yang
dapat kita pilah sebagai manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan yang penuh
liku ini.
Ya, seharusnyalah puisi juga mempunyai amanat atau pesan
moral yang disampaikan. Karena tema, amanat, rima, ritme, majas, dan kesan juga
adalah unsur instrinsik sebuah puisi.
Kita simak bait terakhir puisi ini:
Dalam kuasaMu ku basuh nuraniku
Pasrahkan segala beban yang memasungku
Hanya padaMulah hidupku
Sebagaimana dalam ulasan beberapa puisi religius sebelumnya
pernah dikatakan bahwa muara sebuah renungan hati itu sangat dekat dengan Sang
Maha Pencipta. Di sini penulis menyudahi puisi ini dengan sebuah bentuk
kepasrahan dari semua problema kehidupan yang dialami kepadaNya.
Sebuah kedamaian hati dan kelegaan serasa ditemukan penulis
dan pembaca dari puisi ini.
Hanya saja sedikit saran, perhatikan lagi tanda baca dalam
penulisan diksi, semisal baris di bawah ini:
Satu persatu alpha & nista membayangiku
…alpha, seharusnya ditulis “alpa”
Tanda “&” seharusnya “dan”, jangan biasakan menulis
singkatan dalam puisi bila kata itu tidak memiliki kepanjangannya.
Teruslah asah kemampuan menulis dengan banyak membaca buku
sehingga penulis mampu merangkai kata demi kata lebih tajam lagi dan bermakna.
Selamat aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment