Cerpen yang berkisah tentang kehidupan anak manusia yang
begitu menyentuh hati. Bagaimana ia menjalani hidupnya di usia yang masih
begitu belia, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya. Ibunya yang hanya
seorang buruh cuci tega meninggalkannya pagi-pagi, sampai ia belum sempat
menikmati lezatnya sarapan. Beruntunglah ada sesosok manusia berhati malaikat
yang bersedia membuatkannya sarapan.
Kisah di dalam cerpen ini mengingatkan kita kebenaran Firman
Allah di dalam QS. Albaqarah (2) ayat 83:
“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat
kebaikanlah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang
miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat
dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali
sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”
Ada beberapa koreksi ejaan, semiotika, sintaksis, dan EYD
demi sempurnanya cerpen ini, diantaranya:
1. “Za juga kangen Ibu. Za akan tinggal sama Ibu lagi kan?”
tanyanya penuh harap.
Sebaiknya: “Za juga merindukan Ibu. Za akan tinggal bersama
Ibu lagi, kan?” tanyanya penuh harap.
2. “Kapan-kapan main kesini lagi ya, Bu.”
Sebaiknya: “Kapan-kapan main ke sini lagi ya, Bu.” (perhatikan
pemenggalan “ke sini”, bedakan dengan “kemari”).
3. “Selagi masih diberi napas, kami tak akan melupakan
tempat ini dan juga Bu Asih. InsyaAllah kita akan dipertemukan lagi.”
Sebaiknya: “Selagi masih diberi napas, kami takkan melupakan
tempat ini dan juga Bu Asih. Insya Allah kita akan dipertemukan lagi.”
4. “Ini ada sedikit rezeki. Buat tambah beli susu
anak-anak,” ku angsurkan sebuah amplop ke arahnya.
Sebaiknya: “Ini ada sedikit rezeki. Sekadar tambahan membeli
susu untuk anak-anak,” kuangsurkan sebuah amplop kepadanya.
5. “InsyaAllah, Bu. Mohon do’anya semoga saya diberi
kekuatan dan kesabaran.”
Sebaiknya: “Insya Allah, Bu. Mohon doa, semoga saya diberi Allah
kekuatan dan kesabaran.”
6. “Sama-sama mendo’akan, Bu.”
Sebaiknya: “Saling mendoakan, Bu.”
7. Dan sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri sebuah
pelukan.
Penggunaan konjungsi "Dan" di awal kalimat terasa
janggal. Kata "sebuah" terasa kurang indah digunakan. Sebaiknya
dihilangkan, menjadi: Sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri pelukan.
8. Sesampai di mulut gapura bertuliskan “Darul Hadlonah”,
mereka melambaikan tangan melepas kepergian kami.
Sebaiknya: Sesampainya di mulut gapura yang bertuliskan
“Darul Hadlonah”, mereka melambaikan tangan melepas kepergian kami.
9. “Nunggu siapa, Dik?” aku menyapanya.
Sebaiknya: “Menanti siapa, Dik?” aku menyapanya.
10. “Belum keluar ya, Dik Fara-nya?”
Sebaiknya: "Dik Fara belum keluar?"
11. “Nggak usah,” suara kecil itu mencegah langkahku. “Biar
saja, Kak. Nanti juga keluar. Pasti nggak nyaman kalau diburu-buru.”
Sebaiknya: “Tidak perlu,” suara kecil itu mencegah
langkahku. “Biarkanlah, Kak. Sebentar lagi juga keluar. Kurang nyaman kalau
diburu-buru.”
12. Hatiku tersentil dengan ucapannya barusan.
Sebaiknya: Hatiku tersentil dengan ucapannya.
13. “Berarti kalau pagi kamu biasa nggak sarapan?”
Sebaiknya: “Berarti kalau pagi kamu terbiasa tidak sarapan?”
14. “Za makannya nanti siang kalau pulang sekolah.”
Sebaiknya: “Za, makannya nanti siang kalau pulang sekolah.”
(Perhatikan, ada tanda koma)
15. “Nggak lemas? Di sekolah kan butuh banyak tenaga buat
ngerjain tugas-tugas, buat olahraga, buat ngapain aja. Kalau perut kosong, mana
bisa mikir.”
Sebaiknya: "Tidak lemas? Di sekolah kan perlu banyak
tenaga untuk mengerjakan tugas-tugas, untuk berolahraga, untuk apa saja. Kalau
perut kosong, apa masih dapat berpikir?”
16. “Za sudah biasa, jadi nggak terasa.”
Sebaiknya: “Za sudah terbiasa, jadi tak terasa.”
17. “Itu nggak baik buat kesehatanmu. Kalau disuruh ibu
sarapan, ya sarapan dulu sebelum berangkat.”
Sebaiknya: “Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kalau disuruh Ibu
sarapan, ya sarapan dulu sebelum berangkat.”
18. “Ibu nggak pernah nyuruh, Kak. Tiap Za bangun ibu sudah
pergi.”
Sebaiknya: Ibu tidak pernah menyuruh, Kak. Setiap kali Za
bangun Ibu sudah pergi.”
19. “Ya sudah, ikut kakak ke dalam. Kita makan sama-sama.”
Sebaiknya: “Ya sudah.... Yuk, ikut kakak ke dalam. Kita
makan bersama-sama.”
20. Masakanku agak aku lebihkan. Jadi meski Za ikut makan,
tak akan mengurangi jatah yang lain.
Sebaiknya: Masakanku agak kulebihkan. Jadi meski Za ikut
makan, takkan mengurangi jatah yang lain.
21. “Enak, Kak. Za suka mendoannya. Garing,” katanya di sela
mulut yang sibuk mengunyah.
Sebaiknya: Kata garing bercetak miring, atau diganti
“renyah”.
22. “Jangan sambil ngomong. Tersedak nanti.” Dia nyengir, menampakkan
rentetan gigi susunya.
Sebaiknya: “Jangan sambil berbicara. Tersedak nanti!” Dia
nyengir, menampakkan deretan gigi susunya. (kata "nyengir" dibuat
miring).
23. Ia colekkan ke sambal tomat yang ku buat agak pedas.
Sebaiknya: Ia colekkan ke sambal tomat yang kubuat agak
pedas.
24. Usai sarapan, ku antar dia ke sekolah karena Fara
ternyata sudah berangkat.
Sebaiknya: Usai sarapan, kuantar dia ke sekolah karena Fara
ternyata sudah berangkat.
25. Seperti sebelumnya, ia sudah duduk di dipan bambu
sewaktu pintu kos ku buka.
Sebaiknya: Seperti sebelumnya, ia sudah duduk di dipan bambu
sewaktu pintu kos kubuka.
26. “Hari ini bukan piket kakak. Kakak nggak masak.”
“Yaah... Nggak ada mendoan dong!” ia kecewa. “Kenapa? Kamu belum sarapan lagi?”
Sebaiknya: “Hari ini bukan jadwal piket kakak. Kakak tidak
masak.” “Yaah... tak ada mendoan lagi, dong!” Ia kecewa. “Ada apa? Kamu belum
sarapan lagi?”
27. Menerlantarkan anak sekecil itu.
Sebaiknya: Menelantarkan anak sekecil itu.
28. ...jadi ku ajak Za...
Sebaiknya: ...jadi kuajak Za...
29. Ku comot juga beberapa tempe mendoan yang tergelar di
atas meja.
Sebaiknya: Kucomot juga beberapa mendoan yang ada di atas
meja. (Perhatikan bahwa frase “tempe mendoan” kurang efektif, karena semua
mendoan pasti terbuat dari tempe. Jadi agar efektif, cukup ditulis “mendoan”
saja. Kata "mendoan" bercetak miring, karena merupakan istilah atau
kata serapan yang berasal dari istilah bahasa Jawa).
30. “Ibumu kerja apa?”
Sebaiknya: “Ibumu bekerja sebagai apa?”
31. “Nggak tahu. Kata ibu pak Bowo itu orang kaya....
Sebaiknya: “Tidak tahu. Kata ibu, Pak Bowo itu orang
kaya....
32. “Ayahmu kerja apa?”
Sebaiknya: “Ayahmu bekerja sebagai apa?”
33. “Ayah nggak ada, Kak. Dulu ibu selalu bilang kalau ayah
pergi ngaji. Tapi orang-orang bilang ayah sudah meninggal.”
Sebaiknya: “Ayah sudah tiada, Kak. Dulu ibu selalu berkata
bahwa ayah pergi untuk mengaji. Tapi orang-orang berkata ayah sudah meninggal.”
34. “Nggak boleh gitu.”
Sebaiknya: dicetak miring.
35. “Uh! Rasa mendoannya aneh. Nggak enak.”
Sebaiknya: “Uhh!!! Rasa mendoannya ANEH! TIDAK ENAK!!!”
36. Menghargai yang sudah susah payah buat. Kamu sendiri
nggak bisa buat mendoan kan?” Dia nyengir saja.
Sebaiknya: Biasakanlah untuk menghargai orang yang sudah
susah-payah membuatnya. Kamu bahkan tidak dapat memasak mendoan, kan?” Kata "nyengir" dicetak miring.
37. Dan akhirnya, pagi itu pun ku antar lagi dia ke sekolah.
Sebaiknya: Pagi itu juga, kuantar lagi dia berangkat ke
sekolah.
38. Tapi karena Za makannya kelamaan, dan Fara...
Sebaiknya: Mengingat Za makan terlalu lama, dan Fara...
39. …ku ikuti…
Sebaiknya: …kuikuti…
40. ….panitia sentral. Sebaiknya: …panitia inti atau panitia
utama
41. Ku tanyakan pada Fara, dia bilang Za sudah seminggu tak
masuk sekolah.
Sebaiknya: Kutanyakan kepada Fara, dia berkata bahwa Za
sudah seminggu tak masuk sekolah.
42. Tak tenang, ku putuskan berkunjung ke rumahnya. Ku ajak
Fara sebagai penunjuk jalan.
Sebaiknya: Tak tenang, kuputuskan berkunjung ke rumahnya.
Kuajak Fara sebagai penunjuk jalan.
43. “Kamu bawa sepeda kakak saja. Bisa kan?”
Sebaiknya: “Kamu bawa saja sepeda Kakak. Bisa, kan?”
44. Hatiku tak henti menggerundel sejalan-jalan.
Sebaiknya: Hatiku tak henti menggerutu di sepanjang jalan.
45. ...yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya.”
Sebaiknya: ...yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.”
46. ...duduk dalam angkot...
Sebaiknya: ...duduk di dalam angkot...
47. …Nanti kakak buatkan mendoan sama sambal tomat
kesukaanmu.”
Sebaiknya: …Nanti Kakak akan membuatkan mendoan dan sambal tomat kesukaanmu. (Kata “mendoan” bercetak
miring)
48. “Benar Kak?”
Sebaiknya: “Benar, Kak?” (Perhatikan tanda koma)
49. Saat ku bujuk, dia bersikeras...
Sebaiknya: Saat kubujuk, dia bersikeras...
50. “Saya ada teman yang punya usaha laundry. Saya akan bantu Ibu agar bisa bekerja di tempat teman saya
itu.”
Sebaiknya: "Temanku punya usaha laundry. Saya akan membantu Ibu agar dapat bekerja di tempatnya.”
Secara umum tema cerita ini menarik. Sejumlah koreksian
hanya sekadar saran dan sedikit perbaikan. Teruslah menulis, terus dan terus.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Sarapan untuk Za
Oleh Siti Khoiruniyah
IDFAM910U Anggota FAM
Kudus
“Ibu...!!!” seorang gadis kecil menghambur ke pelukan bu
Maryam.
“Maafkan Ibu, Za. Ibu kangen,” bu Maryam tak dapat
membendung air matanya.
“Za juga kangen Ibu. Za akan tinggal sama Ibu lagi kan?”
tanyanya penuh harap.
Bu Maryam mengangguk lembut. Za mempererat pelukan dan
bergelayut manja.
“Barang-barang Faza sudah kamu kemasi, Da?” suara bu Asih
menyadarkan ibu dan anak yang tengah larut dalam keharuan.
“Sudah, Bu.”
Gadis bernama Ida itu bergegas masuk. Lalu dengan gesit ia
kembali ke tengah-tengah kami menenteng sebuah tas besar berwarna hitam.
“Kami undur diri dulu, Bu. Terima kasih sudah merawat Za,”
bu Maryam merengkuh bu Asih.
“Kapan-kapan main kesini lagi ya, Bu.”
“Selagi masih diberi napas, kami tak akan melupakan tempat
ini dan juga Bu Asih. InsyaAllah kita akan dipertemukan lagi.”
“Bu Asih,” suaraku melerai pelukan mereka berdua.
Bu Asih menoleh padaku.
“Ini ada sedikit rezeki. Buat tambah beli susu anak-anak,”
ku angsurkan sebuah amplop ke arahnya.
Bu Asih menerimanya, lalu menjabat erat tanganku dan
memelukku.
“Terima kasih, Nak. Semoga amal baikmu diterima Allah dan
dibalas dengan balasan berlipat ganda.”
“Amin...”
“Faza jangan nakal ya.” Bu Asih mengelus-elus rambut Za.
“Kami pamit sekarang, Bu.”
“Hati-hati di jalan ya, Bu. Titip Za. Jangan pernah putus
asa merawatnya. Dia anak Ibu sendiri. Apalagi dia anak yatim. Di balik semua
kerewelan dan kesulitan mengasuhnya, tersembunyi pahala yang luar biasa bila
kita bersabar.”
“InsyaAllah, Bu. Mohon do’anya semoga saya diberi kekuatan
dan kesabaran.”
“Sama-sama mendo’akan, Bu.”
Dan sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri sebuah
pelukan.
Kami bertiga beriringan menyusuri pelataran bersemen yang
dikelilingi pagar bambu. Di belakang kami membuntut bu Asih dan Ida. Sesampai
di mulut gapura bertuliskan “Darul Hadlonah”, mereka melambaikan tangan melepas
kepergian kami.
Anganku menerawang ke suatu masa yang menjadi permulaan
perkenalanku dengan ibu dan anak ini.
Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya. Aku bangun jam tiga,
mandi, sholat malam, lalu berkutat di dapur. Hari itu giliranku memasak untuk
seisi kos. Kami memang sepakat untuk tidak makan di luar sebab kami ingin
berhemat. Kami juga ingin belajar masak sebagai bekal berkeluarga nanti. Sebab
itu kami bentuk piket masak bergantian tiap hari.
Tepat jam enam aku keluar hendak membeli kerupuk. Sesampai
di luar, aku setengah kaget dengan keberadaan seorang anak berseragam putih
merah, duduk di dipan bambu di samping pintu.
“Nunggu siapa, Dik?” aku menyapanya.
“Nunggu Fara, Kak,” ia malu-malu.
Fara anak ibu kosku. Rumah ibu kos persis di depan
kamar-kamar kos kami.
Tak ada yang istimewa pada bocah itu yang membuatku
memperhatikannya lebih lama. Aku segera berlalu ke tujuan semula.
Tak sampai sepuluh menit aku sudah kembali. Anak perempuan
itu masih duduk terpekur seorang diri.
“Belum keluar ya, Dik Fara-nya?”
“Belum, Kak.”
“Kakak panggilkan ya.”
“Nggak usah,” suara kecil itu mencegah langkahku. “Biar
saja, Kak. Nanti juga keluar. Pasti nggak nyaman kalau diburu-buru.”
Hatiku tersentil dengan ucapannya barusan. Aku mendekati
dipan bambu, duduk di sampingnya. Hening sesaat. Dia membandul kakinya yang
bergelantungan.
“Kamu sudah sarapan?” iseng aku bertanya daripada membisu
saja.
“Belum.”
“Kok belum?”
“Biasanya memang begitu.”
“Oh. Kamu jajan nasi di sekolah?”
Dia menggeleng.
Aku mengeryit.
“Za makannya nanti siang kalau pulang sekolah.”
“Berarti kalau pagi kamu biasa nggak sarapan?”
Dia mengangguk.
“Nggak lemas? Di sekolah kan butuh banyak tenaga buat
ngerjain tugas-tugas, buat olahraga, buat ngapain aja. Kalau perut kosong, mana
bisa mikir.”
“Za sudah biasa, jadi nggak terasa.”
“Itu nggak baik buat kesehatanmu. Kalau disuruh ibu sarapan,
ya sarapan dulu sebelum
berangkat.”
“Ibu nggak pernah nyuruh, Kak. Tiap Za bangun ibu sudah
pergi.”
“Kemana?”
“Kerja.”
“Oh.”
Sejurus aku terdiam.
“Ya sudah, ikut kakak ke dalam. Kita makan sama-sama.”
Masakanku agak aku lebihkan. Jadi meski Za ikut makan, tak
akan mengurangi jatah yang lain.
“Enak, Kak. Za suka mendoannya. Garing,” katanya di sela
mulut yang sibuk mengunyah.
“Jangan sambil ngomong. Tersedak nanti.”
Dia nyengir, menampakkan rentetan gigi susunya.
Ia asyik menggado mendoan buatanku. Ia colekkan ke sambal
tomat yang ku buat agak pedas.
Usai sarapan, ku antar dia ke sekolah karena Fara ternyata
sudah berangkat. Fara berangkat tanpa tahu bahwa teman yang menunggunya sedang
makan bersamaku di dalam.
Hari berikutnya ia datang lagi. Seperti sebelumnya, ia sudah
duduk di dipan bambu sewaktu pintu kos ku buka.
“Kok pagi sekali? Belum jam enam ini.”
“Za mau bantuin Kakak masak,” tuturnya lugu.
“Hari ini bukan piket kakak. Kakak nggak masak.”
“Yaah... Nggak ada mendoan dong!” ia kecewa.
“Kenapa? Kamu belum sarapan lagi?”
Dia mengangguk.
Aku mendesah kecil. Keterlaluan sekali ibunya, pikirku.
Menerlantarkan anak sekecil itu. Pagi-pagi sudah pergi kerja dan tak
menyediakan apa-apa untuk sarapan keluarga.
Karena aku tahu jatah sarapan kami pasti dibuat ngepas dan
tak dilebihkan, jadi ku ajak Za ke warung makan dekat kos. Aku pesan sebungkus
nasi. Ku comot juga beberapa tempe mendoan yang tergelar di atas meja.
“Ibumu kerja apa?”
“Nyuci, Kak.”
“Nyuci?”
“Ibu nyuciin baju-bajunya pak Bowo.”
“Siapa pak Bowo?”
“Nggak tahu. Kata ibu pak Bowo itu orang kaya. Tapi sudah
tua dan sering sakit.”
Aku manggut-manggut.
“Ayahmu kerja apa?”
Dia menatapku sekilas sebelum menjawab.
“Ayah nggak ada, Kak. Dulu ibu selalu bilang kalau ayah
pergi ngaji. Tapi orang-orang bilang ayah sudah meninggal.”
Di hatiku tiba-tiba terbersit rasa iba. Aku mengelus
kepalanya.
“Uh! Rasa mendoannya aneh. Nggak enak.”
“Nggak boleh gitu. Itu namanya menghina makanan. Enak nggak
enak, asal nggak bikin kita sakit atau mati, habiskan saja. Menghargai yang
sudah susah payah buat. Kamu sendiri nggak bisa buat mendoan kan?”
Dia nyengir saja.
Dan akhirnya, pagi itu pun ku antar lagi dia ke sekolah.
Fara tahu kalau Za menunggunya. Tapi karena Za makannya kelamaan, dan Fara
sudah diteriaki mamanya karena tak kunjung berangkat, jadilah Fara berangkat
lebih dulu, meninggalkan Za.
Hal itu berulang lebih dari seminggu. Hingga akhirnya di
suatu hari...
“Ini kan bukan hari Rabu, Za. Jadi bukan kakak yang masak.
Nggak ada mendoan,” jawabku agak sengal. Aku duduk di dipan bambu, mengenakan
kaus kaki dengan terburu-buru. Sebuah organisasi kampus yang ku ikuti
menyelenggarakan acara penting. Dan aku menjadi salah satu panitia sentral
sehingga harus datang pagi-pagi sekali.
“Kakak kasih uang ya. Kamu sarapan saja di warung biasanya.”
Dia menggeleng.
“Za maunya sama Kakak,” ia merajuk.
“Kakak buru-buru, Za. Nggak sempat sarapan.”
“Kalau Za ditinggal Fara, nanti berangkat sekolahnya
gimana?”
Aku mendengus kesal. Bukankah sebelumnya dia biasa jalan
kaki? Protesku dalam hati. Toh sekolahnya tak jauh-jauh amat. Lagi pula hanya
untuk hari ini. Besok-besok kalau sudah tak sibuk aku juga mau mengantarnya ke
sekolah lagi.
“Kamu bawa sepeda kakak saja. Bisa kan?”
Dia menggeleng lagi.
Aku mulai kehilangan kesabaran.
“Ya sudah, jalan kaki saja kalau gitu. Kakak berangkat
dulu.”
Aku bergegas pergi dari hadapannya tanpa mengucap salam.
Berharap agar dia tak punya kesempatan membela diri dan membingungiku dengan
hal-hal sepele itu lagi.
Hatiku tak henti menggerundel sejalan-jalan. Kejenuhan
mengurus Za yang tertimbun berhari-hari, ditambah tenagaku yang nyaris terkuras
oleh acara organisasi, tumpah di pagi itu.
Hari cepat berlalu. Senin kembali ke Senin. Tapi aku tak
pernah melihat Za datang lagi. Mungkinkah Za tersinggung dengan sikapku tempo
hari? Hatiku menebak-nebak. Ku tanyakan pada Fara, dia bilang Za sudah seminggu
tak masuk sekolah. Aku khawatir.
Tak tenang, ku putuskan berkunjung ke rumahnya. Ku ajak Fara
sebagai penunjuk jalan. Kami menemui ibunya. Setelah tahu maksud kedatanganku,
bu Maryam menceritakan semuanya.
Pak Bowo, satu-satunya tumpuan ekonomi bu Maryam, meninggal
karena penyakit yang dideritanya. Sepeninggal pak Bowo, bu Maryam tak menaruh
banyak harapan pada keluarga itu. Anak-anak dan ahli waris pak Bowo sibuk
dengan harta peninggalan dan mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri. Lagi
pula selama ini yang ia cuci hanya pakaian pak Bowo. Karena tentu tak akan ada
orang yang mau mencuci pakaian yang dipenuhi kotoran manusia. Anggota keluarga
lainnya sudah punya laundry langganan sendiri-sendiri.
Aku memahami posisi Bu Maryam. Memang sulit bila tiba-tiba
kita ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang bisa kita andalkan.
“Anak yatim kadang lebih menjengkelkan daripada anak-anak
lainnya. Tapi memang seperti itulah Allah telah mengaturnya. Itu hanya ujian
kesabaran bagi kita yang merawatnya. Tapi pada akhirnya semua itu akan mendapat
balasan yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya.” Teringat aku akan perkataan Bu
Asih saat melepas kami tadi.
“Za, mulai besok pagi kamu boleh sarapan sama kakak terus,”
aku memecah keheningan. Sudah setengah jam kami duduk dalam angkot yang akan
membawa kami pulang. Waktu selama itu kami habiskan dalam kebisuan, tenggelam
dalam angan masing-masing. Za yang biasanya suka mengoceh, kini mulutnya pun
terkatup dengan mata yang lurus memandang keluar jendela. “Kalau mau berangkat
sekolah, kamu ke kos kakak dulu. Nanti kakak buatkan mendoan sama sambal tomat
kesukaanmu.”
“Benar Kak?” seketika dia menoleh ke arahku.
Aku mengangguk mantap. Matanya berbinar.
Aku sudah bicara dengan bu Maryam. Saat ku bujuk, dia
bersikeras tak mau menjemput Za karena merasa sudah tak mampu merawat dan
membiayai sekolahnya.
“Saya ada teman yang punya usaha laundry. Saya akan bantu
Ibu agar bisa bekerja di tempat teman saya itu.”
“Dan soal Za, saya bersedia membuatkan sarapan untuknya tiap
pagi, Bu.”
Usai bicara seperti itu, bu Maryam seketika memelukku. Lalu
ia mengajakku menjemput Za di panti asuhan.
Yang ada dalam pikiranku kini, aku harus lebih produktif
lagi. Agar lebih banyak bukuku yang terjual, sehingga lebih banyak lagi
masukan. Untuk kebutuhanku sehari-hari, untuk skripsiku, dan untuk sarapan Za.
Percakapan Obrolan Berakhir.
Ket: Gambar hanya
sekadar ilustrasi, diambil dari google.com
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment