Skip to main content

Salahkah Aku Bila Begitu Cemburu Kepadamu?

Bumi CintaNya, 19 November 2012

Teruntuk,
Yang tersayang
FAM Indonesia
di
Istana Pena

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dear FAM…

Saat lorong waktu telah aku jelajahi begitu jauh, berhenti pada sela-sela nafas yang diburu jejak-jejak bayangan yang pilu, terlunta-lunta dalam mencari pintu bercahaya, tanpa kupinta peri itu datang menjemputku dengan berbagai cara; merangkulku, bersalaman, dan tak segan membopongku dengan semangat mereka yang begitu besar, sehingga aku bisa sampai pada pintu gerbang yang selama ini masih bersembunyi di balik saku baju yang setia menemani hari-hariku.

Dear FAM…

Di balik penaku yang semakin tua dalam menunaikan kewajibannya, menari-nari di atas hamparan kertas, kucoba ukir kembali untaian kalimat yang terbaik yang akan kupersembahkan padamu, walau aku sendiri bingung harus memulai dengan kalimat apa. Yang pasti, rasa senangku bisa mengenalmu adalah anugerah yang paling indah untukku. Semoga, kau selalu ada dalam dekapan kasih sayang dan cintaNya.

Dear FAM…

Maafkan aku, sejak aku mengenal dirimu jauh dari kasat mata, aku mencoba mengenalmu lebih dekat, walau hanya dalam dunia maya. Mencuri-curi perhatianmu dengan untaian kalimat kasmaran yang tandanya aku jatuh cinta padamu. Nasihat-nasihat yang kau lontarkan telah menyihirku, juga menarik perhatian penaku sehingga aku kian bisu di hadapanmu. Entah kamus apa lagi yang harus aku baca agar kau bisa kurayu. Berharap, suatu hari nanti kita bisa bersua dalam waktu yang Allah ridhai.

Dear FAM…

Sejujurnya, ingin sekali aku menjadi bagian kehidupanmu yang utuh, seperti anak bangsa yang lainnya, mengantongi deretan angka bahwa mereka benar-benar anggota keluargamu. Jauh dari dasar lubuk hatiku, aku iri pada mereka yang selalu menanamkan benih cinta, bertukar cerita bahkan tak segan menitikkan air mata dalam setiap alur dialog yang terucap. Aku iri, iri sekali. Mereka berpadu kasih seperti ibu kepada anaknya. Seringkali aku menitikkan air mata. Mencoba membungkam, bersembunyi di bawah bantal dengan deraian air mata. Salahkah aku begitu cemburu kepadamu?

Dear FAM…

Sedikit aku ingin berbagi cerita denganmu, mencoba menggali dan memutarbalikan waktu saat aku mulai jatuh cinta pada menulis. Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih duduk di kelas empat SD, sering kali aku melakukan tradisi anak-anak kampungku yang dinamakan “sasakolaan” atau sekolah-sekolahan. Waktu itu aku kerap kali ditunjuk menjadi guru mereka agar bisa dibacakan dongeng lagi. Aku sangat senang, namun tak jarang aku selalu mengeraskan suara dengan sedikit menggerutu disaat teman-temanku mulai tertidur pulas karena asyik dengan dongengku. Wajah mereka yang begitu polos mengalahkan amarahku yang sempat meluap saat tradisi berlangsung. Dan disaat tradisi berakhir, dengan rasa kaget, teman-temanku menyalami dan mencium tanganku, rasanya seperti “Ibu Guru” beneran. Kata mereka, “kau juga pahlawan tanpa tanda jasa”. Senang rasanya.

Berangkat dari tradisi tersebut, aku lebih gemar menulis, dan bercita-cita ingin menjadi penulis buku yang selalu ada dalam majalah dongeng, agar bisa mendongengkan cerita lebih banyak lagi kepada anak-anak kampungku yang selalu datang saat senja tiba. Alhamdulillah, beberapa minggu setelah aku mencoba menulis, aku dimasukkan dalam daftar perlombaan mengarang se-Kecamatan Cianjur. Aku masih ingat betul, dalam situasi dadakan, tanpa dukungan orangtuaku yang tengah berada di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena adikku tengah menjalani operasi tumor di kepala selama dua minggu. Dengan linangan air mata, berharap orangtuaku datang mensupport dengan senyuman mereka, akhirnya aku terpaksa memberanikan diri mengikuti lomba tersebut untuk mengharumkan nama baik sekolah. Berkat pertolonganNya juga iringan doa, aku berhak mendapatkan juara pertama yang nanti akan mengikuti lomba di tingkat kabupaten.

Sejak saat itu hingga aku masuk SMA, aku senang sekali menulis walau hambatannya terdapat pada kurangnya dukungan orangtuaku. Akhirnya aku sempat mencuri-curi waktu kosong demi hobiku, menulis. Tak jarang, saat duduk di bangku SMA, aku berhasil mengumpulkan uang honorku dari sebuah tulisan majalah untuk mengembangkan hobiku secara diam-diam. Akhirnya, di ekstrakurikuler KIJ (Karya Ilmiah dan Jurnalistik) aku mulai mengembangkan hobiku dalam menulis yang sempat diamanahkan menjadi wartawan majalah sekolah, juga menjadi seorang Redaktur Pelaksana. Hingga akhirnya, aku sering kali menjadi perwakilan sekolah dalam acara perlombaan, dari mulai menulis dan membaca puisi, menulis cerpen serta karya tulis ilmiah yang diadakan di Cianjur maupun di luar kota.

Dan kini, aku ingin menggali kembali hobi menulisku yang sempat terkubur selama satu tahun bersamamu, FAM Indonesia.

Dear FAM…

Kiranya cukup sekian coretan singkat yang kunamai surat suka dukaku dalam mengarungi samudera menulis. Aku harap. Tulisan ini bisa menjadi jembatan untukku agar tetap menjalin kasih denganmu. Semoga, suatu saat Allah mempertemukan kita dalam jamuanNya kelak. Amin.
Pesan dariku, tetaplah menjadi istana pena yang senantiasa dikelilingi cinta anak bangsa dalam menulis yang semakin menguatkan ukhuwah kita dalam CintaNya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Salam karya,
Santi Sumiati
Canjur-Jawa Barat

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...