![]() |
| FAM INDONESIA |
~ Tentang Cita-Cita Ketum dan Sekjen FAM Indonesia ~
SEJAK facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4
Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi
para mahasiswa Universitas Harvard, di tahun-tahun berikutnya wajah dunia
berobah. Hampir semua orang memiliki akun di facebook dan berhubungan dengan
orang-orang yang mereka kenal, mulai dari teman sekolah, tetangga sebelah
rumah, hingga kawan masa kecil yang tidak pernah bersua sejak berpisah. Pendek
kata, facebook “berjasa” ikut merekatkan tali ukhuwah.
Tapi tidak sedikit yang menyalahgunakan facebook untuk
kepentingan sesaat yang merugikan pertemanan. Ada yang membuat akun facebook
untuk menyebar teror, fitnah, paham terlarang seumpama ateisme, pornografi,
menggalang aksi demonstrasi dan bermacam bentuk perbuatan negatif lainnya.
Kesimpulannya, facebook bila berada di tangan orang yang berpikir positif maka
hasilnya akan positif pula. Demikian juga sebaliknya.
Layaknya banyak orang yang menemukan teman-teman mereka di
facebook, saya pun berkenalan dengan Aliya Nurlela, seorang penulis perempuan
produktif dari kota Malang yang menggagas penerbitan buku cerpen berjudul “Fesbuk”
ini. Semuanya serba kebetulan. Saling memberikan komentar di status facebook,
diskusi seputar kepenulisan, hingga masing-masing kami mengirimkan karya terbaik
untuk dibaca—saya kirim novel terbaru saya ‘Rinai Kabut Singgalang’, dan saya
pun mendapat kiriman buku berjudul ‘100% Insya Allah Sembuh’, buah pena Aliya
Nurlela. Saya takjub membaca tulisan-tulisannya yang mengalir bagai air di buku
itu, enak dibaca hingga titik paling akhir. Maka saya berkesimpulan, Aliya
Nurlela memiliki bakat besar sebagai pengarang Indonesia masa depan. (Prolog
Muhammad Subhan dalam buku Kumcer ‘Fesbuk’, 2012)
***
Benar, kedua pendiri Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
memulai persahabatan mereka lewat facebook. Facebook di mata mereka bukan hanya
sekadar alat untuk ber-say hello dan saling memberikan komentar dalam status,
namun facebook bagi mereka dijadikan sebagai alat yang bisa mengantarkan pada
sebuah aksi positif yang bisa terwujud di dunia nyata. Facebook bagi keduanya
ibarat jembatan untuk menghubungkan ke sebuah daerah yang menawarkan banyak
peluang. Layaknya sebuah jembatan, keberadaannya hanyalah sebagai tempat lewat.
Namun demikian amatlah penting. Tanpa adanya sebuah jembatan yang menghubungkan
antardaerah, maka penduduk di suatu daerah akan terisolir dari dunia luar serta
berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Mungkin juga tidak aman. Meski
keberadaan jembatan itu amatlah penting, tetapi ada saja sebagian orang yang
berusaha merusaknya atau hanya memanfaatkannya untuk duduk-duduk di pinggirnya
sambil menyaksikan orang yang lalu lalang hilir mudik. Setiap ada yang lewat,
diberi senyuman, diajaknya untuk tidak meneruskan perjalanan, hingga dicolek
sebagai pertanda keakraban.
![]() |
| Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia |
Memang kelihatannya enjoy tanpa masalah, disaat sebagian
orang berusaha mencapai daerah baru yang menawarkan banyak peluang. Bersimbah
peluh demi menangkap peluang yang ada di daerah baru tersebut. Mereka yang
hanya duduk-duduk dengan mengatakan, “Ini hanya jembatan tempat lewat, tidak
perlu terlalu serius.” Keadaannya akan tetap seperti itu. Hingga jembatan itu
roboh, tak ada manfaat yang bisa diambil dan tak dapat memberikan manfaat pada
orang lain. Sementara, sebagian orang yang berjuang menangkap peluang di daerah
baru telah berhasil membangun jembatan yang baru. Jembatan yang memberikan
manfaat bagi orang banyak.
Itulah kedua pendiri FAM Indonesia, Muhammad Subhan dan
Aliya Nurlela. Mereka tidak ingin terjebak dalam euforia penggunaan facebook
yang hanya dijadikan ajang komentar-komentar tidak perlu. Meski ada sebagian
pihak yang mengatakan, “Buat apa terlalu serius, ini hanyalah dunia maya.” Bagi
mereka berdua itu tidak berlaku. Facebook adalah alat atau jembatan yang berada
di dunia maya, namun aksi positifnya bisa diwujudkan dalam dunia nyata. Karena
tekad, semangat dan cara pandang yang sama itulah yang menjadikan keduanya
sepakat mewujudkannya dalam dunia nyata. Berlatar belakang penulis, maka aksi
nyata yang mereka bangun adalah berawal dari dunia tulis menulis. Melalui
jembatan yang bernama facebooklah, keduanya dapat membangun jembatan baru yaitu
FAM Indonesia. Jembatan ini akan menjadi alat penyeberangan bagi para penulis
muda yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam bidang menulis. Serta mengantarkan
mereka pada daerah baru yang menawarkan banyak peluang.
Dalam hitungan bulan saja saling mengenal melalui facebook,
keduanya telah mewujudkan beberapa karya di dunia nyata. Pertama, buku kumcer ‘Fesbuk’
kolaborasi telah terbit dan telah mendapat beberapa pesanan. Kedua, wadah
kepenulisan nasional telah dibentuk yaitu Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
Ketiga, penerbitan FAM Publishing telah berdiri dan mulai menerima kiriman
naskah. Keempat, kantor FAM Pusat telah disiapkan di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Kelima, Taman Baca Masyarakat “FAM ILMI” akan segera dibuka untuk umum pada
bulan Juni 2012. Keenam, Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional 2012
sedang berlangsung dan promosinya tersebar di beberapa media cetak dan online
diseluruh Indonesia. Menurut Sekjen FAM, Aliya Nurlela, sejak dibukanya lomba cipta
cerpen dan puisi tingkat nasional, sudah ada 700 orang lebih yang
menghubunginya dalam seminggu untuk bergabung menjadi anggota FAM Indonesia. Memang
benar, jembatan yang baru berdiri dua bulan ini setiap harinya rata-rata 40
sampai 70 orang yang mengantri untuk meminta “diseberangkan” ke daerah baru.
Menjadi seorang penulis sukses!
![]() |
| Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia |
Oleh karena itu, Ketua Umum FAM Indonesia Muhammad Subhan
menunjuk Asisten dari tim Aishiteru Menulis yang akan membantu tugas-tugas Sekjen
yang semakin padat. Namun, keduanya bersepakat ketat dalam menyeleksi yang akan
membantu tugas mereka dalam wadah kepenulisan ini. Baik di tingkat pusat
ataupun cabang. Tidak akan gegabah menunjuk dan menetapkan, tanpa berkiprah
sesuai yang mereka harapkan. Jujur, amanah dan mau berjuang adalah yang dicari.
Sebab, itu kunci tegaknya kebersamaan dalam wadah FAM Indonesia. FAM Indonesia
dibangun keduanya dengan modal semangat. Bukan ditopang oleh dana besar dan
meraup keuntungan materi dari anggota. FAM Indonesia ingin menjadikan anggota
sebagai sahabat yang akan saling menyuntikan semangat dalam bidang tulis menulis.
Sekaligus sebagai pendampingan bagi para penulis. FAM Indonesia bukan untuk
dijadikan tempat berkarir dan meraih posisi puncak dalam hal materi (harta).
Jangan karena tujuan yang tidak sejalan, mengakibatkan FAM Indonesia yang telah
dibangun dengan cucuran keringat menjadi roboh begitu saja. Itulah sebabnya, pendiri
FAM sangat ketat menyeleksi seluruh anggotanya dengan terarah. Untuk
calon-calon ketua cabang FAM saja, harus melalui seleksi minimal enam bulan dan
akan dikukuhkan setelah melewati masa seleksi itu.
Mengutip pendapat sekjen FAM, “tenaga dua orang yang ikhlas
membangun FAM dan memiliki cara pandang yang sama, akan mengalahkan tenaga
seratus orang yang tidak ikhlas dan berbeda cara pandang.” Itulah sebabnya,
keduanya sangat menikmati perannya masing-masing tanpa banyak hitung-hitungan.
Muhammad Subhan berperan sebagai leader yang mengatur jalannya wadah
kepenulisan ini. Sekaligus yang memenuhi undangan-undangan workshop menulis di
berbagai daerah. Aliya Nurlela berperan sebagai manager, yang berhubungan
langsung dengan para anggota serta mengatur aktivitas harian di kantor pusat
FAM Indonesia. Masing-masing mencurahkan potensi yang dimiliki, serta
berlomba-lomba berbuat yang terbaik. Bagi mereka, tetesan keringat dan airmata
yang mewarnai perjalanan merintis wadah kepenulisan ini, akan menjadi bagian
catatan sejarah berdirinya FAM Indonesia. Yang di suatu hari nanti, akan
ditorehkan dalam tulisan menjadi sebuah buku.
Jika dalam hitungan bulan saja, sudah banyak karya yang
mereka wujudkan dalam dunia nyata, lalu tidak mustahil suatu saat nanti bendera
FAM Indonesia akan benar-benar berkibar di puncak Everest, gunung tertinggi di
dunia sebagaimana tekad dan cita-cita FAM. Seperti pertemuan di dunia maya yang
awalnya mustahil diwujudkan dalam dunia nyata, mereka telah membuktikan. Semua
bisa menjadi nyata, tak ada yang mustahil. Niatkan dengan ikhlas dan berbekal ‘bismillah’
serta semangat yang membara, berbuatlah yang sungguh-sungguh. “Kami tidak
membuat kantor FAM di atas awan, ini nyata!” ujar Aliya Nurlela, Sekjen FAM di kantor
pusat FAM, Pare. Mari kabarkan kepada dunia keberadaan wadah kepenulisan ini,
lewat kata-kata, lewat media terutama facebook, sebab dari sanalah semuanya
bermula!
Salam Aishiteru!
FAM INDONESIA



Comments
Post a Comment