Oleh Aliya Nurlela
“Nama Pena” menurut Wikipedia adalah sebuah nama samaran yang
diadopsi seorang penulis. Lebih mudahnya, nama pena adalah nama lain penulis
yang dipakai dalam tulisannya. Sebuah nama pena dapat digunakan untuk berbagai
tujuan, seperti: untuk membuat nama penulis lebih khas; untuk menyamarkan
gender-nya; untuk memberi “jarak” antara seorang penulis dengan beberapa atau
semua karyanya; untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh
tulisan-tulisannya; atau untuk sejumlah alasan yang berkaitan dengan pemasaran
atau presentasi estetika dari karya yang terkait. Nama penulis yang sebenarnya
bisa saja hanya diketahui oleh penerbit buku dan dijaga kerahasiaannya, atau
mungkin akan menjadi pengetahuan publik.
Tidak sedikit penulis yang menggunakan nama pena dalam
tulisannya. Tidak sedikit pula dari mereka yang menggunakan nama pena itu
akhirnya lebih populer dengan nama penanya. Bahkan nama aslinya banyak yang
tidak mengenal. Seperti sejumlah penulis yang sudah terkenal dengan nama
penanya: Pipiet Senja, Gola Gong, Asma Nadia, Remy Silado, dan lain-lain.
Menggunakan nama pena atau tidak, keputusan itu berada di tangan penulis. Silakan saja menggunakan nama pena atau nama asli dalam sebuah tulisan, itu hak penulis. Keputusan itu diambil, tentu sudah dengan alasan yang jelas. Ada yang merasa lebih nyaman menggunakan nama asli ketimbang nama pena. Namun, ada pula yang sebaliknya. Setiap pribadi pasti memiliki kenyamanan sendiri-sendiri tergantung cara pandang yang dipakai oleh masing-masing. Kita hargai pilihan itu.
Namun, menggunakan nama pena adakalanya terbentur dengan
urusan administrasi yang mengharuskan menggunakan nama asli. Harus menunjukkan
identitas diri, sesuai nama yang tercantum di KTP. Lebih-lebih ketika
berhadapan dengan orang yang ‘suka usil’ dalam arti kurang menghargai tulisan
orang lain. Saat tulisan kita dimuat dengan nama pena yang belum populer,
dengan entengnya berujar, “Di mana ciri yang menunjukkan bahwa ini memang
karyamu? Jelas-jelas nama ini dan namamu jauhnya antara barat dan timur?” Glek!
Gondok rasanya. ‘Cape-cape’ nulis, tak diakui. Begitulah kalau nama pena kita
belum dikenal dan belum melekat dengan diri kita.
Aku akan berbagi pengalaman saja, soal nama pena yang pernah
kugunakan. Waktu kecil, di awal-awal mengirim karya ke koran daerah, nama pena
yang kupakai adalah Ella Flamboyan.
Alasan memakai nama pena itu, karena Ella adalah nama panggilan sehari-hari di
rumah. Flamboyan adalah tambahannya. Sebab, sejak kecil aku sangat menyukai
bunga Flamboyan. Meskipun bunga itu langka, dan waktu itu hanya kulihat di
majalah. Tapi aku menyukainya karena keunikannya. Flamboyan memiliki bunga yang
indah. Ketika orang akan memandang keelokan bunganya, maka ia harus
menengadahkan muka ke atas karena pohonnya yang tinggi. Jika ingin memetik
bunganya, maka tidak bisa dipetik begitu saja seperti bunga-bunga lain yang
bisa dipetik sambil lewat. Untuk memetik bunga Flamboyan memerlukan waktu
khusus. Harus berjuang menaiki pohonnya. Barulah bisa meraih bunganya.
Flamboyan memiliki pohon yang kuat dan tinggi. Sebagian
besar bunga, pohonnya pendek dan mudah patah. Flamboyan berbeda, mirip
pohon-pohon kayu yang kokoh. Itulah pesonanya. Bunganya elok dipandang tapi
memiliki batang yang kuat. Nah, aku juga ingin menjadi seseorang yang elok
dipandang, tetapi tidak mudah dipetik. Memiliki jiwa yang kuat, tangguh dan
teguh memegang prinsip. Itulah alasanku mencomot nama bunga Flamboyan.
Nah, suatu hari bapakku pulang dari kantor. Seperti biasa
seminggu sekali koran daerah itu terbit, dan bapakkulah yang membawanya. Aku
sudah menanti koran itu, karena aku rutin mengirim setiap minggu ke koran
tersebut. Aku sudah yakin karyaku akan dimuat lagi. Aku berusaha meraih koran
yang ada di tangan bapakku. Tapi tidak biasanya, beliau langsung menyembunyikan
koran itu. Koran itu disembunyikan di balik bajunya. Aku merayu-rayu agar koran
itu diberikan dan kukatakan bahwa ada karyaku di sana. Apa jawaban bapakku?
“Rasanya di rumah ini tidak ada orang yang namanya Flamboyan. Tapi aneh di koran
ini ada tulisan dari orang yang bernama Flamboyan dan memakai alamat rumah ini,”
ujarnya sambil menatapku.
Aku langsung teriak, “Itu aku!” Tapi bapakku langsung
menyahut, “Rasanya tidak punya anak yang bernama Flamboyan. Aneh sekali.” Wah,
bapakku benar-benar menyindir. Bahkan langsung komentar, “Kenapa tidak pakai
nama bunga Jarong saja sekalian?” ucapnya mengagetkanku. Apa, bunga Jarong?
Tahukah sahabat bunga Jarong? Di daerah Sunda, bunga Jarong sangat terkenal
sebagai rumput liar yang daunnya bau menusuk dan selalu dikerubuti ulat-ulat
belang. Hiii… Bapakku yang religius, disiplin tapi humoris secara tidak
langsung mengingatkanku dengan cara menyindir. Artinya, ia tidak bangga aku
memakai nama pena itu. Waktu itu aku
bilang, “Ah, Abah enggak gaul banget!” Maklum aku masih remaja, nama
pena itu juga sebagai nama gaulku. Tapi, karya berikutnya aku ganti dengan nama
A. Nurlaella Sukarya. Nah, kalo ini bapakku senang karena namanya tercantum di
belakang nama asliku. Tak apa demi ayah tercinta, hi-hi-hi.
Ada juga kejadian saat aku rutin mengirim karya ke majalah
anak. Nama penaku kuganti lagi, menjadi Laila Faiq. Aku bertahan dengan nama
pena ini selama dua tahun. Nah, waktu itu aku mengirimkan dua buah tulisan ke
majalah anak tersebut. Hampir sebulan tulisanku tidak nongol di majalah yang
baru terbit. Akhirnya, aku anggap tulisanku tidak akan dimuat. Aku lupakan soal
naskah cerpen yang kukirim dan tidak berlangganan lagi majalah itu. Suatu
hari, ada pak pos ke rumah mengantar
lembaran wesel yang ditujukan untuk
Laila Faiq. Anehnya, aku sendiri lupa dengan nama pena itu. “Laila Faiq? Salah
alamat kali.” He-he-he aku lupa pernah memakai nama itu ke sebuah majalah. Tapi
pak posnya yakin alamat yang tertera di lembaran wesel itu tidak salah. Barulah
aku sadar, kalau itu ditujukan untukku setelah aku membaca pengirimnya.
Masalah belum berakhir. Datanglah aku ke kantor pos terdekat
untuk mengambil honor dimuatnya cerpenku, sebesar Rp25.000. Ternyata petugas
pos tidak bersedia mencairkan uangnya, karena nama yang terdapat dalam lembaran
wesel dan nama di KTP-ku sangat jauh berbeda. Aku disuruh menghubungi pihak
majalah dan meminta surat keterangan. Wih, setelah kuhitung-hitung untuk
mengurusinya saja membutuhkan biaya lebih dari Rp25.000. Ah, lebih baik honornya
tidak diambil saja.
Selanjutnya, sejak itu aku tidak lagi memakai nama pena.
Kembali ke nama asli Aliyah Nurlaella. Buku pertama terbit dengan nama asli
Aliyah Nurlaella. Tak ada kesalahan ketik. Penerbit itu sukses menulis nama
asliku. Tapi pada buku berikutnya, dengan penerbit yang sama, namaku menjadi
Alliyah Nurlaella. Double “l.” Disusul dengan kesalahan-kesalahan berikutnya.
Kadang ditulis Nurlaella atau Nurlela. Kadang Aliyah atau Aliya. Apakah sulit
mengingat namaku? Baiklah, aku sederhanakan saja menjadi Aliya Nurlela. Lebih
simpel. Insya Allah tidak mengubah arti dan tidak terlalu jauh dari nama
asliku.
Ya, sejak setahun lalu sudah kumantapkan memakai nama Aliya
Nurlela. Nama ini sudah kupakai dalam buku kumcer “Fesbuk” yang ditulis bersama
Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia. Alhamdulilah,
tak ada kendala. Apalagi sekarang pengambilan uang honor atau royalty tidak
lagi menggunakan jasa pos dengan memakai lembaran wesel. Pos sudah lebih maju.
Termasuk menggunakan jasa bank.
Nah, itulah sekelumit ceritaku yang pernah memakai nama
pena. Ada baiknya, tips dari Mbak Asma Nadia ini kita baca:
Kamu butuh nama pena kalau:
1. Namamu terlalu panjang/terlalu pendek/tidak menarik
Namamu susah dilafalkan. Beberapa nama berbau bahasa
arab/asing, tidak hanya susah dilafalkan (memerlukan makhorijul huruf yang buanget),
tapi juga susah diingat.
2. Namamu tidak pas dengan segmentasi tulisan yang kamu
buat.
Misalnya, kamu menulis fiksi untuk remaja. Tapi nama aslimu
justru tidak terkesan remaja, ex: Ummu Zainab. Bisa diperkirakan akan timbul di
hati pembaca keraguan untuk membeli buku remajamu, sebab nama pengarangnya jauh
dari kesan meremaja.
3. Namamu terlalu berat atau terlalu ringan bagi tulisan
yang kamu buat.
Misal kamu menulis tentang epik Islam, tapi namamu terlalu
gaul. Atau kamu menulis (dan akan konsisten di jalur itu) wacana sastra atau
artikel yang serius, dengan nama yang terkesan enteng.
4. Kamu pengen hidden
sebagai penulis. Sah saja kan biar nama aslimu tidak diketahui banyak orang.
Terakhir, kamu bisa memiliki nama pena kalau kamu mau. Mungkin
tidak perlu sebab namamu sendiri sudah oke, tapi kamu punya nama lain yang kamu
suka.
Sahabat FAM, ingin memakai nama pena atau nama asli? Itu
pilihan.
Salam santun, salam karya!
Sekjen FAM Indonesia
www.famindonesia.blogspot.com

Comments
Post a Comment