Skip to main content

Lima Tahun Lalu Aku Tak Berani Bermimpi

Getasan, 12 Januari 2013

Teruntuk FAM, oasis dalam gersang dan tandus gurun kehidupan.

Assalamualaikum Wr. Wb.

FAM, senang rasanya aku dapat kembali menulis surat padamu. Aku bahagia karena sekali lagi, kau memberikan peluang untuk anganku—yang bahkan aku sendiri tak berani untuk terlalu membebaskannya—terbang jauh menembus kenyataan bahwa tak semudah itu hidup berjalan.

FAM, mungkin sekitar lima tahun lalu aku tak lagi berani bermimpi. Apapun. Kecuali untuk menjadi kaya sehingga tak ada yang bisa meremehkanku dan keluargaku. Semakin hari, aku semakin terbenam dalam payahnya hidup, hingga aku lupa akan mimpi tunggalku itu. Akhirnya, aku hidup hanya untuk bertahan hidup dan berusaha bahagia dan sealu merasa cukup dengan apa yang seharusnya aku bisa lebih. Hingga satu hari aku bertemu dengan orang yang membuatku untuk bermimpi. Dia membuatku mengerti bahwa tak selamanya mimpi itu hanya gumpalan imajinasi yang tak berguna. Karena dengan mimpi, banyak orang yang bisa menaklukkan dunia. Seperti para penulis, misalnya. Aku mulai menulis sejak lama namun karena orang itu aku belajar menyimpan mimpiku dalam setiap tulisan yang aku goreskan di kertas. Dan dari menulis, aku mulai menilai sebuah buku dengan cara yang berbeda: tentang kisah si penulis buku dan gumpalan imajinasinya yang rapi terurai halaman demi halaman sehingga begitu menyenangkan membacanya. Aku selalu berpikir, apa sebenarnya mimpi mereka?

FAM, ada banyak penulis yang sangat aku kagumi. Dan ada beberapa yang sangat sangat aku kagumi sampai saat ini. Aku suka Shakespeare, FAM. Siapa yang tak tahu cerita Romeo dan Juliet yang bahkan banyak orang yang tak tahu siapa Shakespeare pun mengetahui cerita itu? Atau Othello dan Hamlet yang sama terkenalnya? Aku bahkan sampai mencari buku versi aslinya setelah pertama kali aku selesai membaca naskah tragedi ‘Romeo dan Juliet’ yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Memang agak bingung membacanya karena bahasa Inggris yang digunakan masih seperti Inggris yang belum dibakukan. Tapi toh aku lakukan juga: membaca dengan buku di tangan kanan, kamus elektrik di tangan kiri dan kamus besar di pangkuan. Maklum saat itu aku masih SMP.

Aku juga suka JK Rowling. Tak lain dan tak bukan itu karena Harry Potter-nya yang mengagumkan di mataku dan mungkin juga di mata hampir semua orang.

FAM, apakah kau juga menyadari bahwa kedua tokoh favoritku itu berasal dari negara yang sama? Ya, Inggris.

Jika kau menanyaiku di mana negara impianku, FAM, maka aku akan langsung mengatakan Inggris di urutan pertama. Kenapa di urutan pertama? Itu karena aku ingin mengelilingi dunia, FAM. Dari semua benua, aku ingin mengunjungi negara-negara di sana. Aku memang belum pernah ke Inggris, namun negara itu tampak tak asing bagiku. Mulai dari bahasa, aku suka bahasa Inggris sejak aku duduk di bangku TK, hingga saat ini jika ada yang bertanya apa mata pelajaran favoritku, maka aku masih akan mengatakan ‘bahasa Inggris’. Aku ingat benar apa kata guru bahasa Inggrisku saat aku menginjak bangku SMP, FAM, dia bilang ‘jika kau bisa berbahasa Inggris, separuh dunia telah menjadi milikmu’. Mendengar kata itu, sontak aku semakin ingin mengusai bahasa itu. Siapa yang tak ingin ‘memiliki’ separuh dunia? Dan seiring jalannya waktu, aku semakin tahu maksud kata itu. Bukan penjajahan, namun, bukankah Inggris adalah bahasa internasional, FAM? Dan itu tak terbantahkan lagi.

Bukan hanya karena itu saja aku ingin ke Inggris, FAM. Alasan lainnya adalah ada beberapa orang yang aku kenal yang telah menginjakkan kakinya di sana, dan ada satu orang yang aku kenal. Kami bukan saudara, hanya aku mengenal orang itu dan orang itu mengenalku. Kami tak begitu dekat tapi juga sama sekali tak jauh. Sebenarnya aku mengaguminya dan dia menghargaiku. Dia adalah seorang dosen saat ini. Mungkin itu alasan paling masuk akal ketika aku berkata aku sangat ingin ke Inggris. Karena dia membawakan cerita langsung dari negara itu. Bukan tentang Big Ben atau gedung-gedung khas London atau tentang kerajaan yang megah dan semua pemandangan yang indah di sana, namun cerita tentang rumah-rumah sederhana di pinggir kota yang terlihat sangat hangat dan nyaman ketika salju datang dan sejuk saat musim panas, tentang perbedaan keyakinan yang dapat diterima dengan baik di sana, tentang persahabatan dua negara yang terjalin begitu baik atau sekadar tentang mahalnya harga beras di sana yang membuatku tertawa terbahak ketika mendengarkan cerita itu. Meski begitu, walaupun tak ada azan yang mengingatkan waktu salat dan tak ada beras, aku tetap ingin pergi dan menimba ilmu di sana. Aku juga ingin sesekali pusing mencari beras, hehe.

Mungkin akan menyenangkan FAM, jika suatu saat aku bisa mengunjungi negara kerajaan itu sebagai seorang penimba ilmu yang tinggal di salah satu rumah di pinggir kota yang hangat dengan pemandangan yang indah sembari mengetikkan surat kepadamu dan mengabarkan padamu bahwa aku telah sampai di tanah impianku.

Mungkin sekian dulu suratku untukmu kali ini, FAM. Semoga Allah merestui jika lain kali aku bisa kembali dan menceritakan padamu cerita-ceritaku dan semoga Allah mengabulkan keinginan kita semua. Amin

Wassalamualaikum Wr. Wb.

NOER AST
Getasan
noerast28@gmail.com

Gambar: Sudut Kota London, Inggris

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...