Skip to main content

Ulasan Puisi “Samitra Sadajiwa” Karya Melati Pertiwi Putri (FAM Bekasi)

Menarik dan unik memang, ketika seorang penulis mampu menghadirkan kata-kata yang telah dianggap kuno, terpendam, dan banyak orang tidak tahu dengan arti yang dimiliki. Negeri kita sebenarnya cukup kaya untuk menggali unsur-unsur kebahasaan yang hampir dilupakan dan punah, berganti dengan istilah peradaban modern yang banyak mengacu dengan unsur-unsur luar.

Bila seorang penulis mampu memunculkaan kata-kata yang dianggap usang, justru akan membuat tulisan itu menjadi unik, menarik, dan punya daya tarik tersendiri. Makanya cukup banyak penulis-penulis terkenal mencoba menggali khasanah budaya bangsa kita itu, dengan merujuk berbagi sumber seperti ensiklopedia atau KBBI.

Samitra Sadajiwa, selintas seperti bahasa Sangskerta atau bahasa Jawa kuna. Di mana dalam keterangan di bawahnya penulis menjelaskan arti sebenarnya: persahabatan yang hidup selamanya.

Kita simak bait puisi berikut ini:

Ketika rona merah payungi bumi
Seberkas ultraviolet terbias di langit
Mengalir bisikan rumput pada bebatuan
Tentang kisah penghuni bumu

Dulu, seorang anak manusia
Tak kenal apa dan siapa
Bertumpu pada pijakan baru

Sebagai pemerhati perjalanan sebuah cerita asmara, penulis cukup mampu memulai mengenalkan seting cerita dengan latar nuansa alam yang tak pernah habis kita ungkap keindahannya.
Perkenalan dengan seorang tambatan hati memang tak akan pernah kita tahu kapan, siapa, di mana. Pada bait-bait pertama ini selintas digambarkan awal mulai sebuah pertemuan yang pada lanjutannya menjadi sebuah untaian-untaian indah asmara jiwa.

Kita simak lagi bait yang ini:

Satu demi satu ia sambut
Salam-salam hangat,
Malu, agak ragu,
Tapi bermakna sesuatu

Waktu mengalir cepat
Dinding putih tak lagi jadi sekat

Tiga tahun merajut
Cinta kasih, canda tawa
Isak tangis, suka duka
Emosi, saling bertaut

Ada semacam cerita asmara yang dikemas sedemikian rupa, dengan ramuan seperti cerita-cerita cinta zaman dulu, rasa malu dan rindu yang menggebu, menjadi debaran-debaran hati yang tak terlukis namun selalu indah kala mengenang dalam jarak yang terbentang dan sendiri.

Di sini, sebuah rasa yang tersebut di atas mengalir dalam benak pembaca saat menyelam rangkaian kata yang disusun dan dipadatkan begitu rupa. Ya, bila nilai dan estetika itu mampu muncul, sesungguhnya penulis dianggap cukup mampu memainkan emosi dalam tulisan yang dibaca .Dengan memadatkan makna yang luas dalam beberapa kata yang dipilih, sesungguhnya penulis telah menawarkan sebuah genangan yang cukup dalam.

Misteri cinta sepertinya tak pernah habis dan akan selalu ada. Tak selamanya apa yang telah dirintis sekian lama berakhir dengan cerita indah dalam sebuah mahligai kebersamaan. Cinta tak selalu harus bersama, cinta tak selalu berujung dengan saling memiliki.

Akhir cerita ini tersimpulkan bila kita simak di akhir bait puisi ini:

Ikatan terjalin bagai proton elektron
Saling menguatkan
Mata rantai persahabatan
Mereka kukuhkan
Di ujung perpisahan

Dua kata,
SAMITRA SADAJIWA

Cukup menyedihkan, namun akhir sebuah catatan perjalan cinta harus ditempuh dengan lain cerita. Persahabatan, ya persahabatan adalah sebuah hubungan yang bisa langgeng dipertahankan bila cinta tak mampu menautkannya.

Sebuah tema yang sangat menarik  untuk diangkat dalam sebuah puisi naratif. Dengan kemasan gaya bahasa yang sederhana penulis telah mampu memaparkan sebuah cerita dalam rangkaian kata-kata yang padat namun dalam makna.

Keindahan puisi ini cukup banyak kita temui, mulai dari kronologi kejadian, permainan rima, atau gaya-gaya bahasa yang dipakai.

Dengan semakin sering berlatih, membaca, dan mempelajari seni perangkaian kata maka imajinasi penulis yang muncul akan terkemas dalam puisi-puisi yang mantap dan mengena.
Perhatikanlah kembali konsep yang telah dibuat sebelum diposting dan dibaca khalayak ramai. Mungkin ada kesalahan pengetikan atau pemakaian tanda baca.

Selamat menulis. Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

SAMITRA SADAJIWA

Oleh Melati Pertiwi Putri

IDFAM939M Anggota FAM Bekasi

Ketika rona merah payungi bumi
Seberkas ultraviolet terbias di langit
Mengalir bisikan rumput pada bebatuan
Tentang kisah penghuni bumu

Dulu, seorang anak manusia
Tak kenal apa dan siapa
Bertumpu pada pijakan baru

Satu demi satu ia sambut
Salam-salam hangat,
Malu, agak ragu,
Tapi bermakna sesuatu

Waktu mengalir cepat
Dinding putih tak lagi jadi sekat

Tiga tahun merajut
Cinta kasih, canda tawa
Isak tangis, suka duka
Emosi, saling bertaut

Ikatan terjalin bagai proton elektron
Saling menguatkan
Mata rantai persahabatan
Mereka kukuhkan
Di ujung perpisahan

Dua kata,
SAMITRA SADAJIWA*

*Samitra Sadajiwa : Persahabatan yang hidup selamanya.


Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...