Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas cerpen
berjudul “Dede Hidayahku” karya Elis Nuryani, anggota FAM Tasikmalaya.
Dari sisi isi (content),
cerpen ini menarik sebab ada hikmah yang didapatkan, yaitu: saat tokoh “aku”
tersadar dan mau berpuasa kembali setelah kematian adiknya. Namun bila membaca
secara teliti dan detail, maka tampak ada sedikit kejanggalan atau ada kejutan
yang sedikit dipaksakan. Coba kita pahami dari penggalan kalimat berikut ini:
“Sekarang buka aja ya?” tanyaku. Tapi dia tidak menjawab.
Lalu perlahan kulepaskan pelukanku, tetapi adikku terkulai lemas. “Dede,
bangun!” aku teriak histeris. Aku mengguncangkan tubuhnya, tapi dia terdiam tidak
bereaksi. Ia sudah pergi untuk selamanya.
Tampak bahwa tidak diungkapkan apa yang menjadi penyebab
kematian Dede. Kalaulah memang karena Leukemia, pasti tidak akan meninggal dunia
hanya karena puasa dan dipeluk. Logika sederhana yang terlalu dipaksakan justru
menjadikan cerpen ini kualitasnya berkurang.
Dari sisi bahasa, cerpen ini menggunakan diksi yang
sederhana dan mudah dipahami. Banyak sekali bahasa prokem yang muncul di cerpen
ini, seperti: lagi dapat, yu, uda mau
imsak, wangi banget, dede ga mau kak, masih kuat kok, dsb.
Bila dikaji dari sisi EYD, terlihat masih banyak sekali
penulisan kata, frase, kalimat, yang belum sesuai dengan kaidah EYD, seperti:
bertannya (yang
benar: bertanya)
baik laki-laki “atau pun” perempuan (yang benar: baik… “maupun”…)
Lagi dapat (yang
benar: sedang haid)
“Kak Ana, kata ibu sahur dulu. Uda mau Imsak!” (yang benar:
“Kak Ana, ibu menasihati agar Kakak bersahur terlebih dahulu, karena waktu
imsak hampir tiba.”)
dipagi (yang benar: “di pagi”)
Mendengar jawaban polos dari anak sekecil itu hatiku
terenyuh. (yang benar diberi tambahan koma: Mendengar jawaban polos dari anak
sekecil itu, hatiku terenyuh).
Dengan alur cerita yang begitu sederhana, cerpen ini menarik
dibaca sebab mudah dipahami. Alangkah baik bila lebih dikembangkan lagi dengan
ditambahkan alur, plot, setting, dan lain sebagainya sehingga lebih kaya makna dan
lebih bernuansa.
Salam santun, salam berkarya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH ASLI
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Dede Hidayahku
Oleh Elis Nuryani
IDFAM932U Anggota FAM
Tasikmalaya
Hari ini matahari bersinar sangat terik serasa tepat berada
di atas kepalaku. Badanku terasa panas, keringat membasahi tubuhku,
tenggorokanku kering kerontang karena sejak pagi belum ada setetes air pun yang
melewatinya. Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke kantin kampus untuk
membeli sesuatu yang menyegarkan.
“Kamu tidak puasa?” tanya Ira padaku sambil meminum jusnya.
Terus kamu?” aku balik bertannya sambil merebut jus yang ia minum. “Lagi dapat”
jawabnya sambil tersenyum. “Dapat malas ya?” aku melanjutkan perkataanya, Dan
kamipun tertawa ringan tanpa beban. Bukan hanya kami yang mengaku muslim tapi
tidak berpuasa. Buktinya teman-temanku baik laki-laki atau pun perempuan muslim
sedang makan siang di kantin ini. Padahal bulan ini adalah bulan Ramadhan.
Karena itu kami selama ini tanpa beban makan siang di sini.
“Kak Ana, kata ibu sahur dulu. Uda mau Imsak!”. Teriak
adikku sambil mengetuk pintu kamarku. “Kakak lagi dapat De” jawabku tanpa
membuka mata, padahal saat itu aku sedang tidak menstruasi, tetapi hanya malas
untuk melakukan itu semua. Terasa berat bagiku untuk bangun dipagi buta juga
berpuasa di tengah aktivitasku yang padat. Pagi-pagi aku kerja part time di
sebuah restoran depan kampus dan sorenya kuliah, atau sebaliknya.
Hari sabtu ini aku libur kerja dan mata kuliah pun tak ada.
Jadi aku hanya bermalas-malasan nonton tv di rumah. Jam menunjukan pukul 10.00
WIB. Perutku mulai bernyanyi, protes untuk minta diisi. Tercium bau sedap sop
ayam yang Ibu masak di dapur. “Wangi banget”. Gumamku dan terdengar oleh Ibu.
“Kamu masih dapet?” tanya Ibuku. Aku mengangguk. Untuk kesekian kalinya aku
berbohong. “Yasudah makan dan bujuk adikmu untuk buka sekarang!”.
Adikku Dede baru
kelas 3 SD dan ia divonis mengidap leukemia stadium awal. “De, buka sekarang
yu!” pintaku pada adikku. Aku juga khawatir dengan kondisi adikku. “Dede ga mau
kak, masih kuat kok.” Dia berkata sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu jangan
sok kuat. Kalau kamu kambuh, kita juga yang repot!” sahutku dengan agak ketus.
“Dede takut Kak.Tahun depan belum tentu Dede dapat bertemu lagi dengan bulan
Ramadhan.Dede takut tidak sempat mengumpulkan amal dan pahala. Takut masuk
neraka!” adikku menjawab sambil terisak. Mendengar jawaban polos dari anak
sekecil itu hatiku terenyuh. Lalu aku memeluknya sambil berbisik “Kamu pasti
bisa bertemu lagi De, jangan sedih begitu ya. Sekarang buka aja ya?” tanyaku.
Tapi dia tidak menjawab. Lalu perlahan kulepaskan pelukanku, tetapi adikku
terkulai lemas. “Dede, bangun!” aku teriak histeris. Aku mengguncangkan
tubuhnya, tapi dia terdiam tidak bereaksi. Ia sudah pergi untuk selamanya.
Sejak kejadian itu aku tidak pernah meninggalkan kewajibanku
untuk berpuasa. Umur tidak ada yang tahu. Dan aku tidak mau menyesal di akhir
waktuku.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
ARTIKEL TERKAIT:
Comments
Post a Comment