Hubungan manusia
dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan, sering disebut hubungan
horizontal dan vertikal, dan setiap manusia pasti punya masalah sesuai dengan
kemampuannya masing-masing seperti dalam sajak ‘Aku’ yang diulas Tim FAM
Indonesia kali ini.
Pada baris
pembuka penulis puisi ini menulis kalimat yang sangat berlawanan:
Selama aku tidak menganggap masalah, masalah pun
tak menganggap aku ada
Jadi, artinya
masalah di sini hanya sebuah proses yang abstrak, sebuah simbol. Mari kita
simak baris di bawah ini:
Biarkan aku terlihat mengeluh, karna hanya Tuhan
yang tahu.
Sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur
Pada baris ini
puisi ‘Aku’ mempertegas masalah, sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur.
Biarkan aku terlihat mengeluh, mengeluh sebenarnya punya arti kekalahan, kesedihan,
tapi justru di puisi ‘Aku’ dipertegas lagi, karena hanya Tuhan yang tahu. Dan
jelas sekali Tuhan (dengan huruf T besar), artinya serius dan sungguh-sungguh
dengan ucapannya.
Pengulangan dalam
puisi ‘Aku’ sebagai tanda penegasan nampak jelas dan tegas. Seperti terlihat di
bawah ini:
Biarkan aku terlihat pendiam dan menunduk, karna
hanya Tuhan yang tahu.
Sesungguhnya aku sedang menghadapkan hatiku
pada-Nya.
Menghadapkan hati
pada-Nya dengan khusuk, dan diterima Tuhan yang tahu, sebuah kesungguhan
dipertegas lagi.
Aku….
Bukan selamanya ternilai dari yang terlihat,
Tapi tak selamanya pula terdefinisi dari apa yang
terbaca dan tertulis.
Aku….
Yaa hanya aku yang tahu dan mengerti.
Sebuah puisi
relegius yang diberi judul ‘Aku’ memang benar-benar menunjukkan ke “Aku”annya
yang tertutup dan rahasia penuh misteri, “ya hanya aku yang tahu dan mengerti”.
Sebuah doa dan
sebuah kesakralan yang terjadi pada diri individual. Dan tepatnya puisi ‘Aku’
memang enak di baca untuk diri sendiri, artinya kalau dibacakan puisi ‘Aku’ di
panggung kurang ada semangat. Kecuali puisi ‘Aku’ karya penyair angkatan 1945
Chairil Anwar yang penuh semangat dan bernyawa berkobar-kobar, hingga kini.
Koreksian EYD diantaranya:
Kata ‘karna”
seharusnya “karena” (terdapat dua kali ‘karna’), dan kata “Yaa” sebaiknya “Ya”.
Teruslah menulis.
Nikmati prosesnya dan lahirkan karya-karya yang semakin berkualitas.
Salam santun,
salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA
EDITING TIM FAM INDONESIA]
Aku
Oleh Husnul Mawaddah
IDFAM840M Anggota FAM Banda Aceh
Selama aku tidak
menganggap masalah, masalah pun tak menganggap aku ada
Biarkan aku
terlihat mengeluh, karna hanya Tuhan yang tahu.
Sesungguhnya aku
sedang bertasbih rasa syukur,
Biarkan aku
terlihat pendiam dan menunduk, karna hanya Tuhan yang tahu.
Sesungguhnya aku
sedang menghadapkan hatiku pada-Nya.
Aku….
Bukan selamanya
ternilai dari yang terlihat,
Tapi tak
selamanya pula terdefinisi dari apa yang terbaca dan tertulis.
Aku….
Yaa hanya aku
yang tahu dan mengerti.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar hanya
sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com

Comments
Post a Comment