Oleh Akhris S Syafi
Buku Sherly masih basah dengan goresan rangkaian kata yang
baru saja diukirnya. Tidak seperti biasanya, tulisan itu ia pandanginya
lekat-lekat, ia baca ulang dari huruf pertama sampai penutup dengan penuh
penghayatan segenap jiwanya. Sebuah rangkaian pengharapan pada “Dream Book”
yang ia dapat dari seorang sponsor MLM produk kesehatan bulan lalu. Biasanya
setelah menulis artikel atau cerpen pesanan salah satu koran nasional peraih
predikat Harian Berbahasa Indonesia Terbaik, tidak pernah ia mengeceknya
sedetil itu. Rangkaian kalimat demi kalimat yang ditulisnya kini bagai azimat
yang membeberkan seluruh gambaran rencana, master plan, blue print,
kehidupannya besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan
tahun-tahun setelahnya. Seakan baru saja mendapat wangsit yang ia longok dari
jendela lauhul mahfudz, langsung ditulisnya ilham itu lekat-lekat, dengan
goresan tinta yang tajam hingga tak satu pun jenis penghapus di toko alat tulis
Sumurboto Ngesrep sanggup menghapusnya.
Itu adalah rencana besar dalam hidupnya. “Hidup harus
berubah, sebagaimana teman-teman saya telah berhasil menaklukkan hidup”, gumamnya.
Suatu kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan dan kebosanan ritme kehidupan
yang ia jalani selama ini.
“Inilah proposalku untuk Tuhan!” pekiknya.
“Mengandalkan ijazahku melamar pekerjaan yang sanggup
memberi gaji sepadan dengan gaji Deputi Gubernur BI, menikah dengan pangeran
putra Bakrie Group yang masih tersisa, menyulap gubugku yang baru saja dilumat
puting beliung kemarin petang lebih indah dari Tajmahal, lebih mewah dari
Masjid Kubah Emas. Tahun ini hidupku harus begini, harus begitu…” Ia
affirmasikan seluruh rencana yang telah ia visualisasikan dengan jelas dan
detil tak kurang sedikitpun di alam bawah sadarnya. “Lihat apa yang akan
terjadi!” tegasnya sambil menirukan gaya Mario Teguh acara favoritnya setiap
Minggu malam.
“Tuhan… inilah rencanaku, inilah garis hidupku, inilah
seharusnya takdirku! Aku harusnya begitu, bukan begini!” gugat Sherly lantang
kepada Tuhan.
“Lihat saudara-saudaraku, teman-temanku, tetanggaku… Mereka
tidak lebih hebat dari aku, tidak lebih jenius dibanding aku, tidak lebih
berbakat ketimbang aku. Aku seharusnya lebih hebat dari mereka, lebih mulia
dari mereka, lebih terhormat daripada mereka. Lihat! Lihat! Lembaran kertas
penghargaan yang terukir khusus namaku sudah kususun sebegini tebalnya. Kurang
apalagi sehingga Kau terus dan terus saja menahan dan menolak proposal yang
kuajukan kepada-Mu setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap hari di setiap
bangun tidurku!” Ia menantang sekenanya, entah setan darimana berhasil merasuki
alam sadar dan bawah sadarnya.
Semua jurus dari para pakar motivasi di televisi dan radio
sudah Sherly kerahkan. Entah jurus mana yang paling ampuh baginya. Jurus yang
mampu merubahnya instant menjadi sosok pribadi ideal seperti yang ada dalam
pikirannya. Apa yang Sherly dapat selama ini belum cukup untuk memasukkannya
dalam definisi ideal sesuai kamusnya. Kecantikan jasmani yang telah Tuhan
titipkan—yang sanggup merobek hati setiap pemuda normal yang melihatnya,
kesehatan yang entah berapa triliun rupiah bila ditukarkan nominalnya di bank
Century, kesempatan untuk berkeliling mengunjungi seluruh pelosok dunia yang
tidak setiap orang sanggup membayar ongkos perjalanannya, mulut yang masih
diberi kesempatan merasakan lezatnya setiap masakan-bahkan sebungkus nasi
kucing melebihi nikmatnya seporsi bebek Peking HT di Atmodirono. “Itu belum
cukup,” tegasnya. Selalu ia perbarui proposal yang ia buat dengan merubah
setiap font untuk menarik simpati Tuhan, tapi belum saja merubah segalanya.
Tiba-tiba mata Sherly tertuju pada selembar kertas yang
sudah mulai pudar warna putihnya. Terselip dalam buku harian yang sudah 5 tahun
tidak ia sentuh, karena sudah bosan mengadu pada benda mati persegi empat, yang
hanya akan mengingatkannya pada Deri, kekasih pertamanya yang ketahuan berbuat
tidak senonoh tertangkap petugas Satpol PP sedang berbuat mesum dengan bencong
di bawah jembatan kali Banjir Kanal Timur.
Dibukanya perlahan kertas kusam itu. Di pojok kanan atas tertulis
tanggal 03/03/03. Di bawahnya tertulis dengan huruf kapital “PERPUS AN NAHL”,
sebuah nama perpustakaan pribadi di wisma salah satu temannya ketika masih
kuliah. Sherly hobi mengutip kata-kata indah dari para pujangga atau
tokoh-tokoh besar dunia. Ia pernah mengatakan, “Mengutip kata-kata orang besar
akan me-recharge jiwa dan pikiran”. Kebiasaan yang masih dilakukannya sampai
saat ini. Di tengah kertas tertulis:
“Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang
harus dikerjakannya. Sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan
dilakukan Allah kepadanya.” (Ibnu Athaillah)
Kata-kata yang seolah menambahkan spasi yang hilang dan
dilupakan oleh para motivator kondang idolanya. Mereka dengan sengaja atau
tidak menghilangkan bagian penting itu. Dengan keberaniannya mereka memberi
jaminan keampuhan resep dan konsep yang dijual mahal lewat seminar-seminar di
hotel berbintang, tanpa menghiraukan peran Tuhan. Tanpa berpikir apa yang
dilakukan Tuhan padanya hari ini, kemarin dan hari kemudian.
Ya, Sherly telah menyusun proposalnya begitu rapi, sangat
rapi. Mulai dari program harian, bulanan, bahkan peta hidupnya untuk beberapa
tahun—kalau Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bernafas—sudah ia rancang
demikian detilnya. Sungguh suatu rencana matang yang akan berdampak luar biasa
pada kehidupannya bila berhasil. Hanya satu yang ia lupakan. Sekarang ia merasa
perlu meminta kekuatan dari Tuhan agar setiap pagi ia dianugerahi hari yang
terbaik. Ia hanya bisa menyusun, merencanakan dan merancang, namun pada
akhirnya Tuhanlah yang memutuskan hasilnya. Kemampuan yang dulu ia banggakan
lewat sederet foto, berlembar-lembar kertas bertuliskan penghargaan dan peta
kehidupan yang telah ia buat sedemikian jelasnya dan diafirmasikan sedemikian
seringnya tak berkutik dihadapan besarnya kemurahan dan kasih sayang Tuhan yang
terlupakan.
Sherly tetap melangkah menjalani hari dengan mengisi kembali
spasi yang hilang. Ia perlu untuk merayu Tuhan sekali lagi dengan sepenuh hati
mengiba tanpa memaksa. Bersimpuh tanpa mengeluh dan mengaduh. Berbaik sangka
apapun jalannya. Tetap memberi senyuman pada mentari yang bersinar pagi ini,
walau akan membakarnya tengah hari nanti. Karena sinar keemasannya akan memberi
kedamaian ketika senja tiba. Semakin mantap Sherly melangkahkan kaki tanpa
harus menghapus proposalnya… “Proposal untuk Tuhan”.
[sumber: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/05/29/proposal-untuk-tuhan/]

Comments
Post a Comment