Oleh Aliya Nurlela*)
Aku sudah menulis sejak kecil. Berawal dari suka membaca.
Terutama membaca buku-buku dongeng dan fabel. Kisah putri-putri cantik jelita
yang bersanding dengan pangeran tampan, itu termasuk kisah anak-anak yang
paling disukai. Ketika membaca sebuah cerita yang diawali dengan kalimat,
“Konon, pada suatu hari, alkisah….” Wah, sangat senang sekali membacanya. Sudah
terbayang isi cerita itu akan seru. Pasti dengan serius membaca dan
menyimaknya.
Dari suka membaca dongeng-dongeng itulah, akhirnya jadi
terdorong ingin menulis. Ingin membuat cerita hebat seperti dongeng itu. Atau
terkadang ingin melanjutkan sebuah dongeng yang ketika dibaca rasanya belum
tuntas. Maksud hati, sang putri cantik itu menikah dengan pemuda sederhana yang
baik hati. Tidak melulu dengan pangeran tampan yang kaya raya, he-he-he.
Akhirnya, aku pun menulis. Menulis yang mengasyikkan. Masa
kecil waktu untuk menulis itu masih terbentang luas. Tak punya tanggung jawab
seperti halnya orang dewasa. Tak ada tuntutan. Juga tak terbebani dengan isi
tulisan. Saat yang paling bebas berekspresi, he-he. Sayang, terkadang masa
longgar itu baru disadari ketika diri sudah dewasa.
Aku suka menulis di mana saja. Maklum anak desa. Orangtua
membuat rumah di sudut kampung, jauh dari rumah-rumah tetangga. Sekeliling
rumah adalah kebun cengkeh milik keluarga. Ada pula tanaman jambu batu, salak,
duku, manggis, dan tanaman sayur. Sebelah rumah terdapat kolam ikan air tawar
yang didominasi ikan mujair dan gurami. Persawahan terbentang luas di depan
rumah. Dua bukit yang ditumbuhi pepohonan lebat berdiri kokoh menghadap rumah.
Tempat yang nyaman untuk berpikir. Hening tanpa deru kendaraan. Cocok sekali
untuk menulis.
Itulah masa yang indah untuk selalu dikenang. Saat
kemana-mana aku membawa buku tulis tipis bermerk Letjes, dan sebuah ballpoint
atau pencil. Lalu menulis di mana saja. Kadang menulis di atas batu sungai, di
atas pohon jambu besar yang menjorok ke kolam, sambil bersandar di pohon
cengkeh atau sambil tengkurap di pekarangan. Ah, pokoknya suka-suka sendiri,
he-he-he.
Apa yang ditulis? Oh, tentu saja dongeng atau fabel. Sesuai
dengan usia waktu itu. Ketika sudah penuh satu buku, maka akan beralih pada
buku kosong lainnya. Begitulah seterusnya. Aku sangat merawat buku-buku itu.
Selalu disimpan di lemari buku bersama buku pelajaran lainnya. Sobek atau
terkena air sedikit saja, sedihku bisa berhari-hari. Itulah sebabnya jarang
kupinjamkan pada teman-teman sekelas. Takut sobek, kotor dan keriting,
he-he-he. Maklum anak seusiaku waktu itu belum pandai merawat barang milik
orang lain. Nah, tapi keteguhanku harus runtuh, ketika yang meminjam adalah
saudara sepupu yang sudah kuliah. Langsung aku bolehkan. Apalagi, ia punya
mesin ketik. Hi-hi-hi, bisa barter. Saling meminjam.
Di luar dugaanku, sepupuku itu suka membaca ceritaku. Bahkan
setengah ketagihan. Usai meminjam buku satu, sambil mengembalikan, pinjam lagi
buku lainnya. Terus begitu. Sampai aku sebagai penulisnya kehabisan cerita.
Karena buku yang dipinjam habis, maka sepupu itu selalu mendorongku untuk
membuat lagi cerita berikutnya. Wah, anak kecil mana yang tidak ‘terbang’ saat
karyanya disukai orang dewasa? Itu motivasi hebat. Itu suntikan semangat yang
membuat hasrat menulisku ‘membabi buta.’
Di sudut hati yang paling dalam sekali, he-he-he, aku juga
sangsi. Jujurkah ia? Tapi ah, tak penting tampaknya membahas dan mengorek jujur
tidaknya. Yang penting adalah tulisanku dibacanya dan membuatnya ketagihan.
Lalu… dampaknya, mesin tik itu bebas ditenteng ke rumahku. Itu artinya, ada
peningkatan dalam kegiatan menulisku. Tidak melulu pake buku tulis.
Kondisi mesin ketik itu cukup parah sih. Untuk membuat
gandarnya bergerak harus dipasang beberapa karet yang diikat dengan sendok.
Lalu ditarik dan diikatkan di sudut meja. Mengenaskan. Itupun harus penuh
pengawasan. Jika lengah, bisa meloncat sendiri dan hasil ketikan amburadul.
Kondisi mesin tik yang parah itu, diperparah lagi dengan ketidakmampuanku dalam
mengetik. Aku belum pernah belajar ngetik, hanya melihat orang dewasa saat
mengetik. Sepupuku itu memberi pinjaman tanpa disertai menularkan ilmunya. Ia
enteng saja meminjamkan mesin tiknya pada orang yang tak bisa ngetik, he-he-he.
Luar biasa. Mungkin di matanya, aku dianggap makhluk kecil yang punya impian
besar. Impian itu melebihi tubuhku yang masih kecil. Membawa mesin tik saja,
aku kerepotan. Tidak kuat menenteng tapi kubopong, hi-hi-hi.
Mungkin saja, dalam hati sepupuku bergumam, “Ah, nanti juga
langsung dibalikin.” Itulah sebabnya, meminjamkan tanpa disertai ilmu. Eh, tapi
belum tahu dia. Bahwa anak kecil yang ada di hadapannya itu adalah tipe yang
pantang menyerah, he-he-he. Jika belajar sesuatu belum berhasil, akan terus,
terus dan terus. Dan benar-benar dibuktikan. Mesin tik itu dijadikan ‘kelinci
percobaan’ untuk mengetik otodidak. Sudah pasti keringat mengucur akan mewarnai
hari-hariku saat mengetik. Mesin tiknya parah, cara mengetiknya juga parah dan
harus mikir jalan cerita pula.
Hasilnya? Amburadul, hi-hi-hi. Jadi tergelak sendiri jika
ingat masa itu. Hasil ketikan yang tak beraturan. Loncat sana sini. Kadang satu
huruf di atas, huruf lainnya di bawah. Sangat tidak nyaman untuk dibaca. Hmm…
tapi herannya, aku begitu percaya diri mengirimkan hasil ketikan itu ke sebuah
koran daerah. Ck… ck! Tanpa minta pertimbangan orang dewasa dulu. Atau
setidaknya meminta mereka mengetik ulang. Percaya diri tingkat tinggi, kali ya?
Duh, redaktur koran itu baik sekali. Siapa dia? Aku tak
kenal. Yang kutahu hasil ketikanku muncul di koran itu. Tentu saja sudah rapi.
Wah, senang sekali. Kerja kerasku ada yang menghargai. Cucuran keringat yang
mengalir deras saat mengetik, rasanya kering seketika oleh kabar bahagia itu.
Aku sendiri tak habis pikir. Kenapa bisa dimuat? Padahal itu koran ternama di
kabupatenku. Entahlah. Semoga bukan faktor kasihan, he-he-he. Sebagai anak yang
baru menginjak remaja, doaku sederhana saja. “Semoga redakturnya masuk surga.”
Dampaknya, aku makin bersemangat lagi menulis, mengetik dan
mengirimnya ke koran daerah. Aku tetap bertahan dengan keterbatasanku. Mengetik
semampunya. Aku merasa, toh dengan hasil ketikanku sendiri, tak satu pun
tulisanku yang dikembalikan. Jadi, belum penting untuk meminta bantuan orang lain
yang pandai mengetik. Ya, Alhamdulilah aku patut bersyukur karena tak ada
tulisanku yang dikembalikan.
Karena tulisan-tulisan pendekku sering nongol di koran,
seorang guru sekolah dasar tertantang untuk mengajakku beradu karya. Setiap
hari guru tersebut berjalan kaki menuju sekolahnya yang ada di desaku. Ia harus
menempuh perjalanan 4 km mencapainya. Sementara aku, berjalan kaki dengan jarak
tempuh yang sama menuju sekolahku yang ada di desa guru tersebut. Kami selalu
berpapasan. Pagi hari, ia berangkat jalan kaki ‘naik gunung’ dan aku ‘turun
gunung.’ Siang hari, ia pulang ‘turun gunung’ dan aku ‘naik gunung.’ Setiap
hari berpapasan. Guru tersebut menantangku, “Ayo kita kirimkan karya kita ke koran
itu, dan siapa kira-kira yang karyanya dimuat,” ujarnya. “Oke, siapa takut?”
Aku menyambut senang. Sok gede nyali, hi-hi-hi. Bagiku, jika karyaku yang dimuat,
maka luar biasa karena setidaknya bisa mengalahkan seorang guru SD yang usianya
terpaut jauh denganku. Kalaupun aku yang kalah, tak mengapa. Tak jadi beban.
Aku bisa berkilah, “Ah, aku kan masih kecil.” Menang kalah menguntungkan
bagiku. Itulah sebabnya aku tidak menolak tantangannya.
Diam-diam aku dan guru tersebut masing-masing mengirim tidak
satu karya. Kalau tidak salah (semoga benar, he-he-he) ada dua belas tempat
kosong setiap minggu di koran tersebut untuk tulisan pendek, seperti puisi dan
humor. Masing-masing kami tidak saling mengetahui jika karya yang dikirim lebih
dari satu. Yang terbetik dalam benak kedua belah pihak adalah mengirim tulisan
sebanyak-banyaknya. Andai yang satu ditolak, tulisan lainnya ada harapan
diterima. Aku mengirimkan delapan tulisan sekaligus. Masih dengan hasil ketikan
yang parah. Sementara guru tersebut mengirim empat tulisan. Kami menunggu
seminggu sampai koran tersebut terbit. Setiap bertemu, kami saling bertukar
buku yang sudah dibaca masing-masing. Soal bacaan, alhamdulilah orangtuaku
setiap bulan berlangganan enam majalah dan koran. Jadi selalu ada yang
dipinjamkan.
Kabar baik benar-benar berpihak padaku. Wah, aku setengah
melonjak saat kulihat di koran tersebut, delapan tulisanku dimuat semua.
Sementara empat kolom kosong lainnya, ditempati orang lain yang tidak kukenal.
Salah satunya ada tulisan guru tersebut. Itu artinya, aku pemenang dalam
persaingan sehat itu. “Anak kecil dilawan, he-he-he.” Tak ada iri atau marah.
Ia ikut senang dan bangga, bahkan memberi hadiah hiasan dari kaca yang terukir
namaku. Katanya, itu hadiah untuk anak kecil yang berhasil mengalahkan seorang
guru. Lagi-lagi menjadi motivasi yang hebat dalam perjalanan menulisku.
Tapi, anehnya tak ada semacam cita-cita bahwa besok aku akan
jadi penulis atau penulis hebat. Padahal, beberapa kali aku juga mendapat
penghargaan dari lomba menulis. Meski hanya tingkat sekolah atau komunitas
pelajar saja. Cita-citaku waktu itu, seperti anak kecil lainnya yang masih suka
berubah-ubah dan tidak fokus. Bahkan, jika kuingat cita-citaku itu sangat
menggelikan. Aku pernah bercita-cita menjadi penjual pisang goreng. Tentu saja
cita-citaku ini ditentang ibuku yang seorang guru. Katanya, “Jadi penjual
pisang goreng itu, tanpa sekolah pun bisa.” Ya sudah, cita-citaku ganti lagi.
Ingin jadi seorang polwan alias polisi wanita. Lagi-lagi dikomentari ibuku,
katanya seorang polwan itu fisiknya harus kuat. Hmm… iya juga, aku tak memiliki
fisik kuat. Aku paling lemah dalam berlari. Mana ada polwan larinya letoy? Hi-hi-hi. Baiklah, aku ganti
cita-cita lagi. Ingin jadi seorang ahli arkeolog, yang meneliti fosil-fosil dan
berbagai peninggalan sejarah. Eh, ibuku juga yang komentar. Katanya, dengan
kegelapan saja aku takut. Apalagi harus berhadapan dengan fosil-fosil, dan
tengkorak-tengkorak yang berada di tempat-tempat gelap. Hmm… ibuku benar juga.
Mungkin orang dewasa itu cara berpikirnya selalu dirasionalkan terlebih dulu.
Sementara anak kecil hanya melihat tampilan luar, lalu ingin meniru. Baiklah,
cita-citaku berganti lagi yaitu ingin menjadi seorang guru. Nah, kalau ini tak
ditentang dan tak dikomentari. Mungkin karena sesuai dengan jiwa ibuku yang
seorang pendidik.
Menulis dan menulis seperti sudah menjadi rutinitas harianku
yang tidak boleh ditinggalkan. Aku selalu punya buku diary dalam perjalanan
hidupku. Aku suka mencatat kegiatanku sehari-hari. Hari ini di mana, sedang apa
dan bertemu siapa. Curhat yang paling nyaman memang pada buku diary. Masa
remaja itu pula, aku merasa menjadi seorang redaktur sebuah majalah. Maklum
banyak ‘naskah’ berdatangan yang minta diseleksi. Aku pun menyeleksi satu
persatu. Yang tulisannya baik dan menarik, aku bundel jadi satu. Bundel
sederhana. Menggunakan sampul buku tulis yang sudah tidak terpakai. Pada masa
itu, belum musim handphone atau facebook. Banyak laki-laki yang
tiba-tiba berubah menjadi seorang pujangga, sebab ketika mereka menyatakan
maksud kepada seorang perempuan harus berkirim surat. Menulis dengan bahasa
surat. Tidak bisa to the point. Tapi
harus diawali mukadimah dulu, lalu sedikit basa-basi dan barulah menuju ke
pokok pembahasan. Kemudian diakhiri penutup yang manis. Itulah sebabnya, aku
merasa sedang menilai naskah-naskah. Memilih yang terbaik untuk diterbitkan, he-he-he.
Karena tulisan pula, aku berhasil mengalahkan seorang preman
kampung. Cinta ditolak, anjing menyalak. Aku berhasil meloloskan diri dari
kejaran anjing sang preman. Aku yang lambat dalam berlari, tiba-tiba berhasil
menjadi seorang pelari hebat dalam kondisi yang ‘kepepet.’ Aku puas, meski
tubuhku babak belur. Rasanya, aku telah menunjukkan pada dunia, bahwa gadis
kecil yang terkenal lambat dalam berlari, hari itu sudah tampil jadi pelari
hebat. Tanpa penonton, tanpa trophy. Tapi berbuah kepuasan. Ternyata, untuk
meluluhkan hati si preman bukan dengan cara aku belajar beladiri, lalu tampil
di hadapannya menjadi seorang pendekar. Aku seolah mendapat ilham. Allah
menunjukkan jalan padaku, untuk menulis surat pada preman itu. Inti dari isi
surat itu adalah, “Silakan kau aniaya aku sepuasmu. Hingga aku mati sekalipun.
Aku hanya seorang gadis kecil yang lemah, tak memiliki kekuatan apapun. Aku
hanya berharap agar Tuhanku mengerahkan para malaikat untuk menjagaku dan
menjadi saksi atas perbuatanmu.”
Tak kuduga, surat itu sangat ampuh. Aku melihat si preman
datang meminta maaf dengan berlinang air mata. Aku bersyukur atas ilham yang
diberikan padaku yaitu sebuah bahasa surat. Ketika lisan tak mampu lagi menjadi
pembela, fisik pun tak kuat untuk melawan, maka dahsyatnya sebuah tulisan bisa
menjadi senjata yang ampuh.
Kepala sekolahku memberi kepercayaan, agar aku mengelola mading
sekolah. Jika tak ada yang mengirim tulisan, maka akulah yang harus mengisi mading
tersebut dengan beraneka tulisan. Hmm, bagiku lagi-lagi ini motivasi hebat.
Tantangan yang paling kusukai dan aku langsung menyanggupinya. Benar saja,
nyaris tak ada yang mengirim tulisan ke mading tersebut. Mungkin minat menulis
siswa masih kurang atau para siswa tidak percaya diri mengirim tulisannya.
Tak apalah, aku siap mengisinya. Itu janjiku pada bapak kepala
sekolah. Kuisilah mading tersebut dengan beraneka macam tulisan sederhanaku.
Suatu kepuasan tersendiri, apabila saat istirahat tiba para siswa dan guru
membaca tulisanku. Aku duduk dan melihat dari kejauhan dengan menyungging
senyum. Merekalah orang-orang yang telah menumbuhkan semangatku untuk terus
menulis. Bukan hanya sekadar menulis, tetapi juga mencintainya. Menulis dengan
rasa cinta!
Sebuah motivasi dari guru bahasa Indonesia waktu SMA, belum
juga mengubah cita-citaku. Tak ada sedikitpun cita-cita menjadi penulis. Saat
guru bahasa Indonesia itu meminta semua murid menulis kilat dua alinea yang
menceritakan kejadian tabrakan di jalan raya. Bukan bahasa berita tapi bahasa
cerpen. Ketika semua tulisan sudah dikumpulkan dan dibacanya, tiba-tiba ia mengangkat
kertasku dan mengatakan pada semua murid, “Ini contoh tulisan yang bernilai
sastra tinggi.” Oh ya? Aku hanya bengong. Dari sudut mana guru itu menilai
tulisanku bernilai sastra tinggi? Mungkin sebuah kebetulan. Ufh, tapi aku tidak
percaya dengan konsep kebetulan. Baiklah, itu aku anggap motivasi hebat dari
seorang guru. Agar muridnya makin semangat.
Mungkin masa remaja, aku lebih tertarik dengan kesenian.
Beberapa bidang seni aku geluti. Namun demikian, bukan berarti kegiatan menulis
aku tinggalkan. Aku tetap rutin menulis diary, menulis cerpen dan puisi. Bahkan
beberapa naskah drama dan lirik lagu. Satu lagu mars yang kuciptakan, terpilih
menjadi mars sekolah. Itu pula yang membuat aku kebanjiran permintaan menulis
lirik lagu dari teman-teman sekolahku.
Ternyata, banyak sekali orang-orang hebat di sekitar kita
yang bisa memompa semangat untuk terus menulis. Bagiku, bukan tulisan itulah
yang hebat tetapi merekalah yang hebat. Mereka secara tidak langsung telah
menempatkan diri sebagai motivator atas hasil karya oranglain. Hatinya ikhlas
menilai positif dan memberikan dukungan melalui lisan. Mungkin mereka tak
mengira, jika ucapan dan sikapnya itu akan dikenang oleh orang yang telah
merasa termotivasi. Tetapi, memang seperti itulah ciri orang-orang hebat, yaitu
berbuat kebaikan bukan untuk mendapat imbalan.
Pasti Anda pun memiliki kenangan dalam hidup tentang
dukungan, pengakuan, dan penilaian positif dari orang-orang terdekat. Itulah
motivasi yang selayaknya mencuatkan semangat kita semakin ‘menggebu-gebu’ dalam
berbuat yang lebih baik lagi. Tanpa dukungan, pengakuan dan penilaian positif,
kadang membuat pertahanan diri melemah. Terpuruk dalam kesedihan dan
kemurungan. Patutlah kiranya untuk selalu berterima kasih pada orang-orang yang
bisa bersikap hebat tersebut.
Tulisan di atas hanya sekelumit cerita saja, mengenang para
motivator yang memberikan ‘virus’ semangat untuk terus menulis. Cerita itu pun
belum berakhir sampai di situ, masih ada perjalanan panjang berikutnya hingga
titik sekarang ini. Dalam setiap cerita perjalanan itu, banyak pula orang-orang
hebat yang menorehkan kenangan dengan memberikan dukungan dan penilaian positif
yang luar biasa. Insya Allah akan bercerita di lain waktu.
Mari kita hargai, kita kenang, orang-orang yang telah memberikan
dukungan dalam perjalanan hidup kita. Terutama dalam bidang tulis menulis.
Karena adanya ‘para motivator’ yang ikhlas, kita menjadi lebih semangat untuk
berkarya. Serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
*) Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Comments
Post a Comment