"Semua harus
ditulis. Apa pun... jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang
penting tulis, tulis, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna"
--Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya Ananta
Toer menanggapi rentang panjang perjalanan hidupnya dengan kelakar. "Apa
hasil pergulatan saya sepanjang hidup? Hanya mata kabur, otak pikun, dan
pendengaran yang brengsek," ujar lelaki tua berwajah keras itu sambil
tertawa.
Pramoedya
melakoni hari-harinya dengan dua bungkus rokok, dua porsi vitamin, sedikit
senam pernapasan, dan memotong-motong halaman surat kabar untuk dijadikan
kliping. Ia mengaku tak lagi mampu menuliskan kisah. "Sejak tahun 2000,
saya praktis tidak menulis lagi," katanya.
Suami Maemunah
Thamrin yang tidak pernah mengaku kalah atau merajuk itu menganggap
ucapan-ucapannya sebagai bagian dari protes pribadi terhadap menggelindingnya
hidup. "Padahal, semua orang yang sudah tua mengalami kondisi ini,"
Pramoedya menjawab sendiri protesnya, juga sambil tertawa.
Dulu Pramoedya
muda menyangka usia hidupnya tidak akan selarut ini. Ibunya meninggal pada usia
34 tahun, sementara sang ayah meninggal pada usia 55 tahun. Dan saat usia
pamungkas kedua orangtuanya dijumlahkan kemudian dibagi dua, maka dugaannya;
"Usia hidup saya tidak akan lebih dari 45 tahun," kata nominator
peraih Nobel Sastra pada 1995 ini.
Target usia
singkat itu makin merayapi dirinya saat pemerintahan Orde Baru memenjarakannya
selama 14 tahun (1965-1979). Namun suratan nasib menghendaki anggota kehormatan
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini bernapas panjang setelah kerja paksa yang
melelahkan di Pulau Buru.
Di pulau tempat
fisiknya ditempa dan terlatih itu, fokus hidup Pramoedya menjadi lebih sederhana.
"Melawan tirani Soeharto dari penjara," katanya. Namun, ketika
akhirnya ia bebas pada 1979, begitu banyak kenyataan hidup yang harus
dihadapinya. Semua persoalan harus dihadapi dan diselesaikan. "Kebebasan
menjadi hal yang mengejutkan," katanya.
Di masa tuanya,
penggubah roman tetralogi yang sangat populer ini (Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) sudah mengubur dalam-dalam pelbagai
persoalan ideologis yang menyeretnya dalam aneka polemik. Tidak ada lagi
marxisme, leninisme, dan isme-isme lain di benaknya. "Saya sekarang
penganut 'Pramisme'," ujar pengarang yang sudah menghasilkan lebih dari 50
buku sepanjang usia produktifnya ini.
Pramisme
--sederhananya-- adalah sebuah cara berpikir yang mandiri tanpa terikat dengan
isme-isme yang sudah ada. Implikasinya berupa sikap individualistis yang
melandasi kerja otak dan fisiknya. "Pramisme lebih mengandalkan kerja
keras sebagai upaya untuk keluar dari kesulitan; bukan doa," papar
penerima gelar doctor honoris causa dari University of Michigan, Amerika
Serikat, ini.
Sejak kecil,
Pramoedya memang harus berusaha keras untuk mengejar
"ketertinggalannya". Ayahnya yang menjabat sebagai Direktur Boedi
Oetomo saat itu mendidiknya dengan cara sangat keras. Sebab, sulung dari
delapan bersaudara ini baru bisa merampungkan tujuh kelas di tingkat SD dalam
waktu 10 tahun. "Barangkali karena malu, Ayah mendidik saya dengan
keras," katanya mengenang, dengan bibir tersenyum.
Didikan keras itu
membuat Pramoedya kecil minder. Tapi hasilnya cukup efektif. Dari situ ia mulai
mengejar ketertinggalannya dengan menuliskan apa saja yang dilihat, didengar,
dan dimengertinya. Beban itu kemudian menjadi kebiasaan yang kelak
menempatkannya sebagai seorang penulis produktif.
Pada pertengahan
Desember 2004, salah satu bukti produktivitas itu diluncurkan dalam bentuk buku
bertajuk Menggelinding 1. Buku setebal 548 halaman itu memuat 58 esai, cerita
pendek, dan puisi-puisi yang digubahnya dalam rentang tahun 1947-1956.
"Masih banyak lagi karya serupa yang akan kami terbitkan sebagai
jilid-jilid Menggelinding berikutnya," kata Astuti Ananta Toer, putri
Pramoedya yang berperan sebagai editor buku terbitan Lentera Dipantara itu.
Bahkan, di antara
protes abadi Pramoedya tentang pembakaran perpustakaan pribadinya --yang juga
menghanguskan begitu banyak karyanya-- oleh rezim Soeharto pada pertengahan
Oktober 1965, masih begitu banyak tulisan masa lalu Pramoedya yang bisa
dimunculkan kembali saat ini. "Keahlian saya adalah menulis, jadi itu saja
pekerjaan saya sepanjang hayat," kata penulis banyak kisah yang
terinspirasi oleh sosok ibu dan neneknya ini.
Menggelinding 1
menampilkan sosok Pramoedya muda yang percaya diri dan belum terbebani oleh
pesan-pesan ideologi tertentu. Ini penting untuk dicatat, sebab dalam
perjalanan hidupnya, Pramoedya pernah menjadi seorang liberalis yang banting
setir jadi marxis saat mulai berinteraksi dengan rekan-rekannya di Lekra.
Namun pandangan
politik, ekonomi, dan sosial Pramoedya muda dalam Menggelinding 1 menunjukkan
kecenderungan pemikiran seorang sosialis yang cakap. Selain juga menampakkan
kemandirian berpikirnya dalam bereaksi atas tulisan-tulisan H.B. Jassin
--sahabat sekaligus gurunya-- dan materi-materi diskusi, simposium tentang
situasi kesusastraan Indonesia saat itu. "Saya adalah tipe orang yang
emosional; gemar bertarung dengan otak, tidak dengan otot," katanya.
Pihak penerbit
Lentera Dipantara --perusahaan penerbitan keluarga yang dikelola anak-anak
Pramoedya-- menjanjikan banyak lagi karya Pram yang akan diterbitkan kelak.
Namun hampir semuanya berupa tulisan-tulisan lama yang masih tersimpan atau
ditelusuri dari berbagai sumber. "Apa yang ingin saya tuliskan sudah saya
tulis. Apa yang saya ingin kerjakan sudah saya kerjakan, apa yang ingin saya
miliki sudah saya miliki. Mau apa lagi?" kata Pramoedya, kali ini dengan
raut wajah serius.
Oleh: Bambang
Sulistiyo
[sumber: http://toko-bukubekas.blogspot.com/2012/10/muda-produktif-tua-berkelakar.html]

Comments
Post a Comment