Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat FAM yang santun, izinkan aku bercerita dalam surat
ini tentang sedikit kehidupanku sejak mencintai karya tulis. Meskipun sedikit
kampungan dengan hilangnya setiap buku catatan hasil karyaku yang sering aku
kumpulkan di buku isi 40 lembar. Menyukai menyusun kata-kata hadir sejak
belajar puisi di kelas 5 SD dan sering menulis apa yang dirasakan melalui
puisi-puisi amatir ala anak ingusan. Sesekali aku mencoba menulis cerita pendek.
Di sini aku mendapatkan tantangan, membuat cerpen itu ternyata tidak mudah di
tangan seorang amatir berusia 11 tahun waktu itu.
Awalnya menulis 1 atau 2 paragraf sudah bisa saling terkait
ide-idenya, tapi saat masuk ke paragraf selanjutnya sudah mulai menjauh dari
ide yang telah direncanakan. Maka sejak itu aku ragu untuk menulis cerita.
Hanya berani membuat puisi saja. Tapi banyak puisi yang pernah aku buat, di
kelas 6 SD aku sudah punya sekitar 30 judul puisi tentu dengan tema anak-anak.
Tapi bukunya hanyut saat bermain ke sungai bersama teman-teman di kelas. Selalu
ada saja alasan yang membuatku kehilangan setiap buku catatan kumpulan puisi
karyaku sendiri. Yang paling pilu kehilangan buku kumpulan karyaku di kelas 8
SMP. Waktu itu mulai ada polesan dari guru Bahasa Indonesiaku. Dan semua puisi
itu punya kisah sendiri.
Saat buku yang satu ini hilang, aku panik bukan kepalang.
Aku sempat menuduh beberapa teman yang suka usil di kelas. Tapi setelah banyak
tuduhan, hasilnya nihil. Buku itu tidak ditemukan. Kejadian itu sangat mengesalkan,
mulai saat itu semangat menulisku mulai luntur. Tidak pada semangatku mencintai
sastra, aku masih suka menulis puisi dengan intensitas yang sedikit. Masuk ke
SMA favorit di kabupaten mulai merangsang jiwa menulisku kembali.
Aku mulai memberanikan diri menulis cerpen waktu mendapat
tugas menulis cerpen dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saat itu aku
jadi penulis terhebat di kelas. Dan kejadian itu mulai lagi menggali potensi
yang aku punya untuk sastra. Semangat menulisku kembali datang. Meski setiap
ada perlombaan aku gagal ikut dengan berbagai macam alasan yang ngawur.
Ditambah lagi baru-baru ini kelasku diboyong oleh wali kelas
kami yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia ke Rumah Puisi di
Padangpanjang. Di sanalah aku mengenal Pak Muhammad Subhan, orang yang juga
mengenalkan aku pada FAM ini. Tapi sayang hanya aku yang berminat pada ini,
walaupun belum jadi member secara resmi. Kata-kata yang sangat terpahat dalam
hatiku dari Pak Subhan, "Kalau ingin jadi penulis banyak-banyaklah
membaca". Dan itu telah aku lakukan, alhasil memang berpengaruh terhadap
kata-kata yang kita susun.
Dalam grup FAM aku juga dihadapkan banyak puisi dan cerpen
yang diposting setiap hari. Sekarang dengan adanya FAM ini, semangat menulisku naik
entah berapa derajat. FAM yang punya penerbitan buku sendiri, membuat aku punya
inisiatif untuk menyusun novel. Namun memang sulit, sekarang aku baru punya 3
tulisan yang sambung menyambung setelah sebulan ini. Maka di FAM aku kembali
merangkai semua impian menjadi seorang sastrawan layaknya seperti Rendra—orang yang
jadi panutan bagiku sendiri. Dan bulan depan atau akhir tahun aku akan menjadi member
di FAM Indonesia secara resmi. Masih banyak harapan dengan cita-citaku pada FAM
ini.
Salam santun, Aishiteru Menulis.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Febrieza Rahmadani
SMAN 1 Gunung Talang
Kab. Solok, Sumatera Barat
Comments
Post a Comment