PERTANYAAN:
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam santun.
Mengenai postingan "Tips Menulis Cerpen yang Baik",
ada beberapa pertanyaan yang masih menghantui alam imajinasi saya. Berikut hal-hal
yang ingin saya tanyakan:
1. Untuk menentukan tema, apakah tema dibuat terlebih dahulu
atau menunggu ceritanya sudah selesai baru bisa menentukan sebuah tema?
2. Adakah perbedaan antara cerpen dan flash fiction? Berapa
ratus atau ribu karakter yang biasa digunakan oleh masing-masing bagian (cerpen
dan FF)?
3. Untuk penulisan tanda petik, tanda tanya ataupun tanda
seru. Apakah menggunakan spasi atau tidak?
4. Adakah batasan waktu bagi anggota yang ingin
berkonsultasi mengenai dunia tulis menulis?
Demikian pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Terima kasih
atas perhatiannya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Najwa Al Farra (Nova Fatna Ningsih)
FAM 1257M - Tangerang-Banten
JAWABAN FAM INDONESIA:
1. Apa itu
tema? Tema adalah pokok pemikiran, ide atau gagasan serta yang akan disampaikan
oleh penulis dalam tulisannya. Tema dapat diartikan sebagai pengungkapan maksud
dan tujuan. Tema berada di dalam pikiran penulis. Jadi, sebelum menulis,
seorang penulis sudah harus tahu dulu apa tema yang hendak dia tuliskan dalam
tulisannya.
2. Cerpen yang kepanjangannya
‘cerita pendek’ adalah sebuah karangan yang menceritakan tentang suatu alur
cerita yang memiliki tokoh cerita dan situasi cerita terbatas. Sebuah cerpen
biasanya akan langsung mengarah ke topik utama cerita karena memang alur
ceritanya cuma sekali dan langsung tamat. Menurut Edgar Allan Poe, Jassin
(1961:72) cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Sebuah
cerpen merupakan prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000
kata. Cerpen dapat terbentuk karena adanya unsur-unsur intrinsik cerpen, unsur
intrinsik tersebut antara lain adalah (1) tema, (2) tokoh, (3) alur, (4) latar,
(5) teknik penceritaan, dan (6) diksi.
Sedangkan Flash Fiction (FF) sesuai namanya adalah ‘fiksi
kilat’ yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik. Beberapa penulis
menyebutnya dengan istilah sudden fiction, microfiction, micro story, postcard
fiction, atau short short story. Belum ada kesepakatan resmi tentang jumlah
kata sebuah cerita yang dapat digolongkan kedalam flash fiction. Sebagian
beranggapan, jumlah kata 300-1.000 kata masih bisa disebut flash fiction,
berada di antara microfiction (10-300 kata) dan cerpen tradisional (3000-5.000
kata). Baik contoh cerpen dan contoh FF bisa dicari di mesin pencari google.
3. Adakah batasan waktu bagi anggota yang ingin
berkonsultasi mengenai dunia tulis menulis? Jawabannya tidak ada batasan waktu.
Hanya saja setiap pertanyaan yang diajukan mengikuti daftar antrian mengingat
banyaknya jumlah anggota FAM Indonesia.
4. Untuk penulisan tanda petik, tanda tanya, ataupun tanda
seru dapat mengikuti pedoman sebagai berikut:
Tanda Petik ("...")
a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh:
"Saya belum siap," kata Mira, "tunggu
sebentar!"
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa
Indonesia."
b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku
yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa,
dari Suatu Tempat.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan
Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku
itu.
c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal
atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan
ralat" saja.
Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan
nama "cutbrai".
d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri
petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat
ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang
dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri
tidak tahu sebabnya.
Tanda Petik Tunggal ('...')
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam
petikan lain.
Contoh:
Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring'
tadi?"
"Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku,
'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan asing.
Tanda Tanya (?)
a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.
Contoh:
Kapan ia berangkat?
Saudara tahu, bukan?
Penggunaan kalimat tanya tidak lazim dalam tulisan ilmiah.
b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk
menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Contoh:
Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
ataupun rasa emosi yang kuat.
Contoh:
Alangkah mengerikannya peristiwa itu!
Bersihkan meja itu sekarang juga!
Sampai hati ia membuang anaknya!
Merdeka!
Oleh karena itu, penggunaan tanda seru umumnya tidak
digunakan di dalam tulisan ilmiah atau ensiklopedia. Hindari penggunaannya
kecuali dalam kutipan atau transkripsi drama.
Demikian jawaban FAM Indonesia. Semoga bermanfaat.
Salam santun, salam karya.
FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments
Post a Comment