Siang itu aku terbelah dalam lengah
mengisikan ruang di sejenak tadi kita tempuh
dalam ribuan mil sejatinya lusuh kaki
dan jejak-jejak matang menapak
bentangan jalan bukan lagi ragu yang terpaku
dan kita semakin dijerang waktu
Selalu dimengerti aku, dia dan kamu
Lalu kita masih menyalakan lilin dan obor sebagai pencari
Hanya serapat baris kaki, dentuman badai beringsut lerai
di benang-benang hari yang harus terurai
karena kita tak ingin lagi kembali sebagai pemulang yang menyesal langkah
Begitu, aku diam-diam memetik binar yang kau tebar
Sebab tunas itu akan semakin tumbuh di lahan tulus
Begitu, aku lamat-lamat merenda helai yang kau urai
Karena sulam merentang terang di bentangan yang kemilau
Begitu, aku perlahan namun pasti meyakin kita adalah ini
karena keindahan adalah satu saat berbagi
Bukittinggi, 18 November 2012
REFDINAL MUZAN
Anggota FAM Bukittinggi
Penulis buku puisi “Mozaik Matahari”
Share ke:
mengisikan ruang di sejenak tadi kita tempuh
dalam ribuan mil sejatinya lusuh kaki
dan jejak-jejak matang menapak
bentangan jalan bukan lagi ragu yang terpaku
dan kita semakin dijerang waktu
Selalu dimengerti aku, dia dan kamu
Lalu kita masih menyalakan lilin dan obor sebagai pencari
Hanya serapat baris kaki, dentuman badai beringsut lerai
di benang-benang hari yang harus terurai
karena kita tak ingin lagi kembali sebagai pemulang yang menyesal langkah
Begitu, aku diam-diam memetik binar yang kau tebar
Sebab tunas itu akan semakin tumbuh di lahan tulus
Begitu, aku lamat-lamat merenda helai yang kau urai
Karena sulam merentang terang di bentangan yang kemilau
Begitu, aku perlahan namun pasti meyakin kita adalah ini
karena keindahan adalah satu saat berbagi
Bukittinggi, 18 November 2012
REFDINAL MUZAN
Anggota FAM Bukittinggi
Penulis buku puisi “Mozaik Matahari”
Share ke:

Comments
Post a Comment