Oleh Aliya Nurlela
Kemarin, kakak kandungku dari Pulau Garam ‘membombardir’
perkataan di telepon. Maklum berbulan-bulan tidak telepon. Begitu ada
kesempatan, tanpa ba-bi-bu langsung to the point melontarkan uneg-unegnya.
Alhasil, tak ada kesempatan bagiku untuk menyela atau melakukan sedikit
pembelaan. Akhirnya, cukup puas menjadi pendengar dan menyimak baik-baik setiap
butiran kata yang keluar dari lisannya.
“Dulu, kita tumbuh bersama. Sekolah pun selalu sama. SD,
SMP, SMA hingga perguruan tinggi ada pada tempat yang sama dan kos pun bersama
pula. Kesukaan kita sama dan kegiatan pun sama. Hingga, orangtua selalu
menganggap kita anak kembar. Banyak kemiripan meskipun sifat bertolak belakang.
Orang-orang di sekitar kita pun selalu tertukar memanggil nama apalagi jika
melihat dari belakang.
Masa kecil kita lalui dengan menulis cerita dongeng, hingga
menjadi bertumpuk-tumpuk buku tulis yang berisi dongeng. Salah seorang sepupu
bahkan memanggil kita “Akela dan Kelabu.” Kau Akela dan aku Kelabu. Semua itu
karena tokoh-tokoh dongeng yang kita buat. Kita selalu menulis bersama dan
mengikuti lomba juga bersama.
Ingatkah kau saat kita bergelut di dunia seni, menjadi
vokalis band. Lalu kita menangis bersama di suatu malam dan berjanji akan
meninggalkan dunia itu. Lalu kita ‘hijrah’ dengan mengenakan busana muslimah.
Meskipun di awal masih busana muslim yang gaul, modis dan bongkar pasang. Tapi
kita menikmati proses itu.
Ingatkah, saat kita sudah aktif dalam kegiatan keislaman
dengan memakai gamis dan jilbab lebar, lalu kita berdua dihadapkan pada
fasilitas karaoke. Saat memegang mikrofon, kau dan aku tersipu malu. Suara kita
tak mampu lagi untuk bernyanyi bersama seperti waktu dulu. Entah mengapa ada
rasa malu yang menyeruak. Padahal kita hanya berdua di ruangan itu, tak ada
siapapun. Aneh, dulu kita berjingkrak-jingkrak di panggung musik dengan
bangganya tapi setelah ‘hijrah,’ mengapa kita sangat malu melakukannya?
Dulu cerpenku sering kau tamatkan. Menulis dan membaca
menjadi teman setia yang mewarnai hidup kita. Tak sedikit pun lepas dari
menulis juga membaca. Oleh-oleh dari orangtua yang selalu kita nanti adalah
buku bukan makanan. Kita selalu bertukar pikiran soal menulis dan buku yang
dibaca. Intinya, kita selalu sama.
Aneh, mengapa sekarang kamu ‘melesat’ sendiri. Kamu
menghasilkan beberapa buku, sementara aku? Satu buku pun belum. Bukankah kita
selalu sama? Bukankah kita ‘kembar’? Mengapa sekarang berbeda? Kamu harus
membawaku lagi pada aktivitas yang sama. Kita harus berkarya dan menekuni dunia
menulis bersama. Ayo ajaklah aku bergabung di FAM Indonesia dan bantulah
membina murid-muridku menulis, “ ujarnya panjang lebar dengan bahasa telepon
yang dibumbui gaya cerita he-he-he. Wah, tak ada kesempatan menyela sedikit
pun. Kakak seolah terburu-buru ingin menumpahkan semua bebannya dalam waktu
yang cepat dan bisa kutangkap serta kusikapi segera.
Lucu memang kakak kandung sendiri yang sudah seperti saudara
kembar, merasa ditinggal sendiri tanpa diajak aktivitas menulis yang intens.
Alhamdulillah, jika memang ia akan bergabung juga menjadi anggota FAM
Indonesia. Itu artinya, seorang lagi dari pihak saudara siap menguatkan wadah
kepenulisan ini. Sekaligus menjadi jalan terbukanya cabang FAM di Pulau Madura.
Amrina Rosyada nama penanya. Ia kakak kandung yang terpaut
dua tahun usianya dariku. Benar, hubunganku dengannya sebagai saudara sangat
dekat sekali. Banyak hal yang membuat kita selalu satu pandangan dan bahu
membahu meraihnya. Memiliki hobi dan impian yang sama. Hingga beberapa takdir
yang diberikan Allah pun sama.
Kesamaan demi kesamaan itu berlanjut hingga kini, setelah
masing-masing berkeluarga dan tinggal di kota yang berbeda. Sering sekali kita
terkaget-kaget saat bertemu. Mengapa sepatu yang kita kenakan bisa sama persis,
baik warna atau merek. Bahkan, kita pernah tergelak bersama saat mengeluarkan
sabun kecantikan yang dipakai masing-masing ternyata juga sama persis. Aku
yakin tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua adalah bagian dari desain
dalam takdir-Nya.
Dulu masa SMA, ketika orang bertanya atau diharuskan mengisi
kolom idola. Aku selalu menyebut bahwa idolaku adalah kakakku. Sebagai adik,
aku juga heran mengapa bisa mengidolakannya? Tapi di mataku, kak Amrina Rosyada
memang memiliki banyak kelebihan yang saat itu kukagumi. Cantik, modis,
bersuara merdu, pandai menulis dan pintar. Mungkin cara pandangku saat remaja
masih sebatas itu. Menilai secara lahir dan kedekatan saja. Di satu sisi, aku
mengidolakannya. Namun di sisi lain, aku selalu waspada dengan sepak terjangnya
he-he-he. Ia pesaing berat dalam segala hal. Kalau ia ikut lomba menulis yang
kuikuti juga, aku harus siap-siap menjadi nomor sesudahnya. Pasti ia
pemenangnya. Seperti cerpenku “Romantika Perawan Desa” harus puas menjadi
peringkat dua, karena cerpennya “Nostalgia Tragis” bertengger di peringkat
satu. Hmmm….tak apa. Untung posisiku sebagai adik, jadi enggak kecewa-kecewa
amat gitu loh hi-hi.
Satu hal yang kurang kusukai darinya adalah kebiasaan saat
akan bepergian. Ia akan menyemir sepatunya hingga mengkilat dan membutuhkan
waktu yang lama. Kadang sampai satu jam. Aku pasti sudah cemberut menunggunya.
Ketika jalan bersama dan tak sengaja sepatuku menyenggol sepatunya, wih…bisa
dibayangkan ekspresi marahnya. Ia akan mencubitku hi-hi.
Benar kata kak Amrina, bahwa dulu kita berdua sangat suka
menulis dan membaca bersama. Kemana-mana menenteng buku tulis dan pulpen.
Cerpennya yang belum tuntas, sering kutamatkan karena tak sabar dengan
endingnya. Setiap hari Rabu ketika ayah pulang dari kantor membawa majalah atau
koran langganan, kita akan berebut untuk membaca lebih awal. Ayah yang humoris
selalu sengaja mempermainkan kita. Koran atau majalah itu diangkatnya
tinggi-tinggi, hingga kita berusaha meraihnya dengan memeluk dan menggelitiki
ayah ramai-ramai.
Aku dan kakak memiliki hobi lain yang sama pula. Kita sering
bernyanyi teriak-teriak di atas batu sungai. Bersahut-sahutan dengan suara yang
tinggi. Hitung-hitung latihan vocal he-he. Atau berdiri di pinggir kolam yang
menghadap pesawahan luas, lalu bernyanyi keras menantang suara angin yang
bergemuruh datang dari lembah. Rambut kita tersibak ditiup angin. Wih, saat itu
rasanya sedang pengambilan gambar video klip. Atau kita berlari mendekati
orangtua yang sedang membakar daun-daun cengkih kering. Asap tebal akan
mengepul dari pembakaran itu. Kita akan bernyanyi dan bergaya diantara kepulan
asap. Meskipun disertai batuk-batuk sesak oleh asap yang kotor. Maklum, yang
kita bayangkan bukan asap pembakaran daun cengkih tapi asap buatan di panggung
artis yang waktu itu sering kita lihat di televisi nasional.
Kesamaan itu termasuk dalam hal menerima surat cinta. Kita
akan tertawa terbahak, ketika ada satu surat dari seorang lelaki yang ditujukan
untuk berdua. Wah, lelaki itu bingung kayaknya. Harus pilih yang mana? Hi-hi.
Mungkin pikirnya, “Ah, dua-duanya saja. Siapa tahu salah satunya ‘nyangkut.’”
Otomatis kita jadikan agenda rapat berdua. “Kamu terima? Aku enggak mau.” Kata
kakak. Aku pun menggeleng dan jawabannya ditolak bareng-bareng. Demikianlah
masa remaja, yang mungkin juga sempat menimpa semua orang.
Banyak hal yang sama antara aku dan kakak. Anehnya, selalu
ada perasaan rindu yang meluap jika lama tak berjumpa. Ketika kesempatan
bertemu itu ada, kita akan langsung asyik ngobrol berdua di kamar hingga berjam-jam.
Keluarga masing-masing sudah sangat mafhum. Termasuk suamiku dan suami kakak
akan memberikan waktu seluas-luasnya untuk kita bercerita berdua.
Alhamdulillah, akhirnya aku dan kak Amrina menemukan jalan
yang lebih baik dari sebelumnya. Kita pun bahu membahu saling menguatkan agar
tak ada lagi kata “mundur.” Kita yakin semua niat itu akan terwujud, jika kita
konsisten. Meskipun di awal, kak Amrina pernah mengalami kejadian tak sedap.
Saat pulang latihan band, ia mendongakkan muka ke kelas pembinaan Islam
intensif yang dibimbing guru agama. Guru tersebut melihat ke arah kak Amrina
dan berujar,”Saya ragu Anda bisa berubah.” Betapa sedihnya hati kakak saat itu.
Ia pun bertekad menunjukkan pada guru agama dan orang-orang di sekitar, bahwa
ia bisa berubah. Tekadnya itulah yang membawanya pada perubahan. Bukan sekadar
menunjukkan pada makhluk, tapi sebagai bentuk syukur pada Sang Pencipta. Jejak
itulah yang kemudian ku ikuti juga.
Sangat wajar jika sekarang kak Amrina mengatakan bahwa aku
melesat sendiri dan meninggalkannya. Sekian lama memang kita memiliki kesamaan
yang diakui banyak pihak. Baiklah, sudah saatnya untuk bersama lagi dan aku
harus siap-siap ‘terkapar’ menjadi nomor sesudahnya he-he. Semoga kak Amrina
benar-benar bisa bergabung di FAM Indonesia.
Foto: Aku dan Amrina Rosyada saat masih bersama.

Comments
Post a Comment