Sahabat FAM, hari ini FAM Indonesia mengulas sebuah
cerpen berjudul “Batik Mbak Saikun” karya Ainun Nihaya, anggota FAM Bekasi.
Cerpen ini menceritakan kisah seorang kakek bernama
Mbah Saikun, seorang petani yang hidup sederhana. Tetapi dalam kesederhanaannya
dia masih berupaya membiayai cucunya kuliah di Jakarta, dengan harapan cucunya
bisa menjadi pegawai kantoran dan bisa mengangkat derajatnya.
Mbah Saikun mempunyai sebuah batik prada kebanggaan
yang ia niatkan untuk dipakai saat wisuda cucunya.
Mulai ada keheranan ketika cucunya meminta uang lebih
banyak dari biasanya, tetapi Mbah Saikun memakluminya mungkin di kampusnya
sedang banyak kebutuhan. Tetapi yang membuat Mbah Saikun kaget, ketika datang
tamu yang menyebutkan sebagai staf administrasi dari kampus tempat cucunya
kuliah. Tamu tersebut menjelaskan maksud kedatangannya untuk menjemput Mbah
Saikun, tetapi tidak menjelaskan dijemput untuk apa.
Mbah Saikun mengira cucunya akan diwisuda lebih awal,
oleh sebab itu dia membawa batik pradanya.
Sesampai di Jakarta, harapan manis yang dinanti malah
kenyataan pahit yang dia alami. Cucunya yang diperkirakan diwisuda lebih awal,
ternyata terbunuh karena telah mencuri mobil. Cucunya nekat mencuri akibat
tidak punya uang lagi untuk membeli narkoba. Akhirnya batik pradanya bukan
dipakai untuk menghadiri wisuda cucunya tetapi malah digunakan untuk mengantar
cucunya ke pemakaman.
Mbah Saikun berpikir, setelah menghadiri pemakaman
anaknya akan dipakai apa lagi batik pradanya itu? Ternyata dia sendiri yang
memakainya di hari terakhirnya.
Ide ceritanya cukup menarik, tetapi penulis terlalu
banyak bercerita pada bagian pengantar, sebaliknya pada penampilan masalah,
klimaks dan penyelesaiannya masih perlu dipertajam lagi.
Perwatakan tokoh cerita cukup kental dengan
nilai-nilai agama, semangat mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Dari segi penulisan, penulis masih perlu lebih teliti
dalam menulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan penulisan akibat
kekurangtelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dapat dilihat pada kata-kata
yang diberi tanda merah (lihat blog FAM www.famindonesia.blogspot.com).
Penggunaan EYD masih perlu ditingkatkan lagi, terutama
penulisan kata setelah tanda baca koma (,) dan titik (.) seharusnya diberi
spasi, contoh: “…indah.Selepas…” seharusnya “…indah. Selepas….”
Penulisan kata setelah kata depan “ke” seperti pada
kata “kesawah” seharusnya ditulis “ke sawah”, dan lainnya.
Selamat berkarya, salam santun.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
BATIK MBAH SAIKUN
Oleh Ainun
Nihaya
IDFAM984U Anggota FAM Bekasi
Mbah Saikun merogoh kantung celana hitamnya yang
lusuh. Dia baru saja pulang memeriksa sawahnya yang akandigarap.
Musim panen sudah selesai dan padinya sudah habis terjual untuk biaya sekolah
cucunya di Jakarta.
Sekarang tibalah musim tandur (tanam bibit
baru), mbah Saikun baru sadar bahwa uang sisa
jual padinya tidak cukup untuk membeli bibit baru.Dia
merogoh kantungnya, berharap menemukan uang berapapun jumlahnya, tetapi
nihil.Mbah Saikun terpaku, namun segera tersenyum kembali.“MasyaAllah…
duwikku entek le…” lalu dia memutuskan untuk membeli bibit dengan uang
seadanya.
Sempat terpikir untuk berhutang, namun diurungkan
niatnya itu, takut tidak sanggup membayar. Dia selalu teringat akan umurnya
yang sudah 64 tahun, sejengkal lagi masuk liang kubur, kalo niru Rasulullah kan
sudah waktunya, begitu pikirnya.
Namun sesungguhnya, dalam lubuk hatinya mbah saikun punya sebuah mimpi, suatu hari akan
memakai baju batik kebanggaannya pada wisuda cucunya di Jakarta. Dia tersenyum senyum sendiri di amben rotan miliknya saat
sedang membayangkan hal tersebut.
Dia rela tak makan enak, tak punya springbed,
kepanasan di siang hari dan hidup di rumah gedek(bambu), asal cucunya bisa jadi
sarjana dan mengangkat derajat keluarganya. Mimpi itutelah
menghiasi hari-hari kakek ini sejak 3 tahun lalu.
‘InsyaAllah 1 tahun lagi’ pikirnya. Dan beban itu akan‘mentas’. Aku akan segera pensiun dari
menggarap sawah dan beristirahat di rumah sambil memperbanyak bekal untuk
menghadap Gusti Allah. Cucunya akan menjadi pegawai kantoran, hidup enak di
Jakarta dengan gaji bagus yang akan disisihkan sedikit untuknya setiap bulan.
Tetapi kali ini, ketika
cucunya meminta uang lebih banyak dari biasanya, mbah Saikun sedikit heran,
tetapi dia tidak mengeluh,cuma maklum. Lalu dia
akan tersenyum lagi sambil bergoyang-goyang di kursi goyang antik milik
ayahnya. Satu satunya harta sang ayah yangmasih tertinggal sampai kini. Semua demi
pendidikan sang cucu.
Ayahnya dulu adalah
seorang Carik(sekertaris
desa).Orang baik dan dihormati di desa Kedung jati ini.Tak lama
setelah mbah Saikun menikah, beliau meninggal karena penyakit TBC.Kini tiba-tiba dirinya sudah setua Ayahnya kala itu.Waktu
melesat cepat seperti panah.Bedanya panah tidak
pernah berbeloksaat hendak menuju sasaran.Sedang manusia, lebih sering mampir ketimbang
melesat lurus dalam alur menuju tempat perhentian terakhir.Karna
itu, dalam setiap do’anya, mbah Saikun hanya meminta agar dia dimatikan dalam
Iman Islam dan dijaga sisa keturunannya agar selalu terikat dalam tali Islam
yang kuat.
Belajar dari hal yang menimpa sang ayah, mbah Saikun
tidak merokok lagi. Ketika malam tiba, selepas shalat Isya dia akan duduk di kursi
goyangnya sambil bersenandung. Sebuah syair yang diajarkan oleh sang ayah
ketika kecil dulu. Syair dari seorang Abu Nawas yang sudah seperti pahlawan
baginya sejak ia mulai tau. Syair yang adalah sebuah permohonan bagi Sang
Pemilik Hidup.
DuhGusti, kulo sanes ahli suargo. Nanging kulo, mboten kiat dhateng naroko…
Duh Gusti, kulo nyuwun pangapuro, dosa kulo,
sa’bendino soyo njlodro…
Syair itu diulangnya berkali-kali.Hanya
itu yang bisa dia ingat. Sesekali dia akan berhenti untuk menyeruput teh hangat
kesukaannya, kehidupannya yang begitu sepi diterimanya dengan sabar tanpa
pernah mengeluh.
Dia memasak sendiri makanannya, menyiapkan sendiri pakaiannya.Tak ada tawa sumringah menyambut ketika
pagi, atau pujian sayang selepas pulang dari sawah.Anak
dan menantunya meninggal dalam kecelakaan ketika cucunya, Agus purnomo berusia
10 tahun. Sedang sang istri menyusul 4 tahun kemudian karena Diabetes. Jadilah
dia mengurus segalanya sendiri. Dan benar-benar sendiri, ketika cucunya
mengambil kuliah di Jakarta, demi masa depan. Suatu hal yang meski sudah
diambil ancang-ancang dan persiapan, masih belum tahu apa yang akan terjadi.
Hari ini mbah Saikun pulang lebih awal dari sawah,
memang begitu setiap hari jum’at.Biasanya dia
sudah berada di rumah pukul 10, lalu setelah bersiap siap dia langsung pergi ke
masjid yang terletak 200 meter dari rumahnya. Dia akan menyapu lantai masjid
dan menyiapkan karpet bagi kenyamanan para hamba Allah yang mencari Ridho Allah setiap hari jum’at. Tidak ada yang menyuruhnya,ini murni keinginan mbah Saikun sendiri.
Dia rutin melakukannya sejak bertahun tahun lalu dan tidak pernah absen
kecuali sedang sakit. Dia mengatakan ini sebagai ladang amal baginya.
Mbah Saikun akan pulang paling akhir dan jika tidak
sedang payah, saat pulang dia akan mengambil rute yang berbeda dari jalan yang
ditempuhnya ketika berangkat, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dan pada siang hari yang panas itu.Desa Kedungjati yang relatif sunyi di siang hari, karena
kebanyakan penduduknya pergi kesawah, tiba-tiba
menjadi agak terganggu oleh deru mobil yang mengangkat debu-debuke udara, dari jalanan coklat terang tak beraspal di
sepanjang desa itu.
Mobil itu berhenti di pekarangan sempit milik
mbah Saikun. Mereka mengetuk pintu kayu berusia puluhan tahun itu, tak lama
kemudian pintu terbuka.Iamempersila
hkan tamunya masuk, serta menjamu ala kadarnya. Mbah Saikun bertanya
tentang maksud kedatangan 2 orang tamunya itu, satu diantara
mereka terlihat masih muda dan seumuran cucunya.
Mbah Saikun kaget saat tamunya memperkenalkan diri
sebagai staf administrasi dari Universitas tempat cucunya menuntut ilmu, dan
memintanya untuk ikut ke Jakarta. Mereka tidak menjelaskan untuk tujuan apa,
bahkan ketika mbah Saikun menanyakannya. Mereka mengatakan akan menjelaskan
ketika sudah sampai di Jakarta nanti.
Kakek itu tersenyum penuh semangat, sepertinya belum
tiba waktunya wisuda, tetapi mungkin Agus mendapatkan wisudanya lebih cepat
dari yang lain, itu bisa saja terjadi pikirnya. Berbekal pemikiran itu, ia
mengambil Batik prada kebanggaannya, ditaruhnya dengan hati-hati dalam
tentengan tua yang nampak terawat meski sudah terlihat tidak baru lagi. Setelah
bersiap- siap,ia mengambil kopyah yang paling
bagus lalu berangkat bersama 2 orang tamunya tadi.
Rasanya, belum lama pesawat yang ditumpanginya lepas
landas, tiba-tiba dia sudah sampai di Jakarta. Tanpa istirahat, ia langsung
dibawa ke sebuah rumah yang besar namun bentuknya sederhana. Disitulah
kenyataan itu diungkap.Kenyataan pahit yang
membuat mbah Saikun tidak mampu berbicara dan hanya bisa memperhatikan
orang-orang dihadapannya satu persatu.
Cucunya, darah daging kebanggaannya, kemarin ditemukan
terbunuh di suatu tempat dengan luka tikam yang parah.Pelakunya
yang sudah ditangkap adalah temannya sendiri.Anak
muda yang tadi ikut menjemput mbah Saikun menjelaskan; bahwa setahun belakangan
Agus bertemu dengan orang-orang baru dan mulai mengkonsumsi ‘psikotropika’.Sebagai
teman satu kost, dia sudah berusaha menasihatinya, namun Agus tampaknya sudah
terlanjur terperosok dalam ke-asikannya mengkonsumsi barang ‘setan’ tersebut.Ketika sudah tidak memiliki uang, Agus
terlibat pertengkaran dengan mereka, dia lantas mencuri mobil temannya itu, dan
ketika mereka menemukannya, dia langsung dibunuh.
Astaghfirullah. Inna Lillaahi Wainna Ilaihi Raaji’un…Mbah Saikun menghela nafas dalam kesesakan batin yang parah.Dia mengerti sekali arti dari kalimat yang
diucapkannya tadi, manusia mesti pasrah. Semua yang hidup dan yang dimiliki
manusia nantinya pasti akan dikembalikan kepada Si Pemilik yang Hakiki. Untuk ituia tidak menangis.
Karena harus segera dimakamkan, maka diputuskan
jenazah Agus purnomo akan dikubuirkan di
Jakarta. Mbah Saikun menetap di rumah pemilik kost selama semalam.Dia bersimpuh di hadapan Tuhannya, menebar
sembah sujud tanpa henti. Dalam hati dia tak ingin mengakhiri shalat ini, saat
itulah dia menangis, dia membayangkan siksaan macam apa yang sedang diterima
cucunya di alam kubur. Andai ada ungkapan penyesalan yang lebih ampuh dari pada
menangis dan memelas, tentu dia akan melakukannya, agar cucunya bisa diampuni.
Dan sepanjang malam itulah malam terhidup bagi mbah Saikun. Karena dia sama
sekali tidak tidur kecuali berdiri dan sujud di hadapan Tuhannya.
Allah memberi ujian kepada hamba-Nya untuk menaikkan derajatnya.Sudah lewat 7 hari meninggalnya Agus
purnomo, sekarang mbah Saikun bergoyang goyang diatas kursi goyangnya.Baju batik kebanggaannya tergantung di
hadapannya. Dipandanginya penuh senyum, akan dipakai kemana lagi Batik indah itu selain ke pemakaman cucunya kemarin?
Mungkin akan dikenakannya sebelum dia dipanggil menghadap sang Khaliq,
pikirnya. Lalu ia memejamkan mata dan mulai bersenandung lagi. ‘Aduh Gusti,
kulo sanes ahli suargo…’ berulang ulang.
Menetes air dari matanya yang terpejam itu, terus
menerus. Bahkan setelah senandungnya berhenti di malam yang larut.
Hari jum’at, setelah sahalat
jum’at, speaker masjid di desa Kedungjati berbunyi. “Inna Lillahi Wainna
Ilaihi Raaji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, ayahanda kita, Saichu
Nurrahman bin Muhammad Yasin dalam usia…”.
Hari itu selepas jum’atan, mbah Saikun tidak pulang ke
rumah lewat rute yang berbeda, melainkan lewat jalan bebas hambatan, langsung
kepada Penciptanya.Dalam balutan baju Batik
pradanya yang indah.Selepas memanjatkan do’a,
‘Ya Allah Ya Gusti, matikan aku dalam iman, Islam serta khusnul khotimah,
Amiin.’
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment