Salam hangat untuk sahabat penaku, FAM.
Perkenalkan sebelumnya, nama saya Gita Leviana Putri, biasa
dipanggil “Gita”, diberbagai media sosial di mana saya menitipkan tulisan,
biasanya saya menggunakan nama Gitaleviana, sebab nama Gita terlalu banyak di
dunia maya. Jadi ya, saya berinisiatif untuk menuliskan nama tengah saya juga,
agar orang lain mengetahui, ini loh tulisannya Gitaleviana, dan bukan Gita yang
lain.
Berbicara soal tulisan, dan dunia menulis, mungkin sejak SMP
saya sudah mulai menulis, menulis di belakang buku catatan mata pelajaran, atau
menulis di meja tempat saya duduk. Disaat saya terlalu pusing mendengarkan
semua pelajaran yang harus saya ikuti paling sedikit 11 mata pelajaran dalam
satu semester, sungguh membuat terkadang saya merasa muak. Memulai dari tulisan
iseng, dan puisi belaga seperti seorang sastrawan dan berbekal sedikit
keberanian, saya mulai memamerkan kepada teman-teman. Sebagai manusia, tidak
dapat dipungkiri kalau kita butuh identitas. Nah, salah satu bentuk agar
identitas itu dapat ada yaitu pengakuan.
Saya masih sangat ingat, pertama kali saya memamerkan puisi
saya di media sosial, itu saat mulai masuk SMA, saat itu facebook mulai merambah dan sedang trend. Sebenarnya sebelumnya
saya sudah mulai memasukkan tulisan saya di media sosial yaitu friendster tetapi pada saat friendster ada, internet tidak semudah
sekarang, jadi hanya orang tertentu saja mungkin yang bisa melihat, terkadang
itu tulisan sudah berminggu-minggu baru ada 1 atau 2 komentar.
Jujur jika orang tidak mengenal saya, maka mereka akan
meragukan kemampuan saya untuk membuat puisi, sebab memang di lingkungan
sekolah dulu, saya dikenal sebagai seorang yang cukup serius, sehingga langkah
pertama saya untuk menggunakan facebook
sebagai media memperlihatkan kemampuan membuat puisi saya itu, banyak mendulang
komentar. Kebanyakan dari para komentator kaget dengan apa yang saya tulis.
Tapi saya senang, karena artinya mereka sudah mengapresisasi karya saya. Akibat
uji coba itu, membuat saya semakin gigih untuk bisa menjadi seorang penulis,
tapi hingga saat itu, saya masih bingung, saya ini penulis bidang apa. Tidak
semua hal bisa saya kuasai dengan baik. Meskipun begitu, obsesi saya untuk
memperoleh pengakuan terus saya gulirkan, seperti memainkan bola salju.
Kemudian, saya membuat berbagai akun diberbagai media
sosial, dan memasukan tulisan-tulisan saya di sana. Hal tersebut saya lakukan agar
karya saya bisa memperoleh tempat. Jujur, saya sangat senang, apabila tulisan
saya dikomentari oleh orang lain. Tapi hidup di dunia menulis itu tidak
selamanya juga menyenangkan, terkadang banyak juga yang mencemooh bahkan tidak
menghargai karya saya. Seperti contohnya saja saat ini, saya berada di dunia
jurnalistik, banyak yang bilang “Git, lo itu mau jadi ekonom atau wartawan gak
jelas? Atau jurnalis yang hari ini bisa makan, besok mintak sama orangtua?” Banyak
juga yang bilang apa sih untungnya jadi jurnalis, ditambah lagi saat ini citra
wartawan khususnya itu buruk. Bahkan jujur, ibunda saya sendiri, tidak setuju
jika saya di dunia jurnalistik, dia lebih setuju saya menulis dalam ranah
ilmiah dan penelitian yang saya tekuni dulu. Tapi sampai saat ini saya masih
bertahan di dunia jurnalistik, meskipun banyak orang yang kontra dengan dunia
ini, yang dianggap tidak menjanjikan.
Tapi jujur bagi saya menulis itu bukan sebatas pekerjaan,
tapi agak berlebihan juga jika saya menyebutnya panggilan jiwa, tapi saya
merasakan hal yang berbeda ketika saya menulis dan tulisan saya itu di
apresiasi. Jujur, terkadang ada titik jenuh dalam menulis, ada saat-saat di mana
saya tidak sedang butuh buku, pena, notebook
dan modem, tapi saya butuh yang lain. Ya, saya rasa semua kegiatan juga pasti
ada yang namanya bosan, apalagi menulis. Menulis itu kegiatan di mana antara
hati, jiwa, dan pikiran kita harus menyatu, agak susah juga memang terkadang
untuk menyatukannya.
Sejujurnya menulis ini merupakan sebuah hobby tapi saya
menentang keras dengan orang-orang yang meremehkan dunia menulis. Buat saya,
mau sepintar apapun orang, kalau tidak bisa menulis ya maka dia akan hilang
dari sejarah. Mungkin karena dasar itu, saya sangat senang memasukkan tulisan
saya, agar tulisan saya dapat dibaca orang lain. Terkadang saya memaksa kawan
saya untuk membuka blog pribadi saya, saya bawa notebook bersama dengan modem, lalu saya buka blog saya, dan saya
minta dia membaca dan mengomentarinya, ya kalau sudah begitu sih sangat kecil
kemungkinan buat dia tidak mau menuruti permintaan saya.
Ada lagi hal yang biasa saya lakukan setelah menulis di
blog, yaitu mengirimkan pesan singkat kepada teman-teman bahwa saya punya
tulisan baru, dan bilang kepada mereka semua, kalau saya sangat butuh
komentarnya, agar mereka mau membaca. Setelah itu biasanya saya mengirimkan URL
blog saya di facebook, twitter, di BBM juga terkadang saya broadcash atau bahkan saya tulis di PM (personal
Massage). Semua itu saya lakukan untuk memperoleh masukan, sekaligus
apresiasi dari mereka mengenai karya yang saya buat. Bahkan kalau sekarang,
untuk benar-benar menunjukkan eksistensi saya di dunia penulisan, saya tidak
segan berdisuksi dengan para jurnalis hebat melalu email, lalu saya capture (foto) emailnya itu, supaya
orang-orang tahu, saya serius ingin jadi jurnalis.
Saya merasakan bahwa dengan menulis saya bisa
mengaktualisasikan diri saya. Meskipun jujur saja, jika waktu menulis saya ini,
saya gunakan untuk meraih keuntungan melalui berdagang, sebenarnya berdagang
itu lebih menjanjikan. Tapi itulah hidup, hidup adalah pilihan, dan aku memilih
untuk menjadi penulis sekaligus ekonom suatu saat nanti.
Gita Leviana Putri
Lampung

Comments
Post a Comment