Menarik dan unik memang, ketika seorang penulis mampu
menghadirkan kata-kata yang telah dianggap kuno, terpendam, dan banyak orang
tidak tahu dengan arti yang dimiliki. Negeri kita sebenarnya cukup kaya untuk
menggali unsur-unsur kebahasaan yang hampir dilupakan dan punah, berganti
dengan istilah peradaban modern yang banyak mengacu dengan unsur-unsur luar.
Bila seorang penulis mampu memunculkaan kata-kata yang
dianggap usang, justru akan membuat tulisan itu menjadi unik, menarik, dan
punya daya tarik tersendiri. Makanya cukup banyak penulis-penulis terkenal
mencoba menggali khasanah budaya bangsa kita itu, dengan merujuk berbagi sumber
seperti ensiklopedia atau KBBI.
Samitra Sadajiwa, selintas seperti bahasa Sangskerta atau
bahasa Jawa kuna. Di mana dalam keterangan di bawahnya penulis menjelaskan arti
sebenarnya: persahabatan yang hidup selamanya.
Kita simak bait puisi berikut ini:
Ketika rona merah
payungi bumi
Seberkas ultraviolet
terbias di langit
Mengalir bisikan
rumput pada bebatuan
Tentang kisah penghuni
bumu
Dulu, seorang anak manusia
Tak kenal apa dan
siapa
Bertumpu pada pijakan
baru
Sebagai pemerhati perjalanan sebuah cerita asmara, penulis
cukup mampu memulai mengenalkan seting cerita dengan latar nuansa alam yang tak
pernah habis kita ungkap keindahannya.
Perkenalan dengan seorang tambatan hati memang tak akan
pernah kita tahu kapan, siapa, di mana. Pada bait-bait pertama ini selintas
digambarkan awal mulai sebuah pertemuan yang pada lanjutannya menjadi sebuah
untaian-untaian indah asmara jiwa.
Kita simak lagi bait yang ini:
Satu demi satu ia
sambut
Salam-salam hangat,
Malu, agak ragu,
Tapi bermakna sesuatu
Waktu mengalir cepat
Dinding putih tak lagi
jadi sekat
Tiga tahun merajut
Cinta kasih, canda
tawa
Isak tangis, suka duka
Emosi, saling bertaut
Ada semacam cerita asmara yang dikemas sedemikian rupa,
dengan ramuan seperti cerita-cerita cinta zaman dulu, rasa malu dan rindu yang
menggebu, menjadi debaran-debaran hati yang tak terlukis namun selalu indah
kala mengenang dalam jarak yang terbentang dan sendiri.
Di sini, sebuah rasa yang tersebut di atas mengalir dalam
benak pembaca saat menyelam rangkaian kata yang disusun dan dipadatkan begitu
rupa. Ya, bila nilai dan estetika itu mampu muncul, sesungguhnya penulis
dianggap cukup mampu memainkan emosi dalam tulisan yang dibaca .Dengan
memadatkan makna yang luas dalam beberapa kata yang dipilih, sesungguhnya
penulis telah menawarkan sebuah genangan yang cukup dalam.
Misteri cinta sepertinya tak pernah habis dan akan selalu
ada. Tak selamanya apa yang telah dirintis sekian lama berakhir dengan cerita
indah dalam sebuah mahligai kebersamaan. Cinta tak selalu harus bersama, cinta
tak selalu berujung dengan saling memiliki.
Akhir cerita ini tersimpulkan bila kita simak di akhir bait
puisi ini:
Ikatan terjalin bagai
proton elektron
Saling menguatkan
Mata rantai
persahabatan
Mereka kukuhkan
Di ujung perpisahan
Dua kata,
SAMITRA SADAJIWA
Cukup menyedihkan, namun akhir sebuah catatan perjalan cinta
harus ditempuh dengan lain cerita. Persahabatan, ya persahabatan adalah sebuah
hubungan yang bisa langgeng dipertahankan bila cinta tak mampu menautkannya.
Sebuah tema yang sangat menarik untuk diangkat dalam sebuah puisi naratif.
Dengan kemasan gaya bahasa yang sederhana penulis telah mampu memaparkan sebuah
cerita dalam rangkaian kata-kata yang padat namun dalam makna.
Keindahan puisi ini cukup banyak kita temui, mulai dari
kronologi kejadian, permainan rima, atau gaya-gaya bahasa yang dipakai.
Dengan semakin sering berlatih, membaca, dan mempelajari
seni perangkaian kata maka imajinasi penulis yang muncul akan terkemas dalam
puisi-puisi yang mantap dan mengena.
Perhatikanlah kembali konsep yang telah dibuat sebelum
diposting dan dibaca khalayak ramai. Mungkin ada kesalahan pengetikan atau
pemakaian tanda baca.
Selamat menulis. Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT PUISI
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
SAMITRA SADAJIWA
Oleh Melati Pertiwi Putri
IDFAM939M Anggota FAM
Bekasi
Ketika rona merah payungi bumi
Seberkas ultraviolet terbias di langit
Mengalir bisikan rumput pada bebatuan
Tentang kisah penghuni bumu
Dulu, seorang anak manusia
Tak kenal apa dan siapa
Bertumpu pada pijakan baru
Satu demi satu ia sambut
Salam-salam hangat,
Malu, agak ragu,
Tapi bermakna sesuatu
Waktu mengalir cepat
Dinding putih tak lagi jadi sekat
Tiga tahun merajut
Cinta kasih, canda tawa
Isak tangis, suka duka
Emosi, saling bertaut
Ikatan terjalin bagai proton elektron
Saling menguatkan
Mata rantai persahabatan
Mereka kukuhkan
Di ujung perpisahan
Dua kata,
SAMITRA SADAJIWA*
*Samitra Sadajiwa : Persahabatan yang hidup selamanya.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar hanya
sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com

Comments
Post a Comment