![]() |
| LINA SAPUTRI DAN SUAMI |
Amazing. FAM forum mantap semantap cintaku kepada kekasihku.
Forum yang benar-benar magic dan
mempunyai kharismatik keajaiban yang bisa melahirkan cinta. Sungguh!!! Mungkin
hati Anda bertanya-tanya apa hubungannya FAM dengan cerita cinta dan mengapa
saya begitu membanggakan FAM? Seolah gelar super istimewa memang pantas
disandang untuk para pendiri FAM Indonesia. Apakah Anda percaya, FAM bisa
menyatukan dua hati yang bersiteru sekian lama hanya dalam sepuluh menit? Anda
yakin ingin tahu? Baiklah, di bawah ini adalah cerita nyata tentang saya yang
terkait "FAM" di dalamnya yang ingin saya bagi kepada teman-teman
semua. Not a problem to share stories and
this story may be a positive inspiration for those of you who love to write.
Tahukah Anda, dulu sekali, ketika saya berambisi menjadi
seorang penulis, saya bertekad ingin memperdalam ilmu menulis dengan bersikap
keras akan melanjutkan sekolah di bidang sastra. Tetapi, keinginan itu terpaksa
diurungkan ketika biaya pendidikan melilit langkah saya. Maklum saya bukanlah
dari kalangan yang berada, alias kere.
Awan mendung di wajah sudah tak dapat menahan butiran kristal bening di pelupuk
mata hingga terjatuh membuat telaga kesedihan dengan pupusnya harapan begitu
saja. Saya harus berhenti sekolah. Ya, cita-cita itu akhirnya terlantar di
tengah jalan karena faktor biaya sekolah sastra ternyata bukanlah metode
belajar yang bernilai gratis. Ingin mendapat pendidikan berkelas yang bermutu
tinggi? Mustahil untuk saya raih. Bukan hal yang mudah untuk orang seperti saya,
yang tumbuh dalam kehidupan ekonomi yang pas-pasan. Adanya pendidikan yang
efektif dan efisien tentunya ada harga akurat yang akan menguras dompet dari
setumpuk biaya mahal yang wajib ditanggung nantinya. Tak masalah buat orang
berkantong tebal, tapi badai tsunami buat seorang anak petani desa seperti
saya. "Menangis" hanya itu yang bisa saya lakukan di penghujung kata
ketika harus melepas seragam SMA.
Menikah muda adalah jalan satu-satunya untuk memperbaiki kualitas
hidup seorang miskin seperti saya dengan menerima lamaran Mas Hendra, anak
orang berada dari kampung sebelah yang usianya saat itu hanya terpaut lima
tahun lebih tua dari saya. Tak ada alasan untuk menolak, walaupun saat itu saya
masih berusia 17 tahun dan berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku kelas
2 SMA merupakan rintangan selanjutnya yang membentangi keinginan saya untuk
menjadi penulis. Sebagai ibu rumah tangga muda yang berpikiran masih labil, cita-cita
menjadi penulis sebenarnya tak pernah padam walaupun terkadang keinginan itu
senantiasa berlandas pasang surut di hati saya. Saat itu, saya tak pernah
berpikir untuk mengirimkan karya-karya saya ke media padahal ada penerbit yang
mau menerima naskah dari pengirim yang berstatus umum. Tapi tetap saja harus
dipahami membuat tulisan lalu berminat menembuskannya ke media bukanlah perkara
yang mudah, karena tanpa pembelajaran dan pencermatan tak akan menghasilkan
karya yang benar-benar baik. Jika begitu maka tulisan kita akan dipandang
seperti sampah yang tak bermutu, tak layak dipajang apalagi dipublikasikan.
Karena cara penulisan yang salah atau isi yang tak berbobot bagai memakan
makanan lezat tapi tak ada gizinya. Tulisan yang salah = “sampah” yang
sebaiknya diberikan saja kepada tikus di gudang untuk menelannya bulat-bulat,
daripada menunggu diterbitkan sampai ubanan hanya akan mengikis harapan hampa,
karena penerbit butuh karya yang berkualitas bukan yang asal jebolan asap. Ya,
setidaknya begitulah pemikiran saya terhadap penerbit.
Sampai pada akhirnya, saya mendapat kabar dari teman akan
pendidikan sekarang yang semakin maju. Sekolah pun bisa dilanjutkan dengan
mengikuti program paket C. Keinginan menjadi seorang penulis membuat saya
kembali tersenyum bersemangat dengan adanya modal dan fasilitas yang kini
mendukung hobi saya.
Tapi sungguh kecewa, lagi-lagi saya harus merelakan
keinginan itu hilang ditelan waktu dan semangat harus padam walaupun impian itu
masih ada. Keinginan itu benar-benar kandas, ketika suami saya menentang untuk
berpisah jika saya masih bersikap keras ingin melanjutkan sekolah sastra.
Alasannya sepele, suami saya berpendapat yang menurut saya pemikirannya itu
konyol dan kolot walaupun sedikit masuk akal. Menurutnya, sekolah itu akan
menyita banyak waktu yang harusnya saya habiskan untuk menjaga anak (walaupun
ada pembantu yang juga menjaga anak saya) dan katanya lagi, bukan tidak percaya
kepada saya, tapi wajib waspada karena melanjutkan kursi pendidikan setelah
menikah juga memicu adanya perselingkuhan di antara kami setelah nanti saya
harus sibuk belajar di balik tumpukan buku setiap hari dan banyaknya kegiatan
yang bla bla bla. Sungguh, pendapat itu bagaikan pukulan yang sakit buat saya
terima. Demi Tuhan, tak pernah terlintas di pikiran saya untuk meduakan cinta
apalagi mengingat sekarang saya sudah punya anak. Lha… Apa hubungan dengan FAM?
Simak saja dulu cerita selanjutnya, oke?
Akhirnya, saya putuskan untuk berhenti mengejar harapan
menjadi penulis dengan berganti propesi sebagai wirausaha di bidang pemasaran
kaos dan gaun remaja juga merangkap sebagai kepala agen beras di daerah Batola,
karena pekerjaan itu lebih mendapat dukungan penuh dari suami dan keluarga.
Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hati saya, itu bukanlah dunia yang ingin saya
geluti dalam bidang bisnis yang menguras otak dan pikiran dengan sistem
hitungan ilmu matematik. Saya anak bahasa yang lebih tertarik dalam seni sastra
yang telah lama terhipnotis oleh pujangga dunia, salah satunya Khalil Gibran.
Dia tokoh idola saya. Sakit hati, ya itu pasti ada! Terlalu munafik jika saya
tak mengakui kehilangan cita-cita dan hobi adalah rasa yang tak pernah
bersahabat dengan pilihan saya.
Ada air mata yang tak berujung, yang saya simpan dalam sepi
setiap waktu yang saya jalani. Bahkan, saya harus merelakan impian menjadi
seorang penulis ibarat bagai bangkai mati yang harus di kubur dalam perut bumi.
Itulah alasan yang membuat hubungan kami menjadi renggang, walau pun pada
hakikatnya karena cintalah yang membuat kami untuk bertahan. Saya hidup
dibayangi di antara rasa cinta pada suami dan cita-cita dalam benak saya
menjadi bagian yang tertahan merajut impian untuk meraih masa depan tanpa
keikhlasan. Hingga suram di penghujung jalan berharap ada cahaya terang dan
kisah indah lain yang akan datang menyapa harapan. Menyongsong mimpi indah
menjadi kenyataan. Berharap indah di akhir cerita, itulah harapan saya
selanjutnya.
Empat tahun berlalu usia penikahan saya dengan Mas Hendra.
FAM hadir bagai angin segar, bagai hujan yang membasuh kemarau panjang
sekaligus mukjizat yang telah menembus waktu yang pernah hilang dan hampa dari
hidup saya. Ketika Mas Hendra membuka blog-blog di internet, suami saya sendiri
yang memberitahukan kepada saya ada forum yang begitu menarik dan wajib saya
kunjungi yaitu http//www.famindonesia.blogspot.com tentang tulis menulis.
Mulanya saya menolak, karena saya merasa malas jika harus berakrab-akrab ria dengan
suami saya. Tapi Mas Hendra terus membujuk dan meminta saya menyita waktu
sepuluh menit saja untuk mengenal FAM Indonesia. Tak saya kira di balik
diamnya, ternyata suami saya begitu peduli dengan kesukaan yang masih terkubur
di dalam hati saya. Hanya saja, ia menunggu tempat dan waktu yang tepat untuk
mendukung saya ke tahap cita-cita yang pernah tertunda.
Diam-diam, saya pun berkelanjutan meneruskan keingintahuan
saya tentang forum tersebut yang ternyata didirikan oleh dua penulis; Mbak
Aliya dan Mas Muhamad Subhan. Dan hebatnya forum ini dibuka secara
internasional untuk seluruh warga Indonesia di manapun berada tanpa
mempermasalahkan status alias juga tersedia untuk seorang ibu rumah tangga
hingga ke mancanegara. Bola mata saya semakin semangat melaju mencermati setiap
bagian-bagian info yang ternyata begitu bermanfaat. Sampai pada akhirnya dengan
dukungan dari suami dan keinginan yang kuat, saya berminat dan memutuskan untuk
bergabung sebagai anggota FAM dengan biaya registrasi yang super terjangkau.
Hanya dengan Rp75 ribu saya bisa mengecap pendidikan online yang super
bermanfaat dan mendidik. Sungguh ajaib bukan? Tentunya iya. Apalagi sekarang
saya dan suami tak perlu bertengkar lagi untuk membahas cita-cita saya yang
pernah hilang yang sering saya ungkit-ungkit tak jelas.
Belajar menulis lewat FAM begitu mudah dan bebas dilakukan
kapan saja. Tak perlu membuang-buang waktu, ongkos jalan atau biaya mahal atau
wajib diikuti sekolah sastra pada umumnya. Karena lewat FAM, saya bisa menimba
ilmu tentang masalah keingin tahuan saya dalam mengembangkan teknik tulis
menulis. Alhasil berkat membaca info FAM sepuluh menit ternyata mampu
menjadikan hubungan saya dan suami yang dulu sempat tak harmonis berubah
bagaikan madu manis yang tak pernah habis dari sarangnya. Bahkan menjadi
semakin erat dan indah tuk dijalani karena saya telah menemukan tempat yang
tepat untuk menyalurkan hobi saya. Lewat FAM juga, akhirnya saya bisa
menciptakan sebuah karya berupa novel yang berjudul “Sabda Cinta dari Tuhan”. Dan
semoga untuk hari selanjutnya saya bisa membuat karya yang lebih banyak dan
lebih baik lagi.
Semenjak saya mengecap pembelajaran dari FAM, saya lebih
mengerti tentang menulis. Penulisan yang salah, dulu pernah saya anggap sebagai
sampah, tapi setelah saya mencerna lebih dalam saya pun beranggapan lain.
Bahkan sampah pun akan menjadi sesuatu yang cantik dan luar biasa jika didaur
ulang dan belajar mendaurnya pada tempat yang benar. Begitu juga menulis, di
forum FAM adanya sistem mengulas karya oleh tim FAM. Selain itu juga diajarkan
mendaur ulang tulisan dengan metode menulis sesuai EYD dan diajarkan keluasan
pengetahuan dalam berbahasa dan perlunya pemahaman kosa kata serta perbaikan
kalimat akan mempercantik karya Anda sehingga layak diterbitkan. Sumpah!
Terima kasih buat FAM Indonesia yang telah memberikan
percikan kebahagiaan di antara dua hati yang dulunya tak berdamai. Dan tentunya
FAM adalah Forum Aishiteru Menulis yang sangat berguna untuk mendidik generasi
muda yang berperan dalam kemajuan bangsa Indonesia. Wadah yang sangat pas untuk
berbagi ilmu dan pengembangan diri untuk kita semua.
FAM is my soul. Start
writing whatever you want to write, then create one outstanding work by joining
FAM Indonesia.
Finally, menjalani
profesi sebagai wirausaha sekaligus penulis dan ibu rumah tangga? siapa takut!
Salam santun, salam karya.
*) Lina Saputri, ID
FAM 1034U Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Comments
Post a Comment