Skip to main content

Bukan Sekadar Pakaian

Oleh Muhammad Subhan*)

Saya punya seorang kawan, alumni sebuah lembaga training spiritual keagamaan yang tersohor namanya di mana-mana. Kawan saya itu, ke mana pun ia pergi, selalu memakai jaket hitam bertulis logo lembaga training itu di dadanya. Begitupun, peci (kopiah) ‘pak haji’ tak pernah lepas dari kepalanya. Gagah dan terkesan alim benar. Tapi sayang, selama begaul dengannya, jarang saya melihatnya salat.

Teman saya yang lain, perempuan, anggota halaqah sebuah pengajian. Berjilbab, tepatnya berbusana muslimah yang baik. Ayu penampilannya. Dan, ke mana-mana selalu pergi berkelompok dengan teman-temannya yang “sepakaian” dengannya. Namun, maaf, lagi-lagi sayang, ketika saya berjumpa teman itu “ngumpul”, setiap itu pula saya dengar dia ‘menggosipin’ orang. Bergunjing. Saya intip beranda sosial medianya, status-statusnya begitu pula, berkeluh kesah dan selalu berburuk sangka kepada Tuhan dan orang lain.

Nah, satu lagi, teman saya juga, penampilannya biasa-biasa saja. Agak kalem, atau bisa dibilang pendiam, begitulah. Bukan alumni sebuah lembaga spiritual keagamaan dan tidak juga anak pengajian, tapi dia belajar dari banyak guru dan buku—tidak taklid buta kepada satu guru. Setiap azan berkumandang di masjid, saya lihat dia yang paling pertama duduk di shaf paling depan. Sungguh, saya sangat salut kepadanya.

Dari pengalaman melihat perbedaan ketiga teman saya itu, saya berkesimpulan, ternyata, “pakaian” tidak menjadi jaminan kedekatan seorang manusia di hadapan Sang Khalik. Begitu pun, “pakaian” tidak selalu mencerminkan sikap dan perilaku keseharian si pemakai pakaian. Bahkan, pakaian sering kali menciptakan “kebohongan” yang cenderung mengarah pada kesombongan dan kepura-puraan. Padahal, dalam ayat-ayatNya, Allah SWT menegaskan bahwa Allah tidak melihat pangkat, jabatan, kedudukan, dan pakaiannya seorang hamba kecuali takwanya.

Memang, banyak orang yang tertipu memandang kadar takwa seseorang, walaupun sebenarnya kita tidak pantas menilai kadar ketakwaan manusia. Sebab, ketakwaan itu hanya Allah SWT saja yang tahu dan berhak memberikan penilaian.

Banyak orang memandang kadar ketakwaan seseorang dari pakaiannya, dan atribut-atribut ibadah lain yang melekat di tubuhnya. Padahal, belum tentu orang yang memakai atribut tersebut bisa konsisten dengan apa yang mereka pakai. Banyak kaum pria memakai setelan baju koko lengkap, tapi hanya di saat momen-momen tertentu saja. Ada juga kaum perempuan yang memakai jilbab, namun hanya untuk kebutuhan trend mode semata. Kondisi itu, sekarang telah umum terlihat di mana-mana. Dan, telah menjadi bagian dari budaya yang sedang tumbuh di tengah masyarakat kita. Namun demikian, tentu saja, orang yang “berpakaian” sopan masih lebih baik dari manusia yang memakai “pakaian” apa adanya (pas-pasan; ketat).

Nah, dari ketiga pengalaman tentang “pakaian” itu pula, ada anekdote Abu Nawas yang cukup menarik dan menjadi renungan untuk kita bersama. Suatu hari, Abu Nawas berpenampilan ala orang biasa menghadiri sebuah pesta seorang bangsawan di kotanya. Karena Abu Nawas tidak memakai pakaian layaknya tamu yang sedang mengikuti pesta, tak seorang pun tuan rumah yang peduli apalagi melayaninya. Bahkan, karena dianggap kumuh, Abu Nawas diusir karena dianggap merusak acara di pesta itu. Tentu, bukan Abu Nawas namanya bila tidak panjang akal. Ia pun pulang ke rumah mengganti pakaian, lalu kembali ke pesta. Bajunya indah layaknya seorang bangsawan. Sesampainya di pintu masuk, dua pelayan menyambutnya dengan senyuman hangat dan menghidangkannya makanan serta minuman lezat. Abu Nawas senangnya bukan main. Namun, tak lama Abu Nawas larut dalam kesenangan itu. Tiba-tiba ia melepaskan pakaian kebangsawanannya, lalu berteriaklah dia: “Hai pakaian, makanlah makanan yang disediakan tuan rumah. Karena yang dihargai di sini hanyalah dirimu, bukan aku!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Abu Nawas pergi meninggalkan pesta.

Pakaian, memang, mencerminkan identitas seseorang. Tetapi sayangnya, identitas kadangkala sering dikaburkan hanya karena salah memakai pakaian. Alangkah indahnya jika si pemakai pakaian membungkus dirinya dengan jiwa ketakwaan, santun dan rendah hati. Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu berpakaian takwa. Amin ya Rabbana.

*) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...