Skip to main content

Kerinduan Ayah dan Ibu Adalah Juga Kerinduanku

Padang, 17 Januari 2013

Dear Sahabatku, FAM Indonesia
di- Hamparan Sajadah Bumi Allah Yang Sungguh Indah

Bismillaahirrahmaa nirrahiim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Sebuah kata yang sangat pantas kita haturkan kepada Allah SWT, di tengah begitu banyaknya nikmat yang dilimpahkan kepada kita.

Untaian shalawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah SAW, berkat jasa dan pengorbanan beliau sehingga kita bisa menikmati indahnya hidup dalam kemuliaan islam.

Sahabatku FAM Indonesia. Tanpa terasa sudah hampir dua bulan ukhuwah ini membersamai kita. Silaturahim dan komunikasi yang terjalin seolah menyiratkan bahwa kita sudah lama saling mengenal. Padahal bertatap muka pun kita belum pernah. Sebuah anugerah yang sungguh begitu berharga yang kurasakan karena telah mengenalmu. Aku berharap kebersamaan ini akan senantiasa terjaga dan semoga Allah kembali mengumpulkan kita kelak di surganya yang penuh dengan kenikmatan, Aamiin.

FAM yang baik. Kali ini engkau kembali memberiku sebuah kesempatan untuk mengasah kemampuan menulisku lewat lomba menulis surat yang engkau adakan ini. Setelah beberapa waktu lalu even yang sama juga engkau angkatkan, dan Alhamdulillah aku masuk nomitor 10 besar. Sebuah prestasi yang begitu membanggakan bagiku dan semakin meningkatkan percaya diriku bahwa suatu saat akupun bisa menjadi seorang penulis hebat yang memperkaya khazanah karya sastra nusantara ini dengan karya-karyaku.

Sebuah nilai plus baru yang kurasakan saat ini. Setiap menulis surat kepadamu aku sangat berhati-hati sekali dengan pilihan kata, bahasa yang kupergunakan dan EYD. Dan sebelum mengirimkannya aku terlatih untuk membacanya kembali hingga berkali-kali. Sebuah hal yang jarang sekali kuperhatikan sebelumnya.

Beberapa waktu lalu engkau menanyakan apa impianku seandainya aku menjadi penulis terkenal. Berbagai jawaban kusampaikan untuk menjawab pertanyaanmu itu. Salah satunya adalah ingin mengobati kerinduan kedua orang tuaku untuk menjejakkan kakinya di Tanah Suci Mekah Al-Mukarramah. Baiklah sebelum aku lanjutkan, aku ingin bercerita sedikit, tentang apa yang baru saja kualami saat aku mengunjungi kedua orangtuaku di kampungku Bukittinggi beberapa hari yang lalu. Sebuah pengalaman yang sungguh membuatku tidak mampu untuk menahan air mataku untuk menetes. Bahkan sampai sekarang jika aku teringat itu, aku kembali akan meneteskan air mata ini.

Beberapa hari yang lalu aku mengunjungi keduaorang tuaku yang tinggal di Bukittinggi. Mereka hanya tinggal berdua di kampung, karena kedua adik perempuanku juga sudah menikah dan sekarang ikut suaminya dan tinggal di dua kota yang berbeda. Seperti biasanya aku selalu membawa istri dan anak setiap kali ada kesempatan untuk pulang kampung. Karena kedua orangtuaku sangat senang ketika aku membawa keluargaku ke kampung. Apalagi melihat kecakapan dan kelincahan yang diperankan oleh anak semata wayangku yang saat ini sudah menginjak usia 1,4 tahun.

Di saat kami bercerita dan saling melepas kerinduan yang membuncah satu sama lain, ada sebuah pernyataan yang membuatku cukup terhenyak dari apa yang disampaikan oleh ayah bahwa beliau kembali melakukan sebuah pekerjaan yang menurutku cukup menguras tenaga, seperti yang pernah beliau lakoni dulu untuk membiayai kuliah kami bertiga. Dulu beliau bekerja keras peras keringat banting tulang demi anak-anaknya agar memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada beliau. Namun untuk sekarang rasanya beliau tidak perlu lagi untuk bekerja terlalu keras karena Alhamdulillah kami ketiga anaknya sudah menyelesaikan studi dan tidak lagi meminta uluran tangan dari beliau. Ketika kucoba tanya apa alasan beliau mengapa bekerja keras lagi, beliau menjawab dengan sebuah jawaban yang sangat menusuk tepat di jantungku. Sebuah jawaban yang terasa menyayat-nyayat hati dengan perihnya seperti luka yang disirami dengan air asam. Jawaban dari beliau seolah menjadi sebuah tamparan keras buatku. Beliau menjawab bahwa beliau ingin naik haji ke Makkah. Barangkali dalam pikiran beliau, beliau tidak mau terlalu berharap banyak kepada kami anaknya yang juga hidup tidak terlalu berkecukupan, sementara keinginan beliau sangat kuat untuk berangkat haji.

Jawaban dari beliau tersebut sangat membakar semangatku. Dalam hati aku bertekad untuk berkarya sebaik-baiknya demi mengobati kerinduan ke dua orang tuaku itu. Mudah-mudahan Allah perkenankan aku untuk berbakti kepada kedua orangtuaku salah satunya dengan memberangkatkan beliau ke tanah suci, negeri para nabi tersebut.

Di samping itu aku pun punya impian yang sama untuk bisa menjejakkan kakiku di tanah suci para nabi yang merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi itu. Beberapa hal yang melandasi mengapa begitu kuatnya keinginan itu adalah karena beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh tempat itu, yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Di antaranya adalah bahwa Mekah menjadi tempat kelahiran makhluk yang paling mulia di antara makhluk lainnya. Dialah Muhammad, Rasulullah SAW, sebagai nabi dan utusan terakhir yang membawa risalah besar untuk jin dan manusia serta sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil’alamin). Selain itu, Mekah juga menjadi tempat turunnya wahyu (Al-Qur’an). Allah juga memilih Mekah sebagai tempat istimewa dalam penanaman akidah serta perjuangan nabi selama tiga belas tahun dalam mendidik para sahabatnya sehingga menjadi generasi pertama islam di bawah bimbingan Rasululah SAW. Dan masih banyak keistimewaan-keistimewaan lain yang dimiliki tanah itu.

Dan jika suatu saat aku diizinkan untuk menjejakkan kakiku di sana, maka aku akan manfaatkan kesempatan tersebut untuk memohon kepada Allah akan keselamatan dan kesuksesan dunia dan akhirat. Memohon doa untuk kekuatan azzam (tekad yang kuat) dan ketetapan hati untuk mewujudkan semua impianku, seperti yang telah disebutkan pada suratku sebelumnya. Aku takut seandainya aku memang ditakdirkan sukses secara finansial, niatku berubah. Niat untuk membelanjakan hartaku untuk kegiatan sosial/amal nantinya mengalami defiasi. Banyak orang yang berhasil ketika diberikan ujian berupa kekurangan harta, namun tidak sedikit pula yang gagal ketika diberikan ujian berupa harta yang melimpah. Itu yang kutakutkan, bahwa niat awalku melenceng ketika kesuksesan itu benar-benar telah berada di genggamanku.

Maka aku tidak akan sia-siakan kesempatan itu untuk bermunajat di tempat-tempat yang yang mustajab (yang mana doa tidak tertolak di sana), agar Allah menguatkan niatku dan tidak tergoda dengan bujuk rayu syaithan yang menggoda dengan kemewahan dunia. Di antaranya adalah Multazam. Sebagaimana hadits nabi yang diriwatkan oleh Ahmad, “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad). Multazam terletak mulai dari Hajar Aswad hingga pintu Ka’bah. Selain itu aku juga akan berdoa di Hijr Ismail yang merupakan bagian dari Ka’bah, berbentuk setengah lingkaran yang berada di sisi kiri dari pintu Ka’bah. Dinamakan Hijr Ismail karena tempat ini pernah menjadi tempat berteduh Siti Hajar dan anaknya, Nabi Ismail as. Dan juga di beberapa tempat lainnya seperti Hajar Aswad, Rukun Yamani, Raudhah, yang mana di tempat-tempat ini merupakan tempat-tempat terbaik untuk berdoa.

Demikianlah suratku ini. Mohon maaf kalau seandainya suratku kepanjangan dan kalimat-kalimatnya terkadang belepotan. Maklum baru pemula dan masih harus banyak belajar. Doa dari FAMili semua tentu sangat kuharapkan demi memuluskan langkahku untuk menggapai impian-impianku tersebut. Akhir kata hanya kepada Allah kita berharap semoga Allah mendengar semua jeritan hati ini dan mengabulkan permohonan kita, Aamiin..

Salam Karya,

Muhammad Abrar

IDFAM1174U, Padang-Sumatera Barat
Email: abrar.muhammad@ymail.com

Gambar: Multazam, Kakbah, Mekah. Sumber foto google.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...