Skip to main content

Ulasan Puisi “Indah Senyum Terakhirmu” Karya Putri Anggraeni” (Gresik)


Sahabat FAM, hari ini kita mengulas sebuah puisi berjudul “Indah Senyum Terakhirmu” karya Putri Anggraeini (Gresik).

Husnul khatimah, satu kesimpulan yang tertangkap dari puisi yang singkat namun cukup padat ini. Banyak kita beranggapan saat sakratul maut datang menjemput seseorang akan tergambar bagaimana sakitnya ketika nyawa melepas dari raga. Entah rasa sakit bagaimana yang bisa melukiskan karena hanya seorang yang telah wafat yang tahu persis bagaimana sang malaikat maut datang menjemput.

Di sini sebagai orang yang ditinggalkan, kadang kita memberi sedikit kesimpulan proses sakratul maut itu apakah sesuatu yang perih luar biasa atau hanya sesuatu yang berjalan biasa saja. Ini biasanya kita simpulkan dari ekspresi wajah dari almarhum/ah saat terakhir melepas nyawa.

Apakah sebuah senyum kebahagiaan atau kepedihan menahan sakit yang tak terhingga? Wallahu a’lam.

Puisi ini sangat sederhana saat satu rasa yang dalam begitu bergayut dalam sebuah suasana duka yang masih terasa. Keikhlasan atas sebuah kepergian dari orang yang dicintai sepertinya sesuatu yang dicoba gambarkan. Begitulah seharusnya sikap seorang muslim yang taat dan percaya dengan semua qada dan qadar yang tertemui dalam sebuah perjalanan kehidupan. Kematian bukan sesuatu yang selalu kita pandang sebagai suasana untuk larut dalam duka yang menganga, menyesali, apalagi meratapi sebuah kepergian yang tak akan pernah kembali.

Secara moral puisi ini telah cukup berisikan pesan yang  memadai. Suasana yang digambarkan cukup sederhana namun begitu dalam makna.

Dari sebuah senyuman yang terlukis di wajah almarhum/ah penulis mengungkapkan kesan itu sebagai perumpamaan yang begitu indah yang pernah dia lihat. Di sini penulis menggambarkan keindahan senyum itu dengan kalimat:

Lebih lebut dari segundukan kapas
Lebih indah dari panorama terbitnya matahari di atas Bromo
Lebih becahaya dari kilauan bintang di angkasa|

Begitu luar biasanya sebuah senyum yang dia saksikan pada suasana itu. Dengan mengambil perumpamaan selembut kapas, seindah panorama di puncak Bromo, dan sekilau bintang di angkasa.

Gaya bahasa ini cukup memadai untuk mengungkapkan sebuah rasa. Memang dalam menulis sebuah puisi kita memerlukan pemakaian majas-majas atau gaya bahasa untuk memperkuat dan memperindah tiap diksi-diksi dalam puisi. Banyak gaya bahasa yang dapat kita pelajari, seperti personifikasi, simile, metafora, hiperbola, asonansi, aliterasi, dan lainnya. Ke semua gaya-gaya bahasa itu dapat dipelajari dari berbagai sumber yang mudah kita temukan.

Dalam dua kalimat terakhir semakin memperjelas apa yang dimaksud dalam puisi ini.
Penulis sengaja menjelaskan di akhir kalimat terhadap apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Ya, sebuah senyum terakhir saat menutup mata, untuk selamanya.

Apakah seorang penulis puisi perlu mempertegas maksud kandungan puisi yang sebenarnya kepada pembaca? Tidak ada salahnya, dan tidak selalu ini ditemukan dari penulis-penulis puisi lainnya. Bahkan ada penulis yang sengaja menyamarkan maksud pesan dalam puisinya, biarlah pembaca yang menilai, biarlah puisi itu berjalan dengan sendirinya, dan biarlah setiap orang yang membaca menafsirkannya. Maka bisa saja sebuah puisi punya penafsiran berbeda dari tiap orang yang membacanya.

Sah-sah saja. Begitulah mungkin sebuah nilai seni permainan kata.

Beberapa koreksi EYD mungkin kita perlukan sebagai perbaikan. Seperti pada judul, akan lebih bermakna bila cukup ditulis; "Indah Senyum Terakhirmu”

Kata "diwajahmu" seharusnya ditulis "di wajahmu”
"lebut" seharusnya "lembut"
"becahaya" seharusnya "bercahaya"

Sebenarnya kesalahan dalam penulisan ini diketahui oleh penulis, hanya karena tergesa dan lupa untuk merevisi kembali sesuatu yang baru saja ditulis, maka jadilah ini sesuatu yang tak kita harapkan. Ya, proses menenangkan sebuah karya, melihat kembali, memperbaiki bila diperlukan, adalah sesuatu yang sangat baik dilakukan untuk sebuah karya yang baik.

Selamat menulis, terus dan teruslah berkarya.

Salam santun.
TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Indah Senyumu Terakhirmu
Oleh Putri Anggraeni

IDFAM838M Anggota FAM Gresik

Tergurat senyuman indah diwajahmu
Senyuman itu…
Lebih lebut dari segundukan kapas
Lebih indah dari panorama terbitnya matahari di atas Bromo
Lebih becahaya dari kilauan bintang di angkasa
Senyuman itu…
Senyuman terakhir sebelum kau menutup mata
untuk selamanya

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...