Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah
cerpen “tanpa judul” karya Hannan Izzaturrofa, anggota FAM Indonesia yang
berdomisili di Purwokerto. Ya, cerpen ini benar-benar tidak berjudul, disengaja
oleh penulisnya dan diserahkan ke Tim FAM untuk diulas. Tentu diharapkan nanti
cerpen ini diberikan judul. Ibarat tubuh manusia, judul adalah kepalanya.
Cerpen ini berkisah tentang Dido, seorang anak yang
mengalami keterbelakangan mental. Ia sulit berbicara. Tentu saja ini menjadi
kekhawatiran orangtuanya. Bagaimanapun, orangtua pasti ingin anaknya lahir
dalam keadaan normal dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Namun hal ini tidak
terjadi dalam keluarga miskin, yang seharinya-harinya mengais rejeki dengan
menjadi pembantu di kediaman pak Suryo.
Ada sebuah pesan yang menarik yang diungkapkan penulis dalam
cerpen ini. Diceritakan, ayah Dido sangat marah ketika Dido dihina oleh Tuan
Suryo. Ia rela jika dirinya dihina, tapi tidak untuk anaknya. Ini adalah sebuah
pesan yang ditujukan bagi siapa pun yang memiliki anak dalam kondisi tidak
normal bahwa sebagai orangtua yang baik seharusnya tetap memperlakukan anaknya
dengan baik. Jika kita lihat, banyak orangtua yang merasa malu memiliki anak
cacat, bahkan ada yang tega membuang dan tidak mengakui anaknya.
Pemilihan kata yang digunakan oleh penulis cukup bagus.
Teknik penulisannya juga. Hanya saja, ada beberapa kata yang tidak sesuai
dengan EYD. Misalnya kata ‘ditangannya’ pada paragraf ketiga, seharusnya
ditulis ‘di tangannya’. Penulisan kata ‘di’ jika diikuti kata tempat adalah
dipisah.
Secara keseluruhan cerpen ini baik, termasuk juga dalam segi
ide cerita. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang
dihasilkan semakin membaik.
Semangat berkarya!
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
CERPEN (TANPA
MENYERTAKAN JUDUL)
Oleh Hannan
Izaturrofa
IDFAM861S Anggota FAM
Purwokerto
Pagi itu memang pagi yang indah. Anak-anak yang seharusnya
tahu diri membantu orang tuanya malah masih tertidur pulas bercengkerama dengan
mimpi masing-masing. Suara adzan subuh yang terdengar lantang itu hanya mampu
membuat mereka sedikit bergerak, lalu kembali tertidur pulas. Berbeda sekali
dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu.
Anak itu sedang sibuk memetik buah apel berwarna hijau di
kebun milik majikannya, Tuan Suryo. Wajahnya serius. Dengan susah payah, tangan
kanannya berusaha meraih buah apel tertinggi. Gesit. Terampil tangannya meraih.
Ia tersenyum, mengumpulkan apel-apel yang terjatuh, kemudian kembali mencari
buah apel yang cukup matang untuk
dipetik. Ia cekatan dan sangat teliti.
10 menit. Ia masih sibuk. Malangnya, tumpuan kakinya tak
mampu menopang berat tubuhnya yang tidak seimbang. GUBRAK! Seketika itu juga
apel-apel hijau ditangannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa
kayu-kayu. Ia tidak menangis, hanya meringis menahan sakit. Tangan dan kakinya
terluka.
“Baaa.. Maa…”, teriak
anak itu. Ia merangkak, berusaha bangkit. Tangan dan kakinya terasa perih.
Dari kejauhan, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri.
Wajahnya penuh guratan-guratan lelah. Kulitnya hitam legam, terlalu lama
terbakar sinar matahari. Wajahnya ramah, sangat bersahabat. Walaupun seketika
berubah menjadi cemas.
Dengan sigap, digendongnya anak itu menuju gubuk tua yang
tidak jauh dari situ. Gubuk itu memang sudah tua. Pondasinya sudah rapuh,
dengan kayu-kayu yang sudah berlubang di sana-sini. Bukan cinta alasan yang
tepat untuk tinggal di gubuk tua itu, namun karena tidak memiliki uang lebih
untuk membangun gubuk yang lebih layak. Untuk membeli makan saja masih harus berhutang.
Dengan kain abu-abu tua dan air seadanya, dibersihkannya
luka-luka itu. Cepat, namun berhati-hati. Anak itu tertawa. Tangannya terangkat
meraih. Rupanya ia ingin mengobati lukanya sendiri. Pria itu menggeleng, lalu
tersenyum. Tahu keinginannya tidak dituruti, anak itu sontak menangis.
Meronta-ronta, menarik-narik apa saja yang ada di hadapannya.
Setelah sekian lama meronta-ronta, anak itu lalu terdiam.
Lelah. Ia malah sibuk memandangi luka-lukanya. Mungkin ia terheran mengapa luka
itu bisa ada di tubuhnya. Atau mungkin juga sedang mencari tahu mengapa
luka-luka itu bisa memerah, terasa sakit ketika disentuh, atau yang lainnya.
“Apa yang terjadi dengan Dido?”, terdengar suara serak parau
dari arah dapur. Seorang wanita dengan sehelai kain yang menutupi kepalanya
menghampiri dengan senyum yang agak dipaksakan. Wajahnya tidak kalah lelah
dengan pria tadi.
“Dido terjatuh. Tangan dan kakinya terluka. Tapi sudah
diobati”, jawab pria itu seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Masih sakit?”, tanya wanita itu lembut. Dido mengangguk
pelan, menunjukkan tangan dan kakinya yang masih memerah.
“Sebentar lagi pasti sembuh. Ini tidak akan lama”, ucap
wanita itu sambil tersenyum. Diambilnya sepiring nasi dan lauk seadanya dari
atas meja tua.
“Baaa.. Maa..”, teriak Dido girang. Lahap sekali ia makan.
Sepiring nasi aking dan bayam goreng.
***
7 tahun silam. Ketika itu langit masih berwarna
kemerah-merahan. Seorang wanita dengan pakaiannya yang lusuh sedang bermain
bersama anak semata wayangnya. Tampak di sudut matanya sebuah kekhawatiran. Di
ujung sana, sekumpulan wanita paruh baya sedang menyuapi anak-anaknya yang
terus berlarian entah kemana. Ada yang berteriak, ada yang saling lempar, dan
ada pula yang duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Mereka semua tertawa,
menikmati sisa-sisa sinar matahari yang masih ada.
Ada sebersit rasa iri di benak wanita itu. Matanya tampak
berkaca-kaca. Dibelainya kepala anaknya yang masih sibuk dengan gumpalan tanah.
Sesekali anak itu berteriak, melempar seluruh tanah yang digenggamnya. Tidak
peduli jika tanah yang dilemparnya itu mengenai matanya. Ia hanya tertawa,
mengucek-ngucek matanya yang memerah, lalu kembali bermain dengan tanah-tanah
itu.
Ya Allah, mengapa anakku berbeda?
Dido, anak semata wayang yang dulu diharapkannya tidak
seperti anak-anak lainnya. Entahlah, Dido tidak bisa berbicara dengan lancar. Bibir
mungilnya hanya bisa mengucapkan kata ‘Maa’ dan ‘Baa’ setiap kali ia ingin
berbicara. Dido juga mengalami keterbatasan mental. Sebuah kenyataan yang buruk
jika melihat kondisi keluarganya yang pas-pasan.
Keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalimat itulah yang
pas untuk menggambarkan kondisi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah
takdir dari-Nya.
***
“Itu apel milikku!”, teriak seorang anak laki-laki dari
balik pintu bangunan yang megah. Dengan sigap, ia berlari menghampiri Dido dan
langsung merebut karung gandum itu. Kasar sekali. Wajahnya tampak garang.
Apel-apel di dalam karung gandum itu ditumpahkannya ke tanah.
“Baa.. Maa..”, merasa terganggu, Dido berteriak. Tangannya
berusaha mengumpulkan apel-apel yang jatuh ke tanah. Tapi anak itu
menghalaunya. Dido menggeram keras.
“Ini apel milikku! Kau tidak boleh mengambilnya!”
“Baa.. Maa..”
Dido menangis. Ia meronta-ronta. Anak laki-laki yang merebut
apel-apel itu tertawa mengejek. Dengan santai, ia memakan apel-apel itu, lalu
melempari Dido dengan sisa apel yang dimakannya. Kali ini Dido merasa sangat
terganggu. Dengan cepat, ia mengambilnya batu di sekitarnya.
Sepersekian detik, batu itu mendarat tepat mengenai pelipis
mata anak itu. Sontak ia menangis, berteriak memanggil ayahnya. Lima menit.
Seorang pria berkulit putih bersih keluar dari pintu bangunan mewah itu.
Berjalan dengan gagah, namun tampak sombong. Wajahnya merah padam.
“Apa yang kau lakukan dengan anakku!”, bentaknya. Ia lalu
mendorong Dido keras. Terjerembab. Lukanya yang sudah agak mengering basah
kembali.
“Baa.. Maa..”
“Jangan sakiti anakku tuan”, suara lantang itu memecah,
terdengar jelas. Pria berkulit hitam itu melangkah menghampiri Dido yang sedang
meringis kesakitan.
“Kau membelanya? Apa yang bisa kau banggakan dari anakmu
yang cacat ini?!”, hardiknya keras. Jari telunjuknya teracung-acung ke depan.
Sontak saja pria berkulit hitam itu marah. Wajahnya memerah,
menggeram garang. Bukan karena keadaannya yang miskin. Bukan. Ia marah karena
Dido, anak semata wayangnya dihina. Tidak ada yang boleh menghina Dido.
“Tuan tidak boleh menghina Dido!”, teriaknya lantang.
Ditariknya Dido menjauh.
“Akan saya kurangi gaji kau karena telah melawanku!”, teriak
Tuan Suryo. Pria itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan beriringan dengan
Dido meninggalkan Tuan Suryo dan anaknya.
“Baa.. Maa..”, Dido melawan. Ia berusaha melepaskan tangannya
yang digenggam pria itu. Tuan Suryo dan anaknya sudah berbalik. Dido
membungkuk. Diraihnya sisa-sisa apel tadi.
***
“Darimana kau dapatkan apel itu Dido!”, hardik wanita itu.
Dengan keras ia menggenggam dan memukul lengan Dido dengan ranting sisa kayu bakar.
Sakit. Dido berteriak meronta-ronta. Genggaman itu semakin kuat. Dido berusaha
melepaskan genggaman itu.
“Diam! Siapa yang mengajarimu untuk menjadi seorang pencuri!
Kau mau memberi Ibu apel hasil curian?!”
“Baa.. Maa..”, tangisan Dido semakin mengeras. Ia kembali
meronta-ronta, berteriak mencari pertolongan. Pria yang sedari tadi
memperhatikan Dido dan wanita itu hanya bisa meringis mengelus dada. Ia ingin
membela, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.
“Kembalikan apel itu! Ayo kembalikan!”, dengan keras, wanita
itu menarik lengan Dido keluar rumah. Dido kembali meronta-ronta namun tidak
dipedulikan.
Baru beberapa langkah, kaki wanita itu terhenti ketika
melihat sebuah pohon apel yang baru dilihatnya. Pohon itu tumbuh tidak jauh
dari gubuk tuanya. Tampak cukup besar, namun ia sama sekali tidak menyadari
keberadaan pohon itu. Ditatapnya pohon apel itu lumat-lumat. Genggaman
tangannya perlahan terlepas. Dido yang merasa sudah terbebas itupun langsung
berlari menghampiri pohon apel itu.
“Baa.. Maa..”, teriaknya sambil melambai-lambai.
Wanita itu menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya.
“Mengapa ada pohon apel tumbuh di situ? Bukankah batas kebun
milik Tuan Suryo ada di depan rumah kita? Ini kan diluar jalur mereka”, tanya
wanita itu terheran-heran.
“Itu bukan milik Tuan Suryo”, jawab pria itu. Pandangannya
lurus menatap Dido.
“Maksudnya?”
Pria itu tidak menjawab. Ia lalu melangkahkan kakinya
menghampiri Dido yang masih berteriak, tertawa-tertawa. Wanita itu semakin
penasaran. Diikutinya langkah suaminya itu.
“Dido yang menanamnya. Ia menanamnya dari sisa apel yang
dibuang oleh anak Tuan Suryo. Dia yang merawatnya. Ia sangat sayang padamu. Ia
tahu kau sangat menyukai buah apel”
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh wanita itu
bergetar. Air matanya tak mampu dibendung lagi, mengalir deras. Tubuhnya
melemas. Ia tersungkur persis di depan Dido.
“Baa.. Maa..”, ucap Dido menghampiri. Dijulurkannya buah
apel yang baru dipetiknya. Dido tersenyum, manis sekali.
Tangis wanita itu semakin keras. Dipeluknya tubuh Dido. Ia
masih bergetar.
Wanita itu tersadar. Sebagai seorang anak yang memiliki
keterbatasan, Dido bukanlah seorang pencuri seperti yang ia kira. Dido bukan
seorang pengecut. Keterbatasan ternyata tidak menghambat keinginannya untuk
memetikkan buah apel, hadiah untuknya. Betapa bodohnya ia, tidak menyadari
kesibukan Dido selama ini. Yang ia tahu, Dido hanya bermain dan terus bermain.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Dido telah bersusah payah untuk menanamkan
pohon apel untuknya.
Ia sangat menyesal dengan tindakannya. Sangat menyesal.
Lihatlah. Dido masih mau dipeluknya. Ia masih mau tersenyum, bahkan kembali
memetikkan buah apel untukknya. Padahal, luka di lengannya masih mengeluarkan
darah. Perih sekali.
“Maaf sayang.. Maafkan Ibu.. Ibu sayang Dido..”, sesalnya.
“Tidak usah menangis. Lihatlah, Dido tidak suka dengan raut
wajahmu yang terlihat sedih”, ucap pria itu. Dibopongnya tubuh wanita itu,
bangun.
Ibu sayang Dido.. Ibu akan selalu menjaga Dido.. Sekuat Ibu.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment