Oleh Maulidin Akbar*)
Hari ini, genap sebulan aku bergabung di FAM Indonesia,
sebuah forum komunikasi tentang penulisan yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa
Timur. Awal kisah aku hanya ingin coba-coba, selain memang hobi menulis (puisi)
aku ingin forum ini sebagai tempat aku mengembangkan bakatku yang telah lama
hilang.
Mengapa aku katakan hilang? Karena memang dulu aku sangat
senang dengan puisi, sejak dari SMP dan SMA banyak rangkaian kata yang tertulis
dalam buku diaryku (ga salah kan cowok nulis
diary? He-he-he), kalau dibilang prestasi, waktu SMP aku bahkan pernah
menjuarai Lomba Puisi Tingkat se-Dayah Ummul Yaman (sebuah yayasan pendidikan Islam
khusus anak yatim saat itu) dan se-Kabupaten Bireuen, tapi salah satu
kegemaranku yang satu ini sirna saat aku beranjak keluar dari dayah, dan aku
melanjutkan pendidikan di salah satu SMA Negeri di kotaku. Alhamdulillah, dengan beasiswa dari Sampoerna Foundation aku pun bisa bersekolah di SMA Favorit ini,
banyak aktivitas yang aku lakukan selama bersekolah di sini terlebih saat aku
menjabat sebagai ketua OSIS, semakin sulitlah aku untuk mengembangkan tulisanku.
Banyak sih teman-teman SMA yang menitipkan karyanya kepadaku hanya untuk sekadar
sharing dan bertukar pikiran mengenai isi dan konsep tulisannya. Tapi air tetaplah
air, dan dia terus mengalir sampai aku lupa dengan hobiku saat itu. Ketika itu aku
lebih idealis dengan lebih mengedepankan organisasi kemasyarakatanku dibandingkan
dengan tulisanku.
Akhirnya, disaat aku mengunjungi sekolahku yang telah genap
hampir 7 tahun kutinggalkan, aku tersenyum sendiri. Kulihat beraneka ragam
tulisan terpampang di mading sederhana. Aku sangat ingat waktu sekolah dulu akulah
yang menggerakkan kembali agar mading di sekolah tersebut bisa diaktifkan
kembali, bersama dengan Bu Halimah (salah satu guru senior bahasa Indonesia
saat itu) kami berusaha menggiatkan kembali penulisan di SMA 1 Meureudu, khususya
bagi siswa-siswa yang kreatif.
Luar biasa, kini aku bangga ketika menginjakkan kakiku
kembali di salah satu sekolahku. Aku lihat banyak perubahan yang terjadi,
kegiatan ekstrakurikuler yang mungkin jarang kami dapatkan dulu kini telah
menjadi ajang pencarian bakat dan favorit bagi siswa siswi di sana; drumband,
pramuka, paskibraka, basket, volley dan lain-lain, dan tidak lupa tulisan para
siswa-siswi dengan berbagai kategori pun terpampang di mading. Mulai dari
puisi, pantun, cerpen, opini dan lain sebagainya.
Saat sedang asik-asiknya membaca tulisan di mading tiba-tiba
aku teringat tujuan awalku ke sini, yaa… mempublikasikan event menulis, aku
ingin adik-adikku tidak ketinggalan informasi dan berita, mau dibawa ke mana
tulisan mereka jika hanya sekadar terpampang di mading? Toh juga mereka tidak
selamanya berada di sekolah ini, ada saatnya mereka akan berbaur kembali ke
dalam masyarakat dan akhirnya tulisan mereka hanya akan busuk termakan jaman,
dan akhirnya sirna.
Dengan kehadiran FAM Indonesia sesuai dengan mottonya
“membina dengan hati calon penulis Islami”, FAM Indonesia akan membina
anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini
melatarbelakangi majunya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca
buku dan menulis karangan. Dalam waktu dekat akan dibentuk kepengurusan cabang
FAM di seluruh daerah di Indonesia. Maka hatiku tergerak untuk mengajak
adik-adikku untuk menggiatkan kembali mambaca dan menulis di manapun mereka
berada. Kumasuki kelas di mana pernah aku duduk dan bercanda, kupandangi
seluruh wajah ceria penuh semangat di wajah mereka, akhirnya kupaparkan seluruh
informasi yang ada di tanganku, dan kuajak mereka untuk menulis.
“Tulislah apapun walau hanya sebaris kalimat.” Itu kata-kata
yang dengan lantang kuteriakkan, di sini aku tidak hanya sekadar memberikan
informasi, aku juga memberikan motivasi, karena dengan adanya peluang dan
kesempatan maka mereka akan berkembang. Manfaatkanlah kesempatan itu walau
sesempit apapun selama itu dalam hal positif dan mereka pun seperti
terhipnotis, terdiam, dan termangu, bagaikan mendapat wejangan dari seorang
kyai. Kutahu aku bukanlah penulis hebat, kuarahkan mereka untuk terus belajar
dan berdiskusi dengan para penulis senior, di sini mereka kuarahkan untuk
bergabung di grup FAM Indonesia, dan tidak lupa menyelipkan No Hp Mas Muhammad Subhan
dan Mbak Aliya Nurlela, dua sosok yang telah menggugahku kembali menulis (thanks
seluruh arahan dan infonya).
Selanjutnya aku pun berkeliling. Sasaranku kali ini adalah
SMA Unggul Pidie Jaya. Wooww… namanya cukup keren. “Unggul” bakal berhadapan
dengan siswa-siswi kutu buku neh! Tapi aku masih bingung, di mana persisnya
sekolah favorit ini? Karena waktu aku masih berseragam, sekolah ini belum ada,
bahkan saat aku bertanya pada orang ada yang tidak tahu di mana alamat sekolah
itu. Akhirnya setelah bertanya ke sana ke mari kudapatkan alamatnya, yaitu
masih menumpang di gedung SMAN 2 Meureudu. Akhirnya dengan mudah kutemui SMA
ini karena SMAN 2 sudah tidak asing di telingaku (di sebelah Kecamatan Meureudu,
tepatnya Meurah Dua). Setelah menemui wakil kepala sekolah bidang kesiswaan,
akhirnya aku dapat melihat-lihat dari luar kondisi belajar mengajar di SMA
tersebut, dan beliau berpesan untuk bisa mempublikasikan informasi tersebut
saat jam istirahat, sambil duduk-duduk aku ditemui oleh seorang gadis SMA, dia
bertanya. “Abang dari FAM Indonesia (dalam bahasa aceh)?” Sambil tersenyum ia
memperkenalkan dirinya, “Kenalkan saya Putri Azzahra.” Usut punya usut, ternyata
dia adalah salah seorang siswi berprestasi di sekolah unggul tersebut. Dan
akhirnya kami banyak bertukar pikiran dan informasi. Dia terlihat sangat
antusias dengan kabar yang saya berikan, bahkan dia bertanya bagaimana untuk
menjadi member (anggota di FAM Indonesia), akhirnya saya sedikit menjelaskan
dan dia pun paham. Kita juga sempat bertukar nomor Hp (nomor Hpku saja sih yang
ditulis di tangannya, he-he-he) dan kami juga sepakat untuk mendiskusikan hal
ini lebih lanjut dan dia bersedia mempromosikan informasi event lomba menulis
ke rekan-rekannya yang lain (intinya menunggu kabar dari dia).
Luar biasa, di usianya yang masih cukup muda, gadis itu ternyata
telah menjadi salah satu penulis puisi berlangganan di salah satu surat kabar
ternama di Aceh. Ya, Putri Azzahra nama yang cantik sesuai dengan
tulisan-tulisannya yang cantik di buku kecilnya yang diperlihatkan padaku.
Setelah ngobrol beberapa menit akhirnya kuputuskan untuk tidak masuk lagi ke
kelas karena aku beranggapan sosok Putri Azzahra cukup siap untuk mengajak
teman-temannya yang lain. Dan hari ini tugasku pun selesai sampai di sini. Besok?
Hmm, tunggu saja cerita selanjutnya.
*) Penulis adalah
anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Nomor IDFAM1028M, Sigli, Aceh

kesan yang bagus setelah mengunjungi SMAN 1 Meureudu :) like (y)
ReplyDelete