Oleh Muhammad Subhan*)
Pohon kelapa hidup di dataran tropis. Oleh banyak penyair
pohon kelapa sering ditulis dengan sebutan pohon nyiur. Tidak sedikit kata-kata
pohon nyiur masuk dalam bait-bait puisi para penyair. Sebab pohon kelapa juga
mempunyai keindahan bentuknya.
Bisa dikatakan pohon kelapa adalah tumbuhan multifungsi.
Nyaris tak ada yang tidak bisa dimanfaatkan dari tubuh pohon kelapa. Semua
berguna bagi kehidupan manusia.
Lihatlah, akarnya yang tunggang menghunjam ke bumi
dimanfaatkan orang untuk ramuan obat-obatan, juga berbagai bentuk karya seni yang
indah. Batang tubuhnya yang kurus namun menjulang tinggi mencakar langit
bermanfaat untuk dibuat balok atau papan sebagai bahan dasar bangunan rumah.
Daun-daunnya digunakan untuk membuat berbagai anyaman, salah satunya ketupat. Lidinya
dibuat sapu. Tempurung buahnya dibikin asbak rokok, cangkir minuman, maupun
benda-benda menarik lainnya. Isi buahnya bisa dijadikan minyak, atau santannya
untuk menggulai makanan. Sabut dan tempurung buahnya juga bisa dimanfaatkan
untuk bahan bakar. Benar-benar tak ada yang terbuang percuma sedikit pun dari
tubuh pohon kelapa itu.
Banyaknya manfaat pohon kelapa dengan sendirinya manusia
bisa berproduksi untuk menambah ekonomi keluarga. Petani-petani kelapa hidup
sejahtera dengan mengembangkan kebun kelapanya. Dengan kelapa pula, di
kota-kota besar, berdiri pabrik-pabrik olahan minyak kelapa hingga merekrut
banyak tenaga kerja. Dari pohon kelapa juga melahirkan seniman-seniman hebat
yang menghasilkan karya seni berkelas dunia. Di sana sini muncul kilang kayu
yang mengolah batang kelapa menjadi kayu-kayu jadi berkualitas tinggi.
Multifungsi yang dimiliki pohon kelapa ini hendaklah menjadi
cerminan diri bagi setiap manusia. Bagaimana pun kondisinya seorang manusia
harus memberikan manfaat bagi manusia lain. Bukan malah menjadi beban karena
tingkah laku yang bertentangan dengan hukum kehidupan.
Manusia yang bermanfaat kepada orang lain adalah mereka yang
merasa bertanggung jawab membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan. Ketika
di kiri kanan rumahnya banyak terdapat orang-orang miskin, ia akan menunda
keberangkatannya naik haji yang kedua atau yang ketiga kali. Ia akan
mendahulukan memberi makan tetangga-tetangganya yang kekurangan atau membantu
pendidikan anak-anak mereka sehingga mampu mengecap jenjang perguruan tinggi.
Begitupun, pintu rumahnya selalu terbuka untuk kedatangan
orang-orang yang membutuhkan. Dirinya menjadi tempat mengadu, tempat berkeluh
kesah, memintakan tolong, sebab sudah menjadi kewajiban dirinya menolong karena
rezeki yang ada padanya hanyalah titipan Allah SWT yang kelak akan dimintai
pertanggungjawaban. Jika prinsip ini terpatri pada diri seorang manusia yang
mapan hidupnya, alamat entaslah kemiskinan di negeri ini.
Sebuah cerita yang cukup populer di kalangan warga
Muhammadiyah, suatu kali Kiai Haji Ahmad Dahlan—pendiri Perserikatan
Muhammadiyah—memberikan tugas kepada santri-santrinya agar memahami QS. Al-Ma’un.
Santrinya pun berlomba-lomba menghafal surat itu dan melagukan bacaan ayatnya
seindah mungkin. Tajwid dan makhrajnya fasih. Ketika masa uji tiba, Kiai bertanya
kepada santrinya, “Sudah mengerti pesan dalam surat itu?” Para santri menjawab
serentak, “Sudah, Kiai.”
“Bagaimana isi pesan itu?” tanya Kiai lagi. “Kamu?” Seorang
santri yang ditunjuk membacakan ayat dimaksud dengan suara merdu lalu
menjelaskan terjemahannya sampai selesai. Santri lain yang juga ditunjuk
melakukan hal yang sama. Setelah beberapa orang membaca ayat itu dan berbuat
sama satu dengan lainnya, Kiai berkesimpulan bahwa para santrinya belum paham
dengan tugas yang ia berikan.
Dalam dialog tersebut sebenarnya terselip pesan penting
bahwa agama tidak cuma minta dipahami, tetapi juga harus diamalkan. Di sinilah
pentingnya kesalehan ritual yang diiringi kesalehan sosial. Sebab, jika satu
saja yang timpang alamat tidak baik hasilnya. Ini pula yang melatarbelakangi
Perserikatan Muhammadiyah mendirikan banyak Panti Asuhan untuk menyantuni
anak-anak yatim piatu.
Untuk itu pantaslah manusia belajar dari filosofi hidup
pohon kelapa yang memberi manfaat bagi kehidupan. Dengan belajar itu pula,
manusia telah meletakkan dirinya benar-benar sebagai makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain. Bukan sebagai makhluk individual yang cenderung
materialis apalagi berjiwa borjuis. Wallahu a’lam.
*) Pengurus Forum
Aktif Menulis (FAM) Indonesia

amin semoga kita menjadi orang-orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain
ReplyDelete