Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
kembali mengajukan pertanyaan kepada anggota aktifnya maupun anggota di “Forum
Aishiteru Menulis”, grup yang dikembangkan FAM di facebook. Pertanyaan itu
masih seputar tulis menulis.
Pertanyaannya adalah, “Ketika masih pemula, pernahkah Anda
diremehkan bahkan direndahkan oleh seorang penulis senior? Tulisan Anda
dikatakan jelek, tak layak disebut sebagai tulisan bahkan yang lebih sinis ada
yang menyebutnya sebagai karya sampah. Bagaimana sikap Anda menghadapi kondisi
itu? Apakah Anda shok lalu berhenti menulis dan mengatakan dunia tulis menulis
bukan bidang Anda? Seandainya kelak Anda menjadi penulis senior akankah Anda
bersikap ‘dendam’ pada penulis-penulis pemula yang mengharapkan bimbingan Anda?”
“Saya pernah diremehkan seperti itu, namun saya menganggap
tanggapan mereka adalah ‘cambuk’ agar saya dapat mengembangkan karya-karya saya
lagi. Saya yakin, para penulis senior itupun tidak bermaksud untuk meremehkan
karya saya, hanya saja mereka sedang melatih mental saya untuk menghadapi dunia
tulis-menulis.” (Hannan Izzaturrofa)
“Tidak pernah, karena tulisan-tulisan (yang diperuntukkan khalayak)
dipersiapkan dengan matang untuk tidak dicaci. Tapi untuk kritikan, selalu, karena
disanalah proses pembelajaran menulis yang akan meningkatkan kualitas karya.” (Kun
Geia)
“Pernah. Saya pernah mengalami hal itu. Dengan angkuhnya
penulis senior menilai tulisan saya jauh sekali dari yang namanya tulisan layak
baca. Saya pernah down juga, maklum manusia biasa—juga memiliki asa yang kadang
juga terbatas. Namun bersama FAM Indonesia saya bangkit dari keterpurukan dan
bayang-bayang cemoohan penulis lainnya. Semakin lama, tulisan saya sudah
ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pembaca walau itu sekadar ‘certus’ (cerita
status). Semoga kita semua menjadi penulis terbaik sepanjang masa.” (DP Anggi)
“Tinggal jawab saja, kalau karya saya karya sampah, tolong
ajari saya bagaimana cara membuat tulisan yang tak layak jadi karya sampah.” (Andalusiana
Cordoba)
“Pernah tulisanku dikatakan coretan ayam oleh seseorang.
Namun aku hanya tersenyum dan berbisik pada hati kecilku, biarlah orang
menganggap apa, inilah karyaku. Mungkin kini aku hanya seekor burung yang tak
dapat terbang tinggi, namun aku yakin, suatu saat nanti aku akan menjadi burung
yang dapat mengelilingi dunia dan menghiasinya dengan beribu karya. Dan jika kelak
aku ditakdirkan menjadi penulis senior, maka aku akan berusaha menghargai
segala jenis karya yang telah adik-adik hasilkan. Karena semuanya butuh proses
untuk menuju kesempurnaan.” (Vina Rohmatul Ummah)
“Belum sih, tapi kalau dari teman dekat ada. Ketika saya
bilang ingin jadi novelis, dia berkata, ‘Gak mungkin, kamu itu bukan tipenya’. Namun
setelah saya bersahabat dengan pena dan membuat catatan di fb saya, dia pun
mulai berkata, ‘Wah, gayanya sudah seperti penulis terkenal saja.’ Kelak jika
impian itu telah nyata, maka saya akan berbagi dengan mereka yang butuh
bimbingan saya. Ejekannya membuat saya belajar dan terus belajar.” (Yasin Abiru
Sabil)
“Bukan senior. Sama-sama pemula. Tapi ia mengecam dengan
halus. Saat itu, rasanya memang perih. Sempat hampir padam semangat dan ingin
beranjak. Tapi setiap kali orang menjatuhkan, ada yang membangunkan. Semangat
itu melecut kembali sebelum terbenam. Insya Allah tidak. Saat kita mencerca
tulisan orang lain berarti kita membuka peluang untuk orang mencerca kita.” (Ma'arifa
Akasyah)
“Beruntunglah ketika kita mengalami semua itu, hidup memang
berawal dari kegagalan. Semakin cepat kita mendapatkan kegagalan semakin cepat
pula kita meraih kesuksesan. Jadikanlah cemoohan orang sebagai motivasi diri
untuk lebih baik lagi, dan jangan takut untuk bermimpi, sebab mimpi itu gratis.
Bermula dari mimpilah kita mempunyai semangat untuk menjadikan mimpi itu jadi
kenyataan.” (Fhauzan Ten Brother's)
“Aku pernah mengalami puisiku dibilang 'sampah'. Ya, mungkin
karena diksinya masih 'std bgt' dan sangat polos. Makanya akhirnya aku jadi malas
untuk lebih mengenal yang namanya puisi, hingga kini. Jadi benar-benar tidak tertarik
lagi sama puisi. Nulis puisi aja cuma sekadar luapan emosi amarah atau
kesedihan. Just for it.” (Alin You)
“Pernah. Shok sesaat tapi berusaha dihilangkan. Cuma kadang kalau
sudah bikin karya tulisan lagi, saya tidak mau memperlihatkan ke dia. Takutnya
dia menghina lagi. Kalau misal sudah jadi penulis (amin), ya paling dibuat
sebagai kisah saja lagi. Dendam sih gak, cuma pasti ingat terus orang yang pernah
begituin saya.” (Nurul Ilma)
“Belum pernah, karena gak pernah dibaca yang senior. Hanya
share via note fb. Andaikata memang dibilang begitu ya alhamdulillah, berarti
tulisan kita masih dihargai, tinggal kita harus terus berlatih menulis lagi
mungkin menggunakan bahasa yang lebih jelas, lugas juga, singkat jelas dan
harus berkualitas.” (Mahardhika Widyantoko)
“Pasti pernah. Saya pernah dikritik tulisan saya tidak
nyambung dan tak menarik. Pasti tentunya rasa kesal ada namun seperti teman
lain bila itu cemohan atau dengki maka biarkan itu berlalu. Namun bila itu
kritikan yang membangun maka jadikan itu pelajaran untuk memperbaiki lagi walau
kritik itu pedas. Bagi penulis pemula bukan untuk diremehkan tapi diberi
motivasi.” (Fatimah Zahra Almadihi)
“Pernah, tapi sesama pemula. Bahkan dia sahabat dekatku
sendiri. Setelah itu lama aku berhenti menulis—setahun lebih. Tapi seiring
berjalan waktu aku sadar kritikan negatif yang berunsur menjatuhkan macam itu,
tak seharusnya kuanggap sebagai lemparan batu raksasa peroboh tembok mentalku.
Kuanggap semua itu layaknya lumpur yang mengotori dinding semangatku, namun
segera kubersihkan dengan air yang bersumber dari pikiran positif. Kalau nanti
aku menjadi penulis senior, aku tak akan berbuat hal sejahat itu—mematahkan semangat
pejuang di langkah awalnya. Aku pernah disakiti seperti itu, maka aku tak ingin
menjadi penyebab orang lain merasakan itu.” (Ken Hanggara)
“Alhamdulillah belum pernah. Jika itu terjadi satu ketika,
maka itu dianggap sebagai pelecut agar lebih banyak belajar. Jangan pernah
menyerah.” (Nuh Rafi)
“Malah dari orang terdekat, katanya; kalau hanya berbentuk
puisi semua orang juga bisa, visi dan misi yang juga ingin disampaikan
terbatas. Sejak saat itu saya selalu sembunyi-sembunyi kalau lagi menulis. Saya
bertekad bahwa dengan puisi kita juga bisa berdakwah. Sekarang setelah puisi
saya, beberapa dianggap layak di event-event antologi, baru saya memperlihatkan
kepada dia dan akhirnya di mengacungkan jempol, malahan kalimatnya sekarang
menjadi; 'coba, mana tulisanmu, saya ingin membacanya'. Wah, sikap meremehkan
berubah menjadi perhatian, sikapnya itulah yang sekarang kini menjadi motivasi
saya untuk berusaha menjadi lebih baik lagi.” (Titi Haryati Abbas)
“Pernah, awalnya memang sakit hati. Tapi saya tahu beliau mengatakan
hal yang menyakitkan itu karena ingin melihat saya lebih maju dan lebih baik dalam
menulis. Beliau punya cara yang beda dalam mengajarkan menulis, yakni dengan sindiran,
kritikan, dan hinaan. Tapi itu semua malah memotivasi saya dan menginginkan agar
suatu saat beliau mngatakan karya saya 'bgus', 'luar biasa'. Jika saya menjadi penulis
senior (aamiin) lebih baik memotivasi penulis pemula dengan bahasa yang ma'ruf dan
membangun, karena tak sedikit orang-orang yang malah sakit hati dan berhenti menulis
ketika dikritik.” (Zalfa Nazhifah)
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment