Skip to main content

Menulis, Harus Berani Keluar dari Zona Aman

Halo, FAM. Sebuah kehormatan yang hakiki ketika saya diperkenankan untuk menulis surat pada grup ini. Perkenalkan, saya Putri Larasati. Biasa dipanggil Uti. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang mencintai sastra secara lahir dan batin. Saya sangat gemar menulis. Saya ingin sedikit banyak berbagi pengalaman saya tentang lika-liku hidup saya dalam aspek kepenulisan. Semoga warga FAM dapat menelisik secercah cahaya dari surat saya ini. Kemudian cahayanya akan terpantulkan pada lentera-lentara di seluruh jagad raya. Semesta kan diterangi oleh untaian kata-kata penuh makna dan cinta. Semoga.

Seorang penulis pastilah punya passion penulisan yang berbeda-beda. Ada penulis yang berkutat dengan fiksi, non-fiksi, dan sebagainya. Untuk orang yang melihat saya secara tidak intens, pastilah mengira bahwa saya ini penulis fiksi mini ataupun cerpen-cerpen teenlit. Karena pembawaan saya yang ceria dan “muda banget”. Bahkan pada saat itu saya pernah berkenalan dengan seorang rekan yang biasa menulis di sebuah koran berita, dia langsung melontarkan kata-kata ini kepada saya, “Put, pasti imajinasimu kuat ya. Kamu lagi proyek bikin novel, kan?” Saya langsung tersenyum menanggapinya. Lantas saya jelaskan padanya bahwa saya sama seperti dirinya. Lebih senang menulis sesuatu yang serius dan tak perlu tokoh-tokoh fiksi di dalamnya. Ia terperangah. Lalu saya berikan beberapa contoh tulisan saya yang ada di binder saya. Kemudian ia barulah percaya sejadi-jadinya. Lucu, bukan?

Penulis non-fiksi bukan berarti sepenuhnya tidak menyukai fiksi. Saya senang dengan karya-karya fiksi, namun cenderung kepada fiksi yang penuh dengan konspirasi ataupun permasalahan yang lebih kompleks. Misalnya saja saya pernah membaca buku fiksi import yang isinya berkisah tentang pemberontakan sekelompok mahasiswa bersama dosennya di sebuah Negara yang sudah dicap sebagai Negara teologis. Saya suka fiksi yang dikaitkan dengan politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Fiksinya terasa nyata. Saya lebih menyukai karya-karya seperti itu daripada yang ringan-ringan. Saya juga berkeinginan untuk dapat menulis fiksi semacam itu. Ini hanya masalah selera. Saya rasa sobat FAM juga pasti punya seleranya masing-masing.

Namun saya rasakan gejolak dari nurani berbisik bahwa saya takkan bisa menulis fiksi maksimal jika saya menulis tulisan non-fiksi. Buktinya saya telah mencoba berkali-kali membuat prolog sebuah novel, tapi selalu berhenti di tengah jalan. Karena saya memang merasa ini bukanlah yang benar-benar saya kuasai. Akhirnya saya berhenti dan menekuni apa yang sudah menjadi passion saya. Saya menulis tulisan non-fiksi atau minimal tulisan yang berdasarkan pada kenyataan namun kata-katanya diperindah.

Sampai suatu hari, ada seseorang yang menantang saya untuk mengikuti lomba cerpen sastra. Ia menantang saya lantaran pada saat itu saya adalah ketua ekstrakurikuler sastra dan budaya di SMA saya. Saya gamang. Saya bingung harus menerimanya atau tidak. Lantas bagaimana citra saya sebagai orang yang harusnya memang menguasai semua lingkup dalam sastra? Maka saya mengiyakan dahulu tantangan itu. Untuk selanjutnya, biar waktu yang menjawab.

Deadline sudah semakin dekat. Saya belum mempersiapkan apa-apa pada saat itu. Baiklah, saya berkomitmen untuk setidaknya mencoba dahulu. Urusan menang atau kalah kita lihat saja nanti. Pertama-tama saya mencari ide. Tak terlalu sulit karena memang dari pihak yang mengadakan lomba sudah menentukan temanya. Lalu saya membuat kerangka atau tahapan-tahapan alur apa saja yang ingin saya kembangkan nantinya. Setelah itu baru saya garap. Setelah jadi pun masih sangat banyak yang harus direvisi. Betapa sulitnya saya mengerjakan ini. Tidak sesulit ketika saya mengerjakan apa-apa yang memang sudah saya kuasai. Proses yang teramat panjang ini diselesaikan dengan rasa cukup puas. Karena pada akhirnya saya berhasil membuat karya fiksi meski dalam bentuk cerpen. Ini merupakan terobosan saya tersendiri dalam hal penulisan. Betapa bangganya saya dapat melalui proses itu.

Setelah tiba di waktu pengumuman, saya tidak terlalu deg-degan lantaran saya pun tidak berekspektasi lebih terhadap kemenangan. Saya rasa pasti akan ada banyak yang cerpennya lebih baik dari saya. Namun yang tak disangka-sangka pun terjadi. Nama saya disebut sebagai pemenang juara 3 se-Jawa Barat dalam lomba penulisan cerpen sastra tersebut. Sontak saya masih berpikir-pikir tidakkah ada kesalahan dalam proses penjuriannya? Tapi saya sangat bersyukur bisa merebut posisi itu.

Akhirnya saya dapat menunjukkan pada semua bahwa menulis itu terkadang tidak harus selalu mengikuti passion kita. Kadang kita harus keluar dari zona aman kita. Karena kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak mencobanya. Jika kita cinta dengan menulis, lekaslah tunjukkan pada dunia bahwa kita mencintainya tidak dengan setengah-setengah! Kita mencintainya dengan sepenuh hati. Maka kita akan lakukan yang terbaik untuknya.

Satu kalimat yang terngiang di kepala saya tentang zona aman adalah “No growth in comfort zone, and no comfort in growth zone.”

Sekian surat dari saya, teman-teman FAM. Semoga bisa memberi inspirasi untuk kalian-kalian yang sedang gundah hatinya lantaran pesimis tidak bisa menulis di satu genre tertentu. Ketika yang lain sibuk berkata-kata saja, marilah kita menulis! Not only make a story, we make a history. Berkaryalah ketika memang ini yang bisa kita lakukan untuk kontribusi pada Negara! Tak ada yang salah dengan menulis. Menulis pun berkontribusi. Tetaplah cinta pada dunia kepenulisan ya, sobat FAM! Salam aishiteru.

Putri Larasati
Bekasi-Depok
Mahasiswi Sastra Arab Universitas Indonesia

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...