Sebuah judul selayaknya dapat dimaknai sebagai pesan sebuah tulisan secara keseluruhan. Dari judul pula dimaknai sebagai penarik perhatian pembaca kepada isi tulisan kita. Judul ibaratnya sebuah magnet. Maka pemilihan sebuah judul menjadi penting manakala kita menginginkan tulisan kita dibaca oleh orang lain.
Mari kita telaah puisi karya Aisyah Luthfi yang diberi judul “Alam Desaku” ini. Kita baca dengan mengambil sudut pandang berlatar alam sebuah desa. Mari pindahkan imajinasi kita sejenak lalu kita baca dan hayati puisinya itu. Puisi “Alam Desaku” dibuka dengan bait sebagai berikut :
Ku pandang sawah membentang luas
Menghijau bagai karpet
Burung bernyanyi riang
Menyambut pagi
Lihat, ini adalah sebuah pembukaan yang menarik. Aisyah Luthfi membawa kita ke sebuah ruang di mana ada hamparan sawah yang luas menghijau dengan latar belakang suara burung dan kegembiraan suasana pagi hari.
Kemudian dilanjutkan dengan bait kedua:
Mentari mengintip malu
Di balik gunung
Membaca bait di atas, kita teringat pada pelajaran menggambar saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebuah gambar pemandangan. Ada dua buah gunung di mana matahari muncul seperempat lingkaran dari balik antara dua gunung tersebut. Sementara di bawahnya ada pemukiman penduduk dengan sawah, sungai, dan rumah-rumah yang berdiri jarang. Langit biru dimeriahkan burung-burung yang terbang beriringan di atas horizon.
Lalu secara tiba-tiba, fragmen tersebut selesai begitu saja dengan disusul oleh bait-bait berikutnya:
Pagi beranjak siang
Sang mentari tidak malu lagi menampakkan dirinya
Sinarnya menyilaukan dua telaga beningku
Orang-orang melakukan pekerjaannya sendiri
Siang beranjak sore
Mentari mengantuk
Sinarnya berpendar lembayung
Mentari pun pulang
Sore beranjak malam
Rembulan mendampingi malam
Dia menyunggingkan senyum
Seolah menggoda siapa saja
Cita rasa kesyahduan sebuah desa dihentikan oleh penyair secepat kilat ketika kemudian pagi sudah merapat ke dalam siang, kemudian sore lalu hari sudah malam saja. Suasana alam pedesaan yang sangat bagus digambarkan di awal harus lenyap oleh bergulirnya hari bagai berkejar-kejaran. Maka di sini yang menjadi pokok bahasan penyair tidak lagi tentang sebuah alam pedesaan tapi tentang perjalanan mentari melewati hari dan kemudian berganti tempat dengan rembulan.
Dari uraian di atas, kembali kita kepada masalah pemilihan judul sebagaimana disampaikan sebelumnya. Apakah puisi ini cocok dengan diberi judul “Alam Desaku”? Pembukaan yang sudah bagus ternyata tidak sukses dieksekusi pada bait-bait berikutnya. Nah, ke depan ini harus diperhatikan. Ada trik tertentu yang mesti kita lakukan apabila memilih judul tulisan kita, terutama dengan puisi. Ada sebagian besar penyair memilih judul setelah tulisan selesai. Cara seperti ini rupanya sangat jitu menyiasati agar judul dan isi sesuai dan serasi. Namun, ada pula yang meletakkan judul terlebih dahulu baru kemudian menuliskan isi tulisan. Trik ini menuntut penulis untuk fokus, memahami tema dan tahu apa yang akan disampaikannya sehingga tulisan tetap konsisten, mengalir dan tidak di luar konteks pembicaraan.
Dari segi diksi juga puisi ini masih perlu perbaikan. Disarankan untuk lebih memperkaya kosa kata dan pilihan-pilihan kata. Sebuah puisi adalah tulisan yang memiliki efek irama dan harmonis. Ke depan supaya lebih diperhatikan lagi.
Demikian ulasan puisi karya Aisyah Luthfi (FAM1108M) yang berjudul “Alam Desaku” ini. Teruslah berkarya dan menulis. Jangan berhenti untuk belajar. Sebab dengan belajar kita telah memperbaiki tulisan kita menuju bentuk yang baik dan sempurna.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
ALAM DESAKU
Oleh Aisyah Luthfi (FAMili Sumedang)
Ku pandang sawah membentang luas
Menghijau bagai karpet
Burung bernyanyi riang
Menyambut pagi
Mentari mengintip malu
Di balik gunung
Pagi beranjak siang
Sang mentari tidak malu lagi menampakkan dirinya
Sinarnya menyilaukan dua telaga beningku
Orang-orang melakukan pekerjaannya sendiri
Siang beranjak sore
Mentari mengantuk
Sinarnya berpendar lembayung
Mentari pun pulang
Sore beranjak malam
Rembulan mendampingi malam
Dia menyunggingkan senyum
Seolah menggoda siapa saja
[www.famindonesia.com]
Gambar sekadar ilustrasi dan bersumber dari google.com
Mari kita telaah puisi karya Aisyah Luthfi yang diberi judul “Alam Desaku” ini. Kita baca dengan mengambil sudut pandang berlatar alam sebuah desa. Mari pindahkan imajinasi kita sejenak lalu kita baca dan hayati puisinya itu. Puisi “Alam Desaku” dibuka dengan bait sebagai berikut :
Ku pandang sawah membentang luas
Menghijau bagai karpet
Burung bernyanyi riang
Menyambut pagi
Lihat, ini adalah sebuah pembukaan yang menarik. Aisyah Luthfi membawa kita ke sebuah ruang di mana ada hamparan sawah yang luas menghijau dengan latar belakang suara burung dan kegembiraan suasana pagi hari.
Kemudian dilanjutkan dengan bait kedua:
Mentari mengintip malu
Di balik gunung
Membaca bait di atas, kita teringat pada pelajaran menggambar saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebuah gambar pemandangan. Ada dua buah gunung di mana matahari muncul seperempat lingkaran dari balik antara dua gunung tersebut. Sementara di bawahnya ada pemukiman penduduk dengan sawah, sungai, dan rumah-rumah yang berdiri jarang. Langit biru dimeriahkan burung-burung yang terbang beriringan di atas horizon.
Lalu secara tiba-tiba, fragmen tersebut selesai begitu saja dengan disusul oleh bait-bait berikutnya:
Pagi beranjak siang
Sang mentari tidak malu lagi menampakkan dirinya
Sinarnya menyilaukan dua telaga beningku
Orang-orang melakukan pekerjaannya sendiri
Siang beranjak sore
Mentari mengantuk
Sinarnya berpendar lembayung
Mentari pun pulang
Sore beranjak malam
Rembulan mendampingi malam
Dia menyunggingkan senyum
Seolah menggoda siapa saja
Cita rasa kesyahduan sebuah desa dihentikan oleh penyair secepat kilat ketika kemudian pagi sudah merapat ke dalam siang, kemudian sore lalu hari sudah malam saja. Suasana alam pedesaan yang sangat bagus digambarkan di awal harus lenyap oleh bergulirnya hari bagai berkejar-kejaran. Maka di sini yang menjadi pokok bahasan penyair tidak lagi tentang sebuah alam pedesaan tapi tentang perjalanan mentari melewati hari dan kemudian berganti tempat dengan rembulan.
Dari uraian di atas, kembali kita kepada masalah pemilihan judul sebagaimana disampaikan sebelumnya. Apakah puisi ini cocok dengan diberi judul “Alam Desaku”? Pembukaan yang sudah bagus ternyata tidak sukses dieksekusi pada bait-bait berikutnya. Nah, ke depan ini harus diperhatikan. Ada trik tertentu yang mesti kita lakukan apabila memilih judul tulisan kita, terutama dengan puisi. Ada sebagian besar penyair memilih judul setelah tulisan selesai. Cara seperti ini rupanya sangat jitu menyiasati agar judul dan isi sesuai dan serasi. Namun, ada pula yang meletakkan judul terlebih dahulu baru kemudian menuliskan isi tulisan. Trik ini menuntut penulis untuk fokus, memahami tema dan tahu apa yang akan disampaikannya sehingga tulisan tetap konsisten, mengalir dan tidak di luar konteks pembicaraan.
Dari segi diksi juga puisi ini masih perlu perbaikan. Disarankan untuk lebih memperkaya kosa kata dan pilihan-pilihan kata. Sebuah puisi adalah tulisan yang memiliki efek irama dan harmonis. Ke depan supaya lebih diperhatikan lagi.
Demikian ulasan puisi karya Aisyah Luthfi (FAM1108M) yang berjudul “Alam Desaku” ini. Teruslah berkarya dan menulis. Jangan berhenti untuk belajar. Sebab dengan belajar kita telah memperbaiki tulisan kita menuju bentuk yang baik dan sempurna.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
ALAM DESAKU
Oleh Aisyah Luthfi (FAMili Sumedang)
Ku pandang sawah membentang luas
Menghijau bagai karpet
Burung bernyanyi riang
Menyambut pagi
Mentari mengintip malu
Di balik gunung
Pagi beranjak siang
Sang mentari tidak malu lagi menampakkan dirinya
Sinarnya menyilaukan dua telaga beningku
Orang-orang melakukan pekerjaannya sendiri
Siang beranjak sore
Mentari mengantuk
Sinarnya berpendar lembayung
Mentari pun pulang
Sore beranjak malam
Rembulan mendampingi malam
Dia menyunggingkan senyum
Seolah menggoda siapa saja
[www.famindonesia.com]
Gambar sekadar ilustrasi dan bersumber dari google.com

Comments
Post a Comment