Surat terbuka untuk FAM Indonesia
Perjalanan menuju FAM Indonesia
Assalamualaikum Wr. Wb.
Kepada FAM Indonesia yang aku cintai, tidak ada kata-kata
yang mampu kulukiskan jika harus menceritakan suasana hati betapa senangnya
bergabung dengan FAM. Saya akan menceritakan sebuah perjalanan saat awal mulai
menulis hingga saya bisa bergabung menjadi anggota resmi FAM Indonesia.
Pada saat SMA tidak ada wahana elektronik yang aku punya,
hanya sebuah pensil dan buku tulis. Itulah yang menjadi teman di sepanjang hari
untuk kutuliskan segala sesuatu, kata-kata indah, puisi, dan segala isi hati
mirip seperti diary tetapi buku itu tidak menceritakan hari-hariku. Kusalin ke
draf handphone beberapa kata-kata
indah menurutku, entah menurut orang lain buruk tidak tahu aku dan kusebarkan
ke teman teman-teman.
Beberapa teman ada yang memuji, ada pula yang menyangka
hanya copy paste dari internet, dan
ada pula yang ingin aku membuatkan sebuah kata-kata untuknya. Semua pendapat
aku respon. Memang yang aku kirim kadang copy
paste dari internet.
Mengenai tulisan di buku tak banyak yang tidak sesuai EYD.
Karena aku belum mengenal apa EYD itu, nama makanan atau nama seseorang yang
disingkat. Uang sakuku sering kuhabiskan berhari-hari di internet tidak lain
hanya bermain game bukan berkarya. Dan dari internet pula aku belajar EYD.
Setelah lulus aku tinggalkan dunia game online yang tak
berguna. Mulai kucari info lomba menulis puisi. Akhirnya aku menemukannya
tetapi bukan FAM. Alangkah senangnya dua puisiku berhasil dibukukan meski tidak
jadi pemenang. Sementara dalam pencarian lomba lainnya aku menemukan lomba yang
diadakan FAM Indonesia dengan hadiah wow sangat besar. Mungkin jika dibelikan
es cendol akan banjir rumahku. Hanya syaratnya yang tak bisa kupenuhi yaitu
harus registrasi sebelum ikut lomba.
Meski biaya registrasi tak mahal, tetapi aku tidak mampu
karena posisiku belum bekerja, meminta orangtua tak mungkin karena sulit
keuangan. Akhirnya aku merayu Bunda Aliya Nurlela (Sekjen FAM Indonesi) agar
membantuku bergabung di FAM tanpa regristrasi. Ternyata Bunda Aliyah sangat
baik lewat event milad karena sebagai pengirim tulisan terbanyak maka aku bisa
bergabung di FAM tanpa regristasi. Langsung saja aku mengirim puisi untuk lomba
cipta puisi dan cerpen yang diadakan FAM. Meski tak menjadi juara yang penting
sudah mencoba.
Sungguh hal yang menyenangkan bisa menjadi keluarga besar
FAM. Tetapi hingga sampai saat ini aku hanya bisa menengok beberapa kali di
Group bukan tak cinta lagi tetapi dengan keterbatasan ekonomi aku berusaha
menghemat uang untuk tidak sering-sering pergi ke warnet.
Ibu dan kakak sering mengejekku saat aku menulis di buku
menghabiskan waktu berjam-jam, mereka bilang hal yang sia-sia. Sementara Ayah
bilang bahwa aku tidak ada bakat menulis, tetapi niatku sangat kuat untuk
mewujudkannya.
Semoga aku bisa mewujudkan mimpiku lewat FAM, dan inilah
coretan tanganku yang mungkin tidak sesuai EYD mohon dimaklumi. Sejak mengamati
ulasan-ulasan dari FAM aku banyak belajar lebih baik agar sesuai EYD.
Wassalam.
Muhammad Syams
FAM820U, Anggota FAM
Gresik

Comments
Post a Comment