Kepada
Ydh. FAM Indonesia
di
Tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamduliah, akhirnya saya dapat menulis surat buat
keluargaku FAM Indonesia, walau banyak halangan dan rintangan menyambut
hari-hariku. Senang hati ini bisa bergabung di grup FAM. Salam hangat dan
manisku buat Bunda Aliya yang tak pernah lelah untuk membimbing kami semua.
Sahabat FAM yang aku cintai, apa kabarnya kalian hari ini?
Semoga kalian dalam keadaan sehat wahai sahabatku. Kalian adalah keluargaku
yang aku sayangi. Tanpa sahabat hidup ini hampa, "Bagai lauk tanpa
garam". Kata hati yang tak pernah menyerah untuk tetap semangat. Semangat
dalam hatiku untuk menulis adalah ayah. Aku tak tahu apa itu hidup karena yang
aku tahu adalah menulis. Menulis mampu membuat diri kita tenang. Menulis mampu
membawa mimpi menjadi nyata. Menulis mampu mengontrol emosi yang ada dalam
pikiran kita. Setiap waktu kutulis sebuah kehidupan yang aku jalani dalam
kehidupan sehari-hariku. Jari ini terus bergoyang di atas kertas putih tanpa
noda. Hanya coretan penuh arti yang mengartikan kehidupanku.
Kutulis rasa hatiku yang tak pernah aku ungkapkan pada waktu
yang selalu menemani kehidupanku. Untuk pertama kalinya aku berada di lingkungan
ini. Hatiku bergetar karena masih ada sekelompok manusia yang mempedulikan kami
yang tak mengerti tata bahasa yang baik. Tapi berkat Bunda Aliya dan teman-teman
Bunda kini aku bisa mengerti kehidupan menulis. Aku sangat menyukai menulis
sejak SD. Semenjak itu aku terus menulis di dalam buku diaryku. Kutulis
kehidupanku dari hal kecil menuju hal yang lebih besar.
Malam telah membuat hatiku terus belajar akan dunia menulis.
Yang aku rasakan pada waktu itu adalah semangat yang tak pernah padam dan
menekuni apa yang telah ada. Tulisan ini adalah ungkapan kehidupan.
Sahabatku yang aku cintai. Siang telah berganti malam. Ayahku
telah tidur di atas kursi yang terbuat dari kayu dan ibu sedang memasak nasi
untuk kami makan bersama. Keluarga kami adalah keluarga sederhana. Ibuku
seorang petani dan ayahku seorang petani. Yang aku ketahui mereka tidak begitu
mengetahui kehidupan modern. Hingga pada akhirnya aku terjun ke dunia tulis
menulis. Sekarang aku berada di Bandung. Aku bekerja dan terus bekerja. Pada
saat itu yang aku pikirkan adalah aku ingin menulis sebuah buku yang
menceritakan tentang kehidupan masyarakat terpencil dalam mengikuti zaman
modern. Ada sebagian yang kaya akan ilmu tapi tak bisa memanfaatkannya sesuai
dengan tempatnya.
Ibunda Aliya, maaf, karena aku sedikit mencurahkan isi
hatiku ke dalam tulisan tanpa kata. Bunda Aliya, aku ingin menjadi penulis yang
mampu menulis kehidupan masyarakat kita. Niat hatiku untuk memajukan sebuah
negeri adalah mimpi yang tak akan hilang. Hingga akhirnya aku menjadi mahasiswi
di Bandung dengan hasil keringatku. Terima kasih Tuhan karena engkau telah
menemani hari-hariku dengan penuh arti.
Salam semangat buat sahabat-sahabatku di FAM, dan salam
semangat buat kalian semua.
Waalaikumussalam Wb. Wb.
Nur Hatimah
Bandung, Jawa Barat
Catatan FAM: Surat ini dikirim ke email FAM Indonesia dan
diposting admin di grup ini.

very like with u write
ReplyDelete