Sahabat
FAM yang baik, hari ini kita mengulas cerpen berjudul “Pelangi Tiga Warga di
Mataku” karya Hamdi Alfansuri, anggota FAM Indonesia dari Pekanbaru, Provinsi
Riau.
Secara umum, cerpen ini
masih memuat sejumlah
kekurangan dalam hal penulisan, baik kesesuaian dengan
EYD maupun tata kalimat. Penulisan kata depan “di” masih banyak dirangkai
dengan kata berikutnya, seperti pada kata:
“disini” seharusnya
“di sini”
“dimataku” seharusnya “di mataku”
“disudut” seharusnya “di sudut” dan kata-kata lainnya yang serupa.
Kata depan “di’ pada
kata-kata di atas adalah kata tunjuk tempat, maka penulisannya harus dipisah
dengan kata berikutnya. Berbeda dengan kata “dimakan” “diminum”, dll.
Penggunaan tanda titik pada
kalimat di bawah ini kurang tepat, karena kalimat itu belum selesai. Jadi
sebaiknya tanda titik itu dihilangkan, diganti dengan tanda baca koma (,).
Ba’da
shubuh setelah kewajibanku “tertunaikan. Kupandangi”
dunia melalui jendela kaca yang menghadap ke ufuk timur desaku.
Pada penggalan kalimat
berikut: …
mujair-mujair
mungil “di kelaparan” di keramba-keramba… kata “di” sebelum kata kelaparan sebaiknya
dihilangkan saja.
…pamanku adalah salah
satu… lebih cocok bila menggunakan kata “salah seorang” karena paman adalah
kata ganti orang, sedangkan kata “salah satu” lebih menunjukkan benda.
Secara umum penulisan
petikan langsung kalimat diawali dengan huruf kecil, seharusnya diawali dengan
huruf kapital (besar).
Penulisan nama orang seperti
“alfandi” dan kata panggilannya “al” seharusnya diawali dengan huruf kapital
“Alfandi” dan panggilannya “Al”.
Penulisan “yang maha esa”
seharusnya menggunakan huruf kapital setiap awal katanya, menjadi “Yang Maha
Esa”,
karena menyebut Tuhan (Allah).
Kekurangan pada penulisan
lainnya adalah tidak memberikan jarak atau spasi setelah tanda titik. Beberapa
bagian lain yang perlu menjadi perhatian terdapat pada kata-kata atau kalimat
yang diberi tanda merah
(lihat blog FAM www.famindonesia.blogspot.com).
Mengenai isi cerpen:
Pada bagian pertama penulis
menceritakan pertemuan antara Alfandi dan pamannya di keramba tempat
pemeliharaan ikan
mujair. Pertemuan itu lebih banyak tergambarkan dengan
dialog, dan percakapan mereka pun berakhir oleh panggilan telepon.
Pada bagian kedua, penulis
menggambarkan keutuhan keluarganya ibarat warna-warna pelangi, yang kini
tinggal lima warna saja. Setiap warna penulis gambarkan mewakili salah seorang anggota keluarganya. Ada hal yang janggal, ketika
penulis menggantikan Alfandi dengan “aku” dan “ia”. Kalau merujuk pada bagian pertama, kata ganti “aku” lebih pas
digunakan penulis. Pada akhir bagian kedua, penulis mulai menunjukkan akan
terjadinya sesuatu yang berkaitan dengan terurainya warna pelangi berikutnya.
Pada bagian ketiga, ada
kejanggalan pada kalimat : “maaf nak, mungkin hari ini adalah hari
ini adalah hari terakhirmu bertemu dengan pamanku.” Dia menyebut
pamanku, padahal seharusnya pamanmu.
Pada bagian keempat, penulis
menggambarkan bahwa Alfandi meneruskan pembudidayaan mujair pamannya. Dia
merasa bimbang antara meneruskan kuliah atau meneruskan budidaya mujair milik
pamannya. Konflik dalam jiwanya itu akan terasa hebat, kalau saja pada bagian
awal ketika pertemuan antara Alfandi dan pamannya, paman Alfandi mengamanatkan
agar menjaga sebaik-baiknya mujair-mujair itu. Amanat itu bisa disebabkan pemeliharaan
mujair merupakan satu-satunya sumber kehidupan bagi keluarga pamannya.
Pada bagian kelima, penulis
menggambarkan bahwa keramba merupakan warna keempat yang teruraikan. Kalau saja
penulis lebih mempertajam pentingnya keramba mujair bagi keluarga pamannya,
maka keramba layak disebut sebagai warna keempat yang teruraikan.
Akhir dari cerita ini
menyisakan pertanyaan bagi pembaca, apakah sebenarnya tiga warna pelangi yang
tersisa?
Secara umum, konsep cerita
yang disajikan cukup menarik, hanya penulis kurang mengeksplorasi bagian-bagian
yang menjadi unsur warna pelangi bagi Alfandi.
Teruslah
menulis dan tetap semangat.
Salam
santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Pelangi Tiga
Warna Dimataku
Oleh
Hamdi Alfansuri
IDFAM796S Anggota FAM Pekanbaru
Hidup
Bersama Warna Pelangi
Yang
Teruaraikan
Oleh
Kuasa Sang Ilahi
Detik
demi detik kini telah berlalu jarum pendek itu lewati bilangan 4 pada jam
dinding kamarku. Dalam mimpi merangkai pelangi aku terjaga, bangun dari lelap
tidurku. Kucoba langkahkan kaki dekati
sebuah ruangan disudut kiri kamarku. Kusiram
tubuhku dengan sucinya air wudhu. Muka, tangan, kakiku mulai dapat merasakan
segarnya pagi ini. Ba’da shubuh setelah kewajibanku tertunaikan.
Kupandangi dunia melalui jendela kaca yang menghadap ke ufuk timur desaku. Terlihat dimataku,
lengkungan indah pelangi hiasi langit-langit desaku.
Gantikan hujan yang telah lelah menangisi nasibnya. Lalu ia hijrah entah
kemana. Aku tak tau.
Tak
terasa waktu berlalu sangat cepat. Sudut 150 derajat kedua jarum jam dinding ku tunjukkan pukul 7 tepat. Kini saatnya
diriku laksanakan tugas, mengisi awal liburanku. Memberi makanan kehidupan bagi
mujair-mujair mungil di kelaparan di
keramba-keramba yang terbentang di sepanjang pesisir barat desaku. Maklum, pamanku adalah salah
satu diantara puluhan pembudidaya ikan mujair di desaku.
“pagi
yang indah, al?” Sapa lelaki tua yang mulai
mendekatiku.
“tentu
paman, walau dini hari tadi desa ini harus
diguyur dinginnya hujan.” Sahutku.
Lelaki
tua, yang dia pamanku kini telah berada disamping tubuhku yang masih saja asik menebar makanan
kecil ikan-ikan pamanku.
“sepertinya
hari ini, paman lihat kamu lebih bahagia dari biasanya. Ada apa gerangan?”
Tanyanya penasaran.
“ah
tidak ada apa-apa paman. Hari inikan hari libur
pertamaku jadi alfandi tak ingin menyia-nyikannya semua harus diisi dengan bahagia.” Jawabku
sambil tersenyum.
“semoga
harimu menyenangkan, al. O iya ingat jangan lupa
beri makan mujair-mujair yang ada disana.”
“baik
paman.”
Kring..kring..,
tiba-tiba telepon genggam pamanku berbunyi mungkin dari temannya.
“maaf
al, paman harus meninggalkanmu ada keperluan
sejenak.” Ucap paman sepertinya terburu-buru.
“baik
paman silahkan, aku tak apa-apa sendiri disini inikan desaku juga.”
Jawabku ramah.
“paman
pergi dulu, assalamu’alaikum.” Kata paman seraya berjalan meninggalkanku.
“wa’alaikumussalam.”
Jawabku bersama senyuman.
Sepeninggalan paman kulanjutkan tugasku memberi kehidupan mujair-mujair itu.
***
Mentari
telah semakin tinggi tinggalkan kokokan ayam yang mulai sunyi. Tugasku sudahlah
usai. Saatnya istirahat sejenak santaikan fikiran-fikiranku yang lelah
memikirkan bagaimana cara menghidupi hati yang mulai ditinggal pergi.
Berjalan-jalan
menelusuri pesisir, tapi rencanaku ini mungkin terlalu pagi. Sore saja nanti.
Walau mentari bersinar tak begitu terik.
“ah
lebih baik aku kembali kerumah. Tinggalkan
pantai ini sejenak mungkin ada hal lain yang
dapat kulakukan.” Desahku sepi.
Setibanya
di rumah sederhana tak begitu mewah hatiku masih ragu hingga ia temukan sebuah
jawaban. Duduk depan jendela kaca. Tuliskan kata sederhana. Baru sepuluh menit
saja dirikududuk, hujan kembali mengguyur kota.
Entah apa yang ia tangisi.
“beruntungnya
diriku.’ Ucapku dalam hati.
Mungkin
harapanku kini hanyalah menanti hujan tinggalkan pelangi indah seperti pagi
tadi. Maklum pelangi adalah sahabat terbaik yang mampu menghiburku dikala ada
dan tiada. Walau kini dalam pandanganku pelangi itu hanya miliki lima warna
memang bagi mereka pelangi miliki tujuh warna tapi bagiku tidak hanya lima. Dua warna hidupku telah diuraikan
sang ilahi, yakni ayah dan ibu. Ayah dan ibuku kini telah tiada mendahului
diriku tinggalkan dunia. Ah sudahlah untuk apa kuuraikan kembali masa lalu jika
ia takkan terjalin lagi. Tapi doa ku kan tetap mengiringi langkah mereka
menghadap sisi-Nya Allah yang maha esa.
Waktu
teus bergulir mengelinding lewati
bilangan-bilangan hitam jam dinding. Tak tersa
telah banyak kata terngkai oleh goresan yang
terjadi. Hampir seluruh kata yang kutuliskan tak jauh berlari dari pelangi.
Mungkin karena hatiku terbawa derasnya arus suasana. Anehnya ada serangkai kata
yang menarik perhatianku, bagaikan magnet menarik besi.
“pelangi
dimataku.
Hilang
sudah ditelan waktu.
Sisakan
secercah.
Sebagai
kenangan masa lalu.”
Entah
apa yang ada dalam fikiranku saat menuliskan kata itu. Hingga rangkaian kata
dapatkan satu tempat dihatiku. Ya Allah pertanda
apa ini.
***
Teng..Teng..
Tepat
pukul 2 siang ketika jam dindingku berdetak dua kali. Hujan
berhenti tetesan air mata lebar indahnya pelangi harapanku. Tak lama
mataku nikmati pelangi, tiba-tiba getaran telepon genggamku hasilkan nada
panggilan masuk.
Kring..Kring..
Ternyata
ada panggilan dari nomor tak diketahui. Awalnya ragu untuk mengangkat telepon
itu. Tapi akhirnya kuangkat jua. Suara gagah menyapaku dari sebrang jaringan.
“Assalamu’alaikum,
dengan nak Alfandi?”
“wa’alaikumussalam,
iya saya Alfandi.” Jawabku dengan sedikit ragu.
“maaf
nak sebenarnya bapak tak ingin katakan ini, tapi..”
“tapi
apa pak? Katakan saja pak, memangnya ada apa pak
saya akan menerima apa yang bapak katakan”
ujarku dengan ragu, prasaan ku berubah mungkin
ada sesuatu, hatiku semakin tak tenang.
“maaf
nak, mungkin hari ini adalah hari ini adalah hari
terakhirmu bertemu dengan pamanku.”
“memang
ada apa pak?” Tanyaku lagi. Hatiku makin bimbang. Apa yang terjadi ya Allah.
“pagi tadi pamanmu tak dapat mengelakkan dari pohon
tumbang akibat angin kencang, mungkin ini sudah ajalnya.” Kata seseorang yang
ada di sebrang dengan berat hati.
“innalillahi
wainna ilaihi raji’un. Semoga paman diterima disisnya.”
Jawabku teteskan air mata.
“aamiiin..
Saya harap nak Alfandi dapat menerimanya dengan tabah.”
“Insyallah
pak.” Jawabku menghibur hati.
***
Berlama-lama larut dalam
duka rasanya tak baik bagiku. Untuk apa aku terus menangisi yang telah tiada.
Padahal aku dapat melakukan hal yang lebih berguna.
Pagi ini kususun kembali
semangatku dalam reruntuhan masa lalu. Siapkan diri dan hati jalani hari-hari
sepi. Terlintas dalam pikiranku “mujair-mujair itu!”
Mujair budidaya pasti telah
kelaparan karena telah beberapa hari kutinggalkan, tak terurusi.
Mengingat hal itu kugegaskan
langkahku mengambil makanan kehidupan mujair di belakang pintu rumahku.segera aku menuju keramba-keramba tempat mujair
mungil itu berada. Kusebar makanan yang ku ambil
tadi disetiap keramba demi keramba. Senang nya diriku melihat mujair-mujair itu dapat
kembali tersenyum bahagia.
Hari-hari sepiku kini telah
mulai dihiasi senyuman mujair-mujair mungil tempatku curahkan isi hati.
Budidaya milik almarhum pamanku ini tak ingin kubiarkan hilang begitu saja.
“masih
ada aku” gumamku dalam hati.
Budidaya ini kan terus kukelola hingga aku tak
mampu menjaganya.
Sebulan sudah aku disini bersama mujair. Kini saatnya akhiri liburanku awalnya aku ragu melanjutkan kuliah di
negeri seberang atau terus menjaga dan mengelola budidaya ini.
Beruntung disini aku bersama tetangga-tetangga luar biasa,
dengan kerendahan hati, mereka yang mengetahui kuliahku kan kembali dimulai.
Menemuiku pagi ini dan menganjurkanku untuk melanjutkan kuliahku.
“assalamu’alaikum nak alfandi”
“wa’alaikumussalam” jawabku.
“kami telah mengetahui kebimbangan hatimu, lebih baik
nak alfandi lanjutkan saja kuliahmu yang tinggal
menghitung bulan saja.” Ujar salah seorang dari mereka.
“tapi.. budidaya ini?”jawabku
ragu.
“kami siap membantu mengelola budidaya ini hingga nak alfandi kembali”
“terima kasih pak, sudah mau membantu” jawabku bahagia.
Kini jawaban kebimbanganku terjawab sudah. Akhirnya
kuputuskan untuk melanjutkan kuliah.
“Alhamdulillah ya Allah,
segala puji bagimu” syukurku dalam hati.
Siang itu sebelum pergi kota tempatku berkuliah.aku
pamit terlebih dahulu pada tetangga-tetanggaku. Dengan harapan mujair-mujairku
aman bersama mereka.
***
Sebulan sebelum kuliahku
usai. Berita pagi pada sebuah diaran TV
mengabarkan bahwa desaku telah diluluh lantakkan gelombang tsunami.
“kerambaku, warna ke empat yang teruraikan kuasa ilahi.” Fikirku.
Tanpa berpikir panjang aku
kembali kedesaku. Kutitip surat izin tidak masuk
kuliah hari ini pada sahabatku.
Dalam perjalanan, hujan mengguyur membasahi mataku harapan ku masih sama
seperti biasa. Berharap pelangi hapuskan air mata. Setibanya dikotaku, dalam derasnya hujan kulihat rumah, pohon,
dan keramba-keramba termasuk keramba budidayaku luluh lantak rata dengan tanah.
Apa boleh buat, ini adalah
kuasa ilahi yang tak mampu kuhentikan. Tak lama
setelah aku menelusuri pesisir tempat rumah dan kerambaku dulu berdiri. Hujan
berhenti teteskan air mata duka, munculkan pelangi tiga warnaku yang tersisa.
***
Catatan:
Huruf,
kata, dan kalimat yang dibubuhi warna merah adalah tanda yang perlu diperbaiki
oleh penulis.
terima kasih atas ulasannya, sangat bermanfaat.
ReplyDeletejujur saya akui pada cerpen di atas masih banyak terdapat kekurangan dan salah pengetikan. mohon dimaklumi ini adalah cerpen pertama saya. .
salam aishiteru!
Hamdi Alfansuri, IDFAM796S Pekanbaru