SINOPSIS:
Aurel hidup di lingkungan Panti Asuhan yang didirikan oleh almarhum
Neneknya. Ia tinggal bersama ke tujuh belas adik-adiknya. Saat donatur panti mulai
sepi, hanya sahabatnya Ranti yang setia bersamanya membantu, meski ekonomi Ranti
sendiri dalam keadaan sulit mengingat Ranti hanya tinggal berdua bersama
neneknya.
Ranti yang memiliki impian bertemu orangtuanya yang tidak
diketahui keberadaannya, harus mengalami kejadian mengerikan. Ia terjatuh dari
atap gedung sekolahnya dan mengalami koma. Peristiwa itu membuat Aurel
sahabatnya shok.
Belum selesai dengan kejadian Ranti, Aurel dihadapkan
kenyataan pahit yang lain. Salah satu adiknya yang paling kecil mengidap
penyakit Leukemia yang memaksa Bunda serta Ayah Aurel menggadaikan rumah panti
mereka satu-satunya demi membiayai pengobatan adiknya tersebut. Aurel terpaksa
bekerja paruh waktu demi menutupi perekonomian keluarganya.
Meski tak ada donatur, dan Ayah Aurel terpaksa di PHK dari
tempatnya bekerja tak membuat Aurel putus asa. Ia terus menulis puisi dan
mengirimkannya ke media cetak meski cerpen-cerpennya selalu ditolak karena tak
layak terbit yang memaksanya memperbaiki dan menyimpannya.
Semangat Aurel itu menggerakkan hati para sahabat dan juga
pemuda yang mencintainya untuk lebih menghargai cinta dan pengorbanan. Mifta
dan Ali berangsur menjadi pemuda yang baik semenjak mengenal Aurel, Aurel mulai
menyayangi sesosok Mifta sebagai kakak yang diidamkannya, namun kejadian yang
lain datang, Adiknya meninggal saat pementasan, rumah Panti segera disita oleh
pihak pegadaian dan Ranti tak kunjung sadar.
Apa yang terjadi kemudian? Bagaimana nasib Aurel yang silih
berganti didera ujian dan cobaan? Rapuhkah ia? Tunggu tanggal terbit novel ini.
[Info pemesan dan penerbitan buku di FAM Publishing hubungi
No Hp. 0812 5982 1511 (Aliya Nurlela), atau kirim pesan ke
forumaktifmenulis@yahoo.com, atau kunjungi blog resmi FAM
www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment