Oleh Anisa Swedia*)
Siapa yang tak mengenal dunia membaca dan menulis? Setiap
manusia pasti ingin berprestasi apapun bentuknya dan apapun tujuannya.
Tapi yang membedakan adalah potensi diri untuk membangun
bakat yang lama terpendam dan terkungkung jelas di relung hati.
Bukan bermaksud sok
tahu ataupun berjalan mendahului. Namun, kebanyakan dari manusia yang
mempunyai mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata bisa dihitung presentasi
kepersenannya.
Dahulu kala manusia hanya bisa menukarkan barang yang
dimilikinya dengan barang yang sangat diinginkannya itu butuh ruang gerak yang
luas dan hati yang ikhlas. Namun, kini zaman telah berubah pesat, perkembangan
menjadi tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan tubuh, tapi mengapa pertumbuhan
akan mimpi dan angan-angan masih menjadi bayangan semu saja pada kebanyakan
orang?
Kebanyakan tertundanya mimpi karena berbagai hal seperti
ketika seseorang telah memiliki waktu luang yang banyak, mereka malah bilang, “Saya
tidak memiliki fasilitas yang cukup!" Dan saat mereka memiliki fasilitas
yang cukup, mereka bilang "Saya tidak memiliki waktu!"
Tidakkah mereka sadar bahwa mereka hanya mencari alasan
untuk mengulur-ngulur pencapaian mimpi mereka sendiri?
Parahnya, seorang Habiburahman el Shirazy pernah bertanya
kepada mahasiswa yang cerdas namun tak juga lulus dari tempatnya menempuh
pendidikan di kampus, Kang Abik bertanya kepada mahasiswa itu kenapa ia tak
juga lulus dan jawabannya seperti ini: "Ah malas Kang, kalau lulus susah
cari kerja, mending enak kuliah..." Bagaimana Indonesia bisa maju jika
kebanyakan para pemudanya bermental 'tempe' seperti ini? Bukankah mereka juga
telah membuang waktu dan fasilitas yang ada? Tak sedikit loh yang ingin seperti
mereka, merasakan enaknya duduk di bangku kuliah, tak terkecuali saya, he-he-he...
Fasilitas dan waktu mungkin adalah faktor penting untuk
menggapai mimpi. Namun, sadarkah kita bahwa potensi yang utama adalah niat
dalam diri? Jika sudah berniat, pasti ada jalan!
Bukankah Allah SWT juga sudah berjanji dalam salah satu
ayatnya? Pasti Anda pernah mendengar "Allah tidak akan mengubah nasib
suatu kaum, kecuali ia merubah nasibnya sendiri," familiar bukan?
Nah setelah ada niat kenapa kita tidak bentuk Visi dan Misi?
Itu penting untuk mengukur kadar seberapa tinggi impian kita.
Forum Aktif Menulis (FAM) datang bagai ruang segar bagi para
penulis pemula. Bagi para pemimpi yang masih menggantungkan mimpinya di langit
kantor-Nya. Jika sudah ada fasilitas seperti ini, lalu kenapa kita
menyia-nyiakannya? Bukankah, waktu dua menit cukup hanya untuk menengok
seberapa tinggi peminat yang hadir di sini, setelah itu baru akan ada
ketertarikan bahwa di wadah ini kita adalah keluarga yang saling bekerja untuk
membarakan api semangat menulis, api semangat mimpi yang tergantung tak jelas
di langit-langit angan kita.
FAM dan semangatnya yang tak pernah padam selalu tak pernah
lelah untuk membahas sesuatu yang baru demi menggugah semangat kita di sini, agar
Indonesia lebih baik, agar ilmu saling bermanfaat dan berguna bagi sesama, agar
tali silaturahim tetap terjaga.
Jika wadah ini saja tak pernah lelah menyediakan waktu untuk
kita baik anggota dan nonanggota yang jumlahnya semakin pesat seiring
berjalannya waktu demi meraih mimpi bersama, lalu kenapa kita enggan
menyediakan waktu untuk mengobarkan api semangat mimpi kita?
Mulai sekarang, bagaimana kalau kita mengobarkan api
semangat seperti FAM Indonesia yang terus menerus mengibarkan benderanya untuk
mencapai puncak Everest?
Sebagai pasukan paskibraka FAM, kita wajib menjaga api
semangat untuk terus berkobar demi mimpi yang indah. Salam semangat!
*) Anis Swedia, ID FAM
966 U, anggota FAM Malang

Comments
Post a Comment