Cerpen
yang disajikan penulis berupa imajinasi yang menggambarkan penerapan sebuah
kode etik perbuatan yang digambarkan pada sekawanan nyamuk. Penokohan yang bisa
jadi terlalu kontradiktif dengan kondisi sebenarnya, tetapi nampaknya penulis
ingin menyampaikan pesan dari sesuatu yang mustahil.
Cerita
berawal ketika seekor nyamuk yang terluka dan tengah merasakan kesakitan di
rumah kelapanya. Dia dikagetkan oleh seorang ibu yang membuang bayinya di dekat
rumah kelapanya. Dia merasa iba dan merasa aneh dengan sikap si ibu, katanya
bilang sayang kepada anaknya tetapi dibuang?
Kemudian
datang segerombolan nyamuk lain yang mengantar seekor nyamuk yang terluka.
Terjadilah pembicaraan antara sesama nyamuk yang terluka itu, dan ketika
terdengar suara petir tanda hujan akan segera tiba, kedua nyamuk itu berusaha
sekuat tenaga memindahkan sang bayi tapi sia-sia. Sampai akhirnya bayi itu
ditemukan seorang tua yang membawanya ke rumah sakit. Nyamuk yang menjadi tokoh
cerita itu rupanya terhimpit di antara lipatan kain dan terbawa ke rumah sakit.
Sesampai
di rumah sakit, sekelompok nyamuk menuding tokoh nyamuk sebagai penyebab
sakitnya sang bayi. Ironisnya yang menuding itu justru nyamuk terluka yang
membantu si tokoh memindahkan si bayi. Berbagai kata pedas terlontarkan
terhadap tokoh yang dianggap melanggar kode etik. Salah satu kode etiknya adalah
boleh menghisap darah tapi tidak boleh meracuninya. Akhirnya tokoh nyamuk itu
dibawa dua ekor nyamuk kekar untuk diadili.
Sebuah
cerpen yang cukup menggelitik. Nyamuk yang notabene penghisap darah manusia
mempunyai rasa kepedulian terhadap seorang bayi, bukannya menghisap darahnya
tapi malah berupaya menolongnya. Hal lain adalah nyamuk yang ukurannya sangat
kecil dan lemah berupaya memindahkan seorang bayi yang jauh lebih besar dari
berat badannya.
Nilai
yang terkandung dari cerpen ini adalah betapapun kita menginginkan sesuatu yang
menjadi kegemaran bahkan hal pokok penunjang kehidupan, tetap harus
memperhatikan aturan yang berlaku.
Dari
segi penulisan, cerpen ini masih perlu ketelitian, karena ada beberapa kata
yang salah akibat kurang teliti dalam penulisannya. Selain itu ada kesalahan
umum dalam EYD, yaitu penulisan kata setelah kata depan “di” dan “ke” yang
disambungkan seperti contoh: “didalam” “kedepan” seharusnya ditulis
terpisah menjadi: “di dalam” “ke depan”. Begitu pun kesalahan ketik seperti
pada judul “bertina”, seharusnya “betina”.
Terus
semangat berkarya. Salam santun.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT CERPEN
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
SEPOTONG CINTA
NYAMUK BERTINA
Oleh Elvi Murdanis
IDFAM1007U Anggota
FAM Deli serdang
Aku bukan batu, yang tak sakit jika kau cubit.
Aku bukan mata pena, yang harus ikut kemana tanganmu bercerita.
Kukepak-kepakkan
sayapku. Sssstttt…aku meringis kesakitan. Sayap dan kakiku belum sembuh
benar. Kucoba terbang beberapa meter, namun aku terjatuh. Kucoba
berjalan pelan, namun ngilu menggerogoti kakiku.
“Sudahlah…jangan
telalu banyak bergerak! Jangan menyiksa diri sendiri. Kakimu tidak akan cepat
sembuh kalau kau terus memperlakukannya seperti itu!”
Aku
diam seribu bahasa. Celotehan itu membiusku dalam keheningan. Kupandangi salah
satu kaiku yang patah. Memoar kejadian beberapa
hari yang lalu kembali mencuat dalam pikiranku. Padahal hatiku sudah melarang
agar jangan menghisap orang itu, namun aku nekat juga menyengatnya dan hampir
saja aku jadi peyek nyamuk di tangannya.
“Woi!
Melamun lagi?” ujar temanku mengagetkanku.
“Apa?....Eh,
enggak! Enggak!” jawabku terbata.
“Hehh….kumat
lagi.” Ia menarik nafas panjang sambil menggeleng.
“Ya
sudahlah. Sekarang kamu istirahat saja. Aku mau gabung dengan yang lain,
mau cari makanan.”
Aku
mengernyitkan kening. Kedua alisku merapat. Seolah-olah tahu apa yang ada dalam
pikiranku, ia menyeletuk, “ Aku tidak mungkin ikut teori gilamu. Karena memang
sudah seperti ini kita diciptakan. Menghisap darah manusia. Jangan kau lawan
takdirmu.”
Aku
terhenyak sejenak. Kuusap-usap perutku pelan. Di dalamnya ada banyak
calon-calon nyamuk yang kelak akan tumbuh menjadi nyamuk-nyamuk dewasa yang
gagah-gagah dan cantik-cantik. Untuk itu aku menghisap protein darah manusia
guna perkembangan telur-telurku.
Ia
terbang meninggalkanku, bergabung bersama nyamuk-nyamuk betina yang lain.
Sesekali ia menoleh kebelakang, seperti hendak mengatakan “Ikutlah denganku!
Ayo, kita cari makan bersama-sama!”
“Ah….Apa-apaan
aku ini!” aku menggeleng beberapa kali untuk menepis perasaanku tadi.
Waktu
terus bertasbih. Matahari terasa mulai menelanjangi bumi dengan sinarnya yang
terik. Namun sesekali terlihat ia memeluk bumi dengan awan-awan yang
bersiliweran agar sinarnya tak langsung mengenai wajah bumi.
Aku
mulai bosan. Kucoba mengkatupkan mata. Karena aku tak dapat kemana-mana. Sejenak aku tertidur. Krek…Krek…krek….
Telingaku seperti mendengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari kejauhan.
Semakin dekat, semakin pelan dan semakin hati-hati kudengar derap langkahnya
dan semakin terburu pula. Kubuka mata penuh penasaran.
“Ups….”
Kulihat seorang wanita sedang berjalan berjingkat memegang sesuatu dalam
gendongannya. Aku segera beringsut dari rumah kelapaku. Aku takut kalau-kalau
rumahku terpijak oleh wanita itu. Semakin mendekat kearahku, ia berjalan
berjingkat. Tapi aku yakin, bukan karena takut ketahuan olehku, melainkan takut
ketahuan jika ada orang lain yang melihatnya.
“Mudah-mudahan
kau akan mendapatkan orang yang lebih pantas mengurusmu dari pada ibu, anakku
sayang… Mmuahh!” suaranya parau. Ia mengecup sesuatu didalam
gendongan itu dan meletakkannya di samping rumah kelapaku. Aku bergidik.
Syerr….darahku berdesir. Seorang bayi yang masih merah rupanya di dalam gendongan
itu.
“Oek……oek…..oek…”
bayi itu terus menjerit. Kedua kaki kecilnya meronta-ronta dalan kain
gendongan. Sepertinya ia pun tidak ingin ditinggalkan sendirian di sini.
“Hei….hei…tunggu!
tunggu! Nyonya! Nyonya! Bayimu…..!” aku terus berteriak sekuat tenaga. Tapi
wanita itu tidak menghiraukannya. Ia terus saja berlari. Beberapa kali
kudapati, ia menoleh ke belakang melihat bayi itu, sambil menghapus air
matanya. Tapi ia tetap saja berlari hingga hilang dari pandanganku.
Huh….letih
aku memanggil. Ntah karena ia tak mendengarku teriakanku atau memang ia
tak menginginkan bayi ini lagi, aku pun tak mengerti. Tapi…sepertinya tadi aku
mendengar ia memanggil anakku sayang. Kalau sayang kenapa ditinggal di tempat
tak layak seperti ini. Hhhhh….sungguh, aku tak mengerti jalan pikiran manusia.
Lamat-lamat
kupandangi wajah bayi itu. Wajahnya begitu indah dan berseri. Kulitnya juga
masih begitu merah. Seperti baru saja dilahirkan ke dunia ini. Kuelus dia
dengan begitu hati-hati agar tidak sampai terkena antenaku yang tajam.
Kuelus-elus bayi itu penuh kasih sayang. Kuharap tangisannya akan berubah
dengan tawa kecil yang menggemaskan. Tapi harapku pupus, tangisannya semakin
lama semakin kencang. Semakin lirih kedengarannya.
“Minggir!Minggir!
Ambilkan obat!cepat!cepat!”
Tiba-tiba
kulihat rombongan teman-temanku sudah mendarat disekitar
rumahku. Mereka kelihatan panik. Sepertinya ada seekor nyamuk terluka. Temanku
yang lain tergesa-gesa mengambil obat. Obat yang dimaksud adalah dedaunan
yang kami dapat dari hutan, dihaluskan lalu diperaskan diatas
luka. Semuanya mengelilinginya, kecuali aku. Aku
ingin sekali mendekat, tapi aku terlalu jauh dari kerumunan itu. Melangkah dan
berjalan saja aku sulit, apalagi terbang kesana.
Tapi
aku tak habis akal. Kucoba mendorong tubuhku dengan empat kakiku yang masih
dapat digerakkan. Pelan dan perlahan-lahan posisiku mulai maju kedepan. Aku pun mulai bergerak sedikit demi sedikt menuju ke arah mereka. Aku ingin sekali melihat
siapa yang terluka.
Belum
ada satu meter aku beranjak, kerumunan itu mulai pecah. Satu persatu nyamuk
berhamburan terbang menuju udara dan akhirnya hilang dari pandangan. Sedangkan
tiga ekor nyamuk terbangke arahku. Kulihat
mereka memapah seekor nyamuk. Semakin dekat semakin jelas siapa yang sipapah ditengah. Ternyata yang terluka adalah temanku
tadi. Mereka mendarat dirumah temanku itu, yang
kebetulan tidak berjauhan dengan rumah kelapaku.
“Kami
tidak bisa lama-lama! Jaga dirimu!” mereka pun mulai mengepakkan sayap,
bersiap-siap untuk terbang.
“Apa
yang terjadi?” serobotku langsung sebelum mereka hendak terbang. Tapi mereka
tak menggubris. Mereka langsung terbang tanpa menoleh sedikit pun ke
arahku. Sikap mereka tampak begitu dingin terhadapku. Aku hanya tertegun
melihat mereka pergi.
“Dihajar
dengan reket nyamuk!” jawab temanku tenang.
Serrrrr…..aku
bergidik ngeri. Hampir saja temanku jadi nyamuk panggang. Kulihat salah satu
ujung kakinya gosong terbakar.
“Tidak
usah khawatir. Beberapa hari lagi aku pasti akan sembuh!” ujarnya
menenangkanku.
Ia
merebahkan tubuhnya di rumah kalengnya.
“Hey….apa
itu yang dibungkus-bungkus di samping rumahmu?” tanynya
penuh sedilik menunjuk ke arah rumahku.
“Ya
ampun! Anak bayi!” aku menempelkan telapak tanganku didahi.
Aku langsung beringsut menuju kerumahku.
“Anak
bayi kenapa tidak menangis?” tanyanya semakin heran.
Aku
terkejut bukan main. Mataku terbelalak. Bayi itu tak bersuara lagi. Bibirnya
biru. Tubuhnya kaku. Ia sudah diam sediamnya. Matanya terpejam. Ia
sedikit pun tak melakukan gerakan.
“Goyang-goyang
tubuhnya! Siapa tau masih bisa bergerak!” perintah temanku. Aku terkejut.
Temanku itu tiba-tiba sudah ada disampigku.
Duarrrr…..!
Suara petir memekik menggelegar. Diikuti kilatan cahaya yang menyayat
pandangan. Aku jadi semakin panik. Cuaca tak berubah, matahari masih megirim
cahaya panasnya ke bumi namun rintik-rintik hujan mulai tumpah ke bumi.
Sebentar saja hujan turun begitu lebat ditengah
terik matahari.
“Cepat,
dorong ke depan! Aku tarik dari sini! kita pindakhan ke tempat yang aman!
Jangan sampai dia basah!”
“Hah…apa?Hah….Ia…ia…ia”
aku kelimpungan. Segera kudorong bayi itu dari belakang dan temanku
menarik dari depan . Tapi tidak berpindah sedikit pun. Berat kain dan
bayi itu tak sebanding dengan kekuatan kami berdua. Aku semakin gagap. Bayi itu
sudah basah kuyup. Wajah mungilya tertubi-tubi dihantam rintik hujan yang
mengamuk.
“Doronggg…….dorong
sekuat tenaga! Kita pasti bisa!” serunya membakar.
“Iya…..”
kukerahkan semuan kekuatanku. Kudorong dengan sepenuh tenaga. Nyeri dikakiku tak terasa lagi, hilang ditimpa semangat
untuk menyelamatkan bayi mungil itu. Tapi hanya sedikit saja bayi itu bergeser
dari tempatnya semula. Hujan semakin menggila. Matahari juga semakin redup.
Mulai berubah mendung.
“Oww!”
Temanku terjatuh. Ia tersungkur ke tanah.
“Kakiku
tak dapat digerakkan, bagaimana ini?” ujarnya khawatir. Aku semakin tak bisa
menguasai diri. Kepanikanku memuncak. Kupanjat kain gendongan itu. Aku berharap
ada yang bisa kulakukan ditengah kondisi genting
ini. Ntah apalah itu aku pun tak tahu. Yang penting aku terus berusaha. Tuhan,
kumohon selamatkan bayi ini, gumamku tanpa sadar. Kesengat ia pelan,
berharap ia bereaksi menandakan ia masih hidup. Atau setidaknya ia masih mampu
bertahan.
“Hey….anak
siapa ini?” ujar sebuah suara mengagetkanku. Ia mengangkat anak itu ke dalam
dekapannya. Perlakuannya itu membuat aku terjatuh dari pipi anak itu menuju
selipan-selipan kain. Aku terhimpit tak bisa bergerak. Kutengadahkan kepalaku
keluar. Rupanya seorang wanita berusia lanjut sedang menggendong bayi itu dalam
dekapannya.
“Bayi
ini sudah pucat! Ayo, segera kita membawa bayi ini ke rumah sakit! Ayo! Ayo!”
seru wanita yang disampingnya panik. Mereka
tergesa-gesa masuk ke mobil dan menuju rumah sakit. Aku mencoba keluar dari
selipan kain itu namun tak bisa. Aku juga ikut dibawa
mereka.
Dalam
beberapa menit kami sudah sampai. Para suster segera membawa bayi itu ke suatu
ruangan. Kedua wanita itu tak diperbolehkan dokter ikut masuk. Sempat kulihat
keduanya melakukan percakapan kecil dengan sang dokter sebelum aku dan bayi itu
diboyong masuk ruangan oleh para suster.
Kain
gendongan itu pun dibuka dan diletakkan di meja.
“Hahhhh…..lega
rasanya!” aku menyembul dari lipatan-lipatan kain. Bahagia rasanya aku tak
terkurung lagi dalam kepengapan seperti tadi.
Kekhawatiran
kembali menyergap pikiranku. Kulihat dada bayi itu disentuh da ditekan dengan
suatu alat yang tak kukenal namanya. Berkali-kali pula kusaksikan bayi itu
jegang-jegang karena sentuhan alat itu. Para suster dan dokter terlihat begitu
panik. Aroma ketegangan begitu jelas diruangan
ini. Tapi ada kulihat seorang suster yang paling terlihat panik diantara semua yang menjaga dan melihat alat dengan
tombol yang bisa diputar-putar. Dilayarnya kulihat ada garis-garis gerigi
seperti mata gergaji. Ntah alat apa itu, aku pun tak tahu namanya. Saat
garis itu naik turun wajah sang suster begitu sumringah, namun saat garis itu
sedikit geriginya atau bahkan hampir garis datar saja, sang suter sangat panik.
Dan saat itu juga ia berteriak pada dokter “kondisi pasian
melemah, dok!” semuanya pun semakin panik dan berusaha keras menyelamatkan bayi
yanga a dihadapan mereka.
Ah….aku
tak tahan melihatnya. Tak sanggup aku melihat bayi mungil tak berdosa itu
kejang-kejang seperti yang kesaksikan sekarang
ini. Perlahan-lahan kukepakkan sayap dan terbang meraih pintu. Aku keluar dari
bawah pintu.
Kedua
wanita yang sedari tadi menunggu diluar tampak
sangat gusar. Mereka mondar-mandir secara bergantian. Kuperhatikan merekan
hanyut dalam pikirannya masing-masing. Lama mereka tenggelam dalam keheningan.
Dokter
baru keluar setelah beberapa jam kemudian. Keduanya segera menghampiri dokter.
Aku mulai mendekat ke arah mereka.
“Itu
dia! Tangkap!Tangkap!jangan sampai lari!” teriak sebuah suara. Tubuhku langsung
disergap oleh dua ekor nyamuk bertubuh tegap dari belakang. Dibelakangnya lagi ada beberapa ekor nyamuk yang
berseru-seru agar aku ditangkap.
“Gara-gara
dia anak kecil itu sekarat! Dia yang menggigitnya! Tadi aku lihat!” celetuk
sebuah suara. Aku terbelalak heran, apa hubungannya denganku.
“Iya,
nyamuk gila dan sok idealis ini yang melakukannya!”
“Cuihh!
Katanya tidak mau mnghisap darah manusia lagi,
tapi darah anak bayi diembat juga. Nyamuk tak tahu malu!” umpat yang
lain.
“Tangkap
saja dia! Kita adili dan kasih hukuman seberat-beratnya. Di sudah melanggar kode etik nyamuk. Menghisap darah
boleh, tapi jangan sampai meracuni darahnya!
“Aku
tak mengerti apa yang kalian bicarakan. Ini semua fitnah! Ini bohong! Ini
rekayasa! Apa kalian punya saksi?” teriakku membela diri.
“Ada!!!”
sahut sebuah suara dari belakang.
“Aku
saksinya. Aku melihat semua perbuatan jahatnya.”
Brakkkk……duniaku
seakan mau runtuh. Jantungku hampir saja melompat keluar. Bibirku gemetar
menahan emosi. Yang mengaku saksi itu adalah ternyata temanku yang terluka
tadi. Yang membantuku menyelamatkan bayi itu. Yang membakar semangatku sampai
aku kehilangan rasa sakitku. Yang selama ini ada disampingku.
Ternyata dia yang menuduhku.
“Tangkap
saja pak Nyamuk! Kita bawa dia ke pengadilan. Biar Hakim Nyamuk memutuskan
hukuman apa yang pantas diterimanya. Kalau terus dibiarkan dia bisa
membahayakan nyamuk-nyamuk yang lainnya.” Tambahnya menyulut emosi.
“Tangkap
saja! Iya, tangkap saja dia!” yang lain juga terbawa hasutan.
“Aku
tidak bersalah. Bukan aku pelakunya. Dia memang sudah kaku tadi. Bukan aku
pelakunya…” aku terus meronta. Membela diri. Mencoba melepaska dekapan dua ekor
nyamuk tegap tadi. Sempat juga kulihat temanku tadi tersenyum di sudut
bibirnya.
Begitu
perih kurasa senyuman itu saat membentuk kedua bola mataku. Kuharap kedua
mataku dan matanya beradu pandang agar dapat keselami
apa yang ada dalam pikirannya sekarang hingga ia tega menenggelamkan aku dalam
kesalahan yang tak pernah aku buat. Tapi tak kudapati kesempata
itu. Aku sudah dibawa terbang menuju pengadilan.
Langit
sedikit mencibir. Awan-awan bergantian mengikutiku dari belakang. Entah
mengejek atau mamberi dukungan, aku tak tahu. Suasana bumi sudah mulai teduh.
Hujan sudah reda. Tak ada lagi riuh rintik-rintik hujan yang nenusuk-nusuk bumi. Pelangi pun mulai mengintip dari
balik gumpalan-gumpalan awan. Panorama yang begitu menyejukkan dan begitu
meneduhkan. Namun tak seteduh hatiku yang sedang gundah.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar sekadar ilustrasi
yang diambil dari situs google.com

Comments
Post a Comment