SANG PURNAMA DALAM
GELAP
Oleh Rahimah Ib
IDFAM101U CaKacab
Medan
Sahabat, pagi cerah bersaput awan yang berarak memayungi
langit kotaku. Seperti biasa, aku selalu bersemangat ketika berangkat kerja, untuk
mencerdaskan anak bangsa. Ketika aku tidak masuk kelas, aku akan bekerja
menatap komputer diselingi berselancar di dunia maya.
Tahukah kau sahabatku? Mataku terpaku pada status Muhammad
Subhan (Ketua Umum FAM Indonesia) yang menyatakan tentang buku yang kau tulis
“Insyaallah 100% Sembuh”.
Dadaku gemuruh bertanya, siapa perempuan hebat yang menulis buku ini? Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng-addmu.
Dadaku gemuruh bertanya, siapa perempuan hebat yang menulis buku ini? Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng-addmu.
Aku tak pernah menyangka jika engkau langsung
mengkonfirmasinya. Aku pikir engkau sama seperti orang hebat yang lain, lelah
untuk berteman. Tapi engkau tidak, aku meminta nomor teleponmu engkau beri
dengan ringan saja, tanpa khawatir seperti orang hebat yang lain bila diminta
nomor handphonenya, takut terganggu.
Sahabat, setelah itu persahabatan kita mengalir layaknya air
sungai di kaki gunung, sejuk. Setiap hari aku merindukan senyum tulus di depan
kain merah menyala itu. Aku merindukan kata-kata penyejuk yang terus engkau
sebarkan layaknya gerimis yang tak mengenal musim. Aku juga merindukan suara
beratmu yang bersahaja, tegas dan memesona (belakangan aku tahu dari tulisanmu
“Motivasi Seorang Kakak” bahwa engkau adalah vokalis dan pemain teater, pantas
saja suaramu berkarakter kuat).
Aliya sahabatku, kau mengajak aku untuk berjalan bersama di
FAM Indonesia. Pada saat aku terus berenang di dunia maya untuk mencari
komunitas yang dapat membantuku bangun dari keputusasaan mendapatkan tulisanku
yang tak jua berkembang. Arti namamu memberi makna yang sebenarnya bahwa engkau
mampu menjadi purnama dalam gelap. Aku tak pernah meragukanmu, aku sangat yakin
itu. Yakin pada perjuangan pribadimu menghadapi tubuh sendiri, berjuang
mempertahankan bayi mungilmu agar tetap bisa hidup dan besar bersamamu dengan
segala resikonya (belakangan aku juga tahu dari tulisanmu yang engkau posting
di grup kita, FAM). Sahabat, tak semua perempuan mampu seperti itu, mungkin
termasuk juga aku.
Sahabatku, bukankah keyakinanku itu terbukti? FAM baru
berdiri selama tiga bulan. Tetapi gaungnya mampu menembus gunung, membahana di
angkasa, menyusup ke relung-relung jiwa.
Sahabat, percayalah, walau kita jauh tapi engkau selalu
terasa dekat. Engkau adalah sahabat paling tulus yang mau berbagi yang pernah
aku jumpai. Kau bergerak demi komunitas kita tanpa pamrih. Aku terharu membaca
postinganmu yang menceritakan betapa engkau bermandi keringat demi FAM, dan
keringatmu tak pernah dibayar oleh siapapun dalam bentuk rupiah (hanya Allah
yang akan membalas semua). Kau seperti cahaya rembulan yang pernah menyambut
kehadiranmu di dunia, mampu menerangi kegelapan. Seperti engkau telah membawaku
kedalam cahaya terang bersama FAM Indonesia.
Andai kita dekat, aku akan memelukmu. Menyuntik energi positif
dan vitamin untuk terus membangun semangat yang tak pernah padam. Kita akan
bersama berjuang, bersama berkeringat, bersama menangis, bersama tertawa,
bersama terus berbagi untuk sahabat FAM Indonesia. Tapi, jarak bukanlah menjadi
penghalang bukan? Walau kita jauh, tapi aku selalu merasa dekat, engkau mampu
hadir dalam keseharianku, mampu membuatku terus bersemangat untuk mencapai apa
yang aku cita-citakan.
Aliya sahabatku, surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan
karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar. Karena sahabat FAM
kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena
Allah. Ah… sudahlah, aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah, teman kantor
mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan
menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja.
Salam dari sahabatmu yang jauh.
***
BAHTERA MIMPI
Oleh Ken Hanggara
IDFAM801M Anggota FAM
Surabaya
Assalamualaikum Wr. Wb.
Untuk Sahabat Aliya Nurlela.
Tak banyak yang ingin kukatakan untuk Kak Aliya di
kesempatan kali ini. Karena seakan terpasung mulut ini—mengolah isi kepala yang
terpenuhi segala perasaan positif, gagap oleh haru memunculkan kalimat rasa
bersyukur dan terima kasih kepada-Nya, disaat sebentar lagi dua puluh satu
musim aku menginjak bumi ini.
Aku bersyukur pada Allah yang telah memberikan satu kali
lagi kesempatan untukku belajar dan memperbaiki diri. Aku bersyukur karena disekitarku
begitu banyak orang yang mencintai, menyayangi, melihat, mendengar, menolong,
memfitnah, mencemooh, menyakiti, serta meracuni hidupku dengan cara mereka
masing-masing.
Aku bersyukur atas hidup ini, meski kadang terasa sulit.
Hidup memang tak pernah mudah. Karena “mudah” adalah sesuatu, di mana kita
tersesat disebuah pulau terpencil, tanpa makanan yang cukup dan harapan untuk
ditolong—dan yang kita lakukan hanya diam, pasrah. Tapi hanya mereka yang rela
tertipu bujukan rasa pesimis, yang mau berbuat seperti itu. Menurutku Kak Aliya
pasti setuju akan hal itu—tanpa sedikit pun bermaksud sok tahu (Ah, lagi-lagi
kalimat itu).
Pertama aku dapat melihat, rasanya matahari berwarna
putih—misterius. Telingaku mendengar sejak suara petir kuanggap dapat membunuh
seluruh organ dalam kepala. Tak banyak yang dapat kuingat dalam buku sejarah
hidupku. Hanya setelah aku dewasa dan mengenal sepeda roda dua, buku bacaan
anak-anak, serta pensil warna—aku mulai paham bahwa hidupku ini tersusun dari
deretan peristiwa sederhana nan ajaib. Dan semua itu, seluruh kejadian itu, tak
mungkin menjadi sedemikian berarti, tanpa orang-orang yang masuk menghiasi
memori-memori berharga sepanjang hidupku.
Maka hari ini, berjuta terima kasih kutujukan pada mereka,
siapa pun mereka, di manapun mereka berada—yang mau meluangkan, meski hanya
sedetik waktunya, demi mengisi hari-hariku.
Seorang yang bijak pernah berkata padaku:
“Jika ingin perubahan, teruslah berusaha dan berkelana. Temui
banyak orang. Karena dari sanalah kau akan belajar.”
Aku tak mengerti maksud dari “temui banyak orang” itu. Dan
rasa penasaranku terjawab sudah, setelah segala hal yang kualami hingga detik
ini. Pertemuan dengan seseorang, telah memberi sesuatu yang berharga untukku.
Saat duduk di bangku SMA, aku mengenal seorang gadis yang tanpa sengaja
memberiku kemampuan menulis puisi (baca “SALJU”, surat terbuka sebelumnya).
Juga sahabat-sahabatku, yang memberiku cerita-cerita lucu, indah, mengharukan,
bahkan menyebalkan—yang tak pernah dapat terlupakan.
Banyak orang silih berganti—ada yang baik, ada juga yang
jahat—turut serta melengkapi perjalananku selama ini. Hingga aku bertemu dengan
Kak Aliya. Belum lama kita mengenal, namun nasehat dan motivasi darimu mampu
membangitkan semangatku yang kadang sedikit melemah, saat pikiran-pikiran
pesimis berusaha merasuki otakku, membisikkan kabar bahwa mimpi-mimpi yang
kukejar semakin menjauh dan pergi naik bahtera ketidakyakinan—bersama masa
depan yang berkompromi dengan kekuatanku sendiri, mengkhianatiku. Semua itu
takkan mungkin dapat terkejar!
Namun benih semangat positif dari Kak Aliya, membuat mataku
mampu melihat segala kemungkinan akan mimpi-mimpi itu, akan masa depan itu.
Kini rasa pesimis itu menangis seorang diri di ujung dermaga
kebodohan. Kak Aliya tahu mengapa ia menangis? Ia menangis karena kukabarkan
padanya bahwa telah kubangun bahtera keyakinan, dan kubawa berlayar bersamaku:
mimpi-mimpiku, masa depanku, dan kekuatan untuk meraihnya.
Tak peduli meski perahu itu linggar, tak peduli betapa ganas
ombak samudra yang mampu menelanku bulat-bulat, tak peduli monster raksasa apa
yang akan menghadangku di depan sana, juga tak peduli meski badai menanti
dengan awan hitamnya yang menciutkan nyali pelaut mana pun. Aku tak peduli!
Kutinggalkan jauh-jauh rasa pesimis yang membuai dengan racun wanginya yang
mematikan itu. Biar ia menangis. Biar ia sendiri, meringkuk di dermaga itu.
Terimakasih, Kak Aliya. Bukannya berlebihan, karena memang
ini yang kualami. Kau telah memberi banyak energi positif untukku, memberiku
pelajaran berharga tentang mimpi, potensi, niat, komitmen, tindakan, dan
semangat.
Terimakasih untuk kalian—orang-orang yang memberiku sesuatu
yang takkan terbeli oleh apa pun di dunia ini.
Betapa hidup ini susah, sekecil apa pun itu, tak ada yang
tak mungkin. Namun keberhasilan itu takkan tercapai jika kita tak mau belajar
dan berusaha.
***
SEORANG MUSLIMAH
PENGUKIR PENA
Oleh Yasin Abiru
Sabil
ID FAM 537M Anggota
FAM Bandung
Bismillah, semoga kesehatan dariNya selalu menyertaimu, Mbak.
Kuawali suratku ini dengan sebuah kutipan dan bio yang kusalin dari acount
seorang muslimah yang penuh sederhana dan berlaut karisma:
“Allah menciptakan hamba bukan untuk bermain-main dan bersenda
gurau, tetapi untuk melakukan ketaatan kepadaNya. Sungguh tidak patut setelah
diciptakan, diberi indra yang sehat, rejeki yang mengalir, kemudian dipakai
untuk menentangNya”.
“Aku bukanlah orang yang memiliki banyak kelebihan, aku
seorang wanita muslimah yang ingin berguna dalam hidup. Bisa menjadi rahmat
bagi sesama. Aku terus belajar dan belajar untuk menjadi manusia yang lebih
baik, karena tidak ingin hidup menjadi sia-sia. Kukerahkan seluruh potensi yang
diberikan Allah padaku, dengan ihklas, semangat dan optimis. Aku yakin jika
kita sungguh-sungguh menjalani hidup untuk menjadi orang berguna, Allah akan
membukakan pintu kemudahan”.
Itulah isi kutipan itu, indah sekali dan penuh rasa dari
pengukir penanya. Kuyakin, pasti Mbak tahu jelas goresan pena siapakah yang
menulis kutipan itu. Mbak, walaupun kita belum bertemu, tapi kutipan dan biomu
memberikan cerminan tentang perangaimu. Bermula dari FAM aku mengenal sosokmu, Mbak.
Mei 2012 lalu setelah naskah novelku selesai, aku pun mulai searching penerbit di dunia maya, dan
entah dari blog siapa aku mendapati info tentang FAM Indonesia dengan segala
kelebihannya. Setelah berkirim pesan di inbox Fb pun aku tak ragu untuk
mendaftar menjadi anggota FAM.
Pesan dan doa untuk Mbak Aliya di Milad yang ke-37:
Tahukah kau Mbak yang paling jauh dari kehidupan manusia itu
apa? Masih ingat dengan komenku yang ini Mbak di salah satu statusmu? Jawabannya,
“Masa lalu”. “Bagaimana pun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa
kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari
yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama. Besok telah
menjadi hari ini, hari ini telah berubah menjadi kemarin. Masa depan telah
berubah menjadi masa lalu, dan ia akan semakin jauh meninggalkan kita”. Itulah
pesan dari Imam Al Ghazali kepada murid-muridnya, dan pesan untuk kita juga Mbak,
terlebih untuk penulis surat ini.
Mbak, semoga apa yang kau tulis dibiomu itu yang kuhadirkan
di awal surat ini menjadi motivasimu untuk mengingatkan ‘azzammu’ yang begitu
indah itu, membuatmu untuk selalu berusaha menjadi sosok muslimah yang
sederhana namun berhias khazanah keilmuan, memotivasimu untuk menjadi sosok
muslimah pengukir sejarah dakwah dengan goresan penamu, dan tentunya menjadi
sosok muslimah yang selalu berdakwah dengan santun katamu yang terangkai dan
terangkum dalam kisah-kisah penuh hikmah.
Izinkanlah sejenak penaku menari di suratku ini, Mbak:
Seindah kutipan dan Bio Aliya Nurlela:
Pena indah tergores sudah dikutipan dan bio maya seorang muslimah
Penanya memberiku daya imajinasi tentang pribadinya
Hatiku pun mulai membaca:
“Dialah muslimah berbekal potensi indera dari Rabbnya”
“Dialah Muslimah yang ingin selalu belajar dan belajar di untaian
detiknya”
“Dialah muslimah yang tak ingin sia-sia di bingkai hidupnya”
“Dialah muslimah yang mencoba untuk selalu ikhlas di segudang
aktivitasnya”
“Dialah muslimah yang selalu semangat dan optimis di kisah
hidupnya”
“Dialah muslimah yang berusaha untuk sungguh-sungguh dalam
menjalani hidupnya untuk berguna dan mengharap kemudahan dan keridhaan dari
Rabbnya”
“Dialah muslimah yang hanya baru kukenal di dunia maya”
“Dialah… Aliya Nurlela”.
‘Afwan jika ada salah dalam penulisan suratku ini, Mbak,
karena tak pernah berkirim surat sebelumnya.
Salam aishiteru.
***
PESAN YANG KAU
SELIPKAN PADA BUNGA
Oleh Nadia Regina
Martanti
IDFAM695M Anggota FAM
Sukoharjo
Teruntuk Aliya Nurlela
Seorang akhwat yang mulia hatinya, penyuka warna ungu dan
pengagum berbagai bunga.
Assalamu’alaikum
warahmatullah wa barakatuh.
Dari Kota Solo kukirimkan salam terindah untukmu, seindah
warna yang ternyata sama-sama kita sukai, seharum semerbak abadi bunga-bunga
yang kau kagumi.
Wahai Akhwat yang mulia hatinya…
Entah darimana aku harus mulai bicara, tentang inspirasi dan
semangat yang begitu membara. Yang kau siratkan, yang kau suratkan pada cerita
dan tulisan. Meski belum pernah kujabat tanganmu yang sering gemulai bersama
pena itu, lewat surat ini anggap saja aku sedang ada di hadapanmu, saling bertatap,
saling berjabat, dan saling berpeluk erat lalu kubisikkan terima kasih yang
sangat.
Wahai Akhwat yang mulia hatinya…
Semula aku tak pernah bermimpi jadi penulis hebat, toh
nyatanya aku merasa tak punya kelihaian mereka kata layaknya Gibran, pun tak
melihat dalam diriku bibit-bibit menjadi orang besar. Mungkin jikalau terlihat
orang, akan segera diabaikan. Lalu kau bercerita, membuat pikiranku terbuka.
Cinta Enceng Gondok
katamu.
Enceng gondok di pinggiran sungai, yang tak begitu
dipedulikan orang, yang dianggap parasit bisa menghasilkan bunga yang begitu
indah, apalagi ditambah pesona warna ungu kesukaan kita. Kini aku tak mau kalah
dengan enceng gondok, kulambungkan keyakinanku tinggi-tinggi. Aku yang walaupun
bukan orang besar dan cenderung masih diabaikan dengan ketulusan hati akan
menghasilkan karya-karya yang indah dan menyejukkan.
Wahai Akhwat yang mulia hatinya…
Semula aku ragu, apa aku sekuat itu? Apa dalam perjuanganku
mengukir dakwah dalam tulisan bisa kupatri keyakinan, keteguhan, pendirian
dalam bingkai yang tetap menawan? Tetap meninggalkan manfaat walau hidup telah
tamat? Lalu kau ungkapkan, pribadi unggulan yang dibungkus rupawan.
Flamboyan ungu
ungkapmu.
Bunga yang elok dengan batang yang kuat, tinggi menjulang,
indah dipandang, pun saat bunganya berguguran batangnya berguna untuk kayu
bakar. Kini aku bertekad untuk jadi pribadi yang kuat, menciptakan karya-karya
yang bermanfaat. Meski nanti hidupku tamat setidaknya kuwariskan sederet
tulisan yang sarat pesan kebaikan. Seperti Flamboyan yang meninggalkan
batangnya untuk kayu bakar.
Wahai Akhwat yang mulia hatinya…
Kiranya kucukupkan sepucuk surat penawar rindu. Semoga kita
senantiasa dalam lindungan yang Maha Kuasa, dalam perjalanan panjang dengan
niat mulia yang akan kita tempuh bersama.
***
JILBAB PUTIH MBAK
ALIYA
Oleh Abdul Kadir
Halimin
IDFAM350M Anggota FAM
Barru, Sulawesi Selatan
"Jilbab-jilbab putih lambang kesucian, penuh kasih
teguh pendirian…"
Sekilas jika saya mendengar lagu Qasidah yang diputar oleh
nenek, pasti ujung-ujungnya saya akan langsung ingat kepada Mbak Aliya Nurlela,
Sekjen Forum Aktif Menulis. Mungkin ada sebagian yang heran atau bertanya,
mengapa demikian? Identikkah beliau dengan jilbab berwarna putih? Bukankah
banyak yang memakai jilbab berwarna putih?
Ya, saya juga heran mengapa hal itu bisa terjadi dalam memori
penghafalanku. Sejatinya telah terjadi suatu hubungan yang sinkron, antara memori
penghafalanku, jilbab putih, dan Mbak Aliya Nurlela—ya mungkin saja. Ini semua
berlangsung sejak saya mengenal Mbak Aliya di situs jejaring social Facebook, beberapa bulan lalu. Seperti
sebuah tulisan yang saya postingkan di grup “Forum Aishiteru Menulis” pada
bulan April yang lalu. Pertemuanku dengan Mbak Aliya lantaran waktu itu, saya
membaca suatu info lomba di internet, dan yah bla bla bla hingga sekarang kami
sering saling sapa jika kebetulan kami berdua lagi online di akun
masing-masing.
Eh, kita balik lagi, mengapa ya jika mendengar lantunan lagu
“Jilbab Putih”, saya langsung ingat kepada Mbak Aliya? Loh, kok saya yang
bertanya lagi? Bukankah itu pertanyaan yang ditujukan kepada saya?
Yah, pokoknya begini, jilbab putih itu identiklah dengan
Mbak Aliya (Si Kadie udah sok tahu ini).
Mengapa saya menvonis demikian? Mungkin jika saya lagi chatting dan membaca update status serta komen Mbak Aliya di facebook, yang kutemui pasti sosok
wanita yang tersenyum indah dengan jilbab putihnya. Itulah salah satu alasan
mengapa memori penghafalanku menterjemahkan sinyal demikian.
Jika kita melirik lagi syair “Jilbab-jilbab putih lambang
kesucian, penuh kasih teguh pendirian”, cukup jelaslah bagi kita bahwa
sesungguhnya syair itu benar adanya di dalam diri beliau. Wanita yang selalu
tersenyum manis diantara mekaran mawar merah yang indah, dan pastinya dibalut
dengan jilbab putihnya itu.
Hmm, eh bulan ini, bulan yang indah bagi beliau, merasakan
Miladnya yang Insya Allah penuh berkah. Aku tak punya kado yang mahal untuk
kuhadiahkan kepada beliau. Hanya doa yang kupanjatkan beriringan dengan gerak
mulut beliau membaca surat terbuka ini. Semoga segala hajat dan harapan indah
Mbak Aliya Nurlela, dapat terwujud semuanya tanpa terkecuali, Amin.
Mungkin sudah cukuplah saya luapkan kata-kata dalam surat
ini. Salam bahagia selalu dan selamanya buat Mbak Aliya Nurlela dan keluarga.
Hormatku.
[www.famindonesia.blospot.com]
Comments
Post a Comment