Skip to main content

Ingin Mewariskan Buku Karya Sendiri untuk Anak-Cucu

Ydh. FAM Indonesia
di ruang literasi

Salam,

Dari mana saya harus memulai menulis surat ini? Benar, saya tidak tahu mesti dimulai dari mana. Kehilangan kata yang sama terasa manakala mesti mengingat kapan dan siapa yang memperkenalkan saya dengan FAM Indonesia. Saya lupa hari dan tanggal bila saya bermula beraktifitas bersama FAM, adakah yang berkenan mengingatkan saya? Bahkan, saya tidak ingat pula siapa yang pertama kali memperkenalkan FAM Indonesia kepada saya, sehingga saya tercebur dan keasyikan berenang di dalamnya sampai saya tidak ingat ujung pangkal, adakah yang berkenan mengingatkan saya?

Menulis. Itulah kata kunci pertama yang saya peroleh ketika menemukan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelum pertemuan pertama itu, saya sudah bertanya ke sana ke mari tentang hakikat kepenulisan berikut syarat dan rukunnya, namun tak banyak yang bisa memberikan metoda dan rumus yang bisa memuaskan keinginan abadi yang terpendam dalam jiwa ini untuk satu tujuan: menulis. Saya tahu saya memiliki bakat menulis. Imajinasi saya cukup tinggi, dan saya adalah penggemar buku yang gila. Kamar saya penuh dengan buku-buku berbagai bidang disiplin ilmu dan berbagai leterasi lintas agama. Seharusnya saya sudah memiliki bekal untuk bisa menulis secara gampang dan mudah. Namun, celakanya saya tidak bisa menuliskan isi pikiran saya karena satu hal; saya tidak mampu mengukur dan konsisten memulai dari mana. Sebuah pertanyaan klasik ini selalu saya ajukan kepada setiap orang yang saya pikir bisa menjawab, dari mana saya mesti memulai menulis? 30 tahun usia saya kini. Saya suka membaca dan menulis. Namun, saya masih bertanya-tanya dari mana saya memulai untuk menulis. Begitu banyak waktu terbuang sia-sia akibat pencarian itu.

Lalu pada suatu hari ada orang yang baik hati memperkenalkan saya dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Forum ini rupanya tidak hanya menampung orang-orang hebat saja, tapi juga menampung orang-orang "bingung" seperti saya. Sebuah poin plus menjawab satu keinginan dalam hati. Diam-diam saya ikuti seluruh penjelasan yang diuraikan melalui blog www.famindonesia.blogspot.com. Tiba-tiba saja saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan klasik itu tentang dari mana memulai menulis tadi. Maka, dicatatkanlah dalam sejarah hidup saya, ketika hari itu juga saya langsung bergabung dengan FAM Indonesia. Formulir diisi, uang pendaftaran yang 75 ribu rupiah itu ditransfer. Sebaris SMS dikirim ke nomor HP Aliya Nurlela, yang rupanya adalah Sekjen FAM Indonesia. Lucunya bahkan saya tidak mengetahui bahwa grup “Forum Aishiteru Menulis” ini walau dikatakan sebagai forumnya FAM di Faceebook ternyata ada. Bunda Aliya lah yang memberitahu saya keberadaan grup maya ini. Begitu semua prosedur selesai saya lakukan, hari itu saya berbisik pada diri sendiri bahwa saya akan memulai untuk menulis bersama FAM Indonesia.

Bertemu dengan FAM mempertemukan saya dengan hal lain selain dari kata menulis, yaitu semangat. Sebuah kata yang sering diucapkan namun sering pula saya abaikan kedalaman maknanya. Saya tidak pernah berpikir bahwa menulis itu membutuhkan semangat. Menulis ya menulis saja, semangat cuma diperlukan bila akan berkompetisi. Salah ternyata. Semangat ternyata kunci mendahsyatkan pikiran dan di situlah letaknya kenapa saya selama ini bingung untuk memulai. Tidak ada yang menyemangati saya. Yang ada adalah menyuruh saya untuk menulis. Semangat yang ditularkan oleh FAM Indonesia dan ribuan anggotanya membantu saya mendefinisikan bakat menulis saya kembali yang hilang dalam 30 tahun masa hidup saya. Fokuskan saja pada puisi, begitu pesan pendek yang dilayangkan Bunda Aliya kepada saya suatu kali. Rupanya beliau sudah pula membaca tulisan contoh yang saya kirimkan di awal pertemuan. Ya, puisi. Itulah diri saya. Saya menyukai puisi, membaca puisi di berbagai forum dan menulis puisi sejak kanak-kanak, kenapa saya tidak pula berpikir fokus menulis puisi saja bukan memaksakan diri menulis yang lain, misalnya cerpen atau novel yang bukan bakat saya?

Alhamdulillah saya akhirnya tercebur ke dalam wadah bernama FAM Indonesia dan saya menemukan diri saya di sana. Di mana hati dan jiwa berangkulan dengan ribuan penulis muda Indonesia yang saling mengisi, membangun dan menjejakkan kaki menuju cita-cita yang sama dan dalam semangat yang dahsyat. Sebulan setelah saya bergabung dengan FAM, sebuah buku kumpulan puisi karya saya akan diterbitkan oleh FAM Indonesia. Sebuah buku yang merupakan "anak batin" bagi saya di mana dia sudah terpendam cukup lama dalam relung jiwa terdalam. Teruntai dalam setiap doa dan tersimpan dalam pendar-pendar imajinasi.

Sejak bertemu dengan FAM, saya tak melewatkan waktu sedetik pun untuk tidak menulis. Saya menjanjikan pada diri saya untuk tidak berhenti hanya dengan satu buku, tapi akan menerbitkan karya-karya saya kemudian membagikannya kepada seluruh penikmat dan pencinta tulisan di seantero jagat, sampai akhir hayat. Bahkan saya ingin kelak di mana salah satu warisan saya buat anak-cucuku nanti adalah buku-buku karya saya sendiri.

Maka inilah saya. Inilah FAM Indonesia. Saya telah larut dan keasyikan berenang di dalamnya sehingga melupakan ujung pangkal. O iya, adakah yang bisa memberitahu saya kapan dan siapakah gerangan orang baik yang telah membuat saya berlaku begini rupa?

Demikian dan terima kasih. Salam Santun, Salam Karya!

Lubuk Minturun, Oktober 2012

DENNI MEILIZON
FAM 906 U - PADANG

Artikel Terkait:
 

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...