Sahabat FAM, cerpen yang diulas Tim FAM Indonesia kali ini
berjudul “Bukan yang Terbaik” karya Rahmah, S.Si., M.Si., anggota FAM
Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Cerpen ini mengandung pesan moral yang dahsyat, sebagaimana
yang terdapat di dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 216, “… Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Mimpi Al untuk mendapatkan sang Pangeran pujaan hatinya,
yaitu Alex, harus pupus dan kandas di tengah jalan, sebab Alex ternyata lebih
memilih Naya. Jalinan kisah nan indah. Penuh bunga-bunga asa, dibingkai
kuntum-kuntum cinta, yang tak kunjung mekar di taman hati.
Perpaduan antara cerpen yang bernuansa “dongeng” dari kisah
1001 malam terlihat jelas di dalam kalimat berikut ini:
Dongeng tentang
pangeran yang gagah perkasa menjemput putri yang cantik jelita seantero jagad raya.
Meskipun demikian, cerpen ini akan lebih indah dan menggugah
bila kata-katanya atau kalimatnya sesuai dengan EYD dan puitis. Jadi bila
menulis sesuatu jangan setengah-setengah. Bila mau dimaksudkan romantis klasik,
ya… Hendaklah diksinya jangan menggunakan bahasa prokem, slang, atau harian. Namun bila memang dimaksudkan untuk cerpen
gaul, ya… harus totalitas juga.
Berikut ini koreksi untuk perbaikan:
1. “Seneng kali yah,
kalo aku punya….” Sebaiknya, “Betapa bahagianya, ya… Andaikan kumemiliki…”
2. “Ih, kamu kok
bilang gitu?” Sebaiknya, “Amboi, mengapa dikau berkata seperti itu?”
3. Sejak duduk
dibangku SMA… Penulisan “dibangku” seharusnya: “di bangku”.
4. …agar menemaninya
bekerja diluar negeri… Penulisan “diluar” seharusnya: “di luar”.
5. syaithan,
seharusnya “setan”
6. Neneknya Al
disegani dari seluruh anggota keluarga…. Sebaiknya, Nenek Al disegani dari seluruh anggota keluarga.
7. “Ya Rabby… Reta
kamu ini kok tega banget ma aku? Kenapa kamu ga’ kabarin aku?” Sebaiknya, “Ya
Rabb… Reta, kau ini mengapa tega sekali denganku? Mengapa kau tak mengabariku?
8. Fikiran, seharusnya “pikiran”.
9. Dan Al sepertinya
benar-benar terpukul beberapa lama... Kata “dan” sebaiknya dihilangkan.
10. Nasi sudah jadi
bubur kata orang bijak…. Sebaiknya, “Nasi sudah telanjur menjadi bubur,”
kata orang bijak.
11. …bahwa Laki-laki
yang baik akan mendapatkan… Seharusnya… bahwa laki-laki yang baik akan
mendapatkan…. (perhatikan huruf L)
12. Shabar dan
teruslah berdo’a…. Seharusnya, Bersabarlah dan teruslah berdoa.
Satu lagi, agar cerpen ini tidak berkesan seperti kisah
hikmah atau tausiyah, maka sebaiknya paragraf berikut ini dihilangkan:
Kisah Al kemudian
mengembalikan kita semua pada suatu bait yang seharusnya dijadikan pegangan
oleh setiap kita, bahwa Laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita baik-baik,
begitupun sebaliknya.
Untuk Al, hapus air
mata dan traumamu. Raih hari esok yang masih misteri. Sudah pasti kalau memang
Alex bukan yang terbaik untukmu… Shabar dan teruslah berdo’a.
Demikianlah. Terus semangat berkarya.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
Bukan yang Terbaik
Oleh Rahmah, S.Si, M.Si
IDFAM940U Anggota FAM
Palangkaraya-kalteng
“Seneng kali yah, kalo aku punya jodoh mirip Dude Herlino”,
lontar Ufe di sela-sela pertemuan kami hari ini.
“Wedew, jangan mimpi kamu Fe”, tanggap Al sinis.
“Ih, kamu kok bilang gitu?”, tanya Ufe mengernyitkan
keningnya.
“Hehehe… ga’ kok Fe. Aku cuma tidak ingin kamu berkhayal
terlalu tinggi Fe”, jawab Al dengan tersenyum sambil menggandeng tangannya agar
Ufe faham.
Ufe kemudian tersenyum sambil memberikan isyarat bahwa ia
sudah mengerti maksud Al yang sebenarnya. Maksud Al hanyalah mencegah Ufe untuk
tidak bermimpi yang tidak masuk akal, sebab Ufe memiliki kebiasaan yang buruk
jika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Sikap nekatnya tidak pernah bisa
hilang ketika hatinya sedikit saja tersakiti.
***
Berawal dari percakapan itulah yang mengingatkan Al kembali
tentang sebuah pengalaman yang sungguh penuh makna untuk hidupnya sekarang.
Sejak duduk dibangku SMA, Al selalu menginginkan menikah dengan sosok yang
sangat sempurna. Tinggi, putih, hidung mancung, punya lesung pipit, rambut
setengah berombak dan berbadan sedikit kekar. Sungguh sosok yang hanya bisa
didapatkan dari sebuah dongeng. Dongeng tentang pangeran yang gagah perkasa
menjemput putri yang cantik jelita seantero jagad raya.
***
Kisah Al bermula dari perkenalannya dengan seseorang di
sebuah pengajian kampus. Al bertemu dengan Reta, sang aktivis kampus saat itu.
Al yang sudah dasarnya mudah melebur dalam suatu komunitas, akhirnya akrab
dengan Reta. Hingga pada suatu hari Reta banyak bercerita tentang kehidupannya.
Dan yang paling menarik menurut Al adalah ketika Reta bercerita bahwa ia punya
paman yang masih lajang dan sedang mencari istri.
Reta bercerita kalau Pamannya bekerja di negeri seberang
(jauh dari Indonesia). Sang paman, sebut saja Alex, membutuhkan pasangan agar
menemaninya bekerja diluar negeri. Segala kelebihan Alex diceritakan oleh Reta
kepada Al. Seluruh kriteria fisik yang menjadi idaman Al dimiliki oleh Alex.
Dan sejak saat itu Al pun harus mengakui bahwa getaran rasa ingin menyukai dan
menjadi wanita yang dicari Alex, itu ada dalam hatinya.
Komunikasi demi komunikasi akhirnya terjalin. Al sebenarnya
sudah memahami bahwa hubungan yang seperti ini seharusnya tidak ada. Sebab,
akan sangat mempengaruhi syaithan untuk menggoda lebih dahsyat lagi. Dan Al-pun
mengakui saat itu dirinya benar-benar terhanyut oleh rasa yang mungkin
dinamakan Cinta.
Hari demi hari berlalu. Hubungan Alex dengan Al semakin
menunjukkan sebuah keseriusan. Alex mengutarakan isi hatinya lewat Reta untuk
disampaikan kepada Al. Al semakin sering salah tingkah sendiri ketika
mendapatkan sms-sms yang sedikit bernuansa merah jambu. Wajar saja jika Al
demikian. Ketika perasaan sudah disentuh, maka segalanya nampak indah. Al
benar-benar memantapkan hatinya untuk siap menjadi wanita yang akan ditunjuk
Alex sebagai istri.
***
Ketika semua nampak pada keseriusan yang nyata, Al
memberanikan dirinya menyampaikan maksud Alex kepada ibunya. Tentu saja ibunya
sangat bahagia ketika itu. Betapa tidak? Al sudah termasuk wanita yang berumur
tetapi belum saja menikah. Setelah mendengar cerita Al soal Alex yang ingin
melamarnya, maka ibunya memberitahukan Al agar menceritakannya kepada yang
lebih tua di keluarga, yaitu neneknya. Neneknya Al disegani dari seluruh
anggota keluarga. Bahkan segala keputusan harus sepengetahuan beliau.
Maklumlah, neneknya adalah salah satu manusia yang lahir di era peperangan.
Jadi, wajar saja jika demikian menurut Al.
“Kapan Alex melamar?”, tanya nenek Al
“Akhir Juli, nek’, jawab Al
“Baiklah kalau begitu. Kita tunggu saja kedatangannya”,
tegas nenek Al
Al hanya mengangguk dan kemudian melanjutkan pekerjaan yang
harus diselesaikannya saat itu.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti tahun. Sesuatu yang
menyakitkan harus mampir dalam kehidupan Al. Sesuatu yang tidak pernah
difikirkan sebelumnya. Bahkan, tidak pernah bermimpi sekalipun akan mendapatkan
masalah seperti ini. Yah, Alex ternyata mengingkari janjinya untuk datang
melamar Al. Semua persiapan yang telah dibuat oleh Al, meskipun masih dalam
tahap pembenahan diri, terpaksa harus hancur di tengah jalan. Semuanya menjadi
benar-benar sebuah masalah yang sangat menyakitkan.
Alex ternyata dikabarkan telah menikah dengan seseorang di
negeri tempat Alex bekerja. Wanita yang telah dinikahi Alex adalah sosok wanita
yang tidak asing bagi Al. wanita itu adalah Naya. Naya adalah wanita yang sudah
Al anggap seperti saudara sendiri. Hanya saat itu Al dan Naya harus terpisah
karena sebuah urusan dan dunia yang berbeda. Al harus mengikuti keinginan orang
tuanya untuk kuliah di Indonesia saja, sementara Naya harus bergembira karena
keinginannya sekolah di luar negeri bisa dijalaninya.
Al masih tidak percaya. Al masih terus mencari cara agar
Reta dan Alex bisa dihubungi saat itu. Hingga terjadi percakapan seperti
berikut:
“Reta, benar Alex nikah dengan Naya?,” tanya Al sambil
menangis di ponsel.
“Hmmm… tanyakan langsung saja Al. Saya tidak bisa bilang
apa-apa,” jawab Reta acuh tak acuh.
“Ya Rabby… Reta kamu ini kok tega banget ma aku? Kenapa kamu
ga’ kabarin aku?’, terjang Al dengan sejumlah pertanyaan sambil menangis.
“Maaf Al. Saya tidak tahu”, tegas Reta sambil menutup
ponselnya.
Al benar-benar tidak faham dengan semua yang terjadi
dengannya saat itu. Lelaki yang sudah merupakan keinginannya sejak SMA harus
menikah dengan wanita yang tidak asing baginya. Betapa hancur hati Al ketika
itu. Fikiran yang sudah menerjang jauh ke depan membina rumah tangga dengan
segenap tatanan diri telah dilakukannya. Rasa malu pada ibu dan neneknya
semakin membuat Al sakit. Membayangkan betapa kebahagiaan mereka ikut hancur
bersama kejadian pahit ini.
Kini hanya air mata yang berjatuhan terus-menerus membasahi
bantal yang sedari tadi dipeluknya. Membayangkan betapa Naya begitu bahagia
mendapatkan jodoh yang sempurna dari segi fisik seperti Alex. Namun, semua
telah terjadi. Suratan takdir mengatakan bahwa hari itu Alex menikah dengan
Naya. Mereka disatukan olehNya dengan segenap limpahan rahmat yang Allah
miliki. Dan Al sepertinya benar-benar terpukul beberapa lama.
***
Setelah peristiwa menyakitkan ini terjadi pada Al, terlalu
banyak hal yang Al bisa petik dari kejadian ini. Kesalahan kecil yang dilakukan
di masa lalu bersama dengan Alex membuahkan peristiwa tragis seperti ini. Dari
awal perkenalan mereka memang seharusnya tidak dengan saling menghubungi lewat
ponsel saja, akan tetapi saling bertemu yang ditemani dengan pihak ketiga
sebagai saksi.
Namun, semuanya sudah menjadi nyata. Nasi sudah jadi bubur
kata orang bijak. Al harus meyakini bahwa semua yang ditakdirkan oleh Allah
pasti sanggup Al hadapi. Al hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Sekuat
apapun Al mengejar Alex, maka Allah akan lebih kuat menentukan yang terbaik
untuk Al. Kisah Al kemudian mengembalikan kita semua pada suatu bait yang
seharusnya dijadikan pegangan oleh setiap kita, bahwa Laki-laki yang baik akan
mendapatkan wanita baik-baik, begitupun sebaliknya.
Untuk Al, hapus air mata dan traumamu. Raih hari esok yang
masih misteri. Sudah pasti kalau memang Alex bukan yang terbaik untukmu… Shabar
dan teruslah berdo’a.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment