[ID-FAM685U, Anggota FAM Tanah Datar, Sumatera Barat]
“Kemajuan
teknik tidak saja membuktikan kekuatan serta daya manusia untuk menguasai alam,
kemudian teknik itu tidak saja membebaskan manusia, tetapi juga memperlemah
serta memperbudaknya, kemajuan itu memekanisasikan manusia dalam menimbulkan
gambaran serta persamaan manusia dengan mesin.” (Nicolas Berdyev).
Kemajuan
teknologi yang awalnya bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun
kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi
kehidupan manusia. Ketika urusan yang dikelola manusia itu semkin mudah
diselesaikan, maka muncul kesepian dan keterasingan baru yaitu lunturnya rasa
solidaritas, kebersamaan dan silturrahmi. Misalnya, penemuan komputer,
handphone dan sekrang
tengah
maraknya dunia internet yang mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Hingga layar dijadikan teman setia, bahkan kita lebih mementingkan layar dari pada urusan sosial misalnya.
maraknya dunia internet yang mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Hingga layar dijadikan teman setia, bahkan kita lebih mementingkan layar dari pada urusan sosial misalnya.
Bayangkan saja
hampir setiap waktu, bahkan bangun tidur langsung menekan remot televisi untuk
meliht layar, pergi ke kantor pencet tombol Hp masih melihat layar dan sampai dikantor
kembali melihat layar komputer, sehingg hidup dipenuhi dengan dunia layar.
Ditambah lagi sekarang tengah maraknya dunia internet, dunia maya seperti Facebook yang tengah
berkembang di dunia maya. Akibatnya hubungan antar sesama jadi
renggang akibat dari satu sama lain asyik dengan layarnya masing-masing.
Ternyata
teknologi layar mampu membius manusia untuk tunduk pada layar dan mengabaikan
yang lain. Jika manusia tidak sadar akan hal ini, maka dia akan kesepian dan
kehilangan sesuatu yang amat penting dalam dirinya yaitu kebersamaan, hubungan kekelurgaan
dan sosial yang hangat secara langsung. Seperti halnya dengan dunia facebook
yang sekarang merambah luas, yang katanya untuk menjalin persahabatan, mencari
teman dan sebagainya. Tapi itu hanyalah dunia maya, dimana kita hanya
berhadapan dengan sebuah layar, tidak langsung dengan orangnya sehingga jika layar itu
rusak orang-orang akan merasa sangat kehilangan.
Jelas bahwa di satu sisi teknologi
menjadi penjara bagi manusia, namun pada sisi lain teknologi itupun dipenjara
oleh kepentingan manusia.
Teknologi layar telah jelas
memenjarakan manusia karena dia tidak akan bekerja jika tidak ada komputer
ataupun handphone. Namun, pada saat yang bersamaan manusia memamfaatkan layar
untuk ambisinya. Maka tidak heran jika kemudian layar televisi yang luasnya
hanya beberapa inci disesaki oleh berbagai program. Ibarat tong sampah, semua
ada disana
pasar, politik, ekonomi, flora, fauna dan sebagainya masuk televisi. Para
penguasa televisi memamfaatkan betul kebutuhan
masyarakat, sehingga dia gunakan untuk mencari untung
sebanyak-banyaknya.
Bius teknologi
pada manusia, ibarat orang yang pertama kali tinggal di dekat kandang kambing.
Pada minggu pertama, tidurnya akan terasa sulit karena bau yang menyengat.
Minggu kedua sudah agak bisa menyesuaikan diri dengan bau itu dan minggu-minggu
selanjutnya akan terbiasa. Teknologi yang sedang melanda kehidupan sekarang
juga di
ibaratkan dengan orang yang bertempat tinggal di samping kandang
kambing itu, saking asyiknya ia tidak sadar teknologi membuat ia terpinggirkan.
Dia hanya berimajinasi sesuai dengan apa yang ditayangkan televisi, apalagi
yang menonton itu anak-anak. Mislnya penayangan acara Smack Down,
film-film kartun seperti Sinchan, Superman, yang dapat merusak moral
anak-anak, karena mereka dapat saja menirukannya.
Krisis
kemanusiaan tidak hanya terjadi akibat kemajuan teknologi, tetapi juga akibat
kecenderungan, ideologi dan gagasan yang tidak utuh. Umat manusia sekarang
sangat tergantung dan dimanjakan oleh teknologi, ketergantungan yang terus
menerus menjadikan dia terlena dari eksistensi dirinya yang bebas dan kreatif. Secara tak sadar
dia telah dipenjara oleh teknologi itu sendiri. Misalnya teknologi layar
seperti komputer rusak, maka dia sangat repot karena semua urusan ada disana,
dari agenda harian sampai proposal proyek.
Setelah ditemukan
kemajuan teknologi yang begitu hebat, ternyata tanpa disadari teknologi itupun memeranjakan
manusia, artinya penjara manusia tidak berkurang dengan kemjuan teknologi. Pada
konteks inilah manusia perlu disadarkan, bahwa teknologi bukan tujuan tapi
sekedar sarana untuk memudahkan urusan.
Jika kita tidak
mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis kemanusiaan,
maka kita harus berjuang untuk membebskan diri dari kungkungan teknologi kembali
pada eksistensi awal yaitu manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran
terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan,
terutama kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan.
Etika global perlu dirumuskan bersama karena krisis akibat teknologi hanya berdampak untuk
negara tertentu, tetapi mencakup semua negara. Pemanasan global
akibat asap buangan dari pabrik dan kendaraan mengakibatkan es di Kutub Utara
mencair sehingga akibatnya daratan semakin menyempit. Tempat tinggal manusia
semakin menyempit, padahal jumlah penduduk semakin meningkat. Pada konteks ini, akan muncul berbagai
persoalan dan krisis kemanusiaan itu sendiri.
ULASAN
FAM INDONESIA:
Sebuah artikel yang cukup menarik dengan
mengambil judul “Krisis Kemanusiaan dan
Kemajuan Ilmu” membawa kita untuk melek pada keadaan kita saat ini. Tetapi,
kalau melihat isinya lebih mengarah kepada kemajuan ilmu dan krisis
kemanusiaan. Jadi bukan bertolak dari krisis kemanusiaan mendorong terjadinya
kemajuan ilmu tetapi karena kemajuan ilmu berdampak pada krisis kemanusiaan.
Penulis berangkat dari kutipan Nicolas Berdyev yang menyoroti dampak kemajuan teknologi terhadap
kemanusiaan. Diikuti pandangan penulis pada paragraf kedua yang menyajikan
dampak perkembangan teknologi yang menyebabkan ketergantungan manusia terhadap
dunia layar, sehingga menyebabkan lunturnya solidaritas, kebersamaan dan
silaturahim. Dan kita sekarang ”dianggap” lebih mementingkan dunia layar
daripada urusan sosial.
Paragraf ketiga dan keempat, penulis mulai masuk pada
bukti dengan mengambil sampel facebook
yang dianggap telah mengakibatkan hubungan antar sesama menjadi renggang hanya
terbatas di dunia maya. Kenyataan yang ada malah sebaliknya, dengan HP dan facebook, malah membuat hubungan silaturahim menjadi semakin mudah.
Kalau tanpa perangkat teknologi, kita akan bersilaturahim dengan saudara yang
jauh membutuhkan waktu lama dan biaya yang besar, maka dengan teknologi
sekarang bisa dilakukan dengan cepat dan hemat. Sementara untuk bertemu
langsung, kalau tanpa HP atau facebook yang kita tuju bisa saja tidak
ada di tempat karena suatu urusan. Tetapi dengan HP atau facebook kita
bisa janji untuk bertemu pada saat yang ditentukan.
Jadi kemajuan
teknologi tidak serta merta mengalihkan hubungan sosial ke dunia maya, malah
sebaliknya hubungan sosial terjadi di alam nyata dan dunia maya.
Masuk pada paragraf
kelima dan keenam, mulai terjadi inkonsistensi. Kalau pada awalnya
penulis bersikeras pada keterpenjaraan manusia oleh dunia layar, pada paragraf
kelima menyatakan bahwa layar juga dipenjarakan oleh manusia dengan berbagai
hal yang bisa dilakukan manusia. Artinya, bukan kemajuan teknologi yang
memenjarakan manusia, tetapi sikap manusia dalam memanfaatkan kemajuan
teknologi yang menyebabkan dirinya terpenjara.
Paragraf terakhir
yang merupakan kesimpulan pendapat penulis malah keluar dari konteks tema yang
dibahasnya. Kalau di awal, penulis berangkat dari dampak kemajuan teknologi
bagi hubungan sosial, maka di akhir menekankan perlunya dirumuskan etika global
yang berhubungan dengan upaya menekan pemanasan global. Paragraf ini sama
sekali tidak mendukung tema yang dibahas. Seharusnya penulis mengangkat
perumusan etika global untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana mempererat
rasa persaudaraan, kebersamaan dan silaturahim.
Catatan
khusus:
1.
Layar hanyalah perangkat untuk
memvisualisasikan proses yang terjadi pada CPU, kalau layar rusak, masih bisa
menggunakan layar lainnya.
2.
Akses facebook tidak tergantung pada 1 layar atau satu perangkat, di
manapun bisa akses facebook, karena
segala datanya ada pada server induk Facebook
bukan pada perangkat yang kita miliki.
3.
Sebaiknya penulis menyertakan
data statistik atau persentase tingkat ketergantungan terhadap perangkat
teknologi, misal hasil survey terhadap nemophobia (sindrom takut kehilangan ponsel).
4.
Beberapa kata seperti: silturrahmi, sekrang, membebskan, mislnya,
kekelurgaan, terjadi
kekurangtelitian dalam menulis.
5.
Penulisan kata depan “di” pada
kata: dikantor, disana, seharusnya dipisahkan karena sebagai penunjuk
kata tempat.
6.
Penulisan kata “di
ibaratkan” seharusnya disatukan menjadi diibaratkan.
Oke, semangat berkarya, teruslah.
Salam aishiteru.
TIM FAM
INDONESIA
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment