Sekapur Sirih dari Penulis:
[Info pemesanan dan penerbitan buku di FAM Publishing
hubungi No. Hp. 0812 5982 1511 (Aliya Nurlela), atau kunjungi blog resmi FAM
Indonesia di www.famindonesia.blogspot.com]
“Tiap buku punya nasibnya sendiri”, begitu sebuah kalimat
motivasi yang masih saya ingat dari Ketua Umum Forum Aktif Menulis (FAM)
Indonesia, Muhammmad Subhan, saat beberapa kendala saya temui untuk dapat
mewujudkan mimpi indah memiliki sebuah buku tunggal. Keinginan mengumpulkan
karya-karya saya dalam sebuah buku telah cukup lama saya idamkan, setelah
beberapa antologi puisi bersama saya yang telah terbit dari berbagai penerbit
dan juga dari berbagai teman yang tergabung di dalamnya.
Sungguh suatu rasa syukur yang dalam dan terima kasih tak
terhingga saya haturkan kepada FAM Publishing yang telah mewujudkan satu mimpi
indah ini untuk saya.
Sekjen FAM, Aliya Nurlela, yang sejak awal perkenalan saya
di grup Forum Aishiteru Menulis, telah banyak membantu dan memfasilitasi saya
untuk tetap menulis dan membina dengan ketulusan hati. Juga teman-teman yang
selalu memberi dukungan semangat untuk pantang menyerah dalam mencapai sebuah
keinginan. Ternyata semua memang tak ada yang sia-sia, walau sebesar apapun kenyataan
yang telah diraih.
“Mozaik Matahari”,
salah satu judul puisi yang saya ambil untuk judul kumpulan puisi ini, di mana ke
semua tulisan-tulisan saya ini memang bercerita tentang perjalanan yang saya
tempuh di persinggahan rasa yang begitu banyak terhampiri, walau terkadang raga
tak beranjak namun tempuhan perlangkahan sukma seperti luasnya langit yang tak
bertepi.
Meski sebagi penyaksi, kadang juga mencoba berperan sebagai
pelakon entah itu dalam sebuah peran yang diberi atau penonton yang mempelajari
skenario di jagat maha panggung ini. Begitu tersusun, dalam perca yang
bertambal, dengan harapan mampu menjadi bulatan sinar untuk sebuah pijar.
Sebagai seorang penulis, saya selalu berusaha belajar di
setiap kata yang muncul dalam kalimat, di setiap bait yang terangkai darinya, di
setiap puisi yang menyatu dari bait-baitnya. Pembelajaran itu selalu
berlangsung saat sebuah intuisi muncul untuk dikemas dalam kata-kata,
memunculkannya, menumpang sebuah “gerakan” yang dimunculkannya hingga sebuah
arti untuk direnungkan saya dapati setelah rampungnya sebuah puisi.
Mungkin kepenulisan saya ini masih dianggap mentah, namun
sebuah pencarian identitas akan terus berlangsung di setiap goresan-goresan
yang saya coba hadirkan. Setiap diksi-diksi yang dikembangkan, tak hanya sekadar
pemoles indahnya rangkaian sebuah kata, tapi sebuah denyut selalu saya coba
ikuti agar rangkaian-rangkaian kata itu memiliki “jiwa” tersendirinya.
Semoga kelahiran kumpulan puisi tunggal saya ini, dapat
memberikan sebuah warna bagi para pencinta dan penikmat sastra di mana saja
berada.
Semoga buku ini mampu membawa kita untuk bertahan di
samudera kebenaran jiwa yang tak pernah kering dan masih kita baca.
Bukittinggi, September 2012
Refdinal Muzan

Comments
Post a Comment