Skip to main content

Ulasan Puisi “Melatiku” Karya Warno Adi Susilo (FAM Wonogiri)

Sebuah hasrat dan keinginan menyatukan hati dan jiwa, pada kekasih hatinya dilukiskan cukup indah dan menarik dalam puisi ‘Melatiku’. Bahasa simbol yang mencakup sifat sementara tidak berkenan. Seperti pelangi yang indahnya sesaat, biasanya datang kalau musim hujan dan matahari muncul menyinari, maka pelangi hadir dengan tatawarna yang menghiasi.

Kita simak baris puisi berikut ini:

Melatiku,,,,
Aku tak ingin serpihan hati kita terbias jadi pelangi
Walau indah, namun, hanya sesaat

Dan dipertegas lagi dengan penyairnya tidak mau hanya cinta sesaat, artinya dengan hijau kelopakmu, walau sejuk hanya sesaat. Keabadian cinta yang sangat di harap dalam sajak ‘Melatiku’:

Melatiku,,,
Aku tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
Walau sejuk, Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya menyisakan gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah aku melangkah
Sepeti titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
Walau akhirnya bumi akan menelanku
Yakinlah aku akan kembali

Semakin penuh misteri sajak ‘Melatiku’ yang berbicara tentang kematian juga, walau akhirnya bumi akan menelanku yakinlah aku akan kembali…. Tentunya di alam berbeda, dan puisi ‘Melatiku’ juga mengingatkan umur manusia yang dibatasi oleh Sang Pencipta. Maka manfaatkan waktumu dengan sebaiknya dalam kehidupan ini.

Wow…. puisi yang indah dan sangat romantis, cinta abadi dan kekal… melati bau harumnya?

Yang perlu dikoreksi, sebaiknya tidak menggunakan tanda koma yang terlalu banyak seperti: “Melatiku,,,,”. Itu mengurangi keindahan puisi. Sebaiknya tanda koma diganti dengan tanda elipsis (...).

Teruslah menulis. Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Melatiku
Oleh Warno Adi Susilo

IDFAM730M Anggota FAM Wonogiri

Melatiku,,,,
Aku tak ingin serpihan hati kita terbias jadi pelangi
Walau indah, namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
Walau sejuk, Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya menyisakan gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah aku melangkah
Sepeti titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
Walau akhirnya bumi akan menelanku
Yakinlah aku akan kembali


Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi, diambil dari google.com

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...