Sahabat FAM, hari
ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah artikel berjudul “Tulisan Lebih Dahsyat
dari Kunci” karya Nuryaman Emil Hamzah, anggota FAM Pandeglang.
Tulisan ini cukup
menarik. Penulis mencoba bercerita tentang kisah nyata yang terjadi di dalam
keluarganya. Ada sebuah kejadian yang menakjubkan yang dilakukan seorang anak
usia sekolah dasar. Ia memiliki sebuah diary bergembok. Gembok itulah sebagai
pertahanan lahir agar buku yang bersifat pribadi itu tidak dibuka oleh
siapapun.
Namun, sang anak
juga menyadari, gembok bukanlah satu-satunya kekuatan yang bisa diandalkan.
Dari situlah, penulis mencoba menyuguhkan kepada pembaca upaya seorang anak
ketika ia menyadari bahwa gembok tak bisa diandalkan sebagai satu-satunya
kekuatan penjaga. Inisiatif si anak muncul dengan membubuhkan sebuah tulisan
pada halaman pertama, yaitu “Bagi yang membuka diary ini terserah Allah mau
diapain.”
Karena tulisan
tersebut, sang Ibu yang telah berhasil membuka gemboknya dan bermaksud
mengetahui isi diary tersebut—dengan tujuan memantau perkembangan buah
hati—harus mengurungkan niatnya, setelah membaca tulisan itu.
Di sini penulis
hendak menunjukkan bahwa sebuah tulisan mampu mengalahkan kokohnya sebuah
kunci. Kunci bisa hilang, bisa tertinggal atau lupa menaruh di mana. Hingga,
ada kemungkinan diambil orang lalu dibukalah diary tersebut. Otomatis akan
terbuka pula hal-hal pribadi yang tujuannya hanya untuk dibaca sendiri. Jika si
penemu kunci adalah orang baik-baik dan memahami bahwa membuka barang pribadi
orang lain tanpa izin itu tindakan yang tidak dibenarkan, amanlah ‘rahasia’
tersebut. Namun, lain cerita jika yang menemukan kunci tersebut adalah orang
yang senang membuka aib orang lain. Kesempatan itu akan dijadikan senjata untuk
berbuat tidak sepantasnya. Bisa sebagai jalan balas dendam atau menjatuhkan
nama seseorang. Di sinilah, Aina (tokoh cerita dalam tulisan) menyadari hal
itu. Ia pasrahkan penjagaannya pada Allah, dengan cara menuliskan lewat sederet
kalimat.
Penulis hendak
mengatakan bahwa tulisan memang hanya merupakan visualisasi verbal yang
dituangkan dalam lembaran-lembaran kertas, sebuah jejak mata pena atau hasil
semburan ‘nozle-nozle printhead’ dari sebuah printer. Akan tetapi menjadi
berbeda, ketika tulisan itu sudah mengandung makna yang dalam. Seperti kutipan,
“Bahwa tulisan yang berbobot terutama yang bernilai Islami dan didasari oleh
keyakinan yang utuh terhadap Allah akan membawa dampak yang sangat positif, bukan
hanya bagi penulisnya tetapi bagi orang yang membacanya. Hal ini sejalan dengan
visi dan misi FAM Indonesia yang mempunyai motto “Membina dengan Hati Calon
Penulis Islami.”
Lalu kutipan
berikut, “Tulisan hanya sebuah kerangka yang tidak mempunyai arti apa-apa,
dahsyatnya sebuah tulisan akan ditentukan oleh seberapa bernilai isi tulisan
tersebut.”
Tulisan tersebut
sudah sesuai dengan misi FAM Indonesia, yaitu berdakwah bil qalam. Ada pesan
moral yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca, dengan harapan pembaca
bisa memetik manfaatnya. Dari segi penulisan, penulis telah berhasil menulis
dengan tersusun rapi serta penggunaan EYD yang baik. Satu hal yang perlu
diperhatikan penulis adalah, agar lebih mengembangkan kemampuan menulisnya
dengan mengangkat tema-tema aktual lainnya yang ada di tengah masyarakat. Agar
manfaat yang bisa dipetik bisa lebih luas lagi.
Teruslah
berkarya. Salam Aishiteru!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA
EDITING TIM FAM INDONESIA]
Tulisan Lebih Dahsyat dari Kunci
Oleh Nuryaman Emil Hamzah
IDFAM255U Anggota FAM Pandeglang
Tulisan merupakan
visualisasi verbal yang dituangkan dalam lembaran-lembaran kertas, tak lebih
hanya sebuah jejak mata pena atau hasil semburan nozle-nozle printhead dari
sebuah printer. Tidak ada kekuatan fisik apapun dari sebuah tulisan, walaupun
tulisan dibuat dengan ukuran yang sangat besar. Tapi bagaimana kalau sebuah
tulisan mampu mengalahkan kokohnya sebuah kunci dalam menjaga privasi sebuah
diary?
Aina
Inayatusshofa, terlahir dari hasil sebuah pertaruhan nyawa seorang ibu yang
dengan rela mengorbankan keselamatan jiwanya demi mempertahankan bayi yang
sedang dalam kandungan. Pertaruhan nyawa itu dibalas Allah dengan sangat indah,
diawali dengan proses kelahiran yang begitu mudah dan murah, anak yang sekarang
bersekolah di SDIT Irsyadul Ibad ini mempunyai perilaku yang pantas disebut
“qurrota a’yun” bagi kedua orang tua. Betapa tidak, perilakunya yang cenderung
lebih dewasa dari usianya serta tingkat keyakinannya terhadap Allah yang begitu
kuat, bisa membuat seorang ibu tertegun dan mengurungkan niat membuka diarynya.
Ketika Aina duduk
di bangku kelas 4 SDIT, dia membeli sebuah buku diary idamannya dari hasil
tabungannya dengan cara menyisihkan uang jajan. Buku diary itu menggunakan
sebuah gembok kecil yang kuncinya selalu dibawa ke mana-mana oleh Aina. Aina
tidak mau diarynya ada yang membaca tanpa seizinnya.
Sebagai seorang
ibu, Ismiyati berharap bisa mengetahui isi diary itu untuk memantau
perkembangan pribadi atau situasi sosialnya dan berbagai hal tentang Aina agar
bisa memahami kondisi anak yang sebenarnya. Hal itu penting untuk menentukan
model pendidikan apa yang mesti diterapkan pada anaknya. Moment terbaik selalu
dicari untuk mendapatkan kunci pembuka gembok diary itu, tetapi Aina selalu
membawanya ke mana-mana.
Suatu hari,
ketika Aina sudah pergi ke sekolah, secara tidak disengaja Ismiyati menemukan
kunci gembok diary Aina tergeletak di atas meja belajarnya. Kemungkinan Aina
lupa membawanya. Inilah sebenarnya hal yang ditunggu-tunggu oleh Ismiyati.
Tanpa berfikir lama membuang kesempatan, kunci pun diambil dan mulai membuka
gembok diary itu. Alangkah terkejutnya Ismiyati begitu melihat tulisan di
lembar pertama dan kembali memasang gembok diary serta meletakan buku diary itu
ke tempat semula.
Apa yang membuat
Ismiyati terkejut, tertulis di lembar pertama “Bagi yang membuka diary ini
terserah Allah mau diapain.” Sungguh luar biasa dampak dari tulisan tersebut,
bukan takut dimarahi oleh pemilik buku tetapi mengkhawatirkan balasan dari
Allah karena membuka rahasia orang lain tanpa seizin pemiliknya.
Kalimat tersebut
menggambarkan betapa yakinnya seorang anak akan ke-Mahakuasa-an Allah sebagai
benteng terakhir yang mampu melindungi segala hal dari gangguan apapun.
Sekokoh-kokohnya kunci masih bisa dibongkar atau terlupa menguncinya, tetapi
Allah tidak akan lupa dan pengawasan-Nya tidak pernah lengah. Oleh sebab itu
Aina memasang tulisan itu sebagai perlindungan terakhir setelah upaya
lahiriyahnya dia lakukan dengan memasang gembok.
Menyimak
peristiwa tersebut menumbuhkan suatu keyakinan, bahwa tulisan yang berbobot
terutama yang bernilai Islami dan didasari oleh keyakinan yang utuh terhadap
Allah akan membawa dampak yang sangat positif, bukan hanya bagi penulisnya
tetapi bagi orang yang membacanya. Hal ini sejalan dengan visi dan misi FAM
Indonesia yang mempunyai motto “Membina dengan Hati Calon Penulis Islami.”
Dengan mengemban
visi dan misi tersebut, diharapkan bukan hanya tulisannya saja yang berbobot,
tetapi isinya bisa bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Tulisan hanya
sebuah kerangka yang tidak mempunyai arti apa-apa, dahsyatnya sebuah tulisan
akan ditentukan oleh seberapa bernilai isi tulisan tersebut.
[sumber:
www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment