Cerpen ini berupa cerita yang menggambarkan perjalanan
spiritual tokoh aku dalam menjalani kehidupan yang lebih baik setelah
sebelumnya berada di dunia kelam kejahatan. Banyaknya kejahatan yang dia
lakukan membuat orang meragukan pertaubatan yang dilakukan tokoh aku.
Tokoh aku terus mengabdi kepada guru itu, hingga muridnya
berkembang dari lima orang saja menjadi lima ratus. Sampai guru mengaji itu
meninggal dunia dan meninggalkan lima ratus muridnya, maka tokoh akulah yang
kemudian mengurusi 500 muridnya itu.
Tetapi tokoh aku terus berupaya untuk menjadi pribadi yang
lebih baik. Upaya tokoh aku berhasil menemukan guru mengaji seorang janda yang
rela membimbingnya. Tokoh aku terpaut 35 tahun lebih muda dari usia janda itu.
Berbagai perintah sang guru dipatuhinya walaupun pada awalnya terasa berat.
Di akhir cerita, penulis menggambarkan bahwa janda tua guru mengaji
itu ternyata ibu dari tokoh aku. Walaupun tokoh aku terlambat mengetahuinya,
tetapi dia bahagia karena sudah mengabdi kepadanya dan akan terus melanjutkan
pengabdiannya karena Allah, tidak peduli pandangan miring orang-orang tentang
masa lalunya.
Penulis menggambarkan begitu beratnya perjalanan menuju
kebaikan yang dialami oleh seorang mantan penjahat ulung. Sulit orang menerima
dan mempercayai pertaubatan, sampai akhirnya tokoh aku menanamkan sikap
positif, tidak peduli pandangan negatif orang-orang tetapi ikhlas karena Allah
menjalankan yang diyakininya benar.
Daris segi penulisan, Penulis menyajikan tulisan cukup rapi
dan teliti. Hal ini ditandai dengan minimnya kesalahan penulisan.
Kesalahan EYD terdapat pada penulisan kata setelah kata
depan “di” dan “ke” seperti pada contoh: “dimana-mana” seharusnya “di
mana-mana” atau pada kata “kedalam” seharusnya “ke dalam.”
Secara umum cerpen ini sudah cukup baik, dan teruslah
berkarya. Salam santun.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Kata Orang
Oleh Izza Fikri
Yuslikhah
IDFAM937M Anggota FAM
Malang
Bergeming dalam lantunan ayat bertautan seraya menggenggam
hati dan nurani lebih erat. Menapaki firman demi firman yang sarat akan pedoman
yang sudah mulai kulupa. Menjadi bagian dari kehidupan seperti menjadi bagian
dari setiap cerita yang tergambar oleh setiap hukum yang berlaku dalam kitab
suci. Hening, namun mengisi diam-diam. Menyelami kesunyian dan kealpaan sebagai
makhluk yang gampang dosa. Mungkin saja terlalu naif jika berkata kita
hamba-Nya, sementara masih ada penghianatan dimana-mana. Masih ada dendam
merajalela. Masih ada keangkuhan dan amarah kita. Mungkin saja cukup lah kita
disebut sebagai makhluk yang memang gampang lupa. Makhluk yang memang gampang
berkelakar dengan nista. Setelahnya bisakah sang nista kembali mereguk
kedamaian dengan satu kata? Taubat.
Kata orang, bertaubat adalah suatu kesaksian. Jika terbukti
dengan bertaubat kita merubah segalanya, sirna sudah prasangka. Kata orang,
bertaubat adalah suatu syarat. Syarat orang buruk bisa dianggap sedikit baik
atau bahkan jadi jauh lebih baik. Syarat orang payah bisa dianggap sedikit
sejahtera. Syarat – syarat yang sengaja dibuat orang-orang. Padahal, bukan
orang-orang yang menilai pahala untuk pahala dan dosa untuk dosa. Tetap saja,
orang seburuk aku...kata orang-orang akan percuma untuk bertaubat.
Aku pernah akan membunuh. Akan membunuh seorang gadis kecil
yang terang-terangan berteriak saat melihat mayat ibunya yang sebelumnya juga
berteriak karena hartanya kurampas secara paksa. Aku hanya membunuh ibunya.
Sehingga belum sempat aku bunuh anak gadisnya. Sekali lagi, aku hanya akan
membunuhnya. Aku belum membunuhnya. Kata orang, tetap saja aku ini pembunuh.
Hanya karena sebelumnya aku pernah membunuh satu keluarga yang melawan saat
hartanya juga akan kurampas. Sudah dikatakan pembunuh, hanya karena sebelumnya
lagi aku telah membunuh hati banyak orang. Menyakiti jiwa banyak orang, hingga
mereka semua memutuskan memang akulah pembunuhnya. Maka dari itu, kata orang –
orang percuma saja aku bertaubat.
Padahal sebenarnya, aku pernah lebih dari membunuh. Kuambil
bagian yang bukan bagianku. Kurusak segala ciptaan yang kusukai. Kuhancurkan,
kuporak-porandakan tinggal hanya
berpuing dan setelah itu aku tak pernah akan bertanggung jawab. Sungguh, aku
ini seorang pendosa ulung. Jika saja ku mohonkan langit dan bumi untuk
memaafkan mungkinpun mereka enggan sekedar menoleh padaku.
Kata orang-orang. Pak ustadz bahkan Kyai dan ulama’ besar
akan bergeleng mendengar penjelasanku. Penjelasan jiwa nista. Jiwa dengan dosa.
Jiwa dengan noda dimana-mana. Jiwa dengan lubang yang terlanjur lebar tak
berujung.
Kata orang-orang. Malaikatpun akan berdebat panjang akan
pertaubatanku. Kata mereka bertaubat yang sebenarnya tidak kulakukan sekarang.
Saat aku sudah mulai lelah berjejal dengan kehidupan dunia. Saat tubuhku yang
dulu angkuh dengan sergap menikam setiap orang yang kubenci dengan mudah, kini
ringkis oleh dendamku sendiri.
Kata orang-orang.
Memang. Tapi aku tak ingin dengar kata mereka lagi. Kata mereka hanya
akan membuat semangatku luntur. Kata mereka hanya akan membuat jiwaku hancur.
Jadi mulai sekarang aku hanya ingin dengar firman Tuhan dan orang-orang yang
hanya berjuang ikhlas karena Tuhan. Tak ada satupun yang berhak bilang Iya atau
Tidak mengenai urusan pahala dan dosa selain ‘Tuhan’.
Aku pernah dengar kata seseorang berbincang dengan murid
kecilnya yang hanya berjumlah lima orang. “Allah akan mengampuni dosa seseorang
jika dia bersungguh-sungguh bertaubat meskipun dosanya layaknya bilangan debu
pasir yang jumlahnya tidak terhitung oleh kita”. Seorang janda yang 35 tahun
lebih tua dariku itu kata-katanya lebih meneguhkanku daripada kata orang-orang.
Asal orang-orang tau saja. Wanita itu juga mengajarkan pada
murid-muridnya untuk tidak suka terlalu mendengar kata orang-orang, jangan suka
ghibah katanya. Jadi aku ingin belajar padanya bertaubat. Tetapi katanya, hanya
aku yang bisa menentukan keberhasilan taubatku. Asal aku tidak mengulangi lagi
dan menjadi pribadi jauh lebih baik, dia membantuku dengan ikhlas.
Maka kali ini akan kudengarkan kata-kata seseorang yang
ikhlas karena Tuhan ini. Aku jelaskan semua yang kulakukan. Ada kerut wajah
takut sekilas melintas di kelopak matanya. Mungkin seperti yang lainnya, diapun
akan berputus asa. Sejenak setelahnya, dia tersenyum. Lalu menyuruhku berkata,
“astaghfirullahaladzim” sebanyak tiga kali. Tanpa berkata-kata dia tetap
tersenyum. Lalu dia mengisyaratkan agar aku tetap membaca bacaan tadi
sebanyak-banyaknya. Sembari tetap tersenyum dia masuk kedalam rumah kecilnya
dan tidak muncul selama lebih dari 12 jam. Setelahnya dia pun tersenyum sambil
mengisyaratkan agar aku tetap membaca bacaan itu lagi. Aku mengulanginya,
sampai berbusa sampai aku menangis dibuatnya, sampai kurasa ada sesuatu hal
yang menyesak dijiwaku karena mengingat betapa tega aku menyiksa orang lain.
Seperti yang saat ini orang yang baru saja kukenal ini menyuruhku dan
membiarkanku dengan tega. Padahal dia tidak membunuhku. Padahal dia hanya
menyuruhku membaca, berkata-kata. Aku melanjutkan membaca sampai aku tertidur
dan esoknya sudah menjadi terlampau siang untuk sebuah pagi.
“Apakah kau akan mengeluh anak muda? Bukankah perbuatanmu
jauh lebih kejam dari sekedar membaca istigfar? Bangunlah! Bagaimanapun Allah
akan mengampunimu. Ambillah air wudlu semoga kau masih ingat caranya
bersembahyang , nanti akan kuajarkan sholat taubat”. Kemudian dia baru
berkata-kata setelah aku kelelahan karena sehari semalam hanya beristighfar
tanpa makan, tanpa meminum kopi dan menghisap rokok.
Aku mengiyakan. Aku tidak berani berkata kalau aku binggung
antara tidak tau atau lupa bagaimana cara wudhu. Maka kubasuh saja semua,
hingga basah kuyup seluruh badan. Setelahnya kembali, dia kemudian kembali
tersenyum. “alhamdulillah kalau kamu mandi janabat juga”. Padahal aku tak tau
maksudnya. Maka sambil mengusap wajah dengan handuk pemberiannya aku memasuki
musholla pertama kali setelah bertahun-tahun hanya lewat untuk sekedar
meludahinya.
“Kau sudah siap?” aku menjawabnya dengan anggukan dengan
keyakinan.
Lalu dia mengajarkanku cara berniat sholat. Gerakan-gerakan
sholat yang baru aku ingat kalau namanya takbir, rukuk, sujud, i’tidal, dan
lain-lain. Segera setelahnya, aku disuruh berdo’a. Berdo’a dengan bahasa yang
sesuai keinginan hatiku saja. Meminta kepada Allah saja. Menurutnya, dia hanya
membantuku bukan dia yang mengabulkan permohonanku. Maka dengan memelas dan
menangis pada Allah aku memohon diampuni dan diterima taubatku. Berkali-kali
aku meminta dan tidak dijawab oleh Allah. Hingga tak kusadari bahwa janda
wanita yang kuketahui namanya Aisyah ini sudah lenyap dari sampingku. Entah berapa
lama aku berdo’a. Aku lupa mengingatnya. Hingga saat aku hendak bertanya apakah
do’aku sudah terjawab atau tidak kulihat keadaan sekitar sudah petang.
Tidak ada jam dinding di musholla kecil itu. Aku harus
berkeliling untuk melihat waktu. Pos ronda terdekat punya jam dinding dan saat
akan bertanya orang-orang malah mengacungkan pentung pemukul ke arahku. Aku
berlari sampai kuketahui hari sudah pagi kembali. Aku kelelahan di depan rumah
janda wanita itu dan bertanya jam berapa saat itu. Dia hanya tersenyum. “Apakah
kau sekarang akan mengeluh anak muda? Hingga kau bertanya berapa lama waktumu
memohon ampun pada Allah. Padahal kau tidak pernah mengingat-Nya selama
bertahun-tahun. Apakah kau ingin segera diampuni hingga kau akan bertanya
seberapa jauh Allah menjawab do’amu. Ikutlah denganku”. Aku terdiam saja. Aku
mengikutinya sekarang.
Di sebuah kebun kecil di belakang rumah janda wanita ini
terdapat tumbuhan singkong dan ketela ungu. Kelihatannya sudah saatnya dipanen.
Saat itu pula dia berkata, “Panenlah, nanti kuberitahu apa yang akan kau
lakukan lagi”. Aku segera memanennya dan berharap mungkin saja dia tau aku
sedang kelaparan karena belum makan hampir dua hari. Segera setelah semua telah
usai kupanen. Aku menyetorkan padanya. Kembali dia tersenyum. Lalu berkata,
“Ambillah dua biji sebagai ganti dua hari kamu tidak makan. Sedang lainnya
berikan kepada orang-orang yang telah kamu aniaya dan keluarganya
meminta-maaflah kepada mereka sebagaimana kamu meminta-maaf kepada yang
menciptakanmu”. Lalu aku kali ini akan menolak. Aku berkata padanya, “Bagaimana
mungkin? Mereka adalah orang-orang yang selalu berkata bahwa taubatku tidak
akan dterima. Mereka pasti akan memutuskan harapanku saat aku sudah berusaha”.
Namun, dia kembali tersenyum dan berkata, “Katakanlah ini kepada mereka jika
kamu orang yang percaya pada Allah : Allah akan mengabulkan do’a orang yang
teraniaya dan menerima taubatnya orang yang bersungguh-sungguh meskipun telah
membunuh 99 orang dan akan membunuh ke 100 kalinya. Jika Allah menghendakinya Allah
akan sediakan pahala yang maha luas bagi mereka yang mau bertaubat dan menjadi
pribadi yang lebih baik”. Maka akan senyuman dan perkataanya yang menentramkan
hatiku aku berangkat membawanya kepada orang-orang yang pernah berkata-kata
kepadaku. Dari pagi hingga petang hingga kembali pagi lagi dan kukatakan kepada
masing-masingnya tentang perkataan olehnya wanita janda itu.
Lalu setelahnya, aku kembali untuk menanyakan apalagi yang
harus kulakukan. Tetapi wanita janda itu tersenyum dan berkata, “Bertashbihlah
dan pujilah nama Allah, karena Allah menerima taubat atas kebaikan dan
keikhlasanmu asalkan kau terus berusaha menjadi orang yang baik, setelahnya kau
boleh belajar bersama lima muridku lainnya disini. Hingga kau bisa memperolah
ilmu agama secara baik dan benar.”
Aku mengabdi kepadanya sampai suatu saat ajal datang kepada
sang wanita janda itu. Aku ikut bersedih karenanya. Tapi dia tersenyum dan
mengajarkanku untuk ikhlas akan apapun yang terjadi. Saat ini. Aku sudah
mendalami ilmu agama yang disampaikannya. Lima muridnya bertambah menjadi lima
ratus muridnya. Untuk membantunya aku menyiapkan segala keperluan. Padepokan
ini sudah menjadi pesantren lengkap dengan segala keperluannya. Sebelum
meninggalkan kami beliau memintaku untuk mengajar ke-lima ratus muridnya. Atas
kepercayaan beliau aku ikhlas menjalaninya. Setelahnya, orang-orang yang
berkata-kata tak pernah lagi menyuarakan kata-katanya. Mereka hanya percaya
bahwa anak mereka akan terdidik dalam
pengawasan dan pendidikan secara ikhlas dari kami.
Kelak kuketahui bahwa wanita janda itu adalah ibuku sendiri
yang sudah lama diceraikan ayahku yang mantan mafia dan pejudi yang menularkan
bakatnya pada anak satu-satunya ini. Kelak aku tidak menyesal karena aku sempat
mengabdi untuk beliau meski terlalu telat aku mengetahuinya. Kelak akan
kuteruskan pengabdianku untuk menjadikan setiap santri yang ada disini menjadi
santri yang ikhlas menjalankan kehidupannya disini karena Allah saja bukan
karena, kata orang-orang.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar hanya
sekadar ilustrasi, bersumber dari google.com

Comments
Post a Comment