Aku tak menyangka akan dapat menginjakkan kaki di Jakarta (transit), Jogja dan Pare, Kediri, Jawa Timur. Seumur hidupku baru kali ini kulakukan. Dengan satu niat ingin bersua langsung dengan Sekjen FAM Indonesia, yang paling ramah dan baik juga teman-teman penulis di kota itu.
Dan niat itu terwujud setelah aku naik pesawat dari Bandara Internasional Minangkabu (BIM) di Ketaping, Padang Pariaman, dengan rasa yang berbunga-bunga, walau sebenarnya terbersit rasa cemas saat berada dalam pesawat, karena terbayang peristiwa pesawat jatuh yang diberitakan di media elektronik. Namun itu lenyap setelah bertemu teman-teman FAM di Pare, Kediri.
Dan rasa itu semakin membuncah saat bertemu dengan Sekjen FAM Indonesia, Mbak Aliya Nurlela. Ditambah sambutan hangat dan layanan yang tak ternilai harganya saat kami berada di sana. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah rasa syukur kepada Allah SWT, karena telah memberikan kesempatan itu.
Dan juga ucapan terimaksih tak terhingga kepada Sekjen FAM Indonesia serta adik-adik sanggar menulis di kantor FAM atas kesediannya memberikan waktunya melayani kami saat kami hadir di sana.
Dalam kesempatan itu banyak hal yang aku dapat. Mulai dari motivasi, semangat, hingga ilmu yang menyangkut dengan proses tulis menulis dan penerbitan buku. Walau itu hanya dalam bentuk komunikasi dan tanya jawab yang dibalut rasa kekeluargaan, namun itu tak menyurutkan niatku untuk semakin bertekad menciptakan karya terbaik yang bermanfaat bagi manusia, di suatu hari nanti.
Dalam temu ramah itu juga semakin terasa nyata hidup ini. Dan semakin terasa indahnya kebersamaan. Walau jauh di mata namun dekat di hati. Berawal dari dumay (dunia maya) akhirnya bertemu di dunia nyata. Sungguh, FAM begitu spesial bagi saya. Semoga di lain waktu silaturahim ini kembali terwujud. Aamiin.
NUH RAFI
Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat
ID 130 U
Domisili di Kota Pariaman
Gambar: Nuh Rafi saat menerima kenang-kenangan dari Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia, di kantor pusat FAM Indonesia, Jl. Mayor Bismo, No. 22, Pare, Kediri, Jawa Timur.
Dan niat itu terwujud setelah aku naik pesawat dari Bandara Internasional Minangkabu (BIM) di Ketaping, Padang Pariaman, dengan rasa yang berbunga-bunga, walau sebenarnya terbersit rasa cemas saat berada dalam pesawat, karena terbayang peristiwa pesawat jatuh yang diberitakan di media elektronik. Namun itu lenyap setelah bertemu teman-teman FAM di Pare, Kediri.
Dan rasa itu semakin membuncah saat bertemu dengan Sekjen FAM Indonesia, Mbak Aliya Nurlela. Ditambah sambutan hangat dan layanan yang tak ternilai harganya saat kami berada di sana. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah rasa syukur kepada Allah SWT, karena telah memberikan kesempatan itu.
Dan juga ucapan terimaksih tak terhingga kepada Sekjen FAM Indonesia serta adik-adik sanggar menulis di kantor FAM atas kesediannya memberikan waktunya melayani kami saat kami hadir di sana.
Dalam kesempatan itu banyak hal yang aku dapat. Mulai dari motivasi, semangat, hingga ilmu yang menyangkut dengan proses tulis menulis dan penerbitan buku. Walau itu hanya dalam bentuk komunikasi dan tanya jawab yang dibalut rasa kekeluargaan, namun itu tak menyurutkan niatku untuk semakin bertekad menciptakan karya terbaik yang bermanfaat bagi manusia, di suatu hari nanti.
Dalam temu ramah itu juga semakin terasa nyata hidup ini. Dan semakin terasa indahnya kebersamaan. Walau jauh di mata namun dekat di hati. Berawal dari dumay (dunia maya) akhirnya bertemu di dunia nyata. Sungguh, FAM begitu spesial bagi saya. Semoga di lain waktu silaturahim ini kembali terwujud. Aamiin.
NUH RAFI
Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat
ID 130 U
Domisili di Kota Pariaman
Gambar: Nuh Rafi saat menerima kenang-kenangan dari Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia, di kantor pusat FAM Indonesia, Jl. Mayor Bismo, No. 22, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Comments
Post a Comment