TIPS MENULIS #46
Membaca adalah
proses menggali ilmu, namun menulis adalah proses mengembangkan dan menyebarkan
ilmu. Maka, membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata
uang logam, saling menyatu. Penulis-penulis hebat tentulah mereka seorang
pembaca buku yang hebat. Penulis yang tidak suka membaca, tulisannya tak berisi
alias khayalan semu.
TIPS MENULIS #47
Banyak orang yang
tiba-tiba terkenal karena tulisannya. Habiburrahman El-Shirazy misalnya, ‘ngetop’
lewat novelnya “Ayat-Ayat Cinta”. Begitupun Andrea Hirata populer lewat novel “Laskar
Pelangi”. Ahmad Fuadi sukses lewat novel “Negeri 5 Menara”. Banyak lagi yang
lain bahkan karya mereka sampai ke layar lebar. Tapi jangan sekali-sekali
meniatkan menulis karena untuk mengejar popularitas. Tulisan tanpa disertai
kualitas, maka popularitas tidak akan ada artinya. Lakukanlah perenungan
sebelum menulis, tanyakan pada diri apa manfaat tulisan itu bagi pembaca
setelah ia terbit. Tunjukkan kepada teman, guru, atau penulis-penulis senior,
apakah isinya sudah cukup dimengerti atau diperlukan perbaikan lagi. Jangan
cepat berpuas diri. Bila kelak Anda benar-benar menjadi penulis yang sukses, popularitas
yang Anda dapatkan hanyalah bonus, bukan tujuan. Manfaat tulisan Anda jauh lebih
bermakna dari sekadar popularitas.
TIPS MENULIS #48
Menulis,
terbitkan, lalu promosikanlah buku Anda. Penulis-penulis sukses mereka tidak
semata mengandalkan penerbit dan toko buku untuk menjual dan mempromosikan buku
mereka. Tetapi mereka sendiri ikut ‘berpeluh-peluh’ menyebarkan sebanyak
mungkin informasi terkait buku mereka di berbagai media, terutama di jejaring
sosial (facebook, twitter, mailinglist, dll), terutama kepada keluarga, sanak
family, sahabat karib, guru, dosen, dan kawan-kawan sepermainan.
Penulis-penulis yang gencar mempromosikan buku karya mereka, dalam waktu
singkat buku itu habis terjual, posisi ‘seller book’ pun didapat, royalti
mengalir ke saku penulis. Teknik ini telah sukses dilakukan oleh penulis
sekaliber Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Pipiet
Senja, Gol A Gong, dan banyak nama lainnya.
TIPS MENULIS #49
Menulis untuk
mencari uang. Ya, siapa yang tak ingin mendapatkan banyak uang lewat menulis?
Tak dipungkiri, aktivitas menulis bisa mendatangkan keuntungan finansial yang
luar biasa. Penulis-penulis best seller mereka mendapat miliaran rupiah dari
royalti buku mereka, belum lagi dari berbagai undangan mengisi pelatihan atau
seminar kepenulisan yang “amplopnya” tentu lumayan. Andrea Hirata penulis novel
Laskar Pelangi konon diundang ke NTT untuk berbicara beberapa jam dalam
pelatihan menulis, diberi honor Rp63 juta. Menggiurkan sekali. JK Rowling
penulis buku Harry Potter menempati posisi perempuan terkaya di dunia lewat
bukunya itu. Juga sejumlah nama penulis lainnya yang tentu akan sangat panjang
bila dideretkan satu persatu. Namun demikian, uang bukan tujuan. Langkah
pertama bagi penulis pemula, teruslah berlatih menulis sebaik mungkin sehingga
Anda benar-benar menemukan gaya Anda sendiri kelak. Ikuti berbagai kompetisi
kepenulisan, baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Kirim naskah
Anda ke berbagai media massa, baik cetak maupun online yang berpeluang
menerbitkan karya Anda. Tawarkan juga naskah buku Anda ke penerbit dan jangan
pernah mengeluh apalagi menyerah bila ditolak. “Cinta” sejati adalah cinta yang
telah melewati sekian banyak penolakan. Begitupun sukses, ditolak adalah langkah
awal untuk diterima. Maka jangan pernah berhenti berkarya.
TIPS MENULIS #50
Lengkapi dan
rapikan naskah Anda. FAM banyak sekali menerima naskah tulisan yang tidak rapi,
khususnya dari penulis pemula. Apa yang harus dilengkapi dan dirapikan itu? Pertama,
tulislah nama terang Anda di bawah judul tulisan. Sering sekali penulis pemula
tidak menulis nama mereka di bawah judul, melainkan di akhir judul, bahkan ada
yang tidak menuliskanya sama sekali. Kedua, bubuhkan nomor halaman. Apa guna
nomor halaman? Bila naskah Anda dalam bentuk cetak lalu jatuh berserak, maka
akan mudah menyusunnya kembali berdasarkan nomor halaman. Bayangkan bila tidak
ada nomor halaman, membutuhkan banyak waktu untuk menyusunnya kembali. Ketiga, atur
kertas yang Anda gunakan, yaitu memakai ukuran A4, ini ukuran standar yang
sering digunakan. Keempat, buat margin (sisi kosong kiri-kanan, atas-bawah
lembaran kertas), sisi kiri 4 cm, atas 3 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm. Kelima,
gunakan font (jenis huruf) Times New Roman ukuran 12. Ukuran font jangan lebih
dari 12 atau kurang dari 12. Kelima, atur spasi tulisan Anda, standar yang
sering digunakan 1 ½ spasi. Terakhir, tambahkan identitas Anda di akhir
tulisan. Misalnya, “Penulis adalah cerpenis dan peminat seni, berdomisili di
Jakarta”. Identitas itu penting untuk memperkuat kredibelitas Anda sebagai
penulis naskah. Bila naskah Anda telah lengkap dan rapi, silakan kirim ke media
tujuan Anda dan berdoalah semoga naskah itu mendapat tempat terbaik.
TIPS MENULIS #51
Mengirim naskah
ke media atau penerbit, buatlah surat pengantar. Apa itu surat pengantar?
Semacam “sapaan salam” pengirim email kepada pemilik email yang dituju. Banyak
naskah tulisan, termasuk ke email FAM, dikirim tanpa surat pengantar di badan
email. Naskah langsung dilampirkan saja di attach file (lampiran). Tanpa
“ba-bi-bu” untuk apa naskah itu. Sama artinya, masuk ke rumah orang tanpa mengucapkan
salam, lalu duduk begitu saja di ruang tamu meletakkan sesuatu. Jadi,
biasakanlah membuat surat pengantar tersebut. Misal bunyinya, “Kepada yth.
panitia lomba cipta cerpen FAM Indonesia. Bersama ini saya kirimkan sebuah
cerpen berjudul ...... dengan harapan dapat diikutsertakan dalam lomba
dimaksud. Naskah ini asli dan belum pernah diterbitkan di media lainnya. Hormat
saya, Abdullah”. Begitu saja, tak usah panjang-panjang. Intinya, surat tersebut
sebagai tanda etika dan bentuk kesantunan seorang penulis.
TIPS MENULIS #52
Mimpi itu sumber
inspirasi. Adakah yang tidak pernah bermimpi ketika tidur pada siang atau malam
hari? Ada yang bermimpi dikejar-kejar harimau, ada yang bermimpi bertemu
seorang gadis cantik sahabat masa kecilnya lalu di alam nyata akhirnya mereka
menikah, ada yang bermimpi menjadi miliuner punya banyak perusahaan di berbagai
negara, bermimpi berada di sebuah pulau dengan penghuninya kera-kera yang bisa
bicara, dan bermacam kisah mimpi lainnya. Ada mimpi yang horor misal
dikejar-kejar hantu tanpa kepala, ada yang menyedihkan hingga berurai air mata.
Ada mimpi gembira yang mengulum senyum disaat terbangun. Jadikan kisah-kisah di
alam mimpimu itu sebagai sumber inspirasi tulisan yang akan kamu buat, bisa
berwujud puisi, cerpen, atau novel. Dramatisir sedemikian rupa
konflik-konfliknya sehingga ceritanya semakin menarik dan seru. Jadi, tidak ada
lagi keluhan soal sulitnya mencari ide. (Hmm, nanti malam tema mimpi tidur
admin apa ya? ^_*)
TIPS MENULIS #53
Waspadai penyakit
“pikun”. Kepikunan salah satu sebabnya adalah otak “berkarat” karena tidak
digunakan berpikir maksimal. Para pensiunan berpeluang cepat pikun bila berprinsip
masa tua untuk bersantai-santai bersama anak-cucu. Sebaliknya, bila ingin
berusia panjang dan tetap sehat walafiat, di masa tua itulah produktivitas
berkarya semakin meningkat, menuju puncak kematangan. Penulis dan wartawan
senior Rosihan Anwar sebelum meninggal dunia usianya mencapai 89 tahun. Penyair
Taufiq Ismail saat ini berusia 78 tahun, alhamdulillah masih sehat walafiat.
Para penulis yang terus berpikir menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk
tulisan akan terhindar dari kepikunan dan hari-harinya terasa menyenangkan
karena ia selalu “berdakwah” menebarkan kebaikan lewat karya tulis.
TIPS MENULIS #54
Buatlah blog
pribadi lalu isilah dengan tulisanmu. Banyak blogger (penulis blog) yang sukses
menerbitkan buku lantaran dilirik penerbit setelah melihat isi blog-nya.
Seorang guru di SMA Negeri 3 Batusangkar bernama Marjohan Usman memposting
secara rutin artikel-artikel seputar pendidikan dari perspektif dirinya yang
seorang pendidik. Siapa sangka tulisan-tulisannya itu dibaca oleh redaktur
penerbit di Jogja lalu sang redaktur langsung meneleponnya dan meminta
tulisannya untuk dibukukan. Tentu saja gayung bersambut. Kontrak penerbitan pun
ditandatangani, kemudian terbitlah buku “School Healing (Menyembuhkan Problem
Sekolah)” karya pertamanya yang beredaran di pasaran terutama di Toko Buku
Gramedia. Bisa jadi itu adalah keberuntungan, sebab masing-masing orang punya
garis nasibnya sendiri. Tetapi hal itu mustahil terjadi bila Pak Guru kita ini
tidak pernah menulis dan tidak pernah mendokumentasikan tulisannya di blog.
Nah, bagaimana dengan Anda?
TIPS MENULIS #55
Latihlah kepekaan
perasaan Anda. Apa yang Anda rasakan ketika melihat bayi mungil terbaring lemah
tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan tumor ganas di kepalanya? Apa yang
Anda rasakan ketika melihat seorang kakek tersungkur jatuh dari sepeda motor
yang disenggol mobil? Bagaimana juga perasaan Anda ketika melihat seorang ibu
peminta-minta berdiri di depan pintu rumah Anda lalu mengatakan, “Nak, Ibu
lapar...”. Banyak sekali peristiwa yang terjadi setiap hari yang menggugah
perasaan. Bagi seorang penulis, kepekaan perasaan ini sangat penting untuk
melatih kehalusan bahasa tulisannya. Tulisan-tulisan yang dibuat dengan sepenuh
perasaan, tulisan itu akan memiliki “ruh” yang menciptakan kesan mendalam bagi
semua orang ketika membacanya. Pembaca bisa tersenyum, tertawa hingga menangis
berlinang air mata.
TIPS MENULIS #56
Kirim, kirim,
kirim. Ya, kirim tulisanmu ke media/penerbit bila sudah selesai ditulis. Sayang
kan bila karya itu—yang mungkin manfaatnya dapat dirasakan banyak orang—tetapi
yang membacanya cuma ‘kutu buku’ (benar-benar kutu, lho) di rak buku atau di
dalam laci meja kerja/belajar Anda. Atau naskah Anda baru diterbitkan anak-cucu
Anda ketika Anda telah tiada karena mereka menemukan kumpulan tulisan Anda yang
bagus. Bila itu yang terjadi, tentu sayang sekali, karena Anda tidak bisa
menikmati, melihat, dan merasakan bagaimana reaksi orang yang membaca buku
Anda. Bagi calon penulis, niatkan dalam diri Anda, sebelum meninggal dunia
minimal menerbitkan satu judul buku. Bila lebih jumlahnya, tentu luar biasa!
TIPS MENULIS #57
Setiap buku punya
nasibnya sendiri. Jangan pernah ragu untuk menerbitkan naskah buku Anda. Bagus
tidaknya naskah, biarlah pembaca yang menjadi hakim. Tugas penulis adalah
berkarya. Terus dan terus, tanpa kenal lelah apalagi berhenti. Berhenti menulis
artinya mati. Nah, carilah penerbit yang gampang ditemukan alamatnya lewat
internet. Dianjurkan terlebih dahulu naskah buku Anda dikirim ke
penerbit-penerbit besar ternama. Tentu tidak mudah menembusnya. Sebab Anda akan
bersaing dengan ratusan naskah penulis lainnya dan harus bersabar 3-6 bulan
atau bahkan lebih 1 tahun hanya untuk menanti pasti-tidaknya naskah Anda
terbit. Namun demikian tak perlu rusuh hati, sebab alternatif penerbitan sangat
banyak hari ini. Bila ditolak penerbit konvensional, bisa menerbitkan dengan
cara Self Publishing. Memang harus sedikit mengeluarkan biaya. Tetapi cukup terjangkau
dan kualitas buku tak kalah dari buku-buku terbitan penerbit konvensional.
Media massa pun hari ini semakin banyak, terutama jejaring sosial, sehingga tak
perlu takut buku Anda tidak terjual. Jadi, bila sudah punya naskah layak
terbit, saatnya mempersiapkan naskah sebaik mungkin untuk berkompetisi di pasar
perbukuan Tanah Air, bahkan mancanegara.
TIPS MENULIS #58
Setiap penulis
punya misi di dalam tulisannya. Apa misi Anda sebagai seorang penulis?
Penulis-penulis yang peraliran komunisme, marxisme, leninisme, materialisme,
dan isme-isme lainnya, mereka membawa paham yang mereka anut di dalam
tulisan-tulisan mereka. Ada ajakan-ajakan tertentu yang tanpa sengaja membuat
pembacanya larut dan mengikuti aliran mereka. Sebagai penulis yang bermisi
dakwah, selayaknya Anda membumbui tulisan Anda dengan nilai-nilai Ilahiah agar
ia menjadi media dakwah. Silakan menulis apa saja, sebebas-bebasnya tetapi
tetap dalam koridor etika dan norma sebagai seorang penulis Islami. Ajaklah
pembaca tulisan Anda untuk berbuat kebaikan, menjauhi larangan Tuhan, dan ikut
berdakwah bersama Anda lewat untaian kata-kata. Maka, semuanya akan menjadi
indah.
TIPS MENULIS #59
Menulislah untuk orang
lain. Dalam tahap belajar, boleh saja menulis untuk diri sendiri. Tetapi,
menulis untuk diri sendiri, tentu saja berbeda dengan menulis untuk dibaca orang
lain, dalam artian khalayak banyak. Artinya, tulisan Anda itu harus mengandung
pesan yang bermanfaat bagi pembaca. Sebab, ketika membaca sebuah buku, setiap
orang ingin mengetahui apa kelebihan buku itu dan pesan apa yang disampaikan
penulisnya. Nah, untuk itu Anda harus memerhatikan kaidah-kaidah yang harus
dipatuhi dalam membuat tulisan. Ada aturan penggunaan EYD yang tidak boleh
dilanggar. Biasakanlah selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dengan demikian Anda telah ikut menyelamatkan keutuhan bahasa negeri ini.
TIPS MENULIS #60
Bertekun-tekunlah
menulis. Menulis butuh proses belajar. Jangan malas-malasan apalagi
asal-asalan. Penulis-penulis hebat dulunya mengawali karir menulis mereka dari
nol. Tidak ada yang tiba-tiba besar menjadi penulis hebat ternama. Semuanya
bersakit-sakit dahulu. Bila hari ini mereka hidup senang, itu adalah buah dari
kerja keras, konsistensi, semangat, dan tekad yang bulat sejak awal mereka
menjadi penulis. Dalam tahap belajar, jangan pernah sungkan memperlihatkan
tulisan Anda—sejelek apapun tulisan itu—kepada orang lain terutama penulis
senior untuk dibaca dan diberikan penilaian. Usahakan sebanyak mungkin orang
membaca tulisan Anda itu, dan mintalah masukan berupa kritik dan saran. Segala
macam masukan itu jadikan referensi untuk pebaikan tulisan Anda sebelum
diterbitkan.
[www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment