Skip to main content

Filosofi Jalan Raya

Oleh Muhammad Subhan*)

“Tunjuki kami jalan yang lurus (Shirathal Mustaqim). (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat”. (Q.S. al-Fatihah: 7)

JALAN menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Adanya jalan memberikan kemudahan manusia menempuh suatu tujuan, baik berjalan kaki maupun berkendaraan. Tak terbayangkan bagi kita, bagaimana seandainya di dunia ini manusia tak membangun jalan untuk mempermudah urusan mereka. Tentu semuanya akan menjadi lambat dan terhambat.

Lihatlah di jalan raya. Semua kendaraan berlalu lalang dengan mudah dan lapang. Mulai dari becak barang, becak penumpang, bendi, pedati, sepeda motor, kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Semuanya melintas dengan tenang. Orang-orang yang menumpang semua kendaraan itu, duduk nyaman di kursi tumpangannya. Tanpa ada rasa gelisah takut terlambat. Tanpa resah jika terjadi kecelakaan. Sebab, kendaraan yang mereka tumpangi berjalan sesuai jalurnya. Kendaraan yang berada di jalur kanan tidak melintas di jalur kiri, begitupun sebaliknya kendaraan di jalur kiri tidak pula berjalan di jalur kanan.

Di jalan itu pula, untuk mengatur lajunya lalu lintas, dipasang rambu (marka) jalan. Jika di depannya ada pendakian, dibuat marka jalan tanjakan, begitupun jika tidak jauh di sana ada jalan berkelok, dibuat marka tanda tikungan, demikian juga jalan menurun, ada jembatan, pengisian BBM, rumah makan, tempat ibadah, perlintasan kereta api, dan lain sebagainya. Semua petunjuk itu dibuat adalah untuk memudahkan pengguna jalan mengemudi kendaraan mereka.

Begitupula, di setiap persimpangan jalan dipasang traffic light. Lumrah orang menyebut lampu merah, meski jumlah lampu petunjuknya tidak hanya merah, melainkan juga kuning dan hijau. Merah tanda berhenti, kuning tanda hati-hati, dan hijau tanda jalan. Pengguna jalan yang membawa kendaraan mereka harus mematuhi traffic light ini. Ketika lampu merah menyala kendaraan di persimpangan yang satu berhenti, sementara di persimpangan yang lain lampu hijau menyala, lalu jalanlah kenderaan di sana. Begitupun sebaliknya secara bergantian dengan limit waktu yang telah ditentukan.

Sungguh indahlah pemandangan di jalan raya itu. Semuanya berjalan sesuai arahnya. Tertib dan rapi. Tidak saling mendahului. Tidak saling menyenggol apalagi menabrak. Tidak menikung. Mereka berjalan mengikuti pentunjuk-petunjuk yang membuat mereka mematuhi hukum di jalan raya. Semua petunjuk itu, tentu, untuk keselamatan si pengendara juga.

Tapi cobalah bayangkan, jika semua kendaraan tidak mematuhi petunjuk yang telah ditetapkan oleh rambu-rambu (marka) jalan. Sudah tentu akibat fatal akan terjadi. Kecelakaanlah namanya yang tak jarang merenggut korban jiwa. Jika lampu merah menyala lalu tiba-tiba diterobos saja, maka kendaraan yang melintas di depan pastilah akan bertabrakan dengan kenderaan yang menerobos itu. Atau pula, jalur kiri dilintasi oleh kendaraan yang seharusnya berjalan di jalur kanan, maka kecelakaan pula yang akan terjadi. Bukan saja merugikan pengemudi, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa orang-orang yang tidak berdosa sebagai penumpang didalamnya.

Itulah gambaran kehidupan di dunia ini. Ada jalan baik ada jalan buruk. Jalan baik tentu datangnya dari Allah, dan sebaliknya jalan buruk akibat perbuatan manusia sendiri. Sungguh beruntung orang-orang yang menemukan jalan baik (kebenaran), dan sungguh merugi manusia yang terjerumus di jalan kebatilan. Sebab, dunia ini hanyalah tempat persinggahan semata. Ada hidup sesudah mati. Ada pertanggungjawaban amal di hadapan Allah SWT kelak, di Yaumul Mahsyar. Dan, Allah hanya menciptakan dua tempat saja, surga dan neraka. Tidak ada tempat lain. Orang-orang yang berhasil menemukan jalan benar surgalah jaminannya. Dan, orang-orang yang terlena dengan kehidupan di jalan buruk, nerakalah tempatnya. Kedua tempat itu adalah janji Allah yang pasti.

Agar manusia tidak tersesat jalan hidupnya di dunia ini, Allah memberikan petunjuk yang menjadi rambu-rambu (marka) kehidupan. Petunjuk yang menjadi tuntunan itu adalah Alquran dan Hadist Nabi SAW. Dua pegangan inilah yang akan menyelamatkan manusia dari jalan buruk dan mengarahkan mereka pada jalan kebaikan. Kita berdoa, semoga, kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu berjalan di jalan benar serta mendapat petunjuk-Nya di dunia ini. Amin.

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...