Pada tanggal 25 November 2011 Ikatan Penerbit Indonesia
(Ikapi) memberikan Anugerah Ikapi 2011 untuk kategori Penggerak Budaya Literasi
kepada Heri Hendrayana Haris alias Gol A Gong. Gol A Gong adalah penulis
produktif yang dikenal karena novel berseri remaja “Balada Si Roy” yang pertama
kali diterbitkan oleh Gramedia di tahun 80an.
Ia juga dikenal sebagai pendiri dan pengelola komunitas literasi Rumah Dunia di Serang, Banten, dan kini menjabat sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), sebuah gerakan literasi lokal untuk meningkatkan dan mengembangkan budaya baca di Indonesia.
Ia juga dikenal sebagai pendiri dan pengelola komunitas literasi Rumah Dunia di Serang, Banten, dan kini menjabat sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), sebuah gerakan literasi lokal untuk meningkatkan dan mengembangkan budaya baca di Indonesia.
Siapa Gol A Gong? Gol A Gong tumbuh besar dalam lingkungan
keluarga sederhana yang mengerti akan arti pentingnya buku bagi anak-anaknya,
karenanya tak heran jika membaca buku dan menonton film menjadi hobi Gol A Gong
sejak kecil. Ketika masih berusia 11 tahun ketika ia bermain bersama
teman-temannya ia naik ke atas pohon kelapa, bersaing naik setinggi mungkin dan
melompat. Siapa yang paling tinggi melompat, dialah pemenangnya. Ketika
gilirannya ia terpeleset, jatuh dari ketinggian 3 meter sehingga lengan kirinya
patah.
Penanganan yang salah dari seorang dukun pijat membuahkan
malapetaka, tangan kirinya harus diamputasi sebatas siku. Untungnya kehilangan
tangan kirinya tak membuat Gol A Gong menjadi anak cacat yang minder, saat
masih dirawat di rumah sakit ayahnya memberinya berbagai bacaan menarik. Hari-harinya
diisi dengan membaca dan membaca sehingga imajinasinya melanglang buana, dengan
membaca ia merasa menemukan dunia lain yang tidak semua orang bisa alami.
Buku-buku yang dibacanya, film-film yang ditontonnya, dan
pengalaman hidupnya membuat otak kanannya dipenuhi oleh imajinasi. Ide-ide dan
imajinasi yang bertumpuk dalam benaknya ia tumpahkan semua dengan menulis
fiksi. Pada tahun 1987 berbekal mesin ketik kreditan Gol A Gong mulai menulis
kisah “Balada Si Roy” hanya dengan satu tangannya. Seluruh kisahnya diambilnya
dari kisah keluarganya, tokoh utamanya Roy Boy ia daur ulang dari kisah heroik
Irlandia, Rob Roy. Kisah “Balada Si Roy” awalnya dimuat di majalah Hai, lalu kemudian diterbitkan oleh Gramedia, menjadi buku best seller dan menjadi awal dari
kariernya sebagai penulis novel yang produktif.
Selain dikenal sebagai penulis, Gol A Gong juga dikenal
sebagai atlet bulu tangkis berlengan satu yang handal. Prestasi terbaiknya
adalah menyabet tiga medali emas di FESPIC Games (Far East and South Pasific Games for the Disabled) pada tahun 1988.
Gol A Gong juga seorang backpacker,
terilhami oleh novel 80 Hari Keliling
Dunia – Jules Verne, di usianya yang ke 23 ia telah berhasil mengelilingi
Nusantara dan Asia. Setiap negara yang ia lewati ia tulis dalam catatan
perjalanannya dan lewat jasa Pos ia mengirim catatan perjalanannya ke majalah Anita Cemerlang di Jakarta, dimuat
secara berseri hingga akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku.
Setelah sukses dengan Balada
Si Roy dan menulis catatan perjalanan, kreativitasnya mengalir deras,
puluhan novel dihasilkannya hingga akhirnya juga ia menjadi salah satu tim
kreatif dan penulis skenario di RCTI.
Namun Gol A Gong tak berhenti sampai di situ saja. Sadar akan pentingnya
manfaat membaca dan kecintaannya pada Kota Serang tempat di mana ia dibesarkan,
Gol A Gong yang saat itu telah menikah dan tinggal di Jakarta bertekad kembali
ke Serang dan bersama istrinya mendirikan Rumah
Dunia, sebuah pusat belajar jurnalistik, sastra, rupa, dan lakon bagi
anak-anak, pelajar, dan mahasiswa Serang di halaman belakang rumah mereka.
|
Gol A Gong (dua
dari kanan) dan Arafat Nur
(Novelis asal Aceh) ketika menjadi narasumber peluncuran novel Rinai Kabut Singgalang karya Muhammad Subhan, di Graha Serambi Mekah Padangpanjang, 2011 |
Salah satu alasan yang mendorongnya untuk mendirikan Rumah Dunia di Serang, Banten adalah
stigma yang melekat pada Banten sebagai kota yang serba gelap di mana ilmu
hitam, debus, pellet, dan para jawaranya yang lebih mengedepankan otot
ketimbang otak. Gol A gong ingin merubah cita negatif Banten, membuat para
jawaranya bukan hanya mengandalkan otot melainkan jawara yang bersenjatakan
pena.
Jejak kehidupan Gol A Gong di atas terurai secara rinci
dalam buku autobiografinya Menggenggam
Dunia. Di buku ini kita akan membaca bagaimana perjuangan Gol A Gong
menggapai mimpinya untuk menggenggam dunia dan mendirikan Rumah Dunia untuk menyebarkan virus
cinta buku pada generasi berikutnya
Selain kisah kehidupan Gol A Gong, buku ini juga mengisahkan
sepak terjang dan perkembangan Rumah
Dunia beserta relawannya dari yang semula hanya menempati garasi rumahnya
hingga kini telah terbentuk sebuah kompleks Rumah
Dunia seluas 1.000 m2 di halaman belakang rumahnya. Yang pada awalnya hanya
diikuti oleh beberapa anak-anak kampung di sekitar rumahnya hingga kini menjadi
pusat belajar bagi pelajar dan mahasiswa di Kota Serang dan sekitarnya.
Semuanya itu ia bangun selangkah demi selangkah dari royalty novel-novelnya dan
honorariumnya sebagai penulis skenario.
Kecintaan Gol A Gong akan kota kelahirannya dan
keberaniannya dalam mengkritik kondisi Banten di masa kini juga tercermin dalam
buku ini, dengan gamblang ia menulis bagaimana pemerintah daerah Banten tidak
mementingkan perkembangan literasi di Banten, alih-alih membangun perpustakaan
pemerintah daerah Banten lebih mengutamakan pembangunan mall-mall. Praktik KKN
sang gubernur pun disinggung-singgungnya secara berani, bukan untuk
mengolok-ngolok namun semata karena kecintaan Gol A Gong utuk memajukan kota
kelahirannya dan menumbuhkan budaya literasi di kotanya.
Singkatnya bagi pegiat dunia literasi buku ini wajib dibaca,
sayangnya ada dua hal yang mungkin bisa menjadi masukan atas buku ini. Pertama, buku ini tidak menyertakan
sebuah foto pun, padahal ada berbagai kisah dan momen yang sangat baik jika
diberi beberapa foto, misalnya perkembangan Rumah
Dunia dari awal hingga kini. Andai buku ini dilengkapi dengan foto-foto
tentunya buku ini akan semakin menarik dan lebih inspiratif lagi.
Kedua, buku ini
juga tidak mengungkap asal nama pena Gol A Gong, sebagai sebuah nama pena, nama
tersebut sangat unik sehingga bukan tak mungkin banyak orang yang ingin
mengetahui asal usul nama pena itu. Satu hal lagi yang membuat saya penasaran
adalah soal penulisan nama, dulu nama pena penulisnya selalu ditulis dalam dua
suku kata yaitu Gola Gong. Di buku ini nama itu ditulis menjadi 3 suku kata Gol
A Gong. Pastinya ada maksud dibalik nama pena dan perubahan cara penulisannya
itu. Sayangnya penulis tidak memberi penjelasan apapun mengenai hal tersebut di
bukunya ini.
Terlepas dari itu buku yang ditulis secara menarik dan
meninggalkan banyak jejak yang penuh inspirasi bagi pembacanya ini, melalui
autobiografinya ini Gol A Gong menyadarkan kita bagaimana dahsyatnya pengaruh
buku yang membentuk kehidupannya sehingga akhirnya ia bisa menemukan jalan
hidupnya.
Dengan buku dunia menjadi begitu luas dan terbuka bagi
dirinya. Dari buku yang ia baca ia lahirkan kata-kata yang ia rangkai menjadi
buku. Dari buku-bukunya inilah ia memperoleh royalty untuk membangun Rumah Dunia yang mendidik anak-anak
hingga mahasiswa untuk mencintai dunia literer sehingga jebolan Rumah Dunia mampu seperti dirinya,
menggenggam dunia dan membawa perubahan lewat kekuatan kata-kata.
Sejarah Penerbitan
Embrio dari buku ini adalah tulisan-tulisan berseri Gol A
Gong yang diberi judul “Menggenggam Dunia: Bukuku, Hatiku” yang diposting di
milis Rumah Dunia. Pada akhir tahun
2004, tulisan tersebut dimuat secara berseri di majalah perbukuan Matabaca episode pertamanya muncul
dirubrik Cermin di Matabaca edisi September 2004.
Setelah pemuatan di Matabaca
selesai, pada tahun 2006 tulisan tersebut diterbitkan oleh penerbit Dar! Mizan dengan judul Menggenggam Dunia: Bukuku Hatiku.
Setelah lima tahun bergulir, penerbit mengembalikan hak ciptanya kepada
penulisnya.
Karena ada banyak permintaan dari pembaca untuk menerbitkan
ulang buku tersebut, akhirnya buku ini diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
dengan beberapa bab tambahan dan update
data. Oleh KPG buku ini menjadi bagian
dari Seri Rumah Dunia.
Selain buku ini KPG juga telah menerbitkan buku Relawan
Dunia yang berisi 17 cerita relawan tentang peran Rumah Dunia bagi mereka. @htanzil
[sumber: http://bukuygkubaca.blogspot.com/ dan situs Rumah Dunia http://www.rumahdunia.net]

Comments
Post a Comment