"Aku adalah puisi. Kita adalah puisi. Seluruh alam
semesta adalah puisi. Mungkin, ketika Allah menciptakan alam raya ini juga
sambil berpuisi. Alangkah pentingnya berpuisi. Setidaknya bagi diriku.”
Kalimat di atas adalah sepenggal paragraf yang saya tuliskan
kembali dari Kata Pengantar Buku Puisi "Kidung Pengelana Hujan”, sebaris
paragraf yang memuat visi dan misi saya menceburkan diri ke dalam dunia
literasi. Bagi saya, semua proses yang dinamakan dengan penciptaan sesungguhnya
tidak akan bisa lepas dari sebuah kalimat pamungkas dari Allah ketika Dia
menciptakan dunia dan seisinya ini pada awal mula waktu, "Kun Faya Kun".
Itulah kemudian saya menyebutkan bahwasanya Allah pun ternyata, dalam
menciptakan segala sesuatunya memakai pola syair, sajak ataupun puisi sebagai
sebuah konseptual pernyataan ketuhanan.
Kalimat "Kun Faya Kun" tidaklah sama dengan kata
"Abrakadabra" ataupun juga "Simsalabim". Dua kata terakhir
itu identik dengan suatu keadaan tanpa proses, tiba-tiba saja ada begitu rupa.
Itulah yang membedakannya. Kalimat “Kun Faya Kun” justru mengandung nuansa yang
penuh dengan proses dari tidak ada menjadi ada. Ada beberapa proses dan
tingkatan penciptaan termaktub dalam rangkaian kalimat ketuhanan itu. Ketika
Allah berfirman "Kun” (Jadilah!), maka yang terjadi kemudian adalah
serangkaian proses menuju keinginan-Nya untuk terjadinya sesuatu (Faya Kun).
Ditiap kata itu ternyata ada begitu banyak proses sebagai
sunnatullah dalam tataran ruang dan waktu. Sehingga kita bisa melihat bahwa
sesuatu hal di atas dunia ini tidaklah terjadi secara kebetulan. Semuanya
kembali kepada proses penciptaan. Nah, pada proses itu pulalah kita bisa
membaca keinginanNya, menelaah ayat-ayatNya dan menyelami diri kita sendiri
dalam keberadaan di tengah dahsyatnya proses penciptaan alam. Tapi yang perlu
kita sadari adalah Allah sesungguhnya berada di luar segala proses itu sebab
Dia berada di luar ruang dan waktu, makhlukNyalah yang kemudian merasakan
segala macam proses penciptaan itu.
Lalu jadilah seluruh alam semesta. Jadilah kita. Jadilah
saya. Karena setiap kejadian bermula dari kalimat yang “dipuisikan” Allah, maka
sesungguhnya semua hasil kreasinya juga adalah puisi. Dari pemikiran inilah
saya kemudian memantapkan visi dan misi saya dalam memproses puisi-puisi saya
sebagaimana dikumpulkan dalam buku “Kidung Pengelana Hujan”.
Bagi saya, setiap kata yang dirangkaikan dalam bait-bait
adalah sebuah kesimpulan substansial dari proses perjalanan kehidupan. Puisi
jauh berbeda dengan sebuah cerita pendek atau sebuah novel. Menulis puisi
adalah sebuah seni menggabungkan segala macam sumber daya akal, pikiran, nalar,
imajinasi dan wawasan ke dalam “satu kata” yang penuh makna. Maka bila ada yang
mengatakan bahwa sajak, syair ataupun puisi adalah puncak segala ragam sastra,
saya sependapat dengan hal itu. Puisi bahkan bisa mempress-kan dunia dan
seisinya bisa jadi dalam satu atau dua kata saja.
Mungkin pengalaman saya menulis puisi misalnya cukup
menjelaskan akan hal ini. Cara saya menuliskan puisi tidaklah berdasarkan
ide-ide yang direncanakan terlebih dahulu. Saya malah mendapatkan ide sebuah
puisi dari mana saja dan kapan saja, sembarangan tempat dan waktu saja. Maka
sejak proyek penulisan buku “Kidung Pengelana Hujan” saya proklamirkan, saya
akan berpuisi di mana-mana, mempuisikan apa saja. Begitu saya di depan
komputer, terpampanglah dengan jelas segala hal menyangkut dengan puisi yang
akan saya tulis. Terbuka saja semuanya. Bila saya menulis tentang hujan, maka
saya akan melihat hujan itu sampai ke sub-sub atomnya, teksturnya dan baunya.
Saya seperti melayang-layang disudut-sudut semesta ketika menulis tentang alam
raya, ekskalasi bintang-bintang, kosmos dan debu-debu semesta. Saya melihat
dengan mata batin saya bagaimana Rasulullah SAW bertahannuts, berjuang,
berdakwah, dicaci maki, berjaya kemudian di puji-puji oleh segala bangsa
(proses kreatif Puisi “Tahannuts Sang Nabi”).
Saya juga membayangkan diri saya sebagai seorang Peramu Tuba
saat mendeskripsikannya ke dalam kata-kata puitis. Saya menempatkan diri saya
sebagai seorang ayah yang kehilangan anaknya yang terbunuh akibat tawuran dalam
puisi “Siang Tadi Seorang Ayah Kehilangan Anaknya”. Intinya saya menempatkan
diri saya pada tiap kata, kalimat dan makna puisi-puisi itu.
Selama dalam proses penulisan kumpulan puisi “Kidung
Pengelana Hujan” itulah saya bagaikan hidup dalam dunia-dunia yang ironisnya
saya ciptakan sendiri. Ya, saya seperti menyaksikan sebuah layar kehidupan di mana
sayalah pemeran utamanya. Sebuah dunia yang akhirnya memberikan pencerahan bagi
alam pikiran saya secara pribadi. Berbagai literatur baik di perpustakaan
pribadi saya ataupun berselancar di dunia maya saya lahap untuk mempertegas
makna puisi-puisi yang saya tulis. Banyak pelajaran-pelajaran, hikmah dan
pengetahuan yang dapat saya petik dari proses itu.
Ketika sebuah puisi saya yang saya putuskan menjadi
pamungkas buku “Kidung Pengelana Hujan” saya tuntaskan, menitik air mata saya.
Gemetar raga ini. Sebanyak 99 puisi yang ditulis oleh tangan saya sendiri. Yang
diproses oleh hati dan pikiranku sendiri, sekarang menjadi sebuah buku yang
bisa dibagikan kepada sesama. Tiba-tiba aku merasa lelah. Benar-benar lelah…
Lubuk Minturun, Oktober 2012
FAM 906U-PADANG

Comments
Post a Comment