Oleh Anis Swedia*)
Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang
lain. Demikian sabda Rasulullah SAW.
Ya, dari sabda di atas siapa yang tidak ingin memiliki ilmu
yang menjadi manfaat bagi orang lain? Pikirkan baik-baik, jawabannya tidak ada.
Permisi sebelumnya karena saya belum bisa menulis artikel
atau opini yang baik. Jadi mohon maaf jika tulisan saya ini tidak jelas
mengarah ke mana. Apa yang saya tulis di sini murni dari hati setelah saya
dapat hadiah sebuah puisi dari seorang pujangga yang saya kagumi, yakni Pak Refdinal
Kelana Mimpi.
Yah, berawal dari FAM Indonesia, semuanya karena FAM. Saya
membuka kembali jendela ilmu pengetahuan sastra dan kepenulisan yang lama
terpendam meski diri ini selalu haus akan kata-kata penyejuk jiwa.
Di sini, kita dapat berbagi ilmu, di sini kita dapat kasih
sayang yang nyata, di sini, kita bukan anak tiri atau teman yang disisihkan. Kita
semua sama, lahir dengan bakat yang sama di wadah yang didirikan demi menggapai
lautan pahala ilmu yang bermanfaat yang dijanjikan Rasulullah SAW.
Sekali Rasulullah berjanji, maka Allah SWT selalu
mendampingi janji itu dengan cinta-Nya yang nyata.
Inna a'thainnakal
kautsar, yang artinya: Sesungguhnya kami telah memberikanmu nikmat yang
banyak. (QS: al-Kautsar: 1)
Nikmat yang sering dilupakan manusia adalah bersyukur kepada-Nya.
Dan, untuk FAM Indonesia yang setia berkobar di kancah kepenulisan demi
menggapai cita-cita yang sama dengan visi dan misi yang mulia. Sesungguhnya
Allah akan meninggikan derajat kita semua hanya dengan ilmu yang paling
bermanfaat bagi sesama.
Ilmu menulis, dunia tulis menulis adalah nikmat yang tak
terhingga yang saya tanjaki bagai bukit tinggi yang menjulang dan bersembunyi
di balik gunung yang paling tinggi di dunia. Memang untuk mencapai puncaknya, dibutuhkan
usaha dan tenaga ekstra. Namun saya percaya tidak ada yang sia-sia di dunia ini,
apalagi yang kita lakukan.
Dari sudut pandang saya, penulis pemula yang masih harus
berjalan jauh menapaki perjalanan untuk menuju Puncak Everest, saya yakin FAM
tidak akan meninggalkan saya, barang sejengkal di depan saya. Dia akan berdiri
di samping saya, memberikan saya banyak saudara dan teman, bergandengan meraih
mimpi agar impian itu terwujud. Agar Indonesia dikenal di mata dunia.
Sadar, FAM telah lama menggandeng motivasi demi cita-cita
yang kian hari kian pupus karena tulisan yang berulang kali ditolak media
cetak. Namun motivasinya tidak pupus, berulang kali menyukai tulisan yang
diposting di sana-sini. Memberi saran dan masukan agar kembali bangkit dari
keterpurukan dan keputusasaan. Bahkan memberi motivasi bagi anggota ataupun nonanggota
untuk terus berkarya di luar, mencari segudang pengalaman dunia kepenulisan.
FAM, sesosok nyata sesuai sabda Rasulullah SAW, ilmu yang
bermanfaat bagi sesama. Semoga jalannya selalu dalam ridha-Nya. Amin ya Rabbana…
*) Anisa Swedia, Anggota FAM Indonesia di Malang,
Jawa Timur. Mengantongi nomor IDFAM966U

Comments
Post a Comment